- 23 -

2399 Kata
Lain halnya dengan Kiran yang nonton bareng Rafa, saat ini Arbis justru sedang berkunjung ke rumah Neneknya yang berada di kawasan Depok. Arbis berangkat sore tadi setelah pulang sekolah, dan malam ini Arbis sedang duduk di ruang keluarga menemani sang Nenek menonton tv. Arbis memang cukup akrab dengan neneknya, bahkan hingga SMP Arbis tinggal bersama Neneknya di Depok. Sejak masuk SMA saja Arbis baru pindah bersama keluarganya ke Jakarta. Sebenarnya Arbis agak jenuh, menuruti keinginan sang Nenek untuk menonton sinetron yang sudah beribu ribu episod tidak tamat tamat. Sinetron kesukaan ibu ibu pastinya, bahkan merambah ke Nenek Nenek. Anak muda model Arbis gini jelas gak suka nonton sinetron beginian. "Oma, maen ps aja yuk. Arbis bawa ps tuh dari Jakarta." Ajak Arbis, sambil menampakan wajah betenya. Terdengar konyol, mengajak Neneknya bermain ps? Hey, Arbis tidak sedang melawak bukan? "Duh kamu tuh, Bis. Masa Oma sudah tua di ajak maen ps. Yang bener aja." Saut Neneknya dengan suara yang sudah bergetar karena faktor umur, namun pandangannya tak lepas dari televisi. "Nanti Arbis ajarin, udah ayuk ah. Lagian Oma seneng amat sih nonton nih sinetron. Tukang buburnya aja udah gak ada, masih aja di tonton." Cibir Arbis yang kesal karena gak bisa berkutik untuk main ps. Maka dengan paksa Arbis langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil ps yang di bawanya. Arbis kembali dari kamarnya, membawa playstation bersama dua stiknya. Di pasangnya segala kabel dari playstation nya pada televisi di ruang keluarganya itu. Neneknya pun hanya pasrah mengikuti keinginan cucu kesayangannya ini. "Kita maen balapan aja ya, Oma." Dengan semangat Arbis menyalakan ps-nya. Lalu memilih permainan balapan motor untuk di mainkan bersama neneknya. Neneknya hanya mengangguk saja karena tidak mengerti. "Nih, Oma. Kalo mau belok pencet yang ini, kalo ngebut yang ini, terus motornya jangan kelewat garis nanti lama lama bisa jatoh." Arbis memberi petunjuk dengan menunjuk nunjuk tombol yang ada di stik ps. Seperti yang iya saja, sang Nenek pun memperhatika cucunya yang sedang menjelaskan permainan itu. "Kamu emang bener bener deh, Bis. Angga aja kalo kesini gak pernah ngajak Oma main ps." Kuping Arbis agak memanas saat mendengar nama itu di sebutkan, nama dari orang yang kemarin sempat membuat pipinya membiru, mungkin kali ini lukanya sudah tidak terlalu terlihat, namun jika orang yang peka melihatnya, pasti mengetahui jika Arbis habis berkelahi. "Anak pinter mana bisa sih Oma main ps." Cibir Arbis yang terdengar begitu sinis, sambil memulai permainan balapannya. "Bukannya cucu Oma yang satu ini bahkan lebih jenius? Itu di atas rata rata orang pinter bukan?" "Itu Arbis yang dulu Oma, udah ah gak usah di bahas." Seketika Arbis jadi malas dengan topik pembicaraannya ini. Arbis memang senang bercerita dengan neneknya, Neneknya pun tau bahwa cucunya ini semenjak masuk SMA berubah pola pikirnya. Dulu, Arbis sering sekali pulang dengan membawa piala kemenangan atas prestasi yang di raihnya, tapi sekarang, bahkan Neneknya pun tak sudi jika di suruh melihat nilai ulangan Arbis yang, yah.. tidak usah di sebutkan. Yang jelas itu sangat buruk. "Yess Oma menang." Wanita yang sudah berumur ini kini dengan senang berteriak girang, ia menoleh pada Arbis, ingin memamerkan kemenangannya itu. "Oma apasih? Arbis tau yang menang, kan punya Oma yang warna biru, Arbis yang merah." Arbis tidak terima atas kekalahannya, pasalnya Neneknya memang salah lihat sepertinya. "Loh, kok punya Oma berubah?" "Daritadi juga emang gitu Oma, duh hahahaha.." Arbis tertawa riang melihat tampang Neneknya yang kebingungan, kini gantian Arbis yang bersorak gembira karena dialah pemenang yang sesungguhnya. Setidaknya, disini Arbis melepas penat dari segala masalahnya disana. Bersama Neneknya, Arbis menghabiskan malam minggu ini. Dasar Arbis jones, malem minggu jadi enggak jalan kayak kebanyakan anak muda jaman sekarang. Biar bagaimanapun, Karin kan cuma pacae pura puranya. Gak sudu tujuh turunan Karin di ajak malem mingguan bareng Arbis. "Oh iya, Bis. Tisya udah pulang loh kemaren, dia sempet kesini juga. Soalnya kan rumah dia yang dulu sekarang di tempatin Tantenya." Lagi lagi Arbis hanya mampu diam, saat nama orang yang amat sangat di sayanginya itu di sebutkan. Entah mengapa, rasanya sesak sekali mendengar namanya. Mengingat penghianatan yang telah di lakukan Tisya pada Arbis, namun tetap saja, Arbis tak mampu membenci gadis itu. Kini, ia hanya bisa memendam segala perasaannya yang berkecamuk. Antara senang, karena orang yang di nantinya sudah kembali, atau sedih, karena pada akhirnya dia kembali bukan untuk Arbis, atau harus marah, karena bisa bisanya Tisya menghianati kesetiaan dan ketulusan Arbis, dengan malah berpacaran dengan Angga, musuh terbesar Arbis? "Arbis, kok ngelamun?" Lamunan Arbis buyar, saat sang Nenek menyadarkannya. Membuat Arbis kembali melihat kenyataan yang pahit ini. Kenapa harus bahas inu? Padahal disini Arbis ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak. "Ah, eng, kenapa Oma?" Tanya Arbis, terlihat sekali ia agak bingung dengan panggilan Neneknya ini. "Ituloh, sekitar bulan kemarin, Tisya kesini sama Angga." Nenek Arbis malah melanjutkan, semakin menjadi, membuat Arbis semakin sesak mendengarnya. "Itu bukan urusan Arbis." Jawab Arbis singkat, raut matanya tersimpan jelas kepedihan yang amat dalam. "Dia udah enggak sama kamu lagi?" "Semenjak Tisya pergi juga kita udah gak ada hubungan apa apa lagi kok, jadi dia berhak berhubungan sama siapapun." "Tapi semenjak Tisya pergi juga kamu berubah, Oma gak pernah liat kamu pacaran lagi sama siapapun. Itu berarti, kamu menunggu dia bukan?" "Arbis cuma gak mau, disaat nanti Arbis udah sayang sama orang lain, dia akan ngambil orang itu lagi Oma." Nenek Arbis paham betul siapa yang dimaksud dia dalam penuturan katanya itu. Siapa lagi jika bukan Angga? Nenek Arbis tidak membela salah satu dari cucunya itu, dia cukup adil, Nenek pun sudah tidak asing mendengar Arbis dan Angga saling bercerita lempar kesalahan. "Sampai kapan kamu mau terus berselisih dengan sepupumu itu? Kalian kan saudara." "Di dalam mimpi pun, Arbis gak sudi punya sepupu kayak dia. Tapi sayang, kenyataan berkata lain." Dan, seketika mood Arbis benar benar turun saat pembicaraan merembet pada Angga. "Udah yah Oma, Arbis ngantuk mau tidur. Oma juga tidur yaa, udah malem nih." Arbis meletakan stik ps-nya. Lalu dengan malas berdiri dan berjalan ke kamarnya yang berada di rumah Neneknya itu. Nenek hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan cucunya yang tidak akur. Nenek tau perselisihan itu juga turunan dari kedua orang tua mereka -- yang berarti anaknya-- memiliki masalah. *** Film di bioskop pun telah usai, para penonton pun berhamburan keluar dari teater. Di segerombolan orang yang habis menonton, terlihat Kiran dan Rafa yang kelihatan sedang membahas film yang habis di tontonnya. Mereka terlihat akrab dan terus mengobrol, dengan membahas topik apapun. Rafa yang semula dingin pada Kiran, kini terlihat nyaman berada di dekat Kiran. Kiran memang orangnya asik, dia cenderung banyak berbicara, namun Rafa suka melihatnya. Kemudian Rafa dan Kiran pun berkunjung ke restoran untuk makan malam, lagi lagi, mereka mengobrol dengan riangnya, dan lagi, Kiranlah yang menguasai pembicaraan dengan segala ocehannya yang membuat Rafa terus tersenyum. "Jadi, cewek yang waktu itu di apartemen lo, kembaran lo?" Tanya Rafa di tengah obrolannya, mulai membicarakan kehidupan Kiran. "Yep, dia kembaran gue. Pasti gak nyangka kan? Apalagi muka kita gak mirip." "Gue bener bener gak bisa ngebayangin, orang kayak elo ada dua di dunia ini." "Hey, kembaran gue, alias Karin, 180 derajat beda sama gue. Karin itu diem cenderung jutek, dia rada susah bergaul, agak galak juga, bahkan gue ngerasa hobi dia itu ngomel ngomel. Kasian deh temen temen gue kalo maen ke apartemen tuh selalu di omelin, tapi temen temen gue juga akrab loh sama Karin, meski Karin gak pernah nganggap temen temen gue itu temennya juga." Karin berceloteh dengan panjangnya menceritakan kehidupan kembarannya. Ia berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan. "Oh iya, otak Karin juga rada mendingan di banding gue. Eh tapi gue gak g****k yaa, cuma kurang pinter. Tapi yang gue tau kan Karin itu gak suka sama cowok yang lebih b**o dari dia, tapi ternyata, tanpa gue sangka dan gue duga, dia malah jadian sama sahabat gue, Kak. Temen sebangku gue, si Arbis. Yang di jamin lebih gak punya otak daripada gue. Gimana gue gak shock coba, bahkan saat gue pertama kali tau, gue sampe telat karena seketika bengong ngeliat mereka berdua." Kiran melanjutkan berceritanya, dengan keantusiasannya saat bercerita, dengan gayanya yang khas, dan wajah manisnya terlihat lucu sekali saat ia sedang berceloteh. Rafa lagi lagi tersenyum, melihat betapa bawelnya gadis di hadapannya ini. Meski Rafa jarang berbicara, tapi Rafa suka melihat Kiran berceloteh seperti itu. Gadis ini benar benar lucu. "Asik dong, kembaran pacaran sama temen. Siapa yang lahir lebih dulu?" Respon Rafa, menanggapi ocehan Kiran. "Karin. Kita cuma beda lima menit. Makanya, hubungan batin gue ama dia kuat banget, secara kita di kandungan itu empet empetan berdua." Rafa nyengir mendengar penuturan Kiran, entah sudah berapa kali Rafa terus tertawa dan tersenyum bersama gadis ini. "Kalian akur dong?" "Boro boro, hampir tiap saat kita perang." "Loh, kok bisa?" "Yaa, seperti yang tadi gue bilang. Kiran itu galak, hobinya ngomel ngomel. Tiap hari gue di omelin ama dia, yaa kalo kesalahan gue gak terlalu berarti gue gak seneng lah di omelin. Otomatis, kita jadi perang deh. Tapi, meskipun perang, sebenernya kita saling sayang kok. Cuma Karin satu satunya keluarga yang gue punya." Rafa melihat perubahan aura wajah Kiran, yang semula bersemangat, kini terlihat mencoba untuk tegar, meski Kiran berusaha menutupinya, dengan terus menampakan senyum manisnya, namun Rafa dapat melihatnya. "Maaf, Ran. Orang tua lo?" Tanya Rafa hati hati. "Gue gak tau, mereka ada di luar kota, atau luar negeri, atau mungkin luar planet kali yaa? Dari kecil mereka sibuk kerja, sampai akhirnya pas masuk SMA, gue sama Karin mutusin buat beli apartemen tinggal aja buat kita. Daripada tinggal di rumah gede kayak istana kalo isinya cuma dua orang, kan mubazir. Yang penting sekarang, mereka harus tetep membiayai dan bertanggung jawab atas kehidupan gue dan Karin. Karena biar bagaimana pun mereka orang tua kita." Meski bernada lebih melankolis, tetap saja gadis bawel ini nyerocos dengan panjangnya. Rafa, yang di ceritakannya, jadi tidak enak hati bertanya soal ini. Lagi lagi, sepasang mata itu masih tetap mengintai Kiran dan Rafa. Namun kali ini Kiran mampu merasakan tatapan itu. Meski sedari tadi ia sibuk mengobrol dengan Rafa. Bahkan Kiran merasa, dia ikut duduk di restoran ini, dan diam diam, Kiran menangkap seseorang yang mencurigakan duduk di sudut restoran. Orang itu menggunakan celana jeans pendek dan jaket hitam yang tudungnya rapatenutupi kepala dan sebagian wajahnya, serta topinya juga hampir menutupi wajahnya hingga Kiran tidak dapat melihat wajahnya. "Kak, gue ke toilet dulu yaa.." Kiran berdiri, beralasan ingin ke toilet, sebenarnya ia ingin memastikan orang yang ada di sudut restoran ini. "Oh iya." Dengan hati hati Kiran melangkah kesana, Kiran yakin pasti orang itu masih mengintainya, maka dari itu ia tidak berlagak mencurigakan. Kiran berjalan santai seperti biasa, dan tangannya memainkan ponselnya. Namun saat itu pula Kiran menelpon nomor yang sering mengsmsnya itu. Dan Kiran berusaha berjalan mendekat, karena tepat di dekat tempat duduk orang itu adalah lorong menuju toilet. Benar saja, saat Kiran berbelok ke lorong toilet itu, ponsel orang itu yang di geletakan di atas meja berdering. Kiran sontak shock, kini orang itu sudah di depan matanya. Gusur? Oh benarkan kali ini ia mampu melihat sosok yang belasan tahun tak di temuinya itu? Sosok cinta monyet namun Kiran yakin sebagai cinta pertamanya. Karena setelah Kiran merasakan sesuatu yang di sebut cinta pada Gusur, Kiran tidak pernah lagi merasakan hal itu. Hingga kini, hingga akhirnya Rafa datang dan mampu mematahkan semua itu. Kiran mengubah arah jalannya dan berbalik menuju bangku sudut restoran itu. Namun saat ia kesana, orang itu sudah tidak ada. Hey, kemana dia? Batin Kiran. Matanya mencari ke seluruh sudut restoran ini, mencari sosok itu. Namun Kiran tak menemukannya. Bagaimana bisa Kiran kehilangan jejaknya. "Kemana sih, dia? Kenapa cepet banget ngilangnya?" Gumam Kiran yang berdiri di depan lorong toilet, sampai akhirnya, dengan menghembuskan nafas berat tanda tidak ikhlas, Kiran berjalan kembali menghampiri meja Rafa tadi. Mungkin ini memang belum saatnya untuk Kiran bertemu Gusur. Kiran berjalan menghampiri meja Rafa lagi, namun matanya menangkap orang itu lagi di luar restoran ini. Restoran yang berdinding kaca ini sehingga mampu membuat Kiran melihat orang dari dalam. Namun saat itu pula Kiran sudah sampai di meja Rafa. "Emm, Kak, bentar yaa. Gue ada perlu bentar doang ama temen di luar. Nanti gue balik lagi." Kiran berbicara dengan tergesa, lalu ia pun berjalan setengah berlari untuk mengejar orang itu. Sampai di luar Kiran tidak lagi berjalan, ia benar benar berlari, ia tak akan kehilangan jejak orang itu lagi. Di tengah keramaian pusat perbelanjaan seperti ini, tatapan Kiran tetap terfokus pada satu orang. Orang yang di yakininya adalah Gusur. "Tunggu! Gusur! Hosh hosh hosh.." Kiran berteriak dengam kencang sejadi jadinya, saat Gusur sudah berjarak kurang lebih tiga puluh centi meter darinya. Meski mall ini AC, Kiran tampak berkeringat karena lelah mengejar Gusur. Bahkan kini Kiran sedikit menbungkuk, tangannya di topangkan di dengkul layaknya berlutut, Kiran berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal senggal. Kali ini orang itu berhenti, meski membelakangi Kiran, ia melirik sekilas, melihat Kiran yanv begitu kelelahan. Hingga nafasnya yang tersenggal senggal itu terdengar ke telinganya. Keringat gadis itu mulai meluncur dari pelipisnya. Ingin dia mengusapnya, namun tak mungkin, tidak bisa, tidak bisa sekarang. Ini belum saatnya. Ini belum waktunya, meski sudah tertangkap basah seperti ini, ia meyakinkan dirinya. Ini belum waktunya, dia yakin itu. "Lo bener Gusur kan?" Kiran bertanya dengan nada suara yang mulai melemah, kini hatinya bergetar karena berada di dekat orang itu. Tak ada jawaban dari dia, meski dia masih mematung di tempatnya. Namun dia lebih memilih membungkam mulutnya. Diam seribu bahasa, meski sesungguhnya banyak yang ingin dia sampaikan pada Kiran. Sesuatu yang belum sempat dia sampaikan, dan itulah alasan mengapa dia kembali lagi. "Kenapa diem? Jawab gue!" Kata Kiran yang suaranya kembali meninggi, perlahan Kiran melangkah mendekat pada dia. Dan saat Kiran hampir mendekat dan menarik topi yang menutupi kepalanya, dia tersentak dan segera berlari dengan kecepatan maksimal. Untungnya wajahnya pasih tertutup oleh tudung jaketnya, sehingga Kiran tidak mampu melihatnya. "Arghh!! s****n!" Kiran mengerang kesal saat dia terus berlari tanpa henti, Kiran menggentakan sebelah kakinya ke lantai. Lalu memandang topi dia yang berhasil Kiran dapatkan.   “Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya. ” “Sekarang… Saat ini saja… Untuk beberapa detik saja… aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku.  Tanpa beban, tuntutan, atau harapan, aku ingin mengaku Aku mencintaimu. ” (Ilana Tan - Autumn In Paris) ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN