TAK SEINDAH MIMPI

1550 Kata
Malam hari setelah resepsi pernikahan yang cukup melelahkan, mata Sofia tertuju pada layar tabletnya. Di mana dia tengah menatap sebuah postingan milik sebuah akun sosial media tabloid bisnis yang meliput pernikahannya dengan Rafael. Saat ini, wanita itu tengah berada di balkon. Rasa lelah yang dia rasakan tidak sanggup membuat matanya terpejam. Beberapa menit lalu, Sofia sudah berusaha memejamkan mata, tetapi gagal. Komentar dari pada netizen kebanyakan mempertanyakan tentang mempelai laki-laki di pernikahannya. Sofia memang sudah siap untuk menerima itu, dibandingkan dia harus batal menikah, dan didahului oleh Erwin yang menikahi sahabatnya sendiri. Dia tidak akan sudi. "Loh, kok pengantin lelaki bu Sofia ganti, ya? Perasaan di undangan yang diupload minggu lalu, dia mau menikah sama pak Erwin, kok pas hari H malah bukan pak Erwin yang ada di samping bu Sofia?" "Ya ampun, ini kan berondongnya mami Rossa, kok mau sih nona kaya seperti bu Sofia nikah sama dia? Jangan-jangan settingan, nih!" "Tapi dibandingkan sama pak Erwin, pak Rafael jauh lebih ganteng, sih." "Ganteng, sih. Tapi Rafael itu peliharaannya tante-tante. Salah satunya tetangga aku." "Pantesan, aku kemarin lihat akun media sosial pak Erwin malah upload foto sama wanita lain. Ternyata bu Sofia nikah sama orang lain, toh." "Bodo amatlah, pernikahan orang kaya. Kalian yang komentar kayak nggak tau aja, orang kaya kan kebanyakan drama." "Jangan hakimi bu Sofia. Kita tidak tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya. Lebih baik kita beri support yang terbaik. Terumata buat kalian yang merasa karyawan di perusahaan milik beliau." "Bu Sofia terlihat sedih di acara resepsinya tadi siang. Sepertinya dia terpaksa menikah sama pak Rafael." Cukup. Sofia memilih mematikan layar tabletnya. Semua orang memang berhak berkomentar atas apa yang dialaminya sekarang. Toh, nantinya semua gosip-gosip miring itu akan menghilang seiring hadirnya gosip baru yang lebih panas. Dia juga tidak ingin di posisi ini. Impiannya menikah, dan hidup bahagia bersama Erwin sudah dia bayangkan jauh-jauh hari. Sayang sekali, belum sampai dia berhasil menggapai impiannya itu, Erwin justru memberikan kejutan berharga yang seketika menghancurkan apa yang dia impikan sampai tak bersisa. "Kamu belum tidur, Sayang?" sapa Rafael dengan nada setengah menggoda. Entah sejak kapan lelaki itu ada di sana. "Berhentilah memanggilku dengan sebutan 'sayang'. Kita hanya menikah kontrak, tolong bersikaplah layaknya teman saat kita berada di rumah." Sofia mengingatkan. Dia terlalu risih dengan panggilan itu. Sebuah panggilan yang mengingatkannya pada sosok Erwin. Lelaki yang sudah menghancurkan kepercayaannya, hingga dirinya harus menyewa Rafael sebagai mempelai pria di pernikahannya. "Sofia, jangan terlalu kaku. Panggilan sayang bukan berarti kita harus memiliki hubungan spesial. Siapapun bisa menggunakan panggilan itu," sahut Rafael santai. Tatapannya tertuju pada wajah Sofia yang tengah menatap ke arah langit. Semakin dia perhatikan, wajah Sofia tampak semakin cantik. Dia tidak mengerti, mengapa ada lelaki yang tega membuang sosok bidadari seperti Sofia. Padahal selain cantik, karir wanita itu juga bagus. "Mungkin bagimu si penjaja kehangatan, panggilan sayang itu sudah sangat biasa, tetapi jelas tidak denganku. Hanya orang spesial yang bisa memanggilku dengan sebutan itu," ucap Sofia dingin. "Sindiranmu itu terlalu pedas di telingaku, Sofia. Tapi memang benar, hidupku terlalu bebas. Sehingga tidak ada yang spesial. Kecuali sekarang. Aku mempunyai sosok yang spesial. Sosok itu adalah ... kamu." Rafael tidak sedang bermulut manis. Apa yang dikatakannya tulus dari hati. Dia awalnya memang hanya menikahi Sofia karena bayaran, tetapi sekarang, Rafael ingin serius menjalani pernikahannya dengan wanita itu. Rafael merasa kalau Sofia merupakan wanita yang dikirimkan oleh Tuhan untuk membawanya ke dalam kehidupan yang normal. Sementara Sofia hanya menanggapi kalimat Rafael dengan senyuman remeh. Dia tidak percaya dengan kalimat semacam itu. Erwin saja yang sudah menyisipkan cincin di jari manisnya bisa berkhianat, apalagi sosok Rafael yang jelas-jelas berprofesi sebagai penjaja kehangatan. Satu bulan yang lalu, Sofia mengalami kehancuran itu. Dia dikhianati oleh Erwin, tunangannya. Lelaki itu dia pergoki tengah berciuman panas dengan Farah, sahabat karibnya. Seseorang yang sangat dia percaya layaknya saudara kandung. Peristiwa itu dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri saat dia berniat mengajak Farah mendatangi butik langganan mereka untuk fitting baju pengantin. Bukan pengakuan bersalah yang dia dapatkan dari Erwin, lelaki itu justru mengatakan kalau semua yang terjadi mutlak kesalahan Sofia. Erwin bilang, Sofia terlalu perfeksionis, ambisius, dan workaholik. Tidak pernah ada waktu untuk memanjakan pasangan. Makanya dia mencari kebahagiaan dari wanita lain. Sofia hanya bisa menelan kepahitan itu sendirian. Memang benar, dia jarang ada waktu buat Erwin. Kesibukannya di kantor merupakan alasan utama. Bahkan untuk sekedar berkencan setiap akhir minggu, Sofia jarang bisa melakukan itu. Dia terlalu lelah untuk hal yang menurutnya sepele. Wanita itu berpikir, kalau perhatian lewat ponsel saja sudah cukup untuk Erwin. Toh, mereka masih melakukan kencan paling tidak dua minggu sekali. Di antara semua kalimat yang diucapkan Erwin, ada satu kalimat yang paling menyakitkan menurut Sofia. Di mana lelaki itu mengatakan kalau dia akan menjadi perawan tua. Tidak ada lelaki yang mau menikah dengan wanita sesibuk dirinya. Karena alasan itu, Sofia nekat menikahi Rafael. Dia hanya ingin membungkam mulut Erwin, dan membuktikan kalau masih ada lelaki yang mau menikah dengannya walau kenyataannya pernikahan itu hanyalah rekayasa. Seharusnya malam ini Sofia tersenyum bahagia. Menikmati malam pengantin dengan lelaki yang dia dambakan selama ini. Sayangnya, semua tidak seindah itu. Dia justru menikahi sahabat masa SMA-nya yang terkenal sebagai peliharaan tante-tante kesepian. Jangankan bahagia, Sofia hanya merasakan kehampaan yang nyata. Air mata Wanita itu perlahan membasahi kedua belah pipinya. Dia tidak menampik kalau perasaannya masih begitu dalam pada Erwin. Dia kira, Erwin merupakan satu-satunya lelaki yang mengerti dirinya, dengan segudang kesibukan yang dia kerjakan, tetapi ternyata tidak. Lelaki itu tidak lebih baik dari Rafael, bahkan tega berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditinggal kedua orang tua untuk selamanya saat dia masih remaja memaksa Sofia untuk hidup menjadi wanita tangguh, dan mandiri. Beruntung dia memiliki pengasuh yang mau menjadi ibu angkatnya sampai dia dewasa. Sekarang ibu angkatnya juga telah meninggal. Sofia benar-benar sendirian, sahabat pun dia sudah tidak punya. Wanita itu menatap ke bawah. Pemandangan yang selalu dia lihat hampir setiap malam. Lampu warna-warni dan kendaraan yang melintas tanpa jeda. Dia pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya saat melihat ke bawah sana, tetapi sekarang Sofia berubah pikiran. Dia harus bangkit dari keterpurukan ini. Dikhianati memang sangat menyakitkan. Apalagi orang yang mengkhianati itu calon suami, dan juga sahabat karibnya. Sofia tidak ingin mati konyol. Dia yakin kebahagiaan akan berada di pihaknya suatu saat nanti. Entah bagaimana jalannya, dan dengan siapa dia menemukannya. "Sofia, aku tahu apa yang kamu alami sekarang benar-benar menyakitkan. Hanya saja, kamu harus tahu kalau meratapi semuanya bukanlah solusi. Kamu wanita cantik, cerdas, dan memiliki segalanya. Bangkitlah, dan buktikan pada lelaki itu kalau kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri walau tanpa dia. Lelaki seperti dia tidak pantas mendapatkan setetes pun air matamu yang berharga itu," ucap Rafael menenangkan. "Jangan sok bijak, Rafael. Kalau kamu ingin menertawakan aku seperti yang lainnya, lakukan saja. Kehidupanku memang pantas untuk ditertawakan. Aku bahkan harus membayar lelaki lain untuk menjadi pengantin di hari bahagiaku. Sungguh menyedihkan!" Sofia tertawa sumbang. Berusaha menghibur dirinya sendiri. Rafael tidak langsung menyahut. Dia menikmati angin sepoi-sepoi yang kini menerpa wajahnya. Membuat rambutnya yang tidak terlalu pendek tertiup ke belakang. Memberikan kesan maskulin, dengan wajahnya yang begitu tampan. "Meskipun aku di sini hanya suami bayaran, aku jelas tidak memiliki hak untuk menertawakanmu. Aku juga sama sekali tidak berminat untuk itu. Kamu butuh pelukan? Kamu boleh menangis sepuasnya dalam pelukanku, Sofia." tawar Rafael dengan senyum manisnya. "Tugasmu hanya pura-pura menjadi suamiku, bukan untuk jasa peluk-memeluk," sahut Sofia dingin. Tidak semudah itu baginya, melupakan pelukan hangat Erwin dengan dekapan Rafael. Jujur, secara visual lelaki yang ada di sisinya justru lebih menarik dibanding Erwin. Rafael memang dianugerahi wajah tampan tanpa cela. Itulah mengapa lelaki itu selalu menjadi idola, bahkan sejak mereka masih sama-sama SMA dulu. "Baiklah, terserah kamu saja. Aku sudah menawarkan. Ditolak juga tidak mengurangi dua miliarku," celetuk Rafael sambil nyengir kuda. "Andai saja hidupku bisa sepertimu. Asal ada uang sudah bahagia, pasti sekarang aku tidak akan seterpuruk ini." Sofia menatap lembut ke arah Rafael, kali ini wanita itu melemparkan sebuah senyuman tipis. "Buat apa susah? Kamu yakin, mereka yang membuatmu terpuruk sekarang juga merasakan hal yang sama? Bisa jadi sekarang mereka sedang tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan kamu. Kita juga butuh bahagia, Sofia. Lepaskan saja semua beban yang kita punya. Anggap saja, kita orang yang tidak memiliki masalah seujung kuku pun." Rafael tersenyum lebar lalu melempar pandangannya ke arah lain, jauh di depan sana. Sofia memikirkan kata-kata Rafael. Ya, dia memang harus memikirkan kebahagiaannya pribadi. Kali ini dia setuju dengan perkataan lelaki itu. "Kamu benar. Mulai hari ini aku harus memulai kehidupan yang baru. Aku harus melupakan semua serpihan luka yang yang ada. Menguburnya dalam-dalam. Terima kasih, Raf. Setidaknya ada kalimatmu yang mampu membuatku lebih tenang." Sofia menepuk lengan lelaki itu beberapa kali lalu berbalik arah. "Mau kemana, Sofia?" tanya Rafael yang kini menatap punggung istrinya. "Turun ke bawah. Udara semakin dingin. Aku sangat lelah, dan ingin mencoba istirahat. Kamarmu yang tadi aku tunjukkan. Jangan coba-coba masuk ke kamarku," ancam Sofia dengan lirikan tajam. "Padahal aku sudah membayangkan bisa tidur sambil memelukmu malam ini, Sofia." Rafael meledek. "Jangan bermimpi, Rafael! Berani kamu masuk ke kamarku, kubuat burungmu tak mampu berdiri lagi!" "Astaga! Aku hanya bercanda, Sofia. Ya sudah, sana istirahat. Jangan menangis di kamar sendirian. Selamat tidur," ucap Rafael tulus. Sayangnya Sofia sudah menghilang. "Seandainya aku nikah beneran sama Sofia, pasti malam ini aku bisa tidur sama dia. Nasib jadi suami bayaran, begini amat." gumam lelaki itu pelan, sambil tersenyum tipis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN