Kiara sedang menyibukkan dirinya memilih pakaian melalui aplikasi belanja online, tadinya dia ingin pergi ke Mall bersama Prita untuk berbelanja secara langsung, tapi tidak jadi karena Prita mendadak ada urusan.
“ Ya ampun, ini baju cakep banget! Gue haru beli, sih! “ tanpa berfikir banyak, Kiara langsung pesan pakaian tersebut tanpa memperdulikan harganya yang mahal. Beberapa kali Kiara melakukan hal yang sama yaitu membeli pakaian atau apapun dengan harga tinggi yang sebenarnya tidak penting tetapi karena dia suka, maka Kiara tidak bisa menahan diri untuk membelinya.
Sementara itu, makanan yang sejak tadi sudah Kiara pesan secara online baru saja datang. Kiara pun pergi ke depan rumah untuk mengambilnya. Dia memesan banyak makanan Junk Food untuk dirinya ngemil dan menemani waktunya bersantai. Ini bukan yang pertama kalinya dia pesan makanan karena beberapa jam yang lalu dia juga sempat memesan jajanan lainnya. Sungguh Kiara benar – benar boros.
Kiara sangat menikmati waktunya, ia selonjoran di atas sofa sambil menikmati cemilan yang tadi di pesan. Mulut Kiara sibuk mengunyah makanan sedangkan matanya fokus pada ponselnya untuk melanjutkan aktivitasnya memilih pakaian apa lagi yang ingin dia beli.
Bagi Kiara, saat ini dunianya cukup menyenangkan. Tinggal di rumah besar dan nyaman, tidak perlu repot mengurusi suami karena Fahrial tak menuntutnya apapun, di tambah lagi dia bisa menghabiskan uang sesuka hatinya.
DRT…DRT…
Tiba – tiba saja ponsel Kiara bergetar karena terdapat panggilan masuk dari Fahrial.
“ Ck, ngapain dia telepon. Ganggu aja! “ cibir Kiara, ia tekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
‘ Hallo, Kia? ‘
“ Kenapa? “
‘ Kamu sudah bangun. ‘
“ Ya udahlah, Fahri. Emangnya aku meninggal apa tidur gak bangun – bangun. “ Balas Kiara ketus.
Terdengar suara tawa dari Fahrial. ‘ Iya – iya, maaf. Aku fikir sudah sore begini kamu masih tidur. ‘
“ Kenapa telepon? “ tanya Kiara langsung tak ingin bertele – tele.
‘ Gak apa – apa, aku cuma mau pastiin aja kamu sudah bangun atau belum. ‘
“ Yaudah, kamu tahu kan, sekarang aku sudah bangun. Lebih baik, kita akhiri aja panggilan ini, oke? ” Ucap Kiara yang tidak suka berlama – lama teleponan dengan Fahrial. Sangat berbeda ketika teleponan dengan teman – temannya jika berjam – jam pun pasti akan Kiara sanggupi.
‘ Eh—tunggu jangan di matiin dulu teleponnya. ‘
“ Kenapa lagi? “
‘ Roti yang aku siapin buat kamu tadi pagi di makan gak? ‘
“ Di makan. “
‘ Alhamdulillah. ‘
“ Udah, kan? “
‘ Kenapa, sih?masa suaminya telepon buru – buru banget mau di matiin. Aku kan, kangen sama kamu. ‘ Fahrial tertawa kecil, tapi sejujurnya dia memang merasakan rindu pada Kiara, padahal baru setengah hari dia tidak bersama istrinya itu, namun rasa kangen pada Kiara tidak dapat di bendung olehnya.
“ Gak usah lebay gitu, deh. “ Kiara menjulurkan lidahnya pertanda dia enek alias ingin muntah mendengar Fahrial berkata sok manis seperti itu.
‘ Aku ganggu kamu ya? ‘
“ Banget! Udah ya Fahri, aku lagi sibuk. Lagian, emang kamu gak kerja? “
‘ Ini lagi kerja, tapi lima belas menit lagi mau pulang. ‘
Kiara melirik jam dinding sudah menunjukkan hampir jam lima sore. Ah, rasanya waktu berjalan cepat sekali, padahal Kiara masih ingin sendirian di rumah.
‘ Kia, sepertinya hari ini aku akan pulang terlambat karena ada urusan. ‘ Ucap Fahrial, ia sengaja tidak menjelaskan kemana akan pergi karena ingin merahasiakan dari Kiara bahwa dia ingin ke Showroom mobil.
“ Yaudah gak apa – apa, kamu pulang malam juga tidak masalah. “ Balas Kiara seenak jidatnya saja.
‘ Hm, kamu emang gak ada perduli – perdulinya sama aku. ‘ Suara Fahrial terdengar seperti orang mengeluh.
Kiara menarik nafasnya, lalu ia hembuskan kasar. “ Sudah ya, Fahri. Bye! “ tanpa banyak bicara lagi, Kiara langsung menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan.
Fahrial menjauhkan ponselnya dari telinga dengan wajah sedikit merengut saat panggilannya di putuskan secara sepihak.
“ Hey! Udah mau jam pulang masih aja cemberut. “ Laras yang baru saja masuk ke dalam pantry mengagetkan Fahrial.
“ Eh, Laras. “ Fahrial mencoba untuk tersenyum. “ Kamu ngapain kesini? “
“ Mau bikin teh hangat, perut aku lagi terasa nyeri. “ Balas Laras, ia mengambil gelas kecil untuk membuat teh hangat. “ Kamu sendiri ngapain di pentry? “
“ Oh, aku habis teleponan sama Kiara. “ Ungkap Fahrial.
“ Cie elah, kangen istri nih, ceritanya. “ Ledek Laras sambil mengaduk larutan air hangat yang sudah di campur gula dan teh.
“ Tau aja kamu. “ Fahrial perhatikan Laras yang kini sudah selesai membuat teh, lalu gadis itu meminumnya sedikit – demi sedikit.
“ Ah… enak banget. “ Laras mengusap perutnya yang merasakan kehangatan sehabis menyeruput minuman tersebut.
“ Laras, kamu lagi sakit? “ tanya Fahrial dan Laras menggeleng. “ Itu tadi kamu bilang perutnya terasa nyeri? “
“ Oh, perutku nyeri karena lagi haid. Itu hal biasa, Fahri. “ Jawab Laras menerangkan.
“ Nanti pulang kerja, sebelum kita pergi ke showroom, kamu mau aku antar berobat dulu gak? biar perut kamu yang sakit segera ditangani atau mungkin di kasih obat sama dokter. “ Tawar Fahrial, ia kasihan saja kalau seandainya Laras merasakan sakit yang berkepanjangan.
“ Heleh! Ini cuma nyeri biasa, Fahri. Kamu itu berlebihan banget, sih. “ Laras tertawa kecil sedangkan Fahrial hanya melongo saja. Fahrial sendiri merasa bingung, kenapa mengkhawatirkan keadaan seseorang sering kali di anggap berlebihan.
“ Yaudah ayo balik ke ruangan. “ Ajak Fahrial. Mereka berdua pun keluar dari ruangan pentry untuk menuju ruang kerja.
**
Fahrial baru saja keluar dari Showroom mobil bersama Laras setelah mereka berdua habis melihat – lihat mobil dan mengecek harga. Sebelum pulang, Fahrial mengajak Laras mampir dulu ke Coffe Shop untuk beristirahat sejenak.
“ Mas pesan Cappucino Cream Brulee dua, tapi yang satu tolong jangan terlalu manis ya. “ Pesan Laras yang selalu tahu apapun kesukaan Fahrial karena dulu mereka berdua sering kali nongkrong di coffe untuk membahas masalah perkuliahan dan kini pembahasan mereka telah berganti haluan menjadi problematika pernikahan Fahrial.
“ Baik, mbak. “ Jawab pelayan Coffe.
Laras pergi menuju tempat duduk menghampiri Fahrial yang lagi memandangi brosur mobil dari Showroom yang dia datangi tadi. Sepertinya lelaki itu lagi kebingungan ingin membeli mobil yang mana.
“ Jadi, kamu mau ambil mobil yang mana buat Kiara? “ tanya Laras yang baru saja duduk dihadapan Fahrial.
“ Bingung aku, ras. “ Jawab Fahrial, ia meletakkan brosur tersebut di atas meja.
“ Menurutku, kamu beliin aja Kiara mobil yang harganya standart karena yang penting kan, mobil itu bisa digunakan Kiara untuk pergi kalau dia mau kemana – mana saat gak ada kamu. Aku rasa dia gak perlu mobil mewah dan keren kayak punya kamu. “ Terang Laras.
“ Iya, sih. Yaudah kalau gitu kayaknya aku akan beli yang ini. “ Fahrial menunjuk mobil sedan berwarna merah pada brosur tersebut.
“ Bagus, harganya juga lumayan terjangkau. Ya, meskipun tabungan kamu tetap akan terkuras untuk membeli mobil itu. “ Tutur Laras. “ Tapi, gak apa – apa, Fahri. Menyenangkan seorang istri itu dapat pahala dan juga rezeki kamu sebagai suami insyallah akan ngalir terus. “ Tambah Laras agar Fahrial senantiasa merasa ikhlas dan sepenuh hati untuk membahagiakan Kiara.
“ Amin! “ Fahrial mengusap wajahnya. “ Makasih ya, ras. Kamu selalu buat aku merasa lebih bersyukur dalam hal apapun. “
“ Sahabat sejati akan selalu memberikan arah ketika sahabatnya berada di jalan yang buntu, akan menjadi penopang dikala sahabatnya rapuh dan akan tersenyum paling lebar saat sahabatnya bahagia. “ Ungkap Laras terdengar putis membuat Fahrial bertepuk tangan.
“ Laras is the best! “ Fahrial mengacungkan jempolnya.
“ Ini Cappucino Cream Bruleenya, mbak. “ Seorang pelayan datang membawakan Coffe yang tadi Laras pesan.
“ Mana yang gulanya sedikit, mas? “ tanya Laras.
“ Ini, mbak. “ Pelayan itu memberi unjuk,
“ Oke, makasih. “
Pelayan itu segera pergi.
“ Ini dia Cappucino rendah gula buat kamu. “ Laras menyodorkan minuman itu kepada Fahrial.
“ Makasih, Laras. Duuh, emang paling mengerti sahabatku yang satu ini. “ Fahrial ingin mengusap kepala Laras tetapi gadis itu menghindar.
“ Eits! Jangan rusak kerudung aku, Fahri. “ Ungkap Laras di sambut tawa oleh Fahrial. “ Susah nih, rapihin kerudung. “ Keluhnya.
“ Iya – iya, maaf. “