"Ehem cieee, ternyata yang model kayak Regan yang di sukain seorang Karin. Ah selera lo sama kayak Sayna dan Kiran." Arbis keluar dari persembunyiannya, ia mencegat jalan Karin. Penampilannya terlihat berantakan, sudah rambutnya acak acakan baru bangun tidur, baju seragamnya yang setengah keluar, serta kakinya yang tidak beralas alias nyeker, belum lagi wajah bonyoknya dan darah yang terjatuh di seragamnya. Tapi Arbis kayak gak peduli, kini ia malah tersenyum menggoda pada Karin. Membuat Karin kaget karena ada yang melihatnya. Dan mengapa harus Arbis? Ahh memalukan.
"Elo kok masih ada disini sih? Abis tawuran yaa?"
"Suka ngalihin pembicaraan deh. Ciee Regan." Arbis mencolek dagu Karin sambil tetap menatapnya menggoda, membuat Karin muak setengah mati. Dan tentunya malu abis.
"Udah ah gue mau pulang." Karin gak bisa berkutik, ia memutar arah jalannya, berbalik menuju parkiran. Ia tidak mau membahas lebih dalam dengan Arbis tentang Regan.
"Bilang aja mau nyusul Regan di parkiran. Huh pantes betah banget kalo di bonceng Regan." Arbis berjalan mengekori Karin, dengan terus beceloteh meledek Karin. Membuat Karin gerah.
"Arbisa!! Lo bisa diem gak sih? Hidup gue jadi gak tenang semenjak kenal elo!" Emosi Karin naik, memang selalu seperti ini jika Karin berhadapan dengan Arbis. Disaat Karin kesal setengah mati pada Arbis, dan saat itulah Arbis kegirangan.
Kini posisi Arbis berhadapan dengan Karin. Arbis seketika meletakan telunjuknya di mulut Karin. Matanya yang saat itu memerah menatap Karin lekat. "Syut, gaboleh gitu sama pacar." Tatapan Arbis berubah jadi jail, bikin emosi Karin lebih naik. Karin menyingkirkan tangan Arbis dari bibirnya. Demi apapun, Karin semakin jijik dengan tingkah Arbis.
"Gue gak mau pura pura lagi jadi pacar lo!"
"Karena lo pengen deket sama Regan tanpa hambatan kan?"
"Arbis jangan bahas itu terus! Jangan bilang siapapun tentang itu!" Rengek Karin, ia tak ingin semua anggota Klover sampai tau tentang perasaannya.
Arbis tersenyum licik, ucapan Karin malah membuatnya memiliki ide. "Tenang aja, gue gak bakal bilang bilang kok. Asal kita tetep pacaran, oke?" Arbis menaikan sebelah alisnya, menatap Karin dengan licik. Dan Karin semakin merutuki semuanya. Mengapa jadinya sulit sekali lepas dari Arbis?
***
Terlalu asik mengobrol di taman bersama Eza, membuat Sayna lupa dengan tujuan awalnya datang ke taman ini. Sayna tak peduli tentang secret admirer nya itu, saat itu suasana hatinya sedang berjingkrak kegirangan. Bagaimana tidak? Sayna menghabiska sore ini bersama Eza. Oh God, hari apa ini? Tanggal berapa ini? Sayna benar benar harus mencatatnya.
"Wah asik juga yaa temen temen lo di SMA. Kayaknya di SMP lo agak diem deh." Eza berkomentar setelah mendengar cerita Sayna tentang Klover. Ia mengingat bagaimana tingkah Sayna di SMP dulu. Sayna memang seorang siswa tak kasat mata, yang tidak terlalu peduli lingkungan sekitarnya. Tapi Sayna juga gak diem seperti apa yang di bilang Eza. Cuma orang yang gak akrab sama Sayna yang berkomentar seperti itu. Berarti Eza adalah salah satunya.
..
"Hey, lo gak pernah denger gue ngakak di kelas sama Nadya dan Riri?"
"Oh, iya gue lupa. Elo kan main nya sama Nadya yaa? Iya Nadya emang cablak, rame, siapapun yang deket sama dia bisa ikutan gila."
Sayna seketika diam mendengar omongan Eza kali ini, tidak salah lagi, wajar jika Sayna pernah patah hati bahwa mengira Eza menyukai Nadya. Ternyata? Its true, itu benar. Ah apa Sayna akan sakit hati lagi saat ini? Oh tidak tidak, bahkan Sayna sudah tidak pernah bertemu Nadya semenjak lulus. Saat reunian kemarin pun Nadya tak datang, Sayna juga ingat Eza menanyakan itu pada dirinya.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari mereka, sepasang mata mengamati gerak gerik Sayna dan Eza yang duduk di salah satu bangku taman ini. Dia telat, sepertinya Sayna lebih bahagia bersama lelaki yang amat di cintainya itu. Dia hanya diam di tempatnya, mengurungkan niatnya untuk bertemu Sayna. Mungkin ini belum saatnya, dia masih harus mengagumi Sayna dalam diam. Kembali menjadi pengagum rahasia Sayna.
***
"Omaygat, Arbis, Kiran, Ilham. Lo harus denger cerita gue kali ini. Demi apapun kemaren adalah hari paling indah sepanjang perjalanan hidup gue. You know what?"
Arbis, Kiran, dan Ilham hanya mampu mendenguskan nafas beratnya saat harus mendengar ocehan Sayna yang di awali dengan kata kata tidak jelas ini. Ketiganya menggeleng dengan kompak saat Sayna bertanya, mulut Sayna yang terkatup sebentar pun mulai kembali membuka dan akan mengoceh dengan antusiasnya menceritakan kejadian kemarin sore yang masih teringat jelas dalam ingatannya.
"Kemaren sore gue ketemu Eza di taman deket smp gue, dan di saat gue mau beli rujak eh udah abis pas di Eza, alhasil gue makan bareng dia, kita ngobrol, becanda, dan.. bla bla bla.."
Semua di ceritakan Sayna kepada tiga sahabatnya yang hanya bengong mendengar cerita Sayna. Semuanya, Sayna menceritakan kejadian kemarin tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan. Semuanya, Sayna tanpa jeda bercerita pada mereka, menceritakan semua obrolan yang mereka bicarakan. Semuanya, Sayna dengan antusias menceritakan semua kejadian kemarin yang tak mungkin di lupakannya.
"Oke, stop! Lo selalu menceritakan Eza. Sampe sekarang pun gue gak tau makhluk bernama Eza itu kayak gimana?" Kiran memprotes omongan Sayna, mengingat ia tidak pernah melihat sosok yang selalu di ceritakan Sayna itu. Kiran tidak tau bentuk lelaki yang mampu menbuat sahabatnya segila itu. Apa si Eza itu lebih ganteng dari gebetan barunya -Rafa?
"Aish, Ilham tau noh." Sayna menunjuk Ilham yang masih bengong mendengarkan ucapan Sayna yang bergantian dengan Kiran. "Ganteng kan, Ham?"
Ilham mengangkat alisnya sedikit, dahinya berkerut pertanda berpikir. Mengingat bagaimana wajah Eza saat ia bertemu di mall. "Gantengan gue, Na!" Ilham masih tetap ngotot, seperti jawabannya saat di mall waktu itu, bersikeras mengatakan dirinya lebih ganteng.
"Elo masih aja yah narsis!" Sayna kesal melihat Ilham yang kembali memuji dirinya.
"Tapi hebat juga si Eza, bisa bikin Sesil berpaling dari Regan." Kiran menopangkan dagunya, membayangkan kejadian putusnya Regan dengan Sesil, tepat pada saat itu ia kalah taruhan. Lalu terdengar kabar dari Sayna bahwa Sesil jadian dengan Eza. "Padahal, Regan itu kan cowok perfect tanpa celah, udah ganteng, keren, pinter, cool, ramah, gak sombong, pengertian, duh pokoknya calon suami idaman banget deh. Guesih kalo jadi Sesil udah bahagia dunia akhirat, gabakalan gue ngelirik cowok laen deh, meski di sodorin personil boyband korea atau Justin Bieber, gak bakal gue berpaling." Kiran nyerocos menjelaskan tentang Regan, seolah olah Kiran cinta mati banget sama Regan.
Arbis cuma senyam senyum, mengingat bagaimana tingkah Karin kemarin saat dengan Regan. Mereka memang kembar, selaranya aja samaan. Tapi emang pantes sih cewek bisa tergila gila sama Regan, abis pesonanya gak nahan.
"Lo sebenernya suka ya, Ran ama Regan?" Tanya Ilham yang bingung sama sikap Kiran yang suka kambuh ini. Ilham emang gak habis pikir, Kiran ini suka beneran gak sih sama Regan?
"Hey, cuma cewek b**o yang gak tertarik sama Regan." Saut Kiran cuek, seolah tuh Regan WAW banget.
Lagi lagi Arbis tersenyum, emang bener sih, cuma cewek b**o yang gak tertarik sama Regan. Bahkan Kiran aja yang b**o bisa tertarik segitunya sama Regan. Apalagi Karin yang lebih punya otak di banding Kiran.
"Tapi seganteng ganteng nya Regan tetep lebih ganteng gue lah." Lagi, Ilham memulai narsisnya. Kayaknya pede banget anak ini, seakan dia manusia yang paling ganteng. Oke, Ilham emang udah termasuk alay. "Coba lo liat, Regan kalo pacaran ceweknya cuma satu. Nah gue banyak."
"Ah basi, bosen gue dengernya itu mulu!" Sayna menyela, karena pernah mendengar Ilham bicara seperti itu.
"Meski pun cewek lo banyak, status lo sekarang jones woo.." Kiran tampak begitu menggebu menghina Ilham.
"Ngaca woy, lo lebih jones dari gue! Gue gak pernah liat lo pacaran." Ilham kembali membalas, tak mau kalah.
"Yang udah gak jones mah diem diem aja tuh." Sayna melirik Arbis yang dari tadi sibuk sama pikirannya sendiri.
Arbis cuma nyengir.
Kiran mendelik, berasa di katain sama Ilham. Ekspresi wajahnya jadi berubah garang. "Heh, kalo gue mau tinggal cap cip cup juga dapet gue mah. Sayang nya gue kagak murahan kayak elo, sama siapa aja mau."
"Songong lo, Ran! Lo kira cowok apaan tinggal cap cip cup." Arbis yang dari tadi diam menoyor kepala Kiran dengan gemas karena omongannya. "Liat noh, Sayna aja yang masih polos diem diem aja." Arbis beralih menatap Sayna yang gak mau ikut campur sama perdebatan Kiran-Ilham.
"Aih, Na. Gue sih ngamuk kalo di katain polos. Come on, polos sama dengan muka rata. Gapunya mata gapunya idung aduh itusih cacat namanya. Atau muka rata yang di artikan sebgai gatau malu. Aduh, gue sih nyesek luar dalem kalo di bilang polos, sakitnya tuh disini." Kiran dengan antusias memperpanas keadaan, ngomporis Sayna sama Arbis, dengan gaya yang di lebay lebaykan, mendramatisir keadaan. Melebih lebihkan segala hal.
Arbis yang mendengarkannya seketika mendaratkan kembali tangannya untuk menoyor kepala Kiran lebih kencang. "Setan lo kompor!" Cetus Arbis sambil memandang geli pada Kiran.
***
Kiran begitu menikmati berlangsungnya malam ini. Pasalnya malam inilah Kiran nonton dengan Rafa. Kiran gak bisa menyembunyikan rasa senangnya, saat mau berangkat keluar untuk menemui Rafa yang sudah menjemputnya di bawah saja, Kiran sempat menelpon semua anggota Klover untuk di beritahukan bahwa malam ini Kiran akan nonton dengan Rafa. Tanggapan mereka, gak penting, gak ngaruh buat kelangsungan hidup mereka. Tapi Kiran masabodo, yang penting temen temennya tau kalo Kiran bakal nonton sama gebetan sematawayangnya ini. Beneran deh Kirab udah tobat jadi cewek php.
"Haii.." Kiran tersenyum ramah pada Rafa yang sudah menunggu dengan motornya, malam ini Kiran tampak cantik meski hanya menggunakan kaos tanktop yang di balut rompi di luarnya, serta celana jeans berwarna biru dongker, dan sepati wedges yang bertengger di kakinya. Tas kecil berbentuk selempangan di bawanya untuk menaruh dompet dan hape. Rambutnya di biarkan tergerai hanya dengan hiasan jepitan anak kecil.
"Langsung jalan, yuk." Rafa bersiap menaiki motornya, kemudian menyodorkan sebuah helm pada Kiran.
Kiran pun mengikuti naik ke bagian boncengan motor gede Rafa. Belum juga motornya jalan, Kiran udah melingkarkan tangannya aja di pinggang Rafa. Ngebet banget.
Motor Rafa pun membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan relatif sedang, kali ini jalanan ibu kota agak mendukung karena tidak terlalu macet, sehingga motor Rafa dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan kecuali ada lampu merah.
Di bonceng Rafa malem malem gini, mengingat tujuannya untuk nonton, membuat Kiran tidak henti hentinya tersrnyum di belakang Rafa. Hatinya tidak sebentar merasakan yang namanya berbunga bunga itu, karena rasanya, sepanjang jalan Kiran terus senyam senyum.
Tentu Rafa tak dapat melihatnya, Rafa fokus mengendarai motornya dengan mata lurus ke depan. Namun karena ingin mencairkan suasana meski dalam perjalanan, Rafa menbuka pembicaraan dengan pertanyaannya seputar film.
"Lo suka film apa, Ran?" Tanya Rafa tanpa memalingkan wajahnya ke belakang, suaranya dari balik helm terdengar samar, namun cukup terdengar oleh Kiran yang berada sangat dekat dengannya.
"Emm.." Kiran berpikir sejenak, mengingat jenis film apa yang di sukainya. Jujur sih Kiran seneng sama film kartun, masalahnya gak rumit malah bikin ngakak, tapi di bioskop mana di puterin film kartun. Meskipun ada tapi bukan kartun lucu yang Kiran maksud pastinya. "Gue suka yang pembunuhan s***s, kayak SAW, Scream, Chucki, Rumah dara. Yang begitulah."
"Wow, cewek manis kayak elo seleranya serem juga yaa."
Kiran langsung tersipu mendengar Rafa berkata begitu, duh Rafa bikin pipi Kiran merona merah mendengar pujian yang tidak langsung itu.
Sampai motor Rafa tiba di mall Taman Anggrek, lalu Rafa memarkirkan motornya di dekat sederetan motor yang juga terparkir disana. Mereka pun turun dari motor dan berjalan menuju bioskop.
Tanpa disadari Kiran maupun Rafa, sepasang mata terus mengintai mereka. Memandang mereka dengan penuh kebencian, bukan, bukan benci terhadap keduanya, namun benci karena kedekatan keduanya. Dengan menggunakan celana jeans pendek dan jaket hitamnya, serta topi yang nyaris menutupi wajahnya, orang itu terus mengikuti kemanapun Kiran dan Rafa melangkah.
"s**t!" Dia mengerang, saat melihat Rafa yang membenahi bedak Kiran yang belepotan saat balik dari toilet, tampang Kiran yang lucu saat mengenakan bedak baby yang berantakan, membuat Rafa tegerak untuk merapikannya. Kiran tampak tersipu mendapati perlakuan dari Rafa. "Gue gak akan ngebiarin Kiran masuk ke permainan licik lo, s****n!" Desisnya, dengan pandangan kebenciannya yang mengarah pada Rafa.
Sedangkan Kiran, dia hanya sibuk mengatur debar jantungnya yang mulai tak karuan. Oh God, bahkan rasanya jantung Kiran seperti ingin copot saat merasakan tangan lembut Rafa merapikan bedaknya yang acak acakan di mukanya. Sesaat Kiran menahan nafasnya, dan saat hendak bernafas kembali, Kiran seakan kehilangan oksigen untuk kembali bernafas. Perasaan ini, perasaan yang telah lama hilang, kini benar benar kembali untuk seorang Rafa.
Tiba tiba ponsel Kiran bergetar, menandakan ada sms masuk. Kiran pun segera mengambil ponselnya dari tas kecil yang di bawanya. Terpampang ada satu pesan masuk untuknya. Ia pun segera mengusap layar ponsel nya untuk segera membuka sms itu.
Dia itu b******k, dia gak baik buat lo! Gue bisa ikhlas ngeliat lo sama siapapun asal jangan dia!
Deg..
Kali ini jantung Kiran kembali berdetak dengan kencang, ketika membaca sms yang masuk dari ponselnya. Lagi! Pasti dari Gusur. Kiran kenal nomor ini, bahkan Kiran sempat menyimpannya. Seketika Kiran langsung celingukan saat sampai di bioskop, mencari sosok yang Kiran sendiri tidak tau bagaimana bentuknya.
"Kenapa, Ran?" Tanya Rafa saat melihat Kiran begitu resah, bahkan beberapa butir keringat mengucur dari pelipisnya. Wajah Kiran pun seketika menegang.
"Eng, ah, gapapa, Kak." Kiran berusaha menyembunyikan kepanikannya, selalu saja seperti ini. Tapi Kiran yakin, sosok Gusur itu pasti ada di sekitar sini. Buktinya, dia mengsms tepat pada saat Rafa bersamanya. Kiran pun yakin, pasti Gusur tengah mengintainya saat ini.
***