Selepas obrolan mengenai trauma dan masa lalu itu, keduanya mengulum senyum. Anya melirik Je yang sudah mulai melajukan mobilnya lagi. “Sekarang posisi kita satu sama,” kata Anya membuka keheningan. Je mengernyit. Bingung dengan apa yang Anya ucapkan. “Maksudmu?” “Kau sudah tahu masa lalu kelamku dan aku juga kini tahu seperti apa masa lalu kelammu. Jadi jangan lagi ada di antara kita yang mengungkit kisah kelam masa lalu masing-masing. Oke?” Anya meminta kepastian karena walau bagaimanapun juga mengungkit masa lalu yang menyakitkan itu seperti mengorek sebuah luka lagi. “Masuk akal! Baiklah. Deal!” Je mengulurkan tangannya pada Anya dan Anya menjabatnya segera seraya menyahut dengan kata yang sama. Setelahnya keduanya Kembali menatap jalanan. Hanya terden

