"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Dylan, kala melihat lamunan di wajah Brighita. Dylan melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri. Memeluknya erat dan menjadikan bahu wanitanya sebagai tumpuan kepalanya. Brighita menggeleng lemah. "Tidak ada." Ia kembali melanjutkan makannya. Sejujurnya Brighita ingin bertanya, apakah sifat baik dan perhatian Dylan ini hanya sebagai bentuk permintaan maaf pria itu setelah apa yang di lakukannya terhadap dirinya. Tapi Brighita mengurungkannya. Ia enggan momen indah ini cepat berakhir. "Bagaimana dengan masakannya?" Brighita menatap Dylan yang balas menatapnya penuh harap. "Lumayan." Dylan tertawa renyah. Ia sudah menduga bahwa ia memang bisa memasak itu dengan mudah. Yaahhh meski ia mengalami kekacauan besar di dapur, tapi itu setara dengan ra

