LVY part 27

1367 Kata
Jakarta selalu diguyur hujan beberapa hari ini. Bukan sejenis hujan lebat yang hanya satu dua jam turun kemudian berhenti, tetapi gerimis sedang yang awet dari waktu ke waktu.  Selain membuat sketsa dan mengurus tanaman, Chendana tidak punya kegiatan lain di rumah setelah rutinitas hariannya beres.  Ada sebidang tanah kosong dekat kolam ikan koi Jepang yang dipelihara oleh Janu. Bibi bisu tuli sudah menggemburkannya dan mencampurnya dengan pupuk kandang.  Chendana sudah membuat rencana bunga dan tanaman apa yang nantinya mau dia tanam di sana. Tetapi rencana itu masih terbengkalai karena kondisinya.  Ketika dia sudah mulai semangat, hujan yang bikin ambyar semua.  Itu baru jam sebelas siang ketika langit berhenti menangis, dan matahari mulai menggantung tinggi di udara. Sinarnya tidak sepanas biasa yang seperti mau membakar orang. Hari ini matahari nampak bersinar lembut dan hangat.  Chendana mulai sibuk, dibantu oleh bibi bisu tuli, dia menggeser semua pot bunga dan tanaman untuk berjemur di bawah sinar matahari.  Ketika Jerome menelepon, dia baru saja memakai masker untuk menahan bau tak sedap yang membuatnya mual, dan mengambil gunting tanaman.  Chendana memiringkan kepalanya, mengangkat bahu, dan meletakkan telepon diantara telinga dan bahunya, dengan sedikit terengah-engah dalam suaranya, "Halo?"  Di sisi lain telepon, suara Jerome yang sedikit serak dan menawan segera terdengar, "Apa yang kamu lakukan sampai terengah-engah? Melakukan sesuatu yang buruk dengan suamimu?"  Setelah mendengar ini, dua semburat merah muncul di pipinya yang putih, "Apa yang buruk dari mindahin pot? Lagian, dia nggak ada di rumah, sudah berangkat ke kantor pagi-pagi tadi."  “Ke kantor mana dia pergi?” Jerome bertanya, sekarang dia berada di lobby perusahaan Massry, sekretarisnya mengatakan bosnya tidak datang ke kantor hari ini.  Mungkinkah Chendana tidak tahu kalau suaminya hari ini tidak berangkat kerja?  Pada saat berpikir begitu, Jerome tidak bisa melihat ekspresi Chendana yang merasa malu.  Seorang istri tidak tahu dimana kantor suaminya, bukankah itu akan terdengar aneh? Apalagi kemarin dia bilang begini kepada Jerome, "Meskipun pernikahan ini tanpa cinta, tetapi ada kasih sayang di dalamnya."  Karena tidak mau Jerome mengetahui hubungannya yang buruk dengan Janu, jadi Chendana mencoba mengalihkan pembicaraan.  "Kak Jerome ada perlu sama kak Janu? Nanti aku kasih tau ke dia kalau pulang."  Jerome bukan orang yang tidak peka. Dia menyadari bahwa Chendana telah mengubah topik pembicaraan, jadi dia tidak bertanya lebih jauh.  "Aku nggak ada kerjaan hari ini. Bagaimana kalau kita keluar makan siang? Kamu belum makan 'kan?"  Chendana mengorek-ngorek tanah di depannya dengan gelisah. Dia tidak menyangka bahwa Jerome akan menanyakan hal ini secara tiba-tiba.  Kata-kata yang dikatakan oleh Janu malam itu masih terus bergema di telinga, dan mata ironisnya selalu ditampilkan dalam benaknya.  Jerome melanjutkan, "Badanmu terlalu kurus, asupan gizimu bahkan nggak cukup untuk satu orang. Apalagi untuk dua, gantilah baju, aku akan kasih kamu makanan yang enak."  Meskipun semua perhatian kecil ini membuatnya merasa tersentuh, dia mengabaikannya.  Dalam pandangan Chendana, dia dengan Jerome seharusnya tidak lagi memiliki banyak persimpangan.  Karena dia hanya memperlakukan Jerome sebagai orang yang baik, orang yang benar-benar baik, dan tidak memikirkannya dalam aspek lain.  "Kalau nggak macet, aku sampai ke tempatmu satu jam lagi."  Chendana menggelengkan kepalanya tanpa sadar, dan kemudian menyadari bahwa Jerome tidak bisa melihatnya menggelengkan kepalanya, jadi dia bergegas berkata,  "Nggak usah, nggak usah, kak! Aku lagi rapi-rapi taman, sudah telanjur nyiapin tanah. Jadi nggak bisa keluar hari ini."  “Kalau begitu aku akan beli makanan, kita bisa makan di sana sambil kamu rapi-rapi.” Jerome menawarkan.  "Jangan. Aku sudah masak, sayang kalau nggak ada yang makan." Chendana dengan sopan menolak.  Dari cara bicaranya kemarin, dan fakta dia menyuruhnya tinggal sendirian di sini. Chendana tahu, Janu tidak suka melihatnya bergaul dengan orang lain.  Kalau dia membiarkan Jerome datang dan Janu melihatnya, itu akan membuatnya berada dalam masalah.  "... oke, nggak apa-apa. Mungkin bisa lain kali." Jerome tidak bisa memaksa lagi. "Aku tutup ya?"  Begitu Jerome selesai bicara dan mau menutup telepon, Chendana tanpa sadar berteriak, "Tunggu!"  Jerome berhenti ketika dia menutup telepon, nadanya bingung, "Ada apa?" Chendana menelan ludahnya, tenang sejenak, dan kemudian berkata dengan sangat serius: "Kalau kakak ketemu kak Janu ... jangan bilang ke dia ... aku ... hamil."  Mendengar ini Jerome hanya mengangkat alisnya dengan ragu. Namun, akhirnya dia menjawab.  "Aku nggak akan ikut campur tentang ini."  Chendana hanya mengatakan terima kasih sebelum sambungannya terputus meninggalkan Chendana yang tenggelam dalam pikirannya.  Dalam beberapa hari terakhir, mual dipagi hari menjadi semakin sering. Mencium aroma yang sedikit tajam, terutama dari dari parfum yang biasa dipakai Janu, perutnya selalu merasa seperti diperas tanpa alasan.  Beberapa kali dia juga memergoki Janu yang memandanginyanya dengan sedikit aneh. Namun, pria itu tidak berkata apa-apa.  Chendana tidak tahu apakah Janu akan menginginkan anak ini, tetapi dia tidak ingin membiarkannya tahu. Setidaknya sampai waktunya tepat.  Malam sudah larut.  Hujan terus berjatuhan dalam keheningan dan menambah genangan pada tanah.  Selesai menyiapkan makan malam. Chendana membuat dirinya sibuk di kamar. Dia mengeluarkan satu set selimut yang lembut dari dalam lemari, dan mengganti seprei yang sudah digunakan selama lima hari.  Setelah membereskan tempat tidur, dia mengambil handuk dan menyiapkan piyama dan pakaian dalam milik Janu.  Namun, sampai tengah malam, belum ada tanda-tanda mobilnya datang. Sementara di luar, rintik hujan kembali datang.  Ini sudah hari ketiga dia tidak pulang. Chendana tidak pernah berani meneleponnya, menanyakan kapan dia akan pulang. Jadi, dia lakukan hanyalah menunggu untuk memberitahu tentang bayi.  Bayi mereka yang sudah empat minggu berada dalam rahimnya.  Matanya yang mengantuk , secara tidak sengaja, menyapu pintu dari waktu ke waktu. Tapi dia menunggu dan menunggu, pintu tidak pernah terbuka, tak ada suara mobil di luar, sampai lampu di kamar tidur di lantai dua tiba-tiba redup, dan semuanya tenang.  *** Janu langsung pergi ke kantor begitu meninggalkan bandara.  Lima hari meninggalkan ibukota, dia menghabiskan tiga hari di Batu licin untuk menghadiri pesta ulang tahun Haji Ihsam, pemilik Johlin Group, tambang batubara terbesar di sana yang bekerja sama dengan Massry group, sekaligus meninjau lokasi tambang yang perizinanannya baru saja diberikan oleh pemerintah daerah.  Dari Batu licin, dia langsung terbang ke Phuket untuk urusan lain, dan dia menemukan kejutan di sana. Itu membuatnya berada dalam suasana hati yang baik.  "Ada yang mencariku selama aku pergi?"  Setelah bekerja untuk Janu, asistennya dapat dengan mudah mengetahui yang dimaksud oleh pria itu bukanlah rekan bisnis.  Sambil mengikuti Janu yang berjalan keluar dari ruang meeting, dia membuka tab dan membaca catatan yang ia tulis dengan rapi di sana.  "Pak Raulan datang dua kali, beliau minta renovasi gedung baru segera dipercepat."  "Hmm, dia sudah menelepon. Lalu?"  "Bu Wina mampir sebentar, ada vitamin dan suplemen kesehatan buat bapak di atas meja."  Janu melihat ponselnya, semua pesan dari ibunya tentang kegunaan dan manfaat suplemen yang khusus ia beli dari Korea ada di sana.  Alisnya yang hitam sedikit mengernyit, dan matanya yang gelap sedikit rumit. Entah apa yang memprovokasinya, ibunya yang biasanya tenang, tiba-tiba menginginkan seorang cucu.  Mungkin dia akan memberi satu atau dua bayi untuk ibunya, tapi nanti, bukan sekarang.  Setelah berpikir begitu, Janu melempar kotak suplemen ke tempat sampah begitu saja.  "Pak Janu, ada yang salah?"  Janu hanya melambaikan tangannya, "Lanjutkan pekerjaanmu!'  Namun, sebelum Zein sempat beranjak dia kembali mengajukan pertanyaan yang sama, "Selain mereka, siapa lagi yang datang atau menelepon mencariku?"  Zein berpikir keras untuk mencari siapa yang dimaksud oleh Janu.  Keluarga Massry bukan keluarga yang memiliki banyak anggota. Selain kedua orangtuanya, nyaris tidak ada yang datang ke sini. Ada beberapa sepupu Janu, tapi itu bisa dihitung dengan jari.  Atau ... mungkin yang dimaksud itu teman-temannya?  Setelah terdiam cukup lama, Zein mengangkat suara,  "Jerome Risjad. Dia datang pagi-pagi dua hari yang lalu, tapi langsung pergi karena bapak tidak ada. Selain itu tidak ada lagi."  Wajah Janu tenggelam.  Sudah lima hari dan delapan jam sejak terakhir kali dia meninggalkan rumah, tetapi dia tidak pernah menerima panggilan atau pesan teks.  Dia tidak tahu bagaimana kehidupan pernikahan orang lain, tetapi dia tahu, meskipun pernikahan dilakukan dengan terpaksa, tidak ada istri yang akan memperlakukan suaminya seperti ini.  Setelah menikah begitu lama, tidak peduli bagaimana dia di luar, Chendana tidak akan pernah mengeluh, tidak peduli seberapa sering dia tidak pulang, dia tidak akan pernah menelepon untuk bertanya dia ada di mana.  Karakternya berbeda jauh dengan Arintha. Kalau dengan Arintha, satu jam dia tidak memberi kabar, gadis itu akan menghujaninya dengan puluhan pesan dan telepon.  Seharusnya dia yang bersikap tidak peduli. Bukan wanita itu yang tidak mempedulikannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN