Bab 2.Sesuatu Yang berbeda

1982 Kata
Koridor utama gedung administrasi *Incheon Superhuman Academy* tampak begitu megah dengan pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi, namun atmosfer di dalamnya terasa membeku. Suara langkah sepatuku bergaung teratur di atas lantai yang mengilat, memecah keheningan setelah badai besar yang baru saja terjadi di arena ujian praktis. Di sepanjang dinding, potret para penyihir agung dan *Superhuman* legendaris yang pernah lulus dari institusi ini seolah menatapku dengan tatapan menghakimi. Namun, perhatianku tidak teralihkan oleh kemegahan itu. Fokusku sepenuhnya tertuju pada jendela transparan yang mengambang di depan mataku, terus memperbarui kalkulasi data yang tak terlihat oleh orang lain. > **[Notifikasi Sistem]** > * Alokasi otomatis berhasil: 5.000 Poin Atribut telah ditambahkan ke dalam **[Mana Affinity]**. > * Efek: Kapasitas penampungan energi murni meningkat, sirkuit mantera di dalam tubuh meluas sebesar 12%. > * **[Superhuman Threshold]** saat ini berada pada tingkat sinkronisasi: 5,2%. > Aku merasakan sensasi hangat yang menjalar dari ulu hati, mengalir melewati pembuluh darah yang sebelumnya terasa menyempit dan kaku. Karakter Baek Seo-jin yang asli memang memiliki cacat bawaan pada sirkuit *mana*-nya, membuat tubuh ini selalu menolak mantera elemen dasar seperti api atau es. Tetapi, sistem repositori jiwa ini tidak membutuhkan mantera tradisional. Sistem ini membutuhkan wadah fisik yang mampu menahan beban data dari senjata-senjata tiruan. Dan peningkatan atribut baru saja membuat tubuhku sedikit lebih kokoh dari sebelumnya. "Baek Seo-jin!" Sebuah suara bariton yang berat dan penuh penekanan menghentikan langkahku tepat di depan pintu ruang evaluasi. Aku menoleh perlahan. Berdiri di sana adalah **Instruktur Kim Do-hyun**, kepala pengawas ujian praktis sekaligus mantan Hunter garis depan peringkat A. Tubuhnya yang tegap dibalut seragam militer Academy yang rapi, dengan luka parut kecil melintang di rahang kirinya. Matanya yang tajam menatapku seolah ingin menguliti seluruh rahasia yang kusembunyikan di balik seragam longgar ini. "Ikut aku ke ruang interogasi khusus. Sekarang," ucapnya tanpa basa-basi, nadanya tidak menerima bantahan. Aku hanya mengangguk tenang, menunjukkan gestur patuh sewajarnya seorang kadet kelas F yang tidak tahu apa-apa, lalu melangkah mengikutinya masuk ke dalam ruangan kedap suara di sudut koridor. Ruangan itu hanya berisi sebuah meja besi panjang dan dua kursi yang saling berhadapan. Di atas meja, sebilah pedang latihan berbahan besi murah diletakkan—pedang yang persis sama dengan belati yang kubawa ke arena tadi. Tidak ada kamera pengawas, namun dinding ruangan ini dilapisi oleh *Mana-Suppression Barrier*, penghalang sihir tingkat tinggi yang dirancang untuk melumpuhkan aliran energi siapa pun yang berada di dalamnya. Kim Do-hyun duduk di hadapanku, menyilangkan tangannya di atas d**a. Dia membiarkan keheningan beralangsung selama beberapa saat, mencoba membangun tekanan psikologis yang biasanya membuat kadet muda gemetar ketakutan. "Aku sudah memeriksa seluruh riwayat medis, latar belakang keluarga, hingga laporan evaluasi bulananmu sejak pertama kali masuk ke Academy ini," Kim Do-hyun memulai, suaranya rendah namun bergaung kuat. "Di semua dokumen itu, kau tercatat sebagai kadet tanpa elemen dengan *Mana Density* yang mendekati nol. Singkatnya, kau adalah pengecualian yang masuk lewat jalur beasiswa pembersihan wilayah distrik bawah." Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke manik mataku. "Tapi apa yang kulihat di arena tadi sama sekali tidak masuk akal. Kau memegang *Flame Brand* milik klan Han—sebuah *artifact* ego yang mengikat garis darah pengguna—dan melepaskan *Pure Mana Combustion* berwarna biru. Bukan hanya itu, gerakan pedangmu... itu adalah gaya orisinal klan *Blazing Sword* tingkat lanjut. Jelaskan padaku, bagaimana seorang kadet cacat sepertimu bisa melakukannya?" Aku menghela napas pelan, mempertahankan ekspresi wajah yang datar dan sedikit lelah. Kebohongan terbaik di dunia gim RPG seperti ini adalah kebohongan yang dicampur dengan sedikit kebenaran tersembunyi yang sulit dibuktikan. "Saya mengaktifkan bakat tersembunyi, Instruktur," jawabku tenang. "Bakat tersembunyi?" Kedua alis Kim Do-hyun bertaut. "Benar. Selama ini, sirkuit *mana* saya bukan cacat, melainkan mengalami apa yang disebut *Spasial Overload Collapse*. Setiap kali saya mencoba merapalkan sihir elemen biasa, sirkuit saya menolaknya karena tubuh ini hanya bereaksi terhadap struktur materi padat yang dialiri energi." Aku menjeda kalimatku, membiarkan kebohonganku meresap ke dalam analisanya. "Saat Han Chae-won menjatuhkan pedangnya, energi sirkuit dari pedang itu memicu getaran darurat pada tubuh saya. Saya tidak mengendalikan pedangnya... pedang itulah yang menuntun ingatan tubuh saya setelah saya menyentuhnya." Kim Do-hyun terdiam mendengarkan penjelasanku. Di dunia yang dipenuhi keajaiban sihir dan kebangkitan *Superhuman* modern, fenomena "kebangkitan mendadak saat mendesak" (*Late Awakening*) memang bukan hal yang mustahil. Ada beberapa kasus langka di mana seorang manusia baru memicu bakat uniknya saat berada di ambang kematian atau dalam kondisi emosional yang ekstrem. Dia meraih pedang besi latihan di atas meja, lalu melemparkannya tepat ke arahku. *Hap.* Aku menangkap gagang pedang besi itu dengan satu tangan tanpa berkedip. "Kalau begitu, coba tunjukkan lagi," perintah Kim Do-hyun, matanya menyipit penuh selidik. "Jika itu adalah bakat pemahaman struktur senjata, coba alirkan *mana* milikmu ke pedang latihan biasa itu." Aku menatap bilah besi murah di tanganku. Di sudut penglihatanku, sistem langsung merespons kontak fisik tersebut. > **[Sistem: Menganalisis Struktur Senjata...]** > * Nama Senjata: Pedang Latihan Massa (F-Rank). > * Karakteristik: Kerapatan besi rendah, tidak memiliki kapasitas sirkuit mantera. > * Peringatan: Memaksa aliran energi murni akan menghancurkan struktur senjata dalam waktu 3 detik. > Aku tersenyum tipis di dalam hati. Instruktur ini ingin mengujiku dengan senjata sampah yang tidak bisa menampung sihir untuk melihat apakah aku berbohong. Namun, dia tidak tahu esensi sejati dari *Infinite Weapon Repository*. *‘Bukan mengalirkan energi ke dalam pedangnya,’* pikirku. *‘Tetapi memperkuat pedang ini dengan cetak biru yang sudah ada di jiwaku.’* Aku memejamkan mata sejenak, mengakses ruang penyimpanan spiritual di dalam kesadaranku. Di sana, di tengah kegelapan jiwa Baek Seo-jin, sebuah replika transparan dari pedang *Flame Brand* milik Han Chae-won bersinar dengan pendaran api biru yang tenang. Aku tidak memanggil pedang itu secara fisik, karena itu akan membuat seluruh ruangan ini gempar. Aku hanya mengambil **atribut ketajaman dan kepadatan energi** dari senjata peringkat A tersebut, lalu memproyeksikannya ke atas permukaan pedang besi latihan ini. *Szzzzz—!* Suara dengungan halus terdengar dari pedang besi di tanganku. Bilah pedang yang awalnya kusam tiba-tiba memancarkan kilatan cahaya biru tipis di sepanjang tepinya. Suhu di dalam ruangan interogasi yang awalnya sejuk mendadak naik satu derajat. Tekanan energi yang keluar begitu murni, hingga penghalang *Mana-Suppression Barrier* di dinding ruangan berkedip-kedip tidak stabil. Wajah Kim Do-hyun berubah drastis. Dia langsung berdiri dari kursinya, menatap pedang latihan biasa yang kini memancarkan aura ketajaman setingkat senjata pusaka. Tepat pada detik ketiga, sebelum pedang itu meledak karena kelebihan beban struktur, aku menarik kembali energiku. Cahaya biru itu menghilang, meninggalkan pedang besi yang kini tampak memiliki garis keperakan samar di tengah bilahnya. "Cukup," ucap Kim Do-hyun, suaranya sedikit bergetar karena syok yang tertahan. Dia menatapku dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi tatapan meremehkan kepada kadet kelas F, melainkan tatapan waspada kepada sebuah aset rahasia yang berpotensi mengguncang hierarki Academy. "Bakat meniru karakteristik sirkuit senjata... dan mengoptimalkannya melampaui batas aslinya," gumam Kim Do-hyun pada dirinya sendiri. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang bergejolak. "Baek Seo-jin, apakah kau tahu apa artinya ini?" "Saya hanya ingin bertahan hidup dan lulus dari tempat ini, Instruktur," jawabku dengan nada sewajarnya. Kim Do-hyun mendengus pelan, namun sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. "Bertahan hidup? Dengan bakat seperti ini, kau baru saja menaruh target besar di punggungmu. Klan Han tidak akan tinggal diam setelah mengetahui ada orang luar yang bisa mereplikasi kemampuan pedang pusaka mereka. Begitu juga dengan faksi-faksi lain di Academy ini." Dia berjalan mendekat, lalu menepuk pundakku dengan telapak tangannya yang keras. "Ujian praktis semester pertama telah usai, dan nilaimu adalah mutlak S-Rank. Mulai besok, statusmu resmi dinaikkan dari Kelas F ke **Kelas A (Kadet Elit)**. Kau akan dipindahkan ke fasilitas asrama pusat." Dia mengambil kembali pedang besi dari tanganku dan memasukkannya ke dalam laci meja. "Tapi ingat satu hal, Baek Seo-jin. Kelas A adalah sarang monster yang sebenarnya. Di sana, kau tidak akan hanya menghadapi monster tiruan di dalam dungeon buatan, melainkan para penerus klan *Superhuman* sejati yang tidak akan segan-segan menghancurkanmu jika kau menghalangi jalan mereka." "Saya mengerti, Instruktur," kataku sambil membungkuk hormat, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Saat pintu besi tertutup di belakangku, aku menyunggingkan senyum lebar yang selama ini kutahan. *‘Sarang monster sejati?’* pikirku sambil menatap lorong koridor yang panjang. *‘Baguslah. Itu artinya, ada lebih banyak senjata legendaris dan kekuasaan klan yang bisa kusalin di tempat itu.’* Malam harinya, perpindahan asrama berlangsung lebih cepat dari yang kuperkirakan. Berbeda dengan asrama distrik bawah yang kumuh, sempit, dan dihuni oleh tiga orang dalam satu kamar dengan ranjang susun yang berderit, fasilitas asrama pusat Kelas A tampak seperti hotel bintang lima. Setiap kadet elit mendapatkan satu unit apartemen pribadi yang luas, lengkap dengan ruang latihan pribadi yang dilapisi sirkuit penahan sihir. Aku duduk bersila di tengah ruang latihan yang sunyi, menatap hamparan pemandangan kota Incheon dari balik jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Di atas meja kayu di dekatku, terdapat sebuah kotak hitam beludru yang dikirimkan oleh pihak administrasi Academy beberapa jam lalu—hadiah bagi peraih nilai S-Rank di ujian semester. Aku membuka kotak tersebut. Di dalamnya terletak sebuah cincin perak sederhana dengan permata safir kecil di tengahnya. > **[Sistem: Menganalisis Artifact...]** > * Nama: Ring of the Mana Well (B-Rank Artifact). > * Efek: Meningkatkan kecepatan regenerasi *mana* pengguna sebesar 20% dan menyediakan ruang penyimpanan spasial internal sebesar 5 meter kubik. > "B-Rank, lumayan juga untuk ukuran hadiah awal," gumamku. Aku memasangkan cincin itu ke jari tengah tangan kiriku. Seketika, sirkuit repositori di jiwaku merespons, memproses data struktur cincin tersebut dan menyimpannya ke dalam daftar koleksi permanen. Sekarang, bahkan jika cincin fisik ini hancur atau hilang, aku bisa mereplikasi efeknya kapan saja menggunakan energi murniku sendiri. Namun, fokus utamanya bukan itu. Aku kembali membuka jendela status utamaku untuk memeriksa sesuatu yang jauh lebih penting. > **[Infinite Weapon Repository (Ex-Rank)]** > * **Slot Senjata Tersimpan (2/5):** > 1. *[Flame Brand - Replika (A-Rank)]* - Atribut: Api Biru Murni, Destruksi Spasial Menengah. (Tingkat Penguasaan: 100% via Muscle Memory). > 2. *[Ring of the Mana Well - Replika (B-Rank)]* - Atribut: Akselerasi Aliran Energi, Spasial Penyimpanan. (Tingkat Penguasaan: 100%). > * *Catatan: Slot penyimpanan dasar akan bertambah seiring dengan peningkatan sinkronisasi [Superhuman Threshold].* > Mekanik sistem ini sangat mirip dengan gim yang kumainkan sebelum terlempar ke dunia ini. Batasan slot awal ini sengaja dibuat agar pengguna tidak bisa menyalin sembarang senjata sampah tanpa perhitungan. Setiap slot sangat berharga, dan aku harus memilih dengan bijak senjata apa saja yang layak menempati tempat di dalam repositori jiwaku. Tiba-tiba, perangkat komunikator pintar yang terpasang di pergelangan tangan kananku bergetar tajam. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, memancarkan layar holografis kecil di udara. Aku menekan tombol buka. Hanya ada satu baris kalimat pendek di dalam pesan tersebut, namun pengirimnya membuatku harus menyipitkan mata. [ **Pengirim:** Han Chae-won ] *“Besok pagi jam 06.00. Datanglah ke Ruang Latihan Khusus Gedung 3. Kita harus menyelesaikan urusan pedang klan milikku yang kau gunakan hari ini. Jangan berani-berani melarikan diri, Baek Seo-jin.”* Aku menatap layar holografis itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mematikannya dengan senyum geli. Gadis jenius dari klan *Blazing Sword* itu rupanya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa harga dirinya telah dihancurkan oleh seorang kadet yang dianggapnya sampah. Dia pasti mengira aku menggunakan semacam trik kotor atau alat sihir terlarang untuk memanipulasi pedangnya. "Urusan yang harus diselesaikan, ya?" aku bergumam pelan sambil merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Klan Han adalah salah satu dari tiga pilar utama yang mengendalikan industri persenjataan mantera di Korea Selatan. Mereka memiliki akses ke gudang senjata bawah tanah yang menyimpan puluhan *artifact* peringkat tinggi yang tidak pernah ditunjukkan kepada publik. Jika aku bisa menggunakan Han Chae-won sebagai batu loncatan untuk masuk ke dalam lingkaran dalam klannya... Maka koleksi senjata di dalam repositori jiwaku akan berkembang ke tingkat yang tidak bisa dibayangkan oleh siapa pun di dunia ini. Dengan pikiran itu di kepalaku, aku memejamkan mata, membiarkan kegelapan malam membawaku ke dalam tidur yang nyenyak, siap menghadapi badai baru yang telah menantiku di faksi Kelas A esok hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN