LVY Part 24

1218 Kata
"Sebenarnya, kamu perempuan seperti apa? Mengapa aku tak menemukan jejak rasa bersalah, takut bahkan penyesalan karena menghancurkan hubungan seseorang? Kamu bahkan bisa tidur nyenyak dalam kamar yang aku buat untuk Arintha. Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu?"  Dia mencubit dagu Chendana, dan melihat lurus kepada wanita di bawahnya. Dalam netra hitam itu, dia menemukan ekspresi cinta dan kesedihan dari perempuan itu untuknya.  "Kamu mencintaiku?" Pertanyaannya adalah kalimat afirmatif, bahkan tanpa sedikitpun keraguan.  Chendana balas menatapnya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan dengan kuat menekan rasa pahit yang muncul tiba-tiba di hatinya, menatap Janu dengan senyum di matanya, dan berkata, "Mengapa kamu begitu takut aku jatuh cinta padamu?"  Kedua tangan Janu tetap berada di samping kepala Chendana, tiba-tiba dia membungkuk, dengan kesombongannya dia berkata, "Karena.. aku nggak mau kamu menyesal."  Tidak ada yang harus disesali oleh Chendana tentang perasaan dan pernikahannya dengan Janu, bahkan jika pernikahan itu dibangun diatas kebencian.  Dia hanya menjalani takdir yang digariskan.  Namun, takdir benar-benar senang bermain-main dengannya.  Ketika perutnya terasa diaduk saat menyiapkan secangkir kopi dan mencium bau apapun yang menyengat, dia menemukan sesuatu yang membuatnya takut, tamu bulanannya belum datang bulan ini.  Yang dia ingat, terakhir kali bulanannya datang akhir bulan lalu, ketika dia pagi-pagi merasakan sakit pada perutnya, seperti kram pada saat menstruasi.  Dia tidak terlalu memikirkannya. Karena, dia selalu mengalami sakit yang sama setiap bulannya. Sore harinya, Chendana hanya mendapat bercak-bercak cokelat kemerahan selama dua hari, dan belum datang lagi sampai sekarang.  Dia menunggu beberapa hari dalam kegelisahan. Selama itu, dia beberapa kali merasakan kram perut dan perutnya yang tidak nyaman, tetapi setelah satu minggu belum ada sedikitpun bayangan menstruasinya.  Hamil.  Kata yang terlintas dengan cepat di benaknya membuatnya menjadi wajah putih yang pias.  Alis halus Chendana berkerut dengan keras, dan kecemasan di dalam hatinya perlahan menyelimuti dirinya. Pada saat ini, dalam hal apapun, dia seharusnya tidak memiliki anak dari Janu.  Chendana merasa tidak terlalu yakin untuk sementara waktu. Namun, mual hebat yang ia rasakan pagi tadi seperti memberinya jawaban.  Apa yang bisa dia lakukan sekarang?  Ketika turun untuk berangkat kerja, Janu melihat Chendana melamun sendirian di meja makan panjang yang bisa menampung hingga sepuluh orang.  Perempuan muda itu sepertinya lapar, tapi dia tidak berselera makan, dan hanya mengaduk-aduk isi piringnya.  Tidak seperti biasa, dia hanya melihat jauh ke depan, sama sekali dia tidak melirik Janu sekalipun.  Janu ingin bertanya, apa dia baik-baik saja ... Saat kata-kata itu mencapai lidahnya, dia berhenti. Bibirnya ditarik, membentuk garis tipis.  Mengambil langkah besar, dia berjalan menuju meja makan dan duduk.  Pria itu adalah seorang yang apik. Mengenakan setelan kerja, dia memakai parfum dengan feromon menggoda.  Sementara dia menelepon sambil menyesap kopinya, aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya yang jantan membuat Chendana mengerutkan dahi, perutnya mulai kembali bergejolak.  Chendana menekan keinginannya untuk muntah, bertahan sampai Janu pergi sebelum mengeluarkan isi perutnya.  Chendana mulai gelisah dan tidak nyaman, badai dalam perutnya terlalu kuat. Pertahanannya akhirnya jebol, dan Chendana terburu-buru ke kamar mandi.  Dia tidak banyak makan sebelumnya dan semua makanan semalam sudah dicerna. Jadi, Chendana hanya mengeluarkan sedikit cairan.  Ketika Chendana kembali. Janu tidak memiliki ekpresi. Serius mengencangkan dasi, lalu bangkit untuk mengambil kunci mobil, kemudian dengan elegan memakai jasny. Semua dia lakukan tanpa bersuara.  Melihat Janu melangkah pergi, Chendana cepat-cepat menyusul, "Tunggu ..." Pria di depannya berhenti tiba-tiba, dan dia hampir menabrak punggungnya.  Tatapan dingin dan sengit datang, dan Chendana sedikit menyusut, tangannya memegang rok secara tidak sadar, dan dengan malu-malu bertemu dengan tatapannya, dan akhirnya mengumpulkan keberanian, "Aku ... aku mau pulang sebentar."  Alisnya yang seperti pedang sedikit mengernyit. Bibirnya bergerak sedikit seperti hendak menanyakan sesuatu. Tetapi, dia tidak melakukannya.  "Boleh?" Dia mengulanginya lagi.  "Hmmm!" Chendana tidak tahu arti dari jawaban Janu. Jadi, harusnya itu boleh kan?  Dengan kesimpulannya, dia berganti pakaian yang dibelikan oleh pembantu yang datang mingguan.  Dibesarkan di desa, lalu dibawa pulang oleh Mahya. Aktivitas Chendana terbatas di rumah Risjad atau di luar bersama Arintha. Orang yang benar-benar ia kenal nyaris bisa dihitung dengan jarinya.  Jadi, dia mengandalkan ibunya untuk dimintai bantuan untuk memastikan kehamilannya.  Sudah agak siang ketika Chendana sampai di rumah keluarga Risjad. Dia sengaja mengambil jalan masuk dari pintu belakang.  Pintu keluar masuk tukang sampah harian.  Bik Roh sedang mencuci di tempat cucian baju. Dalam rumah besar itu ada mesin cuci, tapi Bik Roh mengucek pakaian dengan tangannya.  Mahya memang agak cerewet. Mesin cuci hanya boleh dipakai untuk seprai, gorden atau bedcover. Untuk pakaian yang mahal-mahal hanya boleh dikucek dengan tangan.  Ketika belum menikah, itu menjadi pekerjaan rutinnya.  Begitu melihat Chendana muncul dari pintu belakang. Bik Roh langsung membilas busa yang menutupi tangan, dan langsung mendatanginya.  "Chendana kamu pulang?"  "Iya, Bik."  Dia mengambil langkah maju, merentangkan kedua lengannya, dan memeluk bik Roh di pelukannya, suaranya lembut dan menyenangkan. Mereka sudah hampir dua bulan tidak bertemu. Sekarang bik Roh secara alami menarik Chendana untuk melihat keadaannya dengan sangat cermat. Dia melihat ke atas dan ke bawah, wajahnya terlihat sangat serius, lalu berkata dengan sedih: "Lihat, Nana, kenapa kamu kurus Sekarang? Nggak di kasih makan sama suamimu?"  "Dikasih, Bik. Banyak malah, tapi aku emang sengaja mau diet."  "Ngapain kamu ke sini?" Chendana baru saja memisahkan diri dengan bik Roh ketika dia menerima tamparan di wajahnya.  Tindakan itu terlalu mendadak sehingga tidak ada yang bereaksi. Mengangkat kepalanya, Chendana menutupi pipinya yang merah dengan satu tangan, dengan tenang ia melawah kebencian dalam mata Mahya.  "Bu, sebenarnya apa kesalahanku? Aku belum sempat masuk ke rumah, tapi ibu sudah memberiku satu tamparan."  "Sebagai nyonya muda keluarga Massry, apa tujuanmu datang sini? Pamer ke kami sudah berhasil jadi istri orang kaya?"  Baru kali ini dia melihat ibunya bersikap tidak masuk akal. Ah, bukan. Mahya memang sudah seperti ini dari awal. Dalam hatinya, dia hanya memiliki satu anak perempuan. Arintha.  "Keluar! Pergi dari sini sekarang! Kamu tidak diterima di rumah ini!"  Chendana tersenyum pahit. Bagaimanapun, dia tidak pernah memiliki harapan kepada ibunya.  Fiko sedang melihat berita ketika mendengar keributan. Dia bergegas keluar. Dia dengan cepat menyuruh bik Roh mengambil salep dan bertanya dengan simpatik apakah Chendana baik-baik saja.  Dia kemudian berbalik ke arah istrinya dan menegur dengan keras, "Mahya, bagaimana kamu tega menyakiti seorang anak? Kita bisa berdiskusi kalau ada masalah!"  "Lihat betapa pedulinya ayah tirimu? Tapi kamu malah menyakiti anaknya! Mengapa kamu begitu jahat?"  Yang berkata begitu adalah ibunya. Orang yang melahirkannya.  Mahya mundur selangkah saat Chendana terus menatapnya. Di matanya. Tatapannya bergeser, ada sesuatu yang berbeda tentang Chendana hari ini.  "Pergilah dari sini! Sudah kubilang sebelumnya, aku nggak punya anak sepertimu! Aku memutuskan hubungan denganmu, sejak kamu menjebak Janu!" Teriak mulut Mahya tanpa berpikir.  Dia bahkan tidak tahu kenapa berkata seperti itu. Dia hanya mau Chendana pergi sehingga tidak memiliki beban perasaan bersalah kepada suami dan juga kepada anak sambungnya.  "Tidak punya anak sepertiku?" Chendana tiba-tiba merasa mau tertawa. Dia menatap Mahya dengan mata mengejek, "Sejak kapan kamu memperlakukanku sebagai anakmu?"  Tak bisa disangkal lagi. Mahya dan Chendana memiliki postur dan raut muka yang hampir serupa. Tidak ada yang tidak percaya mereka pasangan ibu dan anak.  Namun, kenyataannya, mereka tidak bersikap seperti orang yang saling menyayangi.  "Kamu selalu bertindak sebagai ibu Arintha. Bukan ibuku!" Chendana tertawa, pada saat yang sama dia juga menangis. Mahya tidak mempunya anak perempuan yang kejam, dan dia juga tidak menginginkan ibu yang sama kejamnya dengan Mahya.  "Kamu selalu khawatir tentang Arintha. Tapi, pernah tidak, sedikiiit saja, kamu peduli dan khawatir bagaimana aku menjalani hidupku sampai detik ini?"  Mahya tampak malu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN