Seorang gadis sedang makan siang dengan temannya. Dia ingin bercerita tentang mimpi yang akhir-akhir ini di alaminya. Tak masuk akal menurutnya, mimpi itu seperti kaset yang sengaja di putar-putar berulang-ulang, terlebih lagi itu adalah mimpi yang sangat menyeramkan.
Di akhir semesternya, yang hanya tinggal beberapa minggu lagi dirinya di wisuda, dia ingin segera kembali ke negaranya,
berkumpul dengan keluarganya.
"Sandra, aku selalu bermimpi buruk akhir-akhir ini, membuat tugas skripsiku kacau,’ keluh Wulan pada teman satu
apartemennya.
Sandra adalah warga indonesia, mereka bertemu di kampus itu walau berbeda jurusan, dan memutuskan untuk tinggal
bersama. Sandra bertanya kerisauan temannya itu.
“Memang kau bermimpi apa?"
“Aku berada di sebuah gua, namun seperti ruangan yang sangat indah, tapi aku seperti mayat hidup, dan selalu di akhir mimpiku ada bayangan hitam menggeram dan menyelimuti tubuhku, sungguh San itu sangat mengerikan."
“Mmmm ... mungkin kau hanya stres memikirkan skripsimu, jadi kau membayangkan Mr. Robert sosok hitam yang membuat kau ketakutan,’ olok Sandra, dan mereka berdua tertawa mendengar penjelasan nyeleneh Sandra.
"Semoga kali ini Mr. Robert menerima tugasku, aku ingin sekali pulang, harap Wulan.
Meski dia tak begitu menyukai sosok pengasuhnya sejak kecil yaitu Bu Sumarni, namun dia merindukan Ayah dan Ibunya, apalagi keponakan satu-satunya Putra. Wulan mengingat dulu dia mendengar kabar jika kakak iparnyaMariska sakit keras, dan sakit itu terulang lagi, Wulan merasa kasihan dengan kakak iparnya itu, apalagi penyakit yang di derita oleh kakak iparnya itu mirip sekali dengan penyakit ibunya.
Dia pernah bertanya-tanya, apa keluarganya memiliki penyakit tur'unan? Namun bukankah seharusnya adalah kaka kandungnyaMas Irwan, tapi ini di alami Mbak Mariska, yang notabennya adalah iparnya.
"Kamu abis sidang, apa mau langsung pulang, Lan?" ucap Sandra membuyarkan lamunan Wulan.
"Iya kayaknya, mau nengok kakak iparku," jawab Wulan.
"Memang kenapa kakak iparmu?"
"Masku mengabari, waktu itu istrinya kambuh lagi, sepertinya kakak ipar ku memiliki riwayat penyakit keras," ujar Wulan.
Wulan dan Sandra berjalan bersama kembali ke apartemen mereka. Saat di lift Wulan melihat bayangan aneh di belakangnya, dia pun terkesiap, menjerit dan menutup wajahnya. Sandra yang terkejut dengan pekikan Wulan pun menenangkan temannya itu.
"Lan ... lan ... kamu kenapa?” ucapnya lantas memeluk Wulan.
Wulan membuka matanya, sudah tak nampak lagi bayang hitam yang tadi dia lihat.
"Rileks, tarik nafas ... kayaknya kamu harus banyak istirahat deh,’ usul Sandra yang melihat wajah Wulan yang nampak pucat pasi.
Wulan berbaring di kamarnya, dia mengingat mantan kekasihnya saat di Sekolah Menengah Atas dahulu. Seorang lelaki yang populer di sekolahnya saat itu, karena mantan kekasihnya itu adalah seorang ketua Osis. Prima nama lelaki itu, seorang lelaki sederhana yang berhasil menaklukan dirinya yang introvert. Ya, Wulan sejak dahulu jarang sekali memiliki teman, padahal dirinya berasal dari keluarga kaya, dan dia termasuk pandai secara akademik, namun dia tak memiliki banyak teman.
Hanya teman sebangkunya saja, itu pun karena mereka duduk satu bangku, saat jam istitahat tak pernah sekalipun dirinya
di ajak bergabung dengan mereka untuk makan bersama. Dia pernah bertanya kenapa dirinya di jauhi, lalu mereka berkata jika bulu kuduk mereka selalu meremang jika berdekatan dengan dirinya.
Mereka juga takut terhadap pembatu di rumahnya yaitu Bu Sumarni, itu lah yang menyebabkan Wulan tak menyukai Bu Sumarni, karena sepertinya dia selalu mengintimidasi teman-temannya. Namun Prima berbeda, lelaki itu mendekatinya, hanya Prima yang menjadi teman Wulan.
Semakin lama hubungan mereka semakin dekat, Wulan terkejut saat Prima menyatakan perasaannya pada Wulan.
“Lan ... aku suka ma kamu,’ ucap Prima kala itu yang membuat dunia Wulan menjadi terang.
Seorang introvert yang tak memiliki teman, bahkan mungkin di jauhi teman-temannya, tapi bisa menaklukan hati pria populer di
sekolahnya. Sungguh Wulan ingin menangis saat itu, dia bahagia, bagaimana tidak, dia sendiri sudah menyimpan perasaannya lama pada Prima. Sangkin gugupnya saat itu Wulan tak dapat berkata-kata, dia hanya mengangguk menjawab pernyataan cinta Prima.
Saat itu walau tak ada ungkapan sebuah hubungan, menyatakan perasaan sudah mewakili keinginan seseorang menjalin sebuah hubungan. Dua insan manusia yang sedang jatuh cinta, Wulan tak sadar bahaya yang mengintai orang yang di cintainya. Hubungan mereka semakin erat, bahkan Prima sudah mengenalkan Wulan kepada orang tuanya, sedang Wulan dia masih takut memperkenalkan Prima pada keluarganya.
Hingga ...
“Lan ... apa kamu ngga mau ngenalin aku ke Orang tuamu?" pinta Prima yang membuat Wulan gelisah.
Entah kenapa perasaan gadis itu mendadak merasakan firasat yang tak enak, walau ia sendiri tak tau ada apa.
Cuma kenalan sama Bapak ma Ibu, tapi kok aku was-was ya?
“lya Prim ... nanti pulang sekolah kita kerumah dulu, ya? Aku kenalin sama keluargaku."
Prima sosok lelaki baik, dia sangat menjunjung tinggi harga diri seorang wanita, tentu saja sebuah hubungan harus di ketahui oleh orang tua, itu prinsipnya. Dia risih jika harus menjemput Wulan di tempat lain, karena Wulan tak pernah mau di jemput olehnya di rumahnya sendiri, agar dirinya bisa berpamitan kepada orang tua Wulan. Sempat terbesit di pikiran Prima jika, Wulan malu memiliki kekasih yang bisa di bilang berada di bawahnya. Sebenarnya Prima pun dari keluarga berada yang sederhana berbeda dengan keluarga Wulan yang memang kaya raya.
Saat Wulan pulang sekolah di antar Prima, tatapan Bu Sumarni lah yang di rasa Wulan sangat menyebalkan. Sedang sang Ibu malah tersenyum ramah pada kekasihnya. Kenapa sih bu Sum, gitu amat mandengnya? Ngeselin. Wulan menggerutu menatap pengasuhnya itu, bahkan dia selalu melirik Bu Sumarni dengan tatapan mengintimidasi, berharap Bu Sumarni enyah dari ruang kelurga saat itu.
Hanya ada Kanjeng Ibu dan Bu Sumarni yang menemui Prima, karena Pak Hanubi belum kembali dari Toko sembakonya.
"Kenalkan Kanjeng Ibu, saya Prima, teman sekolah Wulan,' ucap Prima memperkenalkan diri, dia sudah di beri tau sang kekasih untuk memanggil ibunya itu dengan sebutan Kanjeng.
"Nak Prima ... silahkan di minum tehnya,’ ucap Kanjeng ibu, sebenarnya dia menyukai pembawaan Prima yang baik dan terlihat berwibawa, namun saat melihat tatapan tak bersahabat dari tangan kanannya dia merasa Was-was.
Mereka berbincang dengan obrolan ringan, Kanjeng ibu hanya mempertanyakan kegiatan sekolah Prima. Tak lama Prima pamit undur diri, karena sudah lama dia bertamu di rumah sang kekasih. Dia senang saat bertemu Kanjeng ibu, dia merasa di sambut hangat oleh beliau, namun tatapan mengintimidasi dia dapatkan dari Pengasuh kekasihnya itu, yang tak berbicara sepatah kata pun saat Prima berada di sana, Bu Sumarni hanya memperkenalkan diri setelah itu, dia memutuskan hanya sebagai pendengar.
Jelas keadaan itu membuat pemuda seperti Prima merasa risih. Wanita yang sangat mengerikan, pantas Wulan di jauhi oleh teman-temannya, ternyata kabar itu benar. Batin Prima. Wulan mengantar Prima keluar rumahnya, mereka bergandengan, Kanjeng Ibu sudah kembali ke kamarnya, sedang Bu Sumarni memandang tajam mereka lewat jendela. Dia mengepalkan tangannya saat melihat
Prima mengecup dahi Wulan, dia berbalik, dan tersenyum miring.
Wulan kembali kerumah, dia bahagia akhirnya bisa mengenalkan kekasihnya itu pada keluarganya, walau hanya Ibunya saja, Wulan berjanji akan segera memperkenalkan Prima pada Ayahnya. Hari ini malam jum‘at dimana Wulan selalu merasa risih, karena kebiasaan keluarganya yang di rasa cukup aneh. Kebiasaan Ibunya untuk menaruh sesajen di Gazebo keluarganya itu, benar-benar
membuat gadis seperti dirinya jengah.
Baginya merawat warisan leluhur tak harus sepertu itu bukan, apalagi dia selalu merasa bulu kuduknya meremang saat berada di sana. Saat berdiri di sana, dia selalu merasa ada yang mengusap punggungnya. Dia pernah mengeluh pada Ibunya, untuk tak melakukan itu lagi, namun dia malah di marahi sang Ibu, bahwa dia di anggap tak menghormati mendiang kakek-neneknya. Dan malam ini dia akan berdiri di sana lagi dengan pakaian adat yang lengkap.
Di ruang baca, setelah makan malam Kanjeng Ibu sedang berbincang dengan Bu Sumarni. Bu Sumarni sedang mengeluh dengan kelakuan Nona Wulan.
"Kanjeng ... sebaiknya Nona Wulan jangan di biarkan dekat dengan pemuda tadi, tak baik baginya,’ ucapnya.
"Dia pemuda baik Sum, kenapa tidak biarkan saja Wulan berteman dengannya, kasian anak itu tidak memiliki teman,’ ucap kanjeng ibu membela anaknya.
Dan itu membuat Bu Sumarni menjadi kesal dengan pengabdi Tuan-nya itu.
"Anda tau betul bukan Kanjeng, jika Nona Wulan adalah penerus anda, bagaimana jika kita kecolongan, dan terjadi hal-hal yang tak di inginkan, kita semua akan binasa;’ kecam Bu Sumarni mengingatkan janji majikannya itu.
"Mereka masih muda, banyak hal yang pasti membuat mereka penasaran, lanjutnya mencemooh, dia berbicara seperti itu karena melihat apa yang tadi Nona-nya itu lakukan, tentu saja dia berpikir jika bisa saja nanti Nona-nya itu melakukan hal-hal di luar norma.
"Apa maksudmu? kau menuduh Wulan melakukan hal-hal yang di luar batas?" sungut Kanjeng Ibu memandang tajam
kuncennya itu.
"Aku hanya melindungi keluarga ini dari hal yang tak di inginkan, dan itu memang sudah tugas saya,’ ucap Bu Sumarni balas
memandang tajam majikannya.
Malam jumat ini sama seperti malam-malam jumat yang lainnya, Wulan berdiri di depan gazebo untuk ritual sungkem yang biasa orang tuanya lakukan. Wulan berdiri di sana berdampingan dengan kakaknya Irwan. Sang ibu akan menyiprat-nyipratkan air dan di sediakan sesajen di gazebo itu, Wulan merasa bosan. Apalagi setelahnya dia harus meminum entah ramuan apa yang rasanya sangat tak enak.
Wulan bingung, sekalipun dia tak pernah di ajarkan agama oleh orang tuanya, walau di kartu keluarganya dia memiliki agama, tapi orang tuanya lebih memlih kepercayaan animisme seperti ini, dia sendiri juga merasa malas jika akan mempelajari ilmu agama.
Paginya Bu Sumarni terlihat bersikap manis padanya, dia berbicara pada Wulan untuk mengajak main Prima ke rumah mereka. Walau merasa aneh, namun hati kecil wulan senang. Siang hari saat pulang sekolah Wulan mengundang Prima untuk makan siang di rumahnya. Karena jika hari jumat sekolah akan pulang lebih awal, itulah mengapa Bu Sumarni mengundang Prima kerumah majikannya. Siang itu Bu Sumarni bersikap manis pada Prima, dan itu membuat pemuda itu bahagia, dia berpikir akhirnya pengasuh kekasihnya itu mau menerima dirinya, tapi tidak dengan Wulan, gadis itu malah merasa aneh dengan perubahan sikap pengasuhnya, perasaannya jadi tak enak.
Makan siang hari itu berakhir lancar, Prima terlihat selalu tersenyum, pemuda itu tak tau apa yang akan di lakukan Bu Sumarni
padanya. Senyuman terakhir yang akan Wulan ingat sampai saat ini, karena setelahnya senyuman itu menghilang untuk selamanya. Prima belum merasakan efek dari jampi-jampi yang Bu Sumarni berikan padanya, dia masih bersikap normal sampai tiga hari setelahnya, dia baru merasakan efek jampi-jampi yang di berikan Bu Sumarni.
Pagi itu ia muntah-muntah hebat, tubuhnya lemah, keringat mengucur deras di dahinya. Badanya terasa panas membara, Prima tak tau ada apa dengan dirinya. Orang tuanya lantas membawanya ke rumah sakit, namun aneh, menurut Dokter, Prima baik-baik saja, dia hanya di beri vitamin. Orang Tua Prima memaksa Dokter untuk merawat anaknya karena terlihat sekali jika Prima itu pucat dan lemah, sang Dokter pun mengabulkannya, namun tetap tak ada perubahan setelah beberapa jam di rawat.
Wulan yang mengetahui jika Prima tidak masuk sekolah lantas memutuskan untuk pergi kerumahnya. Setelah sampai dia melihat jika keadaan rumah Prima sepi, dia lantas bertanya kepada tetangga Prima, tetangganya itu menjawab jika Prima di bawa kerumah sakit. Wulan terkejut, Prima kekasihnya itu ternyata sakit, Wulan segera mendatangi rumah sakit yang terdekat, berpikir mungkin Prima ada di sana, dan benar setelah menanyakan pada receptionis ternyata Prima ada di sana.
Wulan segera menuju kamar inap Prima, setelah mengetuk Wulan masuk dan melihat jika Prima terbaring lemas dengan
selang infus di tangannya, wajahnya pucat.
"Bu ....’ panggil Wulan pada ibunda Prima.
"Nak Wulan.” Ibu Prima lantas memeluk kekasih anaknya itu, dia menangis tersedu-sedu.
"Prima kenapa Bu?" tanya Wulan heran, karena kemarin kekasihnya itu masih baik-baik saja.
"Ibu ngga tau Lan, pagi tadi dia muntah-muntah, tapi kata Dokter dia ngga Papa,’ ucap Ibu Prima.
Tak lama Prima bangun dan memandang takut ke arah Wulan. Dia menjerit histeris, karena Prima melihat Wulan adalah sosok hitam yang menyeramkan. Wulan yang bingung dengan sikap sang kekasih, lantas diam terpaku namun, pekikan Ibu Prima membuatnya sadar.
“Wulan ... maaf tolong keluar dulu ya," pekik Ibu Prima, lantas Wulan segera keluar dari ruang rawat inap itu dengan berderai air mata.
Sedang di dalam Ibu Prima menenangkan anaknya yang tiba-tiba histeris melihat
Wulan.
"Tenang nak, kamu kenapa? itu kan Wulan.” ucap Ibu Prima memberitahu.
Prima mengernyit dahi heran, “Wulan Bu?" Dia tak memberitahu ibunya apa yang dia lihat tadi itu bukan Wulan. Keadaan Prima tak membaik, sudah seminggu lebih dia sakit dan di rawat di rumah namun tak ada perubahan, dia selalu histeris, dia bahkan menggaruk tubuhnya yang selalu terasa gatal, namun saat di periksakan ke Dokter anaknya itu tak menderita sakit apapun.
Saat ada teman Ayah Prima menjenguk, dia berkata jika Prima sedang di kerjai oleh seseorang. Tubuh Prima sangat memprihatinkan, tubuh yang dulu segar, sekarang kurus kering dengan luka bekas garukan di sekujur tubuhnya. Orang Tua Prima terkejut mendengar penuturan teman mereka, siapa orang yang tega melakukan hal ini kepada anaknya.
Mereka lantas membawa Prima kepada orang pintar, namun alangkah terkejutnya mereka saat Prima bangkit menyeringai, dengan bola mata berwarna hitam sempurna, tubuhnya di kuasai mahluk yang di perintah Bu Sumarni untuk
melenyapkannya.
“Anak ini akan mati!" ucap Mahluk yang ada di tubuh Prima.
Ibu Prima pun menjerit histeris, orang pintar itu juga tak bisa membantu, sebab menurutnya mahluk yang menguasai anak mereka itu kuat. Orang Tua Prima, sudah mencari pengobatan alternatif, namun tak membuahkan hasil. Wulan yang rutin menjenguk pun sedih melihat keadaan kekasihnya itu.
Tak lama Prima seperti sadar akan kehadirannya, karena selama ini Prima bahkan tak berbicara pada siapapun karena dia sibuk menggaruk tubuhnya. Sudah tak banyak lagi yang menjenguknya, karena bisa di bilang teman-teman Prima Prima melepuh penuh luka dan berbau amis.
“Lan ... maafin aku ya, aku ngga bisa jagain kamu sekarang, kamu baik-baik ya, aku pamit," ucap Prima memegang tangan Wulan.
Wulan menangis sedih, dia tak bisa melakukan apapun, tak lama Prima menghembuskan nafas terakhirnya. Ibu Prima menjerit histeris, Wulan pun bangkit karena orang tua Prima akan membawa Prima ke rumah sakit, untuk memastikan anaknya benar-benar wafat. Wulan masih di rumah Prima bersama para tetangga dan teman-teman sekolah Prima, dengan harap-harap cemas mereka menunggu.
Setelah Dokter memastikan bahwa Prima memang sudah tiada, jenajah Prima di bawa pulang kembali ke rumah duka di sambut dengan tangisan saudara, tetangga dan teman-teman Prima, terutama Wulan yang nampak sangat terpukul. Setelah proses pemakaman, ada teman Prima mendekat ke arah Wulan. "Kamu emang perempuan pembawa sial, tau ngga!" ucap gadis itu ketus, dan berlalu dari sana.
Wulan pulang dengan berderai air mata, saat sampai dia melihat Ibunya dan Bu Sumarni tengah berbincang di ruang tengah, Wulan lantas memeluk ibunya dan berkata jika Prima sudah tiada. Kanjeng ibu hanya menghela nafasnya, dan mengusap rambut panjang anak gadisnya, dia melirik tajam ke arah Bu Sumarni, dan Bu Sumarni hanya bersikap biasa saja.
Itu membuat dia trauma memiliki kekasih, karena hatinya masih sangat mencintai Prima. Hingga kakaknya mas Irwan pun, yang ia tau, menikah dengan Mariska juga atas persetujuan Bu Sumarni. Dia membenci pengasuhnya itu, kenapa sepertinya Ibunya lebih mendengarkan pembantu rumah tangganya ketimbang perasaan anak-anaknya.
Untungnya Irwan menyukai pilihan Kanjeng Ibu, Wulan berpikir dia tidak akan di atur oleh ibunya apa lagi Bu Sumarni. Sebab itu dia memberontak meninggalkan negaranya, dan memilih tinggal bersekolah di negara orang, berharap dia memiliki teman, namun sepertinya benar jika hidupnya memang sial, sudah jauh dari negaranya pun ia tak memiliki teman. Bu Sumarni mengirim penjaga ghaib di sana, dan bodyguard suruhan ibunya, memastikan jika Wulan baik-baik saja. Wulan tak pernah tau jika dia di ikuti sosok ghaib dan manusia yang menjadi pengawas dirinya.