“Emangnya kakek-kakek tadi kenapa sih Run?” tanya Amel. Kini mereka berdua sudah berkumpul di balai desa untuk melakukan program kerjanya, yakni mengajar anak-anak desa Rogokepaten seputar pendidikan. “Kamu bisa melihatnya kan?” Amel mengangguk, ia bisa. “Itu yang aku lihat waktu kemarin kita disambut sama Pak Sulaiman dan yang lainnya, orang di bawah pohon rindang.” “Serius itu? Tapi aku nggak liat apapun sih di sana, baru juga tadi pagi.” Tadi pagi setelah membeli sarapan, Seruni langsung tancap gas berjalan tergesa-gesa tuk sampai di tempat tinggalnya. Ia merasa lemas, auranya dengan aura kakek itu saling bertubrukan. “Auranya berbahaya.” Amel setuju dengan ucapan Seruni, dari penampilannya saja sudah mengerikan. Balai desa tempat mereka mengajar merupakan bangunan sederh

