= MAAF =

1510 Kata
Fahrial sedang merapihkan pakaian dan perlengkapannya karena besok dia sudah mulai masuk kerja. Dia melakukan segalanya sendiri tanpa bantuan Kiara karena gadis itu asik teleponan sama teman – temannya di balkon kamar dari tadi sore hingga kini sudah masuk waktu malam, Kiara betah sekali berlama – lama untuk ngobrol melalui ponselnya. Gadis itu seperti punya dunianya sendiri dan melupakan bahwa statusnya bukan lagi single melainkan sudah menjadi seorang istri. Fahrial selalu saja memaklumi apa yang Kiara lakukan meski sebenarnya dia cukup kecewa, padahal Fahrial berharap kalau Kiara akan membantunya atau minimal menyiapkan pakaian untuknya besok. Sebagai seorang suami, tentunya Fahrial ingin sekali merasakan bagaimana di perhatikan dan di urus oleh sang istri, tapi bukan itu yang dia dapatkan justru Fahrial merasa seperti masih menjomblo alias sendiri karena dia menyiapkan segalanya tanpa bantuan siapapun. “ Baju sudah, semua perlengkapan juga sudah. “ Ucap Fahrial seraya menutup pintu lemarinya, ia melirik jam dinding menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dia pun berjalan ke arah balkon untuk menghampiri Kiara. “ Yaudah besok lo jemput gue ya, kita belanja bareng! “ seru Kiara bicara pada Prita dan beberapa teman lainnya pada panggilan grup tersebut. “ Kia? “ panggil Fahrial. Kiara yang tadinya menatap layar ponsel dengan senyuman, tapi ketika memandang Fahrial tatapannya berubah agak sinis.“ Kenapa, sih? ganggu orang lagi teleponan aja.“ Celetuknya merasa tak suka jika dia sedang melakukan sesuatu di usik oleh Fahrial. “ Ini sudah malam, ayo masuk. “ Fahrial menggosokkan kedua telapak tangannya sambil berkata. “ Di luar juga dingin banget, nanti kamu masuk angin, Kia.“ Ucap Fahrial menunjukkan perhatian. “ Aku gak akan masuk angin. Udah sana kamu di dalam aja, jangan ganggu aku, Fahri. “ Usir Kiara, kemudian dia kembali menatap layar ponselnya dan bicara pada teman – temannya. Fahrial yang merasa diabaikan pun memilih untuk masuk ke dalam. “ Aku tidur duluan ya, Kia. Soalnya, besok kerja. “ Ungkap Fahrial. “ Hm.“ Kiara hanya berdehem saja, sedangkan Fahrial sudah masuk ke dalam kamar. ‘ Eh, kayaknya kita udahan aja deh, teleponannya, lanjut besok aja. Gak enak ganggu Kiara, tadi kayaknya Fahrial udah ngajakin dia tidur. ‘ Celetuk Prita yang mendengar suara Fahrial tadi saat ngobrol dengan Kiara. “ Enggak, kok. Dia gak ajakin gue tidur, tapi dia izin mau tidur. “ Balas Kiara seolah – olah dia masih ingin berkomunikasi dengan teman – temannya karena dia merasa bosan jika hanya berdiam diri saja, apa lagi harus berduaan dengan Fahrial. ‘ Itu tandanya kode minta di temenin tidur sama lo, Kiara. Udah kalau gitu kita akhiri teleponan malam ini, bye Kiara… ‘ “ Eh—“ TUT…TUT…TUT… Teman – temannya pun sepakat menghakiri panggilan karena merasa tidak enak hati dengan Fahrial, apa lagi mereka juga sudah cukup lama teleponan. “ Kurang asem! Ini gara – gara si Fahri! “ cibir Kiara, ia bangun dari duduknya dan memilih masuk ke dalam . Fahrial baru saja merebahkan tubuhnya, tapi tiba – tiba Kiara yang kini datang menghampirinya langsung marah – marah. “ Gara – gara kamu, temen – temen aku jadi mengakhiri panggilan!“ omelnya sambil naik ke atas kasur dengan kasar sehingga tubuh Fahrial jadi sedikit ikut bergerak. “ Loh, kenapa? “ tanya Fahrial yang tidak tahu - menahu. “ Mereka fikir kamu minta aku temenin tidur, padahal kan, enggak!“ balas Kiara terus saja menggerutu, ia merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang, lalu matanya menatap langit – langit kamar. Fahrial tertawa kecil mendengarnya. “ Sebenernya sih, emang iya.“ “ Emang iya apa? “ Kiara menoleh ke arah Fahrial, ia menyipitkan matanya. “ Ya, emang benar kata temen kamu kalau sebenernya aku emang kepingin kamu temenin tidur.“ Balas Fahrial yang kini tidur dengan posisi miring menghadap Kiara. “ Ish!“ Kiara membelalakan matanya. “ Kiara?“ “ Apa lagi? “ “ Daripada kita gak ngapa – ngapain, lebih baik kita main sesuatu. “ Celetuk Fahrial membuat Kiara kembali menoleh ke arahnya. “ Main apa? jangan bilang kamu ngajakin aku main tebak – tebakan atau games apapun yang sering dimainin anak – anak? “ Kiara menggeleng cepat. “ Aku bukan anak kecil lagi, Fahri! “ tolaknya. “ Enggak, Kia.“ Fahrial beranjak duduk, ia nampak bersemangat sekali dalam pembahasaan kali ini.“ Ini bukan permainan anak kecil, kok. Justru permainan ini hanya dilakukan oleh orang dewasa.“ Terang Fahrial, raut wajahnya menunjukkan bahwa dia begitu antusias. Kiara jadi penasaran, ia ikut terbangun duduk.“ Permainan apa emang?“ tanyanya ketika sudah duduk bersila dan saling berhadapan dengan Fahrial. “ Anu… “ Fahrial memperlambat ucapannya sambil menggaruk – garuk alisnya karena dia agak ragu mengatakannya pada Kiara. “ Anu apa? “ Kiara mengerutkan dahinya, ia menunggu kelanjutan apa yang akan Fahrial katakan. “ Bikin anak.“ Jawab Fahrial dengan cepat namun jantungnya berdebar – debar, ia gigit jari menunggu reaksi dari Kiara. “ APA?“ Mata Kiara langsung melotot tajam, bahkan karena terlalu kesal mendengar kalimat yang baru saja Fahrial lontarkan, dengan entengnya Kiara dorong tubuh Fahrial sampai terjungkal ke belakang dan akibatnya lelaki itu pun jatuh ke bawah kasur. BUK… “ Aduh!“ Jerit Fahrial saat punggungnya mencium lantai cukup kencang. Kiara berdiri di atas kasur, ia melihat ke arah Fahrial yang sedang meringis kesakitan karena terjatuh. Bukannya kasihan atau berniat menolong, justru Kiara kini sedang tertawa terbahak – bahak. “ Sukurin! “ seru Kiara di lanjuti tawa lagi. “ Makannya, jadi orang itu otaknya jangan kotor! “ Fahrial berusaha untuk berdiri sambil memegangi pinggulnya yang terasa sakit akibat membentur lantai. “ Kamu tega banget sih, Kia.“ Keluhnya di selingi suara ringisan. “ Siapa suruh kamu ajakin aku kayak begituan!“ Kiara bertelak pinggang, posisinya masih berdiri di atas kasur. “ Emang salah? Kita berdua itu sudah sah dan bebas mau berbuat apa aja, Kiara.“ Ungkap Fahrial, ia kembali naik ke atas kasur. “ Tapi, aku gak mau ngelakuin itu dan kalau kamu tetap maksa itu namanya pemerko—“ belum selesai Kiara bicara, tiba – tiba saja kedua tangan Fahrial memegang kedua kaki Kiara, lalu secara refleks Kiara yang kaget pun jadi terjatuh. BUK… Untungnya Kiara jatuh di atas kasur, posisinya saat ini terlentang dan dengan sigap Fahrial mendekati gadis itu. “ FAHRIAL!“ teriak Kiara kesal sendiri. “ Kalau aku tetap memaksa, gimana? “ tanya Fahrial yang kini sudah berada di dekat Kiara, setengah tubuh lelaki itu menindih tubuh Kiara dan Fahrial mulai mendekatkan wajahnya ke hadapan Kiara. Kiara terdiam membisu, ia menatap kedua bola mata Fahrial dari jarak yang sangat dekat, bahkan deru nafas lelaki itu dapat Kiara rasakan menerpa kulit wajahnya. Jantung Kiara seperti ingin copot ketika tangan Fahrial sudah mulai membelai pipinya. “ Fahri…” “ Izinkan aku menyentuhmu, Kiara.“ Pinta Fahrial sebelum dia melakukan sesuatu yang lebih intim. Kiara mengerlingkan matanya, bibirnya mendadak kelu tetapi sediki gemetar, sedangkan tangan Fahrial kini mulai beralih ke arah kancing baju tidur Kiara yang ingin lelaki itu lepas. Mata Fahrial menatap lekat wajah Kiara yang nampak tegang, tapi tangannya bekerja untuk membuka kancing baju Kiara dan kini dia sudah berhasil melepas satu kancing bajut tersebut. DEG. Saat merasakan kaitan kancingnya sudah terlepas satu, jantung Kiara seperti ingin lepas dari tempatnya, ia menarik nafas sambil memejamkan matanya, Kiara menahan sesak bersamaan dengan perasaan deg – degan yang dia rasakan. Ketik Fahrial ingin membuka kancing berikutnya, ia mendadak mengurungkan niatnya saat melihat Kiara kini memejamkan matanya sambil menitikan air di sudut matanya. Saat itu juga Fahrial membeku, ia tidak jadi melanjutkan kegiatannya untuk membuka pakaian Kiara setelah melihat gadis itu menitikan air mata. Hati Fahrial mencelos memandang istrinya yang kini nampak ketakutan hanya karena dia ingin meminta hak nya sebagai seorang suami. Fahrial sampai bertanya – tanya di dalam hatinya, kenapa Kiara sampai begitu takut padanya. “ Maaf. “ Ungkap Fahrial seraya memakaikan kembali kancing baju tidur Kiara yang tadi sempat sudah dia buka, lalu setelah itu Fahrial mengangkat tubuhnya agar menjauh dari Kiara. “ Jangan nangis, Kia. “ Jari telunjuk Fahrial mengusap setitik air mata yang ingin menetes membasahi pipi Kiara. Kiara pun membuka matanya ketika melihat Fahrial sudah menjauh darinya, ia amati lelaki itu kini duduk memandangnya. “ Sekali lagi, aku minta maaf karena sudah buat kamu takut. “ Kata Fahrial sebelum akhirnya dia merebahkan tubuhnya untuk tidur. Dapat Kiara lihat dari mata lelaki itu ada luka yang terselip atas reaksi darinya yang menunjukkan bahwa dia tak ingin disentuh oleh Fahrial, namun Kiara juga tidak bisa berbuat banyak karena memang pada dasarnya dia merasa belum siap untuk melakukan hubungan suami – istri sebab tidak ada benih cinta di dalam benak hatinya untuk Fahrial. “ Fah—“ Belum sempat Kiara bicara untuk sekedar meminta maaf, Fahrial langsung memutar tubuhnya dengan posisi membelakangi Kiara, lelaki itu segera mematikan lampu tidur yang berada di atas nakas tepat di samping kasur. Kiara tidak banyak bicara lagi, ia juga mengatur posisi tidurnya untuk membelakangi Fahrial dan tak lupa memberikan batas guling antara mereka berdua. Tangan Kiara memegang dadanya sendiri masih terasa berdebar akibat aksi yang Fahrial lakukan tadi. Tak bisa Kiara bayangkan jika tadi Fahrial tetap memaksa dirinya untuk melakukan hal tersebut, sudah pasti Kiara akan menangis sepanjang hari. Untung saja Fahrial dapat mengerti dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN