Janu telah berada di Jepang selama satu minggu karena urusan pekerjaan. Masih ada waktu lima tahun sebelum memasuki usia pensiun. Namun, Raulan sudah mulai menyerahkan sebagian bisnisnya kepada anaknya yang belum lama wisuda.
Sejak masih keci, Janu memang sudah dilatih dan dididik menjadi penerus perusahaan milik keluarga.
Ketika dia tumbuh dewasa, Raulan mau anak itu secepatnya mengambil alih perusahaan. Dengan begitu, Raulan dan Wina, istrinya, bisa bebas berkeliling dunia tanpa dibebani dengan berbagai macam pertemuan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Di lantai 24 The Peninsula, Tokyo. Janu baru saja selesai mandi, dan masih mengenakan jubah handuk putih yang menutupi tubuhnya saat dia berbaring di kursi santai yang ada di balkon.
Dia menyilangkan tangan di depan dadanya, dan matanya lurus melihat gemerlapnya hutan beton yang mengelilingi jantung kota Tokyo. Ginza selalu ramai dan tidak pernah tertidur meskipun ini sudah tengah malam.
Di atas meja bundar yang ada di sebelahnya, terdapat selembar kertas persegi di bawah segelas sampanye. Keempat sudut kertas itu berkibar ketika angin musim gugur berembus perlahan, membawa aroma manis bunga wisteria dari taman utama kekaisaran Jepang.
Janu menoleh dan mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas sampanye. Dia melihat selembar kertas it, gerakan tangannya menjadi patung sesaat. Jejak kecil kesedihan terlihat jelas di alisnya yang berbentuk pedang.
Dia dan Arintha, berada di kota yang sama. Tetapi, kenapa mereka tidak sekalipun bisa bertemu secara kebetulan.
Selain darah yang mengalir dalam nadinya, sudah tidak ada lagi jejak kedekatan antara dirinya dan Arintha.
Amarah berkedip di bola matanya yang sehitam malam. Janu mengambil gelas sampanye dalam sekali sentak dan kertas itu melayang tertiup angin.
"Janu, kamu belum tidur?"
Dia mendengar suara Wina di belakangnya. Itu terdengar lembut, lain dari biasanya.
Janu menoleh. Wina menggeser pintu geser yang memisakahkan antara balkon dan kamarnya. Setelah masuk, Wina membiarkan pintu itu tetap terbuka.
Wanita itu bergerak mendekati anaknya.
"Baru mau tidur," sahutnya, kemudian meletakkan gelas sampanyenya dan berdiri untuk kembali ke kamarnya.
Wina berdiri di belakangnya. Matanya tanpa sengaja mendarat ke atas kertas yang tergeletak di lantai. Dia dengan mudah melihat tulisan dan gambar di sana.
Tiba-tiba, dia merasa bahwa suaminya itu terlalu egois dengan keputusannya selama ini. Suami bodohnya itu lebih mempedulikan harga saham perusahaan yang anjlok, daripada kebahagiaan anaknya.
Ini terlalu tidak adil untuk semua, terutama Janu.
"Sudah kelewat larut sekarang, aku yakin mama ada di sini, bukan cuma mau memastikan aku sudah tidur atau belum?".
Janu menyelesaikan kalimatnya, berjalan melewati Wina menuju ke kamar mandi. Dia meraih sikat sikat gigi dan pasta gigi.
Wina mengikutinya. Wanita cantik itu bersandar pada kusen pintu dan mengawasinya, "Lebih baik, sesegera mungkin, kamu akhiri pernikahanmu."
"Diakhiri atau nggak, nggak akan ada perbedaan." Sahut Janu tidak peduli, matanya melirik Wina.
Dia bertanya-tanya apakah Chendana mengatakan sesuatu untuk membuat Wina membujuknya, sehingga perempuan itu, bisa bebas dari dirinya tanpa rasa bersalah.
"Nggak ada artinya kamu pertahankan, kalau kamu tahu kalian nggak akan bisa bahagia." Wina mengerutkan kening dan dia bicara dengan nada serius dan sungguh-sungguh, "Mama selalu berpikir, Chendana itu anak yang baik dan lurus, agak mengherankan dia tiba-tiba menerobos masuk ke kamarmu."
Janu sedang menyikat gigi ketika dia berhenti. "Apa lagi yang diragukan? Dia sudah berusaha keras untuk menikah denganku, mau dia bahagia atau menderita, aku nggak akan melepasnya secepat ini."
Wina memandang Janu dengan waspada, "Kamu berniat menggunakan pernikahan untuk membalasnya?"
Mendengar pertanyaannya, Janu menoleh untuk melihat Wina dengan perasaan geli. Sepertinya dia mendengar sesuatu yang lucu, "Aku cuma bilang nggak mau melepasnya, kenapa mama berpikir tentang membalas perbuatannya? Jalani saja dulu, masalah bahagia atau nggak, bisa di lihat nanti."
Wina melengkungkan bibirnya, dan dia tersenyum lega. "Lepaskan masa lalu, baru kamu bisa bahagia. Bisa kan?"
"Bukannya besok mama ada penerbangan pagi, ya?" Janu bertanya. Jelas dia tidak mau melanjutkan topik ini.
"Aku akan kembali ke kamar. Kamu juga, istirahatlah. Jangan tidur malam-malam."
Wina menghela napas dengan berat dan pergi.
Janu dengan cepat mengambil air ke mulutnya dan berkumur. Setelah menyeka sisi wajahnya dengan handuk, dia meninggalkan kamar mandi dan berjalan ke sofa.
Duduk, dia meraih ponsel, dan menyalakan laptop-nya.
Dia membuat panggilan telepon sambil mengetikkan kata sandi laptop secara bersamaan.
"Ini aku," Setelah menekan nomor, seseorang mengangkatnya, "Kirim ke nomorku alamatnya!"
Malam ini berakhir dengan kegelisahan yang melingkupi pria muda itu.
Rencana Janu untuk diam-diam melihat Arintha berakhir dengan buruk.
Masalah tiba-tiba muncul dari vendor yang ada di Korea. Menggunakan jeda dua hari di sela pertemuannya yang padat di Jepang, Janu terbang ke Korea untuk mengurai masalah.
Karena kendala waktu, Janu hampir tidak punya waktu beristirahat dari penerbangan yang melelahkan. Tepat setelah mendarat di bandara Incheon, dia langsung ke pusat kota.
Tanpa banyak waktu yang terbuang, pertemuan langsung di mulai begitu dia sampai. Semua sudah berkumpul dan sedang menunggu kedatangannya.
Di sana, Semua sudah berkumpul dan sedang menunggu kedatangannya. Tanpa banyak waktu yang terbuang, pertemuan langsung di mulai begitu dia sampai di tempat.
Pertemuan berlangsung dari jam sebelas siang sampai jam empat sore. Ketika jeda istirahat makan siang, asisten Janu membacakan jadwalnya.
"Pak Janu, saya sudah memesan tiket pulang untuk besok penerbangan pagi, ada meeting dengan Bumi Resourch jam 2 siang. Setelah itu jadwal bapak kosong."
Setelah penerbangan panjang dan pertemuan yang berlangsung sepanjang sore, Janu mulai kelelahan. Duduk di lounge hotel setelah pertemuan, dia dengan santai mengeluarkan ponsel dari saku jas yang ia pakai.
Sementara itu, asistennya kembali membacakan jadwalnya yang padatnya melebihi jalan tol di jam-jam sibuk.
Tepat ketika dia akan mengunci teleponnya, sebuah notifikasi dari portal berita masuk. Menampilkan kabar terbaru Arintha yang hiatus untuk sementara dari dunia hiburan.
Janu membaca berita itu dengan penuh perhatian, dia lebih fokus kepada ponsel daripada ucapan asistennya.
Tak merasa terganggu dengan kurangnya perhatian Janu, asisten itu mengangkat kepalanya dan bertanya, "Setelah ini langsung kembali ke rumah? Atau ke kantor?"
"Makan dulu," Jawab Janu samar-samar. Sebelum asistennya bertanya lokasi, ia melanjutkan, "Golden Lotus."
"Baiklah."
Golden Lotus adalah restaurant masakan China kesukaan Arintha. Setelah pernikahannya dengan Chendana beberapa waktu yang lalu, ternyata Arintha lebih menderita daripada dirinya.
Melihat tubuh gadis itu yang begitu kurus di negara orang, hati Janu seperti dicungkil dengan gunting sedikit demi sedikit. Sakit.
Ada rasa bersalah yang selalu menggelayutinya. Arintha sudah membuatnya tetap hidup, tetapi dia malah mengkhianati pengorbanannya. Meskipun pernikahannya bukan salahnya, tetap saja, sampai sekarang, dia masih belum punya wajah untuk menemuinya.