5. Misi Anya

2428 Kata
    Pesawat itu akhirnya akan mendarat di Bandara Internasional San Fransisco. Dari atas langit, Anya bisa melihat sebuah jembatan terkenal yang membentang di tengah Golden Gate, sebuah bukaan dari Samudera Pasifik ke Teluk San Fransisco. Jembatan Golden Gate, begitu yang disebutkan orang-orang saat menyebut jembatan yang menjadi ikon kota San Franssisco.      Anya begitu mengagumi jembatan berwarna merah yang terlihat begitu gagah di bawah sana. Ia mengeluarkan ponsel dan mengambil foto dari balik kaca pesawat. Ia yakin Ibunya pasti ingin melihat jembatan terkenal itu. Anya tersenyum lebar dan ia tidak pernah percaya ia akan menginjakkan kaki di negeri Paman Sam yang tersohor sebagai negara adi daya itu. Bahkan akan tinggal di salah satu kotanya yang tersohor itu.      Beberapa menit kemudian pramugrari pesawat mengabarkan bahwa pesawat mereka telah sampai di Bandara Internasiona San Fransisco. Anya sudah tidak sabar untuk menginjakkan kakinya di luar pesawat. Walau sekarang tubuhnya terasa letih dan sepertinya terserang jet lag, tapi hatinya yang penuh semangat menguatkan tubuhnya.      “Aku harus menikmati hari-hari di sini! America, here I am!” teriaknya begitu turun dari pesawat.      Setelah mengambil bagasinya, ia pun melangkah keluar mengikuti penumpang pesawat lainnya. Menurut email yang dikirimkan oleh Desmond, asisten Sally, ia akan dijemput dari pihak Diamond Group. Ia mengarahkan pandangannya ke arah penjemput yang sudah berjajar di pintu kedatangan. Seorang pria berusia pertengahan 30 tahun dengan rambut pirang terlihat membawa papan nama bertuliskan namanya. Di bagian atas papan nama itu terdapat logo berlian dan lima bintang di atasnya dengan tulisan Diamond Group.      Anya tersenyum dan mendekati pria itu.      “Hi, are you from Diamond Group? (Halo, apakah Anda dari Diamond Group?)” sapaan pertama Anya. Memastikan bahwa dirinya tidak salah orang.      Pria itu mengernyitkan keningnya sejenak. Mencoba mencocokkan foto Anya yang ia lihat pada email yang Sally berikan dengan wajah wanita di hadapannya.       “Miss Raffles? Anastasia Raffles?” tanya pria itu memastikan dengan nada sedikit aneh ketika menyebut namanya.      “That’s right! I am Anya. Anastasia Raffles, the one who you’re looking for (Benar sekali! Saya, Anya, Anastasia Raffles, orang yang Anda cari),” sahut Anya cepat sambil menyurungkan tangannya. Berusaha beramah tamah.      “Oh, hi… welcome to San Fransisco. Moore. Desmond Moore,” balas pria itu tersenyum sambil menjabat tangan Anya yang terulur. Tanpa basa-basi, Desmond mengambil koper Anya dan mengiring wanita itu menuju sebuah van khusus dengan logo Diamond Group. Desmond membukakan pintu untuk Anya dan memastikan wanita itu sudah duduk di dalam. Setelahnya, ia mengangkat koper Anya dan memasukkan ke dalam bagasi. Lalu Desmond kembali ke kursi di samping sopir.      Mobil pun berjalan menyusuri jalanan San Fransisco yang naik turun bak roller coaster. Mobil van itu berjalan dengan sedikit cepat menuruni jalan menurun yang sangat curam. Anya merasakan sensasi yang unik saat di dalam mobil namun ia menyukainya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan setiap sudut kota San Fransisco dengan ponselnya.      Tubuhnya yang letih dan matanya yang terasa berat tidak dirasakannya. Ia terus saja mengagumi keindahan kota San Fransisco. Hingga tanpa sadar mobil itu telah sampai di depan sebuah rumah dua lantai yang cukup mewah. Arsitektur semi minimalis dengan sentuhan klasik di beberapa sudut. Rumah itu didominasi warna coklat dan silver yang sangat elegan dan mewah. Sepertinya sang empunya rumah adalah orang yang memiliki selera yang bagus.      Di bagian depan rumah terdapat padang rumput dengan beberapa tanaman bunga dan pepohonan. Jangan lupakan infinity pool yang dibangun di sisi rumah. Menghadap tebing dan terlihat sangat luar biasa. Di sisi yang lain, ada sebuah lapangan basket mini dengan sebuah ring di atasnya yang terlihat usang. Tiang basket itu begitu kokoh namun sayang terlihat usang. Dengan jaring ring yang berlubang bahkan beberapa seratnya sudah mulai terlepas. Seolah ring basket itu tidak pernah lagi digunakan oleh sang empunya rumah.      Rumah yang terlihat sederhana ini layaknya sebuah resort mewah di tengah perbukitan San Fransisco. Sungguh membuat takjub para tamunya. Termasuk Anya yang sekarang melongo, menyadari keindahan rumah di hadapannya.      Mobil van itu berhenti tepat di depan kolam air mancur dengan symbol diamond di atasnya. Desmond turun lebih dulu dan mempersilakan Anya untuk masuk ke dalam rumah melalui tangga yang terbuat dari kaca. Anya takjub melihat rumah itu. Ia sempat bertanya-tanya apakah rumah ini hotel ataukah tempat tinggal? Jika memang rumah ini adalah tempat tinggal, siapakah yang tinggal di dalamnya?      “Oh jelas ini rumah Bu Sally. Betul… betul…” Anya menjawab pertanyaannya sendiri.      Ia berputar mengelilingi taman sambil menunggu Desmond menurunkan barang-barangnya.     Tiba-tiba dua penyambut tamu lucu datang menghampirinya. Dua ekor anjing berjenis Golden Retriever.     Anya yang gemas langsung mengelus dan bermain sejenak dengan dua anjing-anjing manis itu sebelum akhirnya ada seseorang yang memanggil dua anjing itu masuk ke dalam. Anya menegakkan tubuhnya dan melangkah masuk.      “Miss Anya, silakan lewat sini,” kata Desmond menunjukkan arah. Tentu saja dalam Bahasa Inggris. Anya mengikuti petunjuk Desmond dan melangkah masuk.     “Excuse me… (Permisi),” ucap Anya sopan. Bagaimanapun adat Timur masih sangat melekat dalam dirinya. Ia tidak mungkin masuk sembarang ke rumah orang.      Tiba-tiba seorang wanita tua yang sangat Anya kenal muncul dari dalam ruangan. Wanita itu adalah Viona, nenek Becca atau dalam kondisinya sekarang, nenek Jeremy.      “Anya!!! Selamat datang di San Fransisco, Dear!” sapa Viona dengan ramah sambil memeluk dan memberikan cipika-cipiki pada Anya. Anya membalasnya.     “Baik, Grandma. Grandma sepertinya sangat sehat ya?”     “Puji Tuhan. Grandma bahkan masih bisa berlari di treadmill lho!” Keduanya terkekeh. Viona kemudian mengajak Anya masuk ke ruang tengah. Mereka berbincang-bincang singkat mengenai Rivaldi, Celline dan Becca. Sudah sekian lama Viona belum menemui keluarga putranya di sana dan ia ingin mendengarkan kabarnya.  ***     Tak berapa lama akhirnya si Tuan Rumah sesungguhnya datang. Dibalut dalam coat panjang warna khaki, sepatu boots hitam dan kacamata hitam berlogo LV model terbaru itu, ia masuk ke dalam rumah. Seorang pelayan membantu membukakan coat yang digunakan hingga tersisa dress asimetris hitam putih selutut yang membalut indah tubuh wanita paruh baya itu. Ia berjalan dengan anggun sambil melepaskan kacamata hitamnya dan memasukkannya dalam tas branded edisi terbatas itu. Siapa lagi yang bisa melakukan semua ‘fashion show’ menawan itu jika bukan Sally?      “Kau sudah datang rupanya. Bagaimana perjalananmu di pesawat?” tanya Sally berbasa-basi lalu mengambi duduk pada sofa di depan Anya.      “Uhmm… cukup melelahkan tapi saya bisa menikmatinya.” Sally tersenyum sambil menyeruput secangkir espresso tanpa gula yang disediakan pelayan untuknya barusan.      “Oke, Anya. Aku tidak memiliki banyak waktu. George di Washington membutuhkan kehadiranku. Aku hanya akan berada di San Fransisco selama beberapa hari ke depan sebelum akhirnya bergabung bersama George. Jadi kuharap kau bisa menjalankan misi yang kuberikan.”      Anya memajukan tubuhnya. Seketika rasa tegang hinggap di dadanya. Ia tidak tahu apa yang akan Sally katakan berikutnya tapi entah mengapa Anya begitu tegang. Mungkin karena aura kuat yang Sally miliki dan membuatnya segan untuk mendengarkan.      Di sisi lain, Sally rupanya senang melihat keseriusan pada diri Anya. Wanita itu memang terlihat seperti kata Rivaldi dan Becca, sangat serius untuk urusan pekerjaan. Bahkan Sally sedikit heran, untuk seseorang yang melakukan perjalanan sangat jauh, bisa dibilang Anya tidak terlihat lelah sama sekali. Staminanya sangat bagus. Ia wanita yang tangguh bahkan dalam kondisi lelah sekalipun. Sally tidak akan segan memberikan nilai plus untuk Anya saat evaluasi kerja nanti.      “Seperti yang kau tahu, selama berada di sini kau akan menjadi asisten CEO Diamond Group, Jeremy atau panggil dia Je. Anak nakal itu tidak pernah mau menginjakkan kakinya di kantor. Orang-orang sudah menyebutnya sebagai pembuat onar, tidak becus, tidak kompeten dan semua hal yang buruk lainnya. Kau tahu kan?” tanya Sally retoris. Tidak memerlukan jawaban Anya karena ia tahu Anya bisa membayangkannya. Anya terlihat mendesah lelah. Ini realita yang harus ia hadapi saat mendapatkan semua hadiah dari Tuhan yang luar biasa ini.      “Dan karena Je sudah memiliki reputasi itu, aku ingin kau memperbaiki reputasinya dan mengubahnya menjadi CEO yang professional dan disegani anak buahnya.” Sally menjeda ucapannya. Memastikan Anya memahami sebelum akhirnya melanjutkan lagi.      “Maka dari itu untuk sementara waktu, tugas-tugas Je yang belum selesai akan dilimpahkan padamu.       Dengan kata lain, kau akan menjadi bayangan Je. Menyelesaikan tugasnya atas nama Je. Dan, keputusan yang Je tidak bisa buat, akan sepenuhnya bergantung di tanganmu dan Je hanya akan menerima hasil akhirnya. Sampai di sini, kau mengerti?”      Menjadi bayangan dari seorang CEO perusahaan besar? Terlihat pekerjaan yang sulit, berat dan penuh tekanan di mata Anya. Walau ia terbiasa menjadi seorang sekretaris di GD Corp atau saat ia berada di Yayasan sekalipun, tapi tetap saja menduduki jabatan setinggi itu dengan tanggung jawab dan tuntutan sebesar itu terlihat menyeramkan. Namun Anya sudah berjalan sejauh ini dan tidak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan ini. Walau berat.      “Aku akan mencoba yang terbaik,” jawab Anya mantap. Dan Sally akan memegang setiap ucapan Anya. Satu hal yang menjadi catatan Sally mengenai Anya, wanita muda di hadapannya pantang menyerah. Ia tidak akan mundur walau di depan sudah terlihat beratnya tantangan yang harus dilalui. Sally salut pada Anya. Sally yakin Anya pasti bisa menghadapi Je yang keras kepala dan cenderung pembangkang.      Senyum kepuasan tercetak di bibir Sally.      “Good. Tentu saja untuk semua jasamu itu kau akan menerima kompensasi yang besar dariku. Kau akan menerima gaji dan tunjangan seperti yang tertuang pada kontrak. Belum termasuk Bonus jika kau berhasil membuat Je berubah. Dan seperti yang kau tanyakan waktu di Surabaya masalah tempat tinggal, makanan dan kendaraan, kau bisa tinggal di rumahku. Di sini. Semua fasilitas boleh kau pergunakan dengan bebas. Dan semua pelayan akan menyediakan semua kebutuhanmu saat kau memintanya.”      Dengan kata lain, Anya akan diperlakukan sebagai tamu agung di kediaman Halim. Dan ini sungguh luar biasa. Anya tidak perlu memikirkan apapun selain kerjanya.      “Tapi aku memberikan satu syarat lagi untukmu.” Sally rupanya pandai memainkan emosi seseorang. Anya yang sudah merasa lega, kini kembali tegang.      “Selama kontrak berlangsung, kau tidak boleh jatuh cinta pada putra-putraku. Mengerti?”      Tidak jatuh cinta pada anak-anak Sally? Sepertinya perkara yang mudah. Anya tidak semudah itu jatuh cinta, harusnya. Ia memang tertarik dengan Je, tapi ia yakin itu bukan cinta. Jadi, membatasi diri agar tidak jatuh cinta pada Je itu bukan hal yang sulit. Dan untuk anak kedua Sally? Anya belum pernah mengenalnya dan bagaimana ia bisa jatuh cinta jika tidak mengenal orangnya? Ini perkara yang mudah.      “Saya sanggup melakukannya!”      Sally tersenyum puas. Sebuah map Sally berikan untuk Anya. Anya mengerniyt heran dan membuka isi data di dalamnya.      “Semua itu adalah data mengenai putraku, Jeremy. Mulai dari tes karakter, kemampuan akademis serta hal-hal lain yang kau butuhkan ada di sana. Kau bisa membacanya.” Anya membuka beberapa halaman dan membacanya cepat. Nanti dia akan membacanya lebih rinci tapi setidaknya ia memastikan isinya.      “Oh… dan karena kau bersedia menjalani semuanya itu, aku memberikan bonusku yang pertama untukmu. Aku akan menjamin pengobatan Ibumu hingga sembuh.” Kalimat Sally yang terakhir membuat Anya terkejut.      “Pengobatan Mama?” Memangnya Erica sakit apa? Tanya Anya dalam benaknya. Ia sama sekali tidak tahu akan hal itu. Atau mungkin Erica yang terlalu rapat menyembunyikannya? Sally terkejut karena Anya tidak tahu menahu tentang kondisi Ibunya yang mengidap kanker. Tapi sebagai seorang Ibu, ia bisa merasakan apa yang Erica rasakan.      “Aku bisa mengerti perasaannya karena aku juga seorang Ibu. Kurasa Ibumu terlalu mencemaskanmu dan tidak ingin membebanimu. Ia menyimpan semua rahasia ini dari putrinya bahwa ia mengidap kanker hati.”      Anya menutup mulutnya tak percaya. Setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia tak menyangka Erica menyembunyikan semuanya darinya. Bagaimanapun juga Anya merasa tidak adil! Ia adalah putri Erica dan mengapa Ibunya tidak memberitahunya apapun! Apalagi menyangkut penyakit berat seperti ini. Bisa-bisanya Erica menutupinya.      Anya terisak mengetahui fakta mengejutkan ini. Tapi ia tidak bisa lagi mundur demi kebaikan Ibunya. Ia menyadari kondisi keuangan mereka sebelum berangkat ke Amerika tidak mungkin sanggup untuk mengobati penyakit Erica. Hanya ini satu-satunya cara dan Tuhan mempertemukan mereka dengan Sally. Walau semuanya itu tidak gratis. Anya tidak punya pilihan lain.      “A… aku…” Anya makin terisak. Walau Sally berwatak keras dan dominan, tapi ia tetaplah seorang wanita sekaligus seorang Ibu. Melihat Anya terisak membuatnya merasa kasihan. Wanita malang itu harus mengalami semuanya ini. Di usianya yang masih muda, ia harus menerima kondisi malang Ibu yang disayanginya.      Sally mendekatkan dirinya pada Anya dan menepuk pundak wanita itu. Berusaha menenangkannya.      “Tenanglah. Tim dokter terbaik sedang menanganinya. Percayalah padaku!”      Anya menyeka air matanya dan menatap Sally di sampingnya.      “Terima kasih, Bu Sally.” Dipanggil Ibu terasa istimewa di telinga Sally. Selama ini ia dipanggil Mrs. Halim atau Mrs Sally tapi sebutan Indonesia itu terasa begitu otentik. Membuatnya selalu mengingat tanah airnya sendiri. Tangan Sally refleks menepuk-nepuk pundak Anya yang bergetar.      Kini Anya mulai tenang dan Sally menatap Anya kembali serius.      “Jangan salah mengartikan yang barusan kulakukan. Ini hanya kebiasaan di Barat sebagai bagian dari etika.” Anya mengangguk cepat. Ia juga tidak akan mengartikan lebih. Wanita bermartabat seperti Sally jelas tidak akan mungkin mudah bersimpati dengannya yang dari kalangan rakyat biasa.      Sally berdeham untuk menutupi rasa canggungnya. Ia berusaha kembali mempertahankan harga diri dan martabatnya.      “Satu pesan terakhirku. Jika kau melanggar, mengundurkan diri atau lari dari tugasmu, maka sudah dipastikan semua fasilitas bahkan biaya pengobatan Ibumu akan terhenti saat itu juga. Mengerti?” kata Sally penuh penekanan.      “Saya mengerti, Bu! Saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan Anda.”      “Aku pegang kata-katamu dan aku akan menantikan hasil kerjamu.”      Sally bangkit dari tempat duduknya lalu mengulurkan tangan di hadapan Anya.     “Selamat bekerja, Anya!”     Anya ikut berdiri dan menyalami wanita itu. Sebuah uluran tangan yang menjadi awal dari semuanya. ***     “Mengapa Mama tidak memberitahuku semuanya?” ungkap Anya tidak terima dengan sikap Erica yang merahasiakan semuanya. Air matanya mengalir deras. Merasakan sesak di d**a. Anya kini sudah jauh dari Ibunya dan ia tidak bisa berada di sisi Ibunya saat wanita itu menderita.      “Jangan menangis. Mama tidak apa-apa kok. Sungguh!” Erica masih berusaha meyakinkan Anya untuk tidak mengkuatirkan dirinya.      “Mama bohong!”      “Untuk apa Mama berbohong? Mama sungguh diperlakukan dengan baik di sini. Mereka memberikan apartemen terbaik dan dekat rumah sakit untuk Mama. Mereka juga memberikan dokter dan penanganan terbaik di rumah sakit terbaik di Singapura. Mama baik-baik saja di sini.”      Anya sedikit lega mendengar ucapan Erica walau sebenarnya ia masih merasa marah karena Ibunya yang tidak mengatakan apapun mengenai sakitnya. Bahkan hingga saat inipun, ia bisa melihat Erica menutupi semua rasa sakitnya agar Anya tidak mengkuatirkannya. Tapi ia yakin di tangan yang tepat Ibunya akan baik-baik saja.      “Aku akan berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan Mama. Mama harus bertahan. Kumohon Tuhan… sembuhkan Mamaku.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN