- 31 -

1064 Kata
Jalanan menurun di hutan ini cukup berbahaya, regu Arbis dengan hati hati melangkah turun. Harus ekstra hati hati memang, karena kalo sampai terpeleset sedikit bisa bisa tubuh akan terjatuh berguling guling di turunan yang penuh banyak ranting pohon yang tajam ini. Belum lagi di bawahnya terlihat ada sungai dengan air yang begitu deras. Osis memang keterlaluan, membuat jalur yang tidak pakai perasaan. "Aaaa.." Karin berteriak saat merasa tubuhnya oleh, kakinya terpeleset karena tanah yang tersembunyi di bawah rumput itu begitu basah. Jantungnya berdegup kencang, tidak tau apa yang akan terjadi jika ia sampai terjatuh. Dengan cekatan Arbis menghadang di depan Karin, menangkap tubuh Karin yang sedang oleng. Karin yang sempat menutup matanya agak kaget saat merasa pinggangnya ada yang memegang. Dan saat ia membuka matanya, sosok Arbis sudah ada di depannya sedang tersenyum lebar. "Hati hati kalo jalan." Kata Arbis sambil melepaskan tangannya dari pinggang Karin, setelah yakin tubuh Karin sudah kembali berdiri tegak. "Makasih." Ucap Karin singkat, kali ini tulus, karena Arbis sudah menyelamatkan nyawanya yang hampir melayang. Saat hendak kembali berjalan, Arbis agak terkejut saat ada sesuatu menjerat kakinya, seolah menahannya untuk melangkah. Semakin lama semakin merambat naik, jantung Arbis berdetak dua kali lebih cepat saat menyadari apa yang merambat di kakinya. "Lo kenapa?" Karin yang hendak berjalan, menghentikan kembali langkahnya saat melihat Arbis tidak berbalik untuk melanjutkan jalannya. Arbis malah sibuk menarik narik kakinya yang seperti terjerat sesuatu. "Kaki gue kejerat akar idup." Arbis masih berusaha menarik kakinya, namun semakin lama akar itu malah semakin menjalar di kakinya. Karin terkejut, matanya kemudian memandang ke kaki Arbis. Di lihatnya akar hidup itu melilit kaki kanan Arbis. Semakin lama semakin menguasai kaki Arbis, dan seberusaha mungkin Arbis menarik kakinya, semakin kencang akar itu menjerat kakinya. "Rizky! Tisya! Tunggu dulu, kali Arbis ke jerat akar hidup." Karin berteriak memanggil Tisya dan Rizky yang sudah berjalan duluan. Karin terlihat begitu panik, ada rasa tidak enak, karena Arbis seperti itu karena menyelamatkannya. Dan yang lebih bahaya lagi, Arbis terjeratnya di tempat seperti ini. Tempat yang sangat berbahaya karena jalannya menurun. "Lo kenapa, Bis?" Rizky mengarahkan senternya ke kaki Arbis, Rizky pun tak kalah terkejut dengan Karin, apalagi saat di lihatnya akar itu sudah menjerat sebagian dari kaki Arbis. "Arbis hati hati, kamu jangan terlalu banyak gerak, kalo jatoh bahaya." Tisya mulai bersuara, dengan gaya bahasa aku-kamunya. Namun Tisya tidak sadar, kini mata Rizky dan Karin menoleh kearahnya karena ucapannya. Arbis juga agak tertegun dengan ucapan Tisya, namun kemudian Arbis segera menyahuti. "Gimana gue bisa jatoh, orang kaki gue di jerat gini." Saut Arbis, sambil terus berusaha menarik kakinya. "Ada yang bawa gunting?" Dengan cekatan Karin bertanya, yang ia tau akar seperti itu bisa terlepas jika di gunting. Semuanya menggeleng, lagipula siapa yang kerajinan bawa gunting ke tempat seperti ini? Dan sekalipun bawa, mungkin ada di dalam tas. "Coba lo tarik lagi kaki lo yang kuat, sini pegangan sama gue. Biar gue nahan supaya lo gak jatoh." Karin mengulurkan tangannya dan berdiri di hadapan Arbis. "Enggak, senadainya bisa kelepas, lo gak bisa nahan gue, Rin. Yang ada lo ikut jatoh bareng gue. Kalo gitu mending gue jatoh sendirian." Tisya diam mendengar ucapan itu, Arbis begitu tidak ingin Karin kenapa napa. Terbukti dengan adanya jeratan akar di kakinya, Tisya tau itu karena Arbis ingin menyelamatkan Karin. Arbis begitu berusaha melindungi Karin, dan entah mengapa, hati Tisya terasa ngilu. Saat merasa, Tisya bukan lagi orang yang patut untuk Arbis jaga ataupun lindungi. "Kalo gitu, Karin megangin lo di depan, dan gue jagain di belakang, kalo lo jatoh biar gue bisa tangkep." Rizky memberi usulan. Lalu bersiaga di belakang Arbis. Arbis melihat ke arah depannya, ada Karin yang masih mengukurkan tangannya, dengan senyuman manis yang sangat jarang terlihat, meyakinkan Arbis. Lalu Arbis melihat ke belakangnya, ada Rizky disana. Namun Arbis masih enggan untuk melakukan hal itu. "Gue gak bisa, lo berdua minggir. Gue takut kejadiannya kita bertiga malah jatoh ke bawah. Biar gue usaha sendiri." Arbis memang keras kepala, tapi Arbis tak ingin banyak orang yang terluka karenanya. Arbis tak ingin mengambil resiko besar. Mau tidak mau Rizky dan Karin menyingkir, meski Karin sebenarnya khawatir. Kini Arbis mulai menarik kakinya dengan seluruh tenaga yang di milikinya. Rupanya akar itu memang kuat. Tapi Arbis tidak menyerah, ia kembali menarik kakinya dengan sekuat tenaga. Berhasil. Jeratan akar itu terputus, namun benar saja, kemungkinan terburuk itu terjadi, karena tidak ada yang menahan, tubuh Arbis terhuyung ke belakang. Arbis pun terjatuh, kini tubuhnya bergulingan menggelinding ke bawah, bergesekan dengan ranting tajam dan bebatuan yang ada disana. "Arbisaa!!!" Karin dan Tisya berteriak bersamaan, begitu kencang dan lirih. Mereka tak tega melihat Arbis yang menggelinding seperti itu. Karin tak dapat berdiri diam disana. Ia berlari turun kebawah dengan tergesa, sampai akhirnya tubuhnya pun ikut merosot, untung saja tidak bergulingan seperti Arbis. Celana panjang yang di gunakan Karin masih melindunginya dari benda benda tajam yang menghantam kakinya, namun seluruh pakaiannya sudah kotor terlumuri tanah. Byurr.. Tubuh Arbis yang kehilangan kekuatan itu kini dengan pasrah masuk ke sungai yang aliran airnya begitu deras. Karin semakin berteriak. Ia yang sudah sampai ke bawah pun berlari ke dalam sungai. Berusaha menarik Arbis naik keatas. "Ya Tuhan, Arbis!" Karin menutup mulutnya saat melihat kondisi Arbis yang sudah tak berbentuk itu. Saat Karin berhasil menyeret tubuh Kiran yang sudah basaj kuyup, sama halnya juga dengan dirinya, karena tadipun Karin turun kedalam sungai. Karin dapat melihat, Arbis masih setengah sadar, matanya mengerjap, menatap Karin yang begitu khawatir dengan senyuman. Melihat kondisi Arbis yang terluka parah, mata Karin berlinang. Sebutir air mata keluar dari mata Karin. Karin benar benar tak tega melihatnya, melihat kondisi Arbis yang tadinya kokoh kini terlihat mengenaskan, dan itu karena Karin! Kalau saja Arbis tadi tidak menolongnya, mungkin Arbis tak akan sampai seperti ini. "Elo bisa nangis?" Dalam kondisinya yang seperti itu, Arbis masih saja bergurau meledek Karin. "Gak usah bercanda, kalo bukan gara gara gue lo gak bakal kayak gini. Lagi kenapa lo harus nolongin guesih?" "Karena lo temen gue, gue gak bakal ngebiarin temen gue kenapa napa." "Temen?" Karin bertanya dengan lirih, bagaimana bisa Arbis masih menganggapnya teman? Padahal sudah jelas jelas Karin tak pernah menganggapnya. "Lo mau kan jadi temen gue, sekarang?" "Kalo cuma buat jadi temen gue gak harus kayak gini!" Tak lama kemudian Rizky dan Tisya baru datang, betapa naasnya saat melihay kondisi Arbis yang kacau . Banyak luka di bagian lengannya karena Arbis memakai kaos berlengan pendek, jaketnya kan masih di pakai Tisya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN