Fahrial bulak – balik membawa paket belanjaan Kiara ke dalam kamar, sedangkan Kiara sendiri duduk di sofa sambil membuka beberapa paket yang sudah berada di atas meja. Tak lama, Fahrial datang kembali membawa paket terakhir.
“ Ini yang terakhir, tidak ada paket lagi di bawah. “ Ucap Fahrial seraya meletakkan bungkus paket yang entah isinya apa Fahrial tidak tahu. Nafas Fahrial sedikit terengah karena naik – turun membawa barang, ia memilih duduk di sebelah Kiara untuk istirahat sekaligus melihat apa saja isi barang tersebut.
“ Makasih, Fahri. “ Kiara terlihat begitu bersemangat membuka satu per-satu paket belanjaannya sedangkan Fahrial melongo saja menyaksikan kegiatan istrinya itu.
Fahrial perhatikan Kiara sangat bahagia meskipun penyababnya bukan dirinya tetapi karena barang – barang yang baru saja Kiara beli. Seandainya dia adalah penyebab Kiara tersenyum seperti itu sudah pasti Fahrial akan sangat senang. Namun, dengan begitu Fahrial menjadi lebih bersemangat mencari uang karena melihat Kiara ceria sekali membeli barang baru, itu artinya Fahrial harus lebih giat lagi dalam bekerja.
“ Oh iya, aku mau sampaikan sesuatu ke kamu. “ Ucap Fahrial ketika dia teringat sesuatu.
“ Apa? ngomong aja? “ balas Kiara tanpa menoleh ke arah Fahrial.
“ Hutang – hutang almarhum papah kamu sudah aku bayar. “ Terang Fahrial mengingat janji dia sebelum menikah dengan Kiara akan melunasi semua hutang papahnya Kiara, ia benar – benar menepatinya meskipun harus menguras sebagian tabungan Fahrial, tapi tak mengapa karena Fahrial ikhlas dan merasa ketika dia sudah mengucap janji maka akan segera Fahrial laksanan.
Kiara menoleh ke arah Fahrial, ia menatap lelaki itu penuh arti. “ Se—semuanya sudah kamu lunasi? “ dia sampai terkesima karena tak menyangka Fahrial benar – benar menepati janjinya bahkan langsung di lunasi, padahal sebelumnya Kiara fikir Fahrial akan mencicilnya.
“ Iya, Kiara. Sekarang, almarhum papah kamu sudah tidak punya hutang lagi. “ Fahrial menjelaskannya dengan senang hati, ya hitung – hitung juga itu akan menjadi amal baginya karena telah membantu seseorang.
Kiara tersenyum merekah, ia bergembira sekali tetapi bukan karena Fahrial yang telah membantunya melunaskan hutang tetapi dia nampak senang karena merasa bersyukur tidak akan di kejar – kejar lagi oleh para penagih hutang dan bahkan Kiara berfikiran kalau dia bercerai dengan Fahrial maka dia tidak akan di paksa menikah oleh ibunya dengan pria tua karena sudah tidak memiliki hutang lagi.
Sunggu tega memang karena Kiara sampai punya fikiran untuk bercerai di saat lelaki itu sudah melakukan banyak kebaikan untuknya, tapi mungkin Kiara tidak akan bercerai dulu untuk saat ini karena Kiara sedang berada di zona nyaman alias sangat menikmati kehidupannya karena dapat berfoya – foya menggunakan uang Fahrial.
“ Makasih ya, Fahri. Kamu baik banget udah mau lunasin hutang papahku. Jujur, aku gak tau harus bagaimana dan melakukan cara apa untuk membalas kebaikan kamu. “ Ungkap Kiara, ia merasakan kini tangan Fahrial mulai mengusap kepalanya namun dia biarkan saja.
“ Yang perlu kamu lakukan hanyalah belajar untuk mencintaiku dan menerimaku sebagai suamimu dengan sepenuh hati. “ Balas Fahrial cukup menohok hati Kiara. Memang lelaki itu tidak meminta dia mengganti dengan uang ataupun barang lain, tapi menginginkan dirinya untuk mencintai Fahrial justru bagi Kiara adalah hal terumit.
Kiara tidak berkata apapun, ia kembali fokus membuka paket belanjaannya.
“ Apakah bisa? “ celetuk Fahrial mempertanyakan kepastian dari Kiara karena gadis itu tidak merespon ucapannya tadi.
Kiara tetap diam.
Hati Fahrial bagai di tusuk jarum – jarum kecil, tidak terlalu sakit tetapi cukup perih untuk di resapi melihat perempuan di sebelahnya tidak sedikitpun menunjukkan bahwa dia mau berubah atau mengiyakan untuk belajar mencintai Fahrial.
“ Sepertinya susah banget ya. “ Cetus Fahrial, seketika Kiara menoleh ke arahnya.
“ Perihal mencintai seseorang bukanlah hal yang mudah, Fahri. “ Balas Kiara dengan tatapan serius.
“ Ya, aku tahu. Tapi, setidaknya kamu mau berusaha untuk mencintaiku atau minimal tidak bersikap acuh ke padaku. “ Tutur Fahrial, dari matanya terlihat dia begitu menginginkan gadis itu untuk membalas perasaannya.
“ Jadi, sebenarnya kamu ini tidak ikhlas ya, membayarkan hutang papahku? “ Kiara malah beranggapan kalau Fahrial melunasi hutang papahnya karena menginginkan imbalan yaitu agar Kiara mencintainya dan bahkan Kiara berfikir bahwa Fahrial terkesan memaksanya.
“ Bukan begitu maksud aku, Kiara. “ Fahrial duduk tegak, sepertinya pembahasan kali ini cukup serius. “ Kita sudah menikah, tapi aku merasa hubungan kita seperti orang asing. Jadi, aku berharap kamu bisa beradaptasi dengan kenyataan bahwa kita sudah menjadi sepasang suami – istri, itu saja. “
Kiara mengerutkan keningnya, nafas Kiara sedikit memburu karena emosi dengan Fahrial perkara lelaki itu menyuruh dirinya untuk membuka hati. Kiara tidak suka di paksa ataupun di atur meskipun dia tahu kalau Fahrial sudah menjadi suaminya. Pola fikir gadis itu masih ke kanak – kanakan dan belum bisa memilah hal – hal penting yang harus di seriusin.
Kedua tangan Fahrial memegang pundak Kiara. “ Aku tidak menuntut kamu untuk melakukan pekerjaan rumah atau apapun, aku hanya ingin kamu menganggapku ada. “ Ungkap Fahrial dari lubuk hatinya yang terdalam sebab sejauh ini dia merasa Kiara sangat mengabaikannya.
Kiara membelalakan matanya, ia berdecak sebal karena tidak suka dengan situasi seperti ini, yaitu dimana dia harus diajak bicara tentang pernikahan dan perasaan sebab kedua hal tersebut tidak penting baginya.
“ Pembahasan ini benar – benar membuatku kesal! “ Kiara membanting bungkus paketan yang ada di tangannya. “ Seharusnya dari awal kamu itu tahu bahwa kita menikah tanpa dasar cinta, jadi sekarang kamu gak perlu menuntutku untuk mencintaimu! “ seru Kiara.
“ Baiklah, aku minta maaf jika menurutmu apa yang aku ucapkan tadi terkesan menuntut. “ Ungkap Fahrial mencoba untuk mengalah saja.
“ Aku mau tanya sama kamu, sebenarnya tujuan kamu menikah denganku itu untuk apa? “ tanya Kiara.
“ Ada dua alasan yang paling kuat. Pertama, untuk menyempurnakan agama dan kedua, karena aku ingin hidup bersamamu, Kiara. “ Jawab Fahrial karena tidak terlalu sulit untuknya mengatakan hal tersebut.
“ Yaudah, keduanya sudah kamu dapatkan, jadi jangan paksa aku untuk mencintaimu. Kita telah menyempurnakan agama dan juga sudah hidup bersama. “ Kiara bangun dari duduknya, ia memberikan tatapan tak suka kepada Fahrial. “ Kamu tau kan, Fahri? waktu kamu mengajakku untuk menikah, pada saat itu aku sedang hancur karena di tinggal pergi oleh tunanganku. Itu rasanya sangat menyakitkan membuat aku sulit untuk mencintai seseorang yang baru saja masuk ke dalam kehidupanku. “ Suara Kiara terdengar gemetar, ia jadi mengingat masa lalunya yang cukup pahit.
“ Dan sekarang, tiba – tiba kamu memaksaku untuk mencintaimu! “ Kiara menggelengkan kepalanya. “ Itu sangat sulit untukku, Fahri. Kamu tau kenapa? karena kamu bukan lelaki yang aku inginkan, maka dari itu meskipun aku harus belajar membuka hati, itu akan membutuhkan waktu yang lama. “ Selesai bicara, Kiara ingin beranjak pergi tetapi Fahrial menahan gadis itu.
“ Kiara! “ Fahrial tarik tangan Kiara, ia ikut berdiri. “ Aku tahu pada saat itu kita bertemu dan memutuskan untuk menikah bukan di waktu yang tepat, tapi aku akan menunggu saat dimana kamu berkata bahwa kamu sudah mulai mencintaiku. “ Ungkap Fahrial bersamaan dengan rasa sesak di d**a, ia tahu keputusannya menikahi Kiara di saat gadis itu di tinggal oleh orang yang dicintai bukanlah hal yang tepat sebab pasti hati Kiara masih untuk lelaki itu.
Lalu kenapa Fahrial masih tetap memilih untuk menikahi Kiara jika tahu pasti hati gadis itu masih untuk masa lalunya? Ya, karena pada saat itu Fahrial benar – benar tidak berfikir panjang sebab dia merasa kasihan dengan Kiara yang harus di paksa oleh ibunya supaya menikah dengan pria tua untuk melunasi hutang papahnya dan juga Fahrial menganggap atas apa yang terjadi pada Kiara di kala itu merupakan kesempatan emas baginya untuk bisa menikahi Kiara dan menjadikan gadis itu miliknya walaupun terkesan memaksakan keadaan.
Mungkin jika keadaan Kiara waktu itu baik – baik saja tidak ada masalah dengan keuangan dan pertunangannya sudah pasti Fahrial tidak akan bisa mendapatkan Kiara. Mungkin saja semua itu sudah menjadi rencana tuhan dengan memberikan Kiara musibah lalu mendatangkan Fahrial sebagai juru penyelamatnya.
“ Kiara, aku—“
Kiara memotong pembicaraan Fahrial karena dia sudah muak. “ Jangan berharap lebih padaku, Fahri. “ Kiara menarik tangannya kasar, ia pergi ke luar kamar, turun ke lantai bawah lalu dia berjalan menuju halaman belakang untuk menenangkan diri. Suasana hatinya mendadak kacau gara – gara Fahrial. “ Semua laki – laki sama saja! menjengkelkan! Arggh! “
Di sisi lain, kini Fahrial berdiri sambil memijat kepalanya yang selalu saja mendadak pening setiap kali berdebat dengan Kiara karena menghadapi gadis itu cukup sulit untuknya di banding pekerjaannya yang rumit tetapi dapat dia selesaikan.
“ Semoga allah kasih titik terang untuk pernikahanku. “ Harap Fahrial kepada sang maha kuasa.
Kadang – kadang Fahrial bingung setiap kali mendengar Kiara berkata agar dirinya jangan pernah berharap bahwa Kiara akan mencintainya membuat Fahrial bertanya – tanya, lalu untuk apa mereka berumah tangga jika hanya begini terus setiap harinya bagai orang asing dan tidak ada interaksi seperti biasanya yang di lakukan oleh suami – istri.