Sampainya di kamar, Fahrial langsung kena semprot oleh Kiara. Gadis itu marah – marah karena tadi Fahrial sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan yaitu memeluk dan mencium dirinya di depan ibunya.
“ Kurang ajar! “ seru Kiara bertelak pinggang.
“ Siapa? “ tanya Fahrial polos.
“ Kamu kurang ajar! “ ulang Kiara menunjuk lelaki itu dengan jari telunjuknya.
“ Alasannya? “ Fahrial berpura – pura tidak tahu, padahal di dalam hatinya dia tertawa karena yakin Kiara marah atas kelakukannya tadi di dapur.
Kiara maju mendekati Fahrial, matanya melotot setajam silet, bahkan kini tangannya sudah terkepal kuat. “ Jangan sampai aku tonjok wajahmu ya, Fahri! Kamu jangan pura – pura gak tahu, deh. “
“ Aku memang tidak tahu apa – apa, Kia. “ Fahrial menahan tawanya.
“ Perlakuan kamu tadi di dapur itu buat aku gak nyaman! Aku gak suka ya kalau kamu bersikap kayak tadi lagi! “ seru Kiara mencoba untuk menerangkan.
“ Perlakuan yang mana? “ Fahrial menatap Kiara secara mendalam, ia mendekati Kiara sambil berkata. “ Apakah seperti ini yang kamu maksud? “ selesai bicara, Fahria mencium pipi Kiara.
“ Fah….rial! “ teriak Kiara penuh emosi, ia ingin memukul suaminya itu tetapi Fahrial sudah berlari cepat ke arah kamar mandi.
“ Aku mau mandi duluan! “ sahut Fahrial mendahului Kiara, padahal tadi gadis itu duluan yang berniat ingin mandi.
“ Hm, lihat saja kamu ya, Fahri! “ Kiara memandang ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. “ Aku akan usilin kamu! “
Fahrial membersihkan diri di dalam kamar mandi sambil bersenandung, ia cukup senang bisa mencium Kiara beberapa kali pada pagi ini meski terkesan curang karena memanfaatkan momen di saat ada ibunya agar Kiara tidak menolak.
Sementara itu, saat ini Kiara sedang berada di depan kamar mandi bukan karena ingin mengintip Fahrial, melainkan dia ingi mengunci suaminya di dalam kamar mandi sebagai bentuk balas dendam karena tadi Fahrial sudah mencium dan memeluknya seenak jidat.
Tangan Kiara mulai bergerak mengunci pintu kamar mandi dari luar.
“ Rasakan ini! Aku akan kurung kamu di kamar mandi wahai suami meesuum. “ Gumam Kiara pelan, ia cengar – cengir sendiri karena sudah tidak sabar ingin mendengar suara senandung Fahrial yang sebentar lagi akan berubah jadi suara minta tolong agar pintunya segera di buka.
“ Walaupun Madonna cantik. Marilyin Monroe juga cantik. Tetapi bagiku lebih cantik Kiara. Aku rela korban harta demi Kia. Aku rela korban nyawa demi Kia. “ Suara Fahrial bernyanyi terdengar sampai ke luar kamar mandi.
Kiara tertawa tanpa suara. “ Suara dia sangat buruk, lebih bagus suara tikus kejepit. “ Gumamnya di lanjuti tawa lagi.
“ Cintaku kepada Kia, tak seperti sabun mandi. Pabila sering dipakai, makin habis kurang wangi. Percayalah cintaku suci ke Kiara. “ Lanjut Fahrial menyanyikan lagu Jaja Mihardja yang berjudul Cinta Sabun Mandi itu lirik ‘ Nyai ‘ dirubah menjadi nama Kiara membuat gadis itu kembali tertawa namun berusaha dia tahan suaranya.
“ Fahrial sudah tidak waras. “ Kiara memilih untuk mengambil handuk karena dia akan mandi di lantai bawah. Tepat saat Kiara ingin pergi, rupanya Fahrial sudah selesai mandi dan ingin keluar tetapi pintu kamar mandi terkunci.
“ Kiara? “ panggil Fahrial. “ Kia, pasti kamu yang kunci pintunya ya? “
“ Iya, terus kenapa? “ sahut Kiara kembali mendekati pintu kamar mandi.
“ Jangan bercanda seperti ini, Kia. Ayo buka. “ Sahut Fahrial sambil mengetuk pintu.
“ Buka? Tidak semudah itu, Fahri. “ Kiara tertawa jahat. “ Anggap saja ini hukuman untuk kamu karena tadi sudah seenaknya menciumku, kalau tidak di beri hukuman pasti kamu akan kembali melakukannya. “ Ucap Kiara seraya mematikan lampu kamar mandi yang tombolnya berada di luar.
“ Kia? kamu serius mau kurung aku di kamar mandi dalam keadaan gelap seperti ini? “ Fahrial bertanya dengan perasaan terkejut karena keadaan di dalam benar – benar gelap saat lampunya padam.
“ Ya, tentu saja. Kamu akan aku kurung disini sampai aku selesai mandi di bawah dan aku akan makan hanya bersama ibumu. “ Dengan entengnya Kiara menjawab, lalu gadis itu pergi meninggalkan Fahrial yang sengsara di dalam sana, sedangkan dia memilih untuk keluar kamar dan mandi di bawah.
“ Kia? “
“ Kiara? “
“ Ayolah Kiara, buka pintunya. Ini tidak lucu. “ Fahrial terus saja bersuara dari dalam kamar mandi. Namun beberapa detik kemudian lelaki itu kini jadi putus asa karena merasa sudah tidak terdengar lagi suara Kiara pertanda gadis itu sudah menghilang dari kamar.
“ Ah, ya ampun. Kenapa punya istri seperti ibu tiri, sangat kejam. “ Fahrial kebingungan sendiri, ia tak menyangka kalau Kiara menyimpan dendam hanya karena perkara menciumnya saja.
“ Harus berapa lama aku menunggu. “ Fahrial memilih untuk duduk di atas WC duduk yang sudah dia tutup. “ Semoga ibu datang menyelamatkanku. “ Harap Fahrial dengan wajah memelas.
Baru saja dia senang dan habis bersenandung, eh sekarang sudah mendapat penderitaan akibat keusilan dari Kiara, bahkan istrinya itu tidak tanggung – tanggung membalasnya yaitu dengan cara mengurungnya di dalam kamar mandi.
Disisi lain, saat ini Kiara sudah selesai mandi dan telah rapih dengan pakaiannya. Kiara pun langsung berjalan menuju ruang makan.
“ Wah, mantu ibu sudah cantik. “ Puji Ratih yang kini sedang menata piring di atas meja.
“ Biar Kiara aja, bu. “ Kiara langsung mengambil alih tugas Ratih yang sejak tadi merapihkan piring. Tak lupa gadis itu juga menata lauk yang telah matang di atas meja.
“ Fahrialnya mana, nak? “ tanya Ratih mencari – cari keberadaan putranya.
Kiara sempat terdiam. “ Oh, Fahrialnya tidur lagi, bu. Katanya dia masih ngantuk. “ Bohong Kiara karena tidak mungkin jika dia berkata jujur sebab nanti dia malah di omelin.
“ Hm, Fahrial memang seperti itu kalau libur bekerja pasti menghabiskan waktunya untuk tidur. “ Balas Ratih membuat Kiara merasa aman karena setidaknya Ratih tidak curiga kepadanya kalau sang anak sedang dia kurung. “ Ibu fikir, setelah menikah kebiasaan itu akan hilang, tapi ternyata tidak. “ Lanjut Ratih.
“ Gak apa – apa, bu. Itu bukan kebiasaan buruk. “ Jawab Kiara sok bijak seraya duduk di kursi berhadapan dengan Ratih yang sudah siap untuk makan. “ Mungkin selama hari kerja Fahrial kurang tidur, jadi di saat libur dia ingin beristirahat penuh. “ Tambahnya membuat Ratih tersenyum haru mendengarnya.
“ Untung saja kamu istri yang pengertian. “ Tutur Ratih.
“ Memang harus begitu kan, bu. “ Kiara mulai menyendokkan nasi ke dalam piringnya. “ Ayo bu, kita makan. “ Ajaknya.
“ Iya, nak. “ Ratih juga melakukan hal yang sama menyendokkan nasi dan lauk ke piringnya. Mereka berdua mulai menikmati makanannya yang baru matang itu.
“ Untung saja kamu suka ayam, kalau tidak ibu jadi bingung mau masakin kamu apa. “ Ucap Ratih di sela – sela menyantap makanan.
“ Suka, bu. Kalau tumis kangkung, tempe dan tahu seperti kemarin aku gak suka. “ Jawabnya dengan jujur. “ Maaf ya kalau kemarin aku buat ibu kecewa karena tidak menyentuh sedikitpun masakan ibu. “ Ungkap Kiara karena merasa ibunya Fahrial sangat perhatian kepadanya, jadi sudah sepatutnya dia menunjukkan sikap baik.
“ Iya, gak apa – apa, Kia. Ayo habiskan makanannya. “ Balas Ratih.
“ Iya, bu. “ Kiara melahap masakan Ratih yang memang terasa begitu lezat. “ Enak, bu. “ Pujinya.
“ Alhamdulillah, terima kasih, nak. “ Ratih tersenyum puas.
“ Aku yang harusnya bilang makasih. “ Kiara kembali menikmati makanannya, ia merasa bebas karena tidak ada Fahrial dan hanya makan berdua saja dengan Ratih karena jika ada lelaki itu, sudah pasti Fahrial akan kembali curi – curi kesempatan seperti tadi.
Berbeda dengan Kiara yang lagi menyantap makanan lezat, saat ini Fahrial yang masih berada di dalam kamar mandi sedang merasa jenuh karena tidak tahu ingin apa. Akhirnya, Fahrial berusaha menyibukkan diri dengan cara memainkan keran air di yang berada tak jauh darinya itu sengaja dia nyalahkan, lalu dimatikan kembali, kemudian di nyalahkan lagi dan begitu seterusnya.
“ Ah, aku bosan sekali. Kemana Kiara? “ Fahrial bertanya – tanya. Untung saja di dalam kamar mandi Fahrial terdapat Exhaust Fan sehingga masih ada celah untuk pertukaran udara agar tidak pengap di dalam sana.
KRUK…KRUK…
Seketika Fahrial menunduk memandang perutnya yang baru saja menimbulkan suara – suara Ghoib. Ah, tidak – tidak, maksudnya suara cacing – caing di dalam perutnya yang berdemo meminta agar segera di isi makanan.
“ Sabar ya anak – anak, ibumu lagi menguji papah. “ Kata Fahrial sambil mengusap – usap perutnya.
Kiara baru saja selesai makan. Perut kenyang, hati senang, di tambah lagi Kiara jadi menghemat uangnya yang biasa dia gunakan untuk membeli makanan online. Ternyata ada untungnya juga dengan kehadiran ibunya Fahrial, jadi ada yang masakin lauk dan siapin sarapan.
“ Ibu, aku mau sendokin buat Fahrial. “ Kiara mengambil piring bersih, ia kembali menyendok nasi, lauk dan menyiapkan mangkuk untuk menuangkan sayur ke dalamnya.
“ Perhatian sekali menantu ibu. “ Ratih merasa Kiara sangat perduli dengan Fahrial, tapi biarpun begitu tetap saja di dalam hatinya Ratih merasa ada sedikit yang mengganjal, apalagi setelah semalam melihat Kiara dalam keadaan pingsan mengenakan baju dress, serta nafas gadis itu juga bau alkohol.
Apa yang sebenarnya terjadi, ingin rasanya Ratih bertanya tetapi ada baiknya jika dia membicarakannya pada Fahrial lebih dulu sebelum kepada Kiara.
Setelah menyendok makanan, Kiara bersiap untuk kembali ke atas dengan kedua tangan memegang sepiring nasi dan lauk, lalu yang satunya lagi semangkuk sayur.
“ Ibu, Kiara ke atas dulu ya. “ Pamit Kiara, baru saja gadis itu ingin melangkah, ibu mertuanya memanggil.
“ Kiara? “
“ Iya, bu? “ Kiara menoleh ke arah sumber suara.
“ Boleh ibu tanya satu hal? “
“ Ya, tentu saja. “ Kiara mengangguk.
“ Apa kamu bahagia menikah dengan Fahrial? “ tanya Ratih terdengar serius.
Kiara tertegun mendapati pertanyaan itu, ia berfikir sepertinya Ratih merasakan sesuatu sampai bertanya seperti itu. “ Um…”
Ratih melebarkan matanya menunggu jawaban Kiara dengan sangat penasaran.
Kiara mengerjapkan matanya lamban sambil menghela nafas berat.
“ Kiara bahagia bisa menikah dengan Fahrial, bu. “ Jawab Kiara dengan sangat amat terpaksa, bahkan dia merasa sangat berat untuk mengatakannya walaupun hanya sekedar ucapan palsu.
Ratih mengangguk. “ Yaudah kamu boleh ke atas. “ Jawabnya di sertai tersenyum.
“ Baik, bu. “ Kiara pergi menuju lantai atas sedangkan Ratih termenung memandang kepergian menantunya itu.
“ Sepertinya ada sesuatu di antara mereka berdua. “ Ratih semakin yakin karena dari mata Kiara terlihat ada kegelisahan yang terpancar seperti tidak nyaman dengan pernikahannya saat ini. “ Aku harus tanyakan langsung pada Fahrial. “
Kiara masuk ke dalam kamarnya dengan membawa makanan, biarpun dia sudah menghukum lelaki itu, tapi dia masih berbaik hati membawakan suaminya itu lauk karena di takutkan jika membiarkan Fahrial turun ke bawah saat ini juga, nanti lelaki itu akan langsung mengadu kepada ibunya.
“ Aku hadir!! “ teriak Kiara saat sudah berada di dalam kamar seketika membuat Fahrial yang tadinya duduk di atas Closet langsung berdiri mendekati pintu.
“ Kiara? Tolong buka pintunya sekarang juga. Aku sudah lapar dan bosan di dalam sini. “ Keluhnya.
“ Iya – iya, sabar. “ Kiara merogoh kunci kamar mandi dari saku celananya. “ Gimana hukumannya? “ tanya Kiara seraya membuka kunci pintu tersebut.
“ Benar – benar membuatku kapok. “ Jawab Fahrial karena dia tidak bisa melakukan apa – apa di dalam sana.
Pintu pun terbuka, Kiara mempersilahkan Fahrial untuk keluar.
“ Lain kali, jangan seenaknya menyentuh dan menciumku hanya karena aku tidak menolak saat berada di depan ibumu. “ Terang Kiara dengan tatapan serius. “ Aku diam saat kamu berbuat seperti itu karena aku mengharai ada ibumu di dekat kita, jadi tolong kerja samanya. “ Tambah Kiara supaya Fahrial tahu batasan.
“ Iya – iya. “ Jawab lelaki itu dengan wajah murung.
“ Kamu tahu, kan? aku tidak mencintaimu, Fahrial. Sudah berapa kali aku bilang? Jadi, tolong bersikap wajar kepadaku karena ku benar – benar tidak nyaman di sentuh olehmu. “ Ucap Kiara menusuk hati Fahrial.
“ Tapi, aku suami kamu. “ Potong Fahrial karena merasa pernyataan Kiara tadi sangat tidak masuk akal, padahal seorang suami berhak atas apa yang ada pada istrinya termasuk menyentuhnya.
“ Suami? Ya, memang benar. Tapi, bagiku itu hanya sebuah status. Kamu mengerti? “ jawab Kiara, ia menunjuk ke arah meja yang terdapat makanan. “ Itu nasi dan lauk untukmu. Cepat kamu makan mumpung masih hangat. “ Ucap Kiara, setelah itu dia pergi ke arah lemarinya untuk mengambil ponsel yang dia simpan di dalam sana.
Fahrial menatap Kiara sendu, bisa – bisanya Kiara hanya menjadikan dirinya sebagai status suami saja, Fahrial tak habis fikir. Dengan perasaan kecewa dan lapar, akhirnya Fahrial memilih untuk makan saja karena dia sudah tidak tahan sejak tadi di dalam kamar mandi telah di demo oleh para penghuni perut.
Fahrial butuh asupan yang banyak karena mencintai Kiara cukup menguras energi dan kesabarannya serta mengorbankan batinnya.