2.SEKALIANAJUKAN CERAI

1375 Kata
Bab 2. "Darimana?" Glory menoleh dan mendapati Richard sudah duduk di sofa dengan salah satu kaki menopang kaki satunya. Glory menggulir bola matanya cuek lalu meneruskan langkah kakinya tanpa menjawab pertanyaan tidak penting Richard. "Gloria! Aku tanya kamu dari mana? Kenapa nggak menjawab?" teriak Richard murka. Raut wajahnya sudah menampakkan kemarahan dan kekesalan karena di kacang gorengi oleh Glory. Pria itu sampai-sampai mengepalkan tangannya hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Orang seperti Glory mengabaikannya? Kurang ajar sekali! Seumur hidup baru kali ini dia di acuhkan. "Gloria! Jawab pertanyaanku. Dari mana sampai selarut ini?" "Bisa nggak usah berteriak? Bikin pengeng tahu nggak," balas Glory tanpa melihat Richard namun dia menghentikan langkah kakinya. Dia menarik nafas dengan kuat lalu menghembuskannya dengan kuat juga agar Richard tahu bahwa dia sedang tidak ingin berbicara. "Makanya kalau ditanya langsung jawab! Jangan pura-pura budeg. Aku sumpahin kamu budeg beneran baru tahu rasa." "Please deh, Tuhan juga pasti pilah-pilih doa umat manusia. Mana yang harus di kabulkan dan mana yang tidak. Dan mungkin akan melihat siapa dulu yang berdoa," jawab Glory lagi. Dari awal bertemu dengan Richard hingga menikah, dia belum pernah bicara dengan nada sopan dan lemah lembut pada Richard. Kecuali jika sedang bersama keluarga. Keduanya selalu menggunakan urat ketika sedang berkomunikasi satu sama lain. Bahkan tanpa bicara pun bisa saling perang tatapan dan mimik wajah. "Tinggal jawab aja susahnya minta ampun. Malah merembes kemana-mana. Emangnya kamu itu asisten Tuhan makanya tahu gimana cara kerjanya?" "Hah, bising!" teriak Glory sambil mengibaskan tangannya lalu melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya. "Jawab dulu, dari mana?" buru Richard sambil bersiap mengangkat bokongnya dari sofa dan hendak mengejar Glory. "Dari rumah sakit Yang Mulia. Memangnya anda pikir dari mana lagi?" Richard yang sudah berdiri tapi tidak bergeser dari tempatnya hanya mendengus mendengar jawaban Glory. Dia menggeleng karena mencium aroma kebohongan dari setiap kata yang keluar dari mulut Glory. Ya, Glory memang bekerja di rumah sakit sebagai perawat dan dia tahu itu bahkan dia tahu jadwal Glory setiap harinya, shift pagi atau siang atau bahkan off. Tahu darimana? Ya karena dia yang punya rumah sakit tempat Glory bekerja. Dia bisa mengintip jadwal Glory melalui para bawahannya yang ada di rumah sakit. Dan hari ini, terpantau Glory shift pagi yang apabila sesuai jadwal akan selesai jam kerja di pukul empat sore namun ini sudah pukul sepuluh malam dan gadis itu baru tiba di rumah? "Sesuai kontrak perjanjian kita, "Jangan mencampuri urusan satu sama lain". Tapi disini aku hanya ingin mengingatkan kamu agar kamu lebih berhati-hati karena aku yakin langkah kamu tetap di awasi oleh keluargaku terutama omaku. Tolong kalau kamu sedang berkencan, pilihlah tempat yang lebih private. Jangan berjalan bergandengan tangan di keramaian. Ingat, ada nama baik Zachary yang harus kamu jaga." Deg! Nafas Glory langsung tercekat usai mendengar kalimat Richard. Ya benar, dia berbohong. Dia tidak dari rumah sakit tapi pergi kencan dengan kekasihnya. Kencan ala rakyat jelata ya jalan di trotoar sambil bergandengan tangan kemudian makan nasi uduk pecel lele di warung tenda pinggir jalan. "Kalau tidak punya uang untuk sewa private room di restoran atau kamar di guest house murahan bisa chat aku. Aku akan segera transfer bahkan akan tambahkan untuk keperluan lainnya seperti beli pengaman," lanjut Richard dengan nada mengejek. Dia mengembalikan kalimat Glory tempo hari ketika dia kepergok sedang b******u dengan sekretarisnya di sofa ruang tengah rumah mereka. "Sial," gumam Glory sambil melanjutkan langkahnya tanpa memberi jawaban pada Richard. Sesampainya di kamar, dia membaringkan tubuhnya tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Dia memeriksa ponselnya apakah ada pesan masuk dari keluarga Richard yang mungkin sudah mengetahui apa yang dia lakukan barusan. "Hufff, enak memang, semua serba ada, tapi bukan ini kehidupan yang aku inginkan Tuhan," gumamnya. Dia punya pacar bernama Samuel, tapi mereka harus berpisah pada saat dia terpaksa menikah dengan Richard. Sam sangat marah padanya bahkan pria itu terlihat frustasi begitu mendengar keputusan sepihak dari Glory kala itu. Tiga bulan setelah pernikahannya, Glory menghubungi Sam dan menjelaskan semuanya kenapa mereka harus putus, kenapa Glory tega meninggalkan Sam dan menikah dengan pria asing yang baru di kenalnya. Mendengar cerita Glory, hati Sam kembali terenyuh dan segera memeluk Glory untuk membantu menghempaskan segala bebannya. Dan keduanya memutuskan untuk menyambung kembali kisah cinta mereka yang sempat terputus karena Glory memberitahukan bahwa pernikahannya dengan Richard hanya akan bertahan selama tiga tahun dan selama pernikahan itu berjalan Glory dan Richard tidak akan menjalani rumah tangga normal pada umumnya. Hanya tinggal bersama. "Udah mau tidur?" Glory mengangguk walau Sam tidak bisa melihatnya. mereka hanya tersambung melalui panggilan telepon, bukan video call. "Hmm, besok dinas pagi. Jadi harus tidur cepat." "Maaf ya, karena aku nggak bisa antarin kamu pulang tadi, jadi kamu lama di jalan." "Nggak apa-apa," jawab Glory. Sebenarnya, dia lebih senang tidak di antar oleh Sam untuk mencegah hal yang tidak di inginkan. siapa yang tahu kalau nenek atau orang tua Richard bisa saja mengawasi dirinya. jadi dia tidak mau membawa Sam turut dalam masalah nantinya. "Ya udah, kamu kerja gih, fokus!" ujar Glory untuk mengakhiri sesi panggilan tak berarti ini. "Oke, selamat malam Sayang!" "Malam!" Panggilan di putus, Sam sama seperti dirinya seorang perawat tapi beda rumah sakit. tadi mereka kencan karena Sam izin sebentar untuk makan malam. Pria itu sedang dinas malam. Sebelum memejamkan mata dan melewati gerbang mimpi, Glory menyempatkan waktunya membuka galeri di ponselnya. ada beberapa foto terbaru dirinya dan Sam saat makan malam tadi. Dia tersenyum saat melihat wajah mereka berdua yang sumringah. "Sayang, sebenarnya aku ragu, apakah ini jalan yang baik untuk kita?" Glory memendam keraguan ini di dalam hatinya. Tidak sanggup melihat wajah kecewa Sam lagi ketika dia menyampaikan keraguannya. Dia dan Richard punya kontrak pernikahan yang mereka sepakati tanpa sepengetahuan keluarga. Mereka menandatangani di atas materai dan merahasiakannya. Tidak ada yang bisa membocorkan rahasia itu karena jika bocor maka akan dikenakan denda satu miliar. Tapi, apakah kontrak itu bisa di percaya? Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Bisa saja dalam rentang waktu itu terjadi sesuatu yang akhirnya harus memisahkannya dari Sam untuk kedua kalinya dan sudha jelas yang kedua ini akan lebih sakit. "Aku harap, semua yang aku jalani sekarang hanyalah mimpi. Aku benar-benar ingin ketika bangun besok, aku menjadi Glory yang dulu." ***** "Gloria!" Glory langsung keluar dari kamarnya begitu di mendengar teriakan Richard yang menggema di balik pintu kamarnya. "Apasih teriak-teriak kayak di hutan? Aku nggak budeg loh," jawabnya kesal sambil menggosok rambutnya yang yang masih setengah basah. "Sarapan mana?" Glory langsung melotot pada Richard kemudian dahinya berkerut. "Sarapan apa?" "Ck, sarapan apa katanya, ya sarapan lah Gloria. Makanan untuk di makan!" Walau nadanya datar tapi masih bicara menggunakan urat hingga lehernya terlihat tegang. "Beli aja sendiri kayak biasanya. Kan kamu nggak pernah makan di rumah. Ya kalau mau, tuh ada roti sama selainya. Bikin aja sendiri," ujarnya seraya meninggalkan Richard yang bengong. Pernikahan udah hampir tujuh bulan tapi keduanya belum pernah sarapan atau makan malam bersama kecuali ketika berada di rumah orang tua ketika berkunjung atau lebih tepatnya di minta untuk berkunjung. Bruk brak bruk brak Pintu kamar Glory di gedor dari luar oleh Richard dengan begitu bringas dan tiada henti sampai pintu itu terbuka dan menampakkan wajah kesal Glory. "Apa lagi sih?" desisnya dengan gigi atas bawah merapat dan mata melotot tajam ke wajah Richard. Untuk sesaat, Richard hanya terdiam dan mengamati wajah Glory yang dalam hati diam-diam dia puji 'cantik dan menggemaskan'. Tanpa sadar dia tersenyum membuat Glory semakin naik pitam karena selain mengganggu ketenangannya di pagi hari, pria yang sayangnya berstatus suaminya sudah membuatnya membuang-buang waktu dan energi di pagi hari yang bisa mengakibatkan moodnya jelek sepanjang hari. "Buatkan aku sarapan. Kalau roti yang ada buatkan double," ujar Richard usai sadar dari kebodohannya yang mengagumi wajah menggemaskan Glory. "Nggak! Buat aja sendiri. Aku mau kerja udah telat!" "Buat atau kau kupecat per hari ini juga!" ancam Richard setengah mengeram karena keras kepalanya Glory. Bukankah seharusnya gadis miskin yang di paksa menikah dengan pria kaya akan tertekan dan akan menuruti semua aturan yang di buat oleh suaminya? Tapi kenapa gadis ini sangat keras kepala bahkan seperti tidak takut kalau dia harus terbuang dari keluarga suaminya? Gadis ini selalu menentang setiap ucapannya bahkan sangat membangkang untuk setiap hal yang di larang oleh Richard. Richard menggeleng karena tidak habis pikir. "Pecat aja, kalau bisa sekalian ajukan cerai. Jadi kita tidak terikat di bidang apa pun lagi untuk selama-lamanya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN