"Lo gak akan bisa menghindar, De. Sekalipun saat ini lo bisa lolos dari gue, hari esok kan masih ada, gue gak akan berhenti nguber lo sebelum gue dapet penjelasan dari sikap lo yang kayak begini." Kiran tidak terlalu menuntut, ia hanya berbicara fakta, jika kali ini Deandra akan pergi tanpa memberitahunya informasi apapun, Kiran sama sekali tidak masalah. Toh mereka kan satu sekolah, Kiran bisa saja setiap hari menggentayangi Deandra sampai Deandra akan buka mulut.
Geretakan Kiran sukses membuat Deandra tersudut di tempatnya. Deandra kenal Kiran waktu kecil, dia begitu antusias jika hal yang ingin di ketahuinya tidak di beritahu. Dan bagaimana pun caranya Kiran harus tau. Dan mungkin inilah saatnya Deandra membuka kebohongannya yang mungkin sudah tertanam di benak Kiran selama bertahun tahun.
"Oke, lo lagi gak ada urusan kan?" Deandra menghembuskan nafas beratnya, kepalanya yang menunduk mulai terangkat dan berani menatap Kiran.
Setitik harapan cerah muncul di mata Kiran, semoga saja Kiran akan tau Gusur itu siapa. "Enggak dong." Jawab Kiran semangat.
"Kita cari tempat yang enak buat ngobrol. Disini terlalu rame." Deandra berjalan duluan, di ikuti Kiran yang kini berusaha mensejajarkan jalannya dengan Deandra.
Tak ada pembicaraan yang berarti saat mereka jalan, hanya basa basi selayaknya teman lama yang baru kembali di pertemukan. Keduanya saling menanyakan kabar dan menanyakan tentang tempat tinggal. Kiran tidak menyinggung soal Gusur selagi di perjalanan.
Sampai akhirnya mereka sampai di tepi danau yang agak sepi, Deandra memutuskan untuk berbicara disana. Keduanya terduduk berdampingan di atas rumput. Mata Deandra mulai menerawang jauh pada kejadian masa kecilnya.
"Maaf, Ran." Deandra mengucapkan ini sebagai awalan pembuka, membuat Kiran memicingkan matanya menatap Deandra yang ada di sebelahnya. Maaf untuk apa? Untuk sikap Deandra yang merebut Gusur? Ah tidak bukan merebut, tapi Deandra memang lebih di pilih Gusur. Menyedihkan.
"Gue udah maafin kok. Bahkan gue udah nyaris lupain, kalo dia gak kembali kayak sekarang." Kata Kiran dengan tenang.
Namun ucapan Kiran justru membuat Deandra yang kebingungan. "Kembali?" Tanya Deandra memastikan, nada suaranya terdengar bahwa Deandra tidak mengetahui apapun.
"Elo gak tau? Apa lo gak ngenalin muka Gusur?"
Deandra menggeleng lemah, dua belas tahun silam mereka berpisah, mana mungkin Deandra mengingatnya. Wajah anak kecil sungguh berbeda dengan wajah seaeorang yang sudah remaja bahkan mulai menuju tahap kedewasaan.
"Gue aja gak inget sama lo kalo lo gak ngingetin." Balas Deandra, tidak melanjutkan penjelasannya yang tiba tiba meminta maaf itu karena terpancing dengan omongan Kiran.
"Iya juga sih, gue juga gak inget muka lo, kalo lo gak sebutin nama lengkap lo." Kiran menopangkan dagunya di atas tangannya, ia mulai berpikir. "Masalahnya gue gak pernah tau nama lengkap Gusur itu siapa? Lagipula nama Gusur itukan cuma panggilan, gue beneran gak tau nama aslinya siapa." Lanjut Kiran, membuka fakta yang menjadi kendala untuk mengetahui siapa itu Gusur.
"Gue juga sama. Lagipula, waktu itu gak ada yang pernah manggil Gusur dengan nama aslinya kan?" Deandra akhirnya ikut terlarut dalam pembicaraan Kiran. Namun melihat Deandra yang tidak tau apa apa, Kiran merasa semua ini sia sia. Apa bedanya Deandra dengan dirinya.
Kiran teringat akan sikap Deandra tadi yang ketakutan, lagipula Deandra juga mengajaknya kesini pasti ingin memberutahukan tentang hal itu. Kiran pun membelokan kembali arah pembicaraan mereka.
"Lo kenapa menghindar kayak tadi? Ada yang lo sembunyiin dari gue?"
"Maaf.." suara Deandra berubah menjadi agak lirih, membuat Kiran makin bingung, sebenarnya ada apa? Apa Gusur mati? Batin Kiran mulai geram. Terus yang smsin gue setan dong?
***
Setelah mendirikan tenda para siswa tidak ada kerjaan, mereka mulai keluyuran sesuka hati. Ada yang sibuk bernarsis ria, ada juga yang ribut mencari sinyal, belum lagi yang sedang menghabiskan cemilan di dalam tenda, dan yang terakhir, yang di khususkan buat yang punya pacar, tentunya lagi sibuk berduaan entah apa yang di lakukan.
Jangankan yang pacaran betulan, yang pacaran bohongan saja, seperti Karin dan Arbis, kini sedang duduk santai berdua di luar tenda Karin. Mungkin untuk meyakinkan opnum opnum yang masih agak ganjil tentang hubungan mereka, makanya mereka pun berperilaku seperti orang pacaran lainnya.
"Lo ngapain sih disini? Emang pasukan lo pada kemanain?" Tanya Karin jutek, ia seakan risih dengan kehadiran Arbis, sungguh mengganggu dirinya yang sedang serius bermain game di gadgetnya.
"Nah itu dia, mereka pada so sibuk. Si Ilham sibuk tebar pesona sama anak IPS yang baru itu, tapi tadi gue liat Kiran juga malah pergi sama cewek yang lagi di tepe-in si Ilham. Si Sayna malah reunian sama Regan, anteng banget ngebahas jaman jaman smp nya yang gue kagak ngerti." Arbis menjelaskan semuanya, semua aktifitas teman temannya yang membuatnya tak ada kerjaan sendirian, dan karena itulah Karin jadi pelarian. Bukan, bukan pelarian seperti itu, justru Arbis senang bisa menjaili Karin. Lagipula baguslah semua aktifitas teman temannya bisa di jadikan alasan.
"Emang Sayna itu waktu smp sekelas yaa sama Regan?" Dengan hati hati Karin bertanya, takut Arbis malahan meledeknya, tapi Karin juga penasaran.
Arbis tersenyum meledek pada Karin, dari sekian aktifitas teman temannya, Karin malah memilih untuk membahas aktifitas Sayna yang sedang berhubungan dengan Regan.
"Katanya sih iya, lagian yang kemaren reunian smp itu cuma reunian kelasnya doang. Kalo mereka gak sekelas gak mungkin dateng dong." Jelas Arbis, namun matanya tak lepas memandang Karin yang kini merasa risih dengan tatapan Arbis yang seolah ingin mengetahui gelagat wajah Karin saat membagas ini. "Tenang, Rin. Sayna sama aja kok kayak Kiran, ngedeketin Regan nya cuma iseng. Lagian Sayna mah punya maksud terselubung kalo udah deket sama Regan." Lanjut Arbis yang kini seolah memberitahu Karin, bahwa Karin tak perlu khawatir atau cemburu.
"Apasih?" Karin membuang mukanya dengan malas, menghindari tatapan Arbis yang terus menatapnya seperti itu. Mungkin wajah jutek Karin agak memerah saat membahas hal ini.
"Hahaha, lucu yaa ngeliat seorang Karin salting. Ekspresinya duh.." Arbis makin menggoda Karin sambil tertawa begitu terbahak karena puas.
"Muka lo jauh lebih lucu kalo lagi galau ngebahas si... emph.." Karin tak melanjutkan ucapannya karena tangan Arbis yang segera membekapnya dari samping, tangan Arbis yang berada di sebelah Karin seolah merangkul Karin, namun telapak tangannya segera menutupi mulut Karin. Membuat Karin sulit bernafas apalagi berbicara.
"Lepas ih! Tangan lo bau, tau!" Karin menarik tangan Arbis dari mulutnya, dan mengatai Arbis sekenanya.
"Wah songong, gue udah cebok kok." Jawab Arbis asal. Namun tak terlalu di hiraukan Karin. Malas sekali meladeni pembicaraan Arbis yang tidak berbobot itu. "Denger musik dong, Rin. Gue bawa headset nih." Arbis melirik gadget yang di pegang Karin, lalu mengeluarkan headset dari saku celana jeansnya. Arbis merebut gadget itu dari tangan Karin, lalu mencolokan headsetnya. "Nah kita denger berdua yaa biar keliatan so sweet dikit gitu." Arbis mengaitkan headsetnya yang sebelah ke telinga Karin lalu sebelahnya lagi ke telinganya.
"Lebay ih!" Karin berontak dan melepaskan kembali headset yang sudah tercantol di telinganya.
Arbis tak peduli dengan ucapan Karin, ia kembali memasangkan headset itu di telinga Karin. "Jangan di lepas, nanti gue bilangin Regan nih."
"Sialan." Karin hanya mendesis dengan sebal karena ucapan Regan. Benar benar buruk saat kartu as nya telah di ketahui Arbis.
Sejenak mereka anteng mendengarkan musik tanpa ada yang bicara, meski mulut Arbis tidak berhenti komat kamit mengikuti nyanyian yang terdengar di telinganya. Namun ketenangan itu tak bertahan lama saat kekepoan Arbis kembali muncul dan mulai menggoda Karin lagi.
"Ayolah, Rin. Cerita cerita dong. Gue gak tau secara rincinya nih antara elo dan Regan. Gue aja udah terbuka sama lo. Lo anggep gue temen gak sih?" Arbis membujuk Karin agar mau berbagi kisah dengannya.
"Enggak." Saut Karin cuek.
"Karin, meskipun kita anak IPA, kita harus tau dong kalo manusia itu makhluk sosial yang gak bisa hidup sendirian. Sekalipun anak raja atau presiden lo tetep butuh yang namanya temen."
"Gak usah sok jadi mario teguh deh!" Karin masih tetap acuh. Pandangannya sama sekali tak terarah pada Arbis, masih tetap tertuju pada gadgetnya.
"Oke, gue emang gak akan bisa jadi temen lo. Lo kan pacar gue." Arbis merangkulkan tangannya di bahu Karin, namun tangannya justru malah mengusap kepala Karin dari samping, di dorongnya kepala Karin untuk bersandar di bahunya.
Karin berusaha berontak, namun tangan Arbis tetap menahan kepala Karin agar tetap berada di atas bahunya, jujur saja Karin geli. Karena banyak sekali para siswa dan guru yang melintas di depannya, dan tak jarang mereka menoleh kearah mereka dan bersuit suit. Arbis yang selalu bicara asal menjawab mereka satu persatu.
"Gak pernah liat orang pacaran yah?" Itulah kata Arbis dengan nada sedikit garang namun tetap tersimpan senyuman jahilnya.
***
Kiran menatap Deandra penuh tanya, karena Deandra masih diam dan tidak melanjutkan kata katanya. Kiran sudah geram, ingin rasanya ia mengguncang bahu Deandra dan memaksa Deandra untuk bicara. Namun yang Kiran lakukan kini hanya bersabar dan tenang. Tangannya terus meremat remat kelima jarinya sendiri. Menanti detik demi detik yang terlewatkan untuk sebuah kebisiuan yang mendebarkan. Ada rahasia apa selama ini?
"Sebenernya, waktu itu, gue sama Gusur.." pelan pelan Deandra mulai kembali angkat bicara, namun lagi lagi ia menggantung ucapannya. Wajahnya terlihat kebingungan untuk melanjutkan kata kata itu, ia seakan ragu, tapi harus di ucapkan kali ini juga. Karena pasti Kiran akan mendesaknya.
"Iya, apa?" Kiran agak membesarkan suaranya, karena geram dengan Deandra yang terlalu korban sinetron. Pengen ngomong aja susah banget, pasti kalo di sinetron, saat saat kayak gini udah di iringin backsound yang super tegang deh.
Deandra masih diam, ia hanya menghela nafasnya, lalu kemudian menoleh menatap Kiran yang sudah tidak sabar menantikan penyelesaian kata kata Deandra. "Gue sama Gusur gak pernah pacaran, Ran. Maaf.. semua itu permintaan Gusur."
Mata Kiran membola, menatap Deandra tak percaya. Terus kenapa waktu itu Gusur bilang begitu? Maksudnya apa? Kiran diam, ia agak shock saat mendengar Deandra mengungkapkan satu rahasia yang sudah bertahun tahun terpendam, tanpa Kiran ketahui kebenarannya.
"Gi.. gimana bisa? Waktu itu.." Kiran berbicara dengan tergagap saking shocknya, ia menarik panjang nafasnya agar bisa menyelesaikan kata katanya. "Kalian bilang sendiri kan sama gue, dan itu di jadiin alesan buat Gusur.." Kiran kembali menghela nafas, ia memejamkan matanya sejenak, seakan tak mampu melanjutkan ucapannya. Jujur saja ia benci mengatakan ini. "Itu di jadiin alesan buat Gusur, nolak gue." Suara Kiran nyaris tak terdengar. Kiran benci mengingat itu, Kiran benci mengakui itu, satu hal yang sangat memalukan yang pernah terjadi di hidupnya. Saat dirinya masih kecil dan masih polos polosnya, untuk pertama kalinya merasakan perasaan aneh, dan meski masih kecil, sampai saat ini Kiran percaya bahwa itu bukan sekedar cinta monyet.
"Gusur yang minta semua itu, Ran. Dia juga suka sama lo, dia sayang sama lo, kalo enggak, dia gak mungkin selalu ngelindungin dan ngejagain lo waktu lo di gangguin anak anak badung yang ada di taman deket rumah kita dulu. Dia selalu berusaha buat jagain lo, meski kalian masih sama sama kecil, tapi dia gak akan biarin lo kenapa napa." Deandra mulai membuka fakta fakta yang ada, membuka kenangan masa kecilnya dulu, meski terdengar lucu, anak kecil sudah main suka sukaan. Tapi ternyata perasaan itu tulus dan masih terbawa sampai sekarang.
"Terus, kenapa dia ngelakuin itu sama gue? Satu hal yang mungkin spele, tapi punya dampak besar buat hidup gue?"
"Karena dia gak mau ngasih harapan semu buat lo. Dia gak mau bikin lo berharap dan bikin lo melayang sementara, terus ngehempasin lo lagi ke bumi tanpa ampun. Karena bersamaan dengan itu dia harus pergi bareng keluarganya. Lo taukan setelah lo ngungkapin perasaan lo, besoknya Gusur langsung menghilang. Dia bilang sama gue, kalo dia bakal pergi ke luar pulau. Dan sebulan kemudian, elo sama keluarga lo yang pergi. Dan tinggal tersisa gue sendirian." Deandra menjelaskan semuanya, semua yang di ketahuinya waktu itu, yang masih teringat dengan jelas di dalam memori otaknya.
Kiran tak mampu mengatakan apapun, saat semua itu terungkap, saat ia baru tau satu kebenaran yang sesungguhnya, dan menjawab semua tanda tanya besar di benaknya sejak Gusur kembali lagi. Saat Gusur mengatakan bahwa dia membohongi perasaannya sendiri, Kiran tak pernah mengerti apa maksudnya. Tapi kini Kiran tau semuanya.
***