Ben Yang Menyebalkan

1241 Kata
"Ibu, bagaimana penampilanku?" Naomi berputar-putar memperlihatkan setiap sisi penampilannya untuk meminta pendapat dari Lily. Saat mematut diri di depan cermin ia sudah merasa sangat cantik dengan gaun panjang berwarna coklat muda yang menutupi tubuhnya saat ini. Potongan d**a yang agak rendah dilengkapinya dengan kalung berlian membuatnya terlihat lebih sempurna. "Anak ibu sudah sangat cantik," puji Lily tulus. Tentu saja bagi seluruh ibu putrinya pasti yang paling tercantik. Namun terlepas dari itu, Naomi benar-benar sangat cantik. Wajahnya perpaduan sempurna dari Dean dan Lily. Mata hijau zambrud persis seperti Lily, hidung kecil yang mancung, bibir merah muda tipis, pipi yang agak chubby, ia sangat cantik. "Ah harusnya ada ayah, aku ingin mendengar pendapat ayah juga." "Pasti ayah juga sependapat dengan ibu," balas Lily membuat Naomi tersenyum. Hari ini Dean sedang pergi ke acara amal salah satu panti asuhan dimana ia menjadi donaturnya. Tadinya Lily ingin ikut, namun ia masih terlalu lelah karena kepulangan mereka dari Paris. "Kemana kak Ben, kenapa lama sekali?" Naomi mulai mengomel karena kakaknya tidak kunjung keluar dari kamarnya. Naomi yang wanita saja sudah selesai. Entahlah kakaknya sedang berdandan atau apa. "Sabarlah Sayang." Tidak berapa lama terdengar suara dentingan lift membuat Lily dan Naomi menoleh, terlihat Ben keluar dari lift. "Wahhh... betapa beruntungnya aku memiliki kakak setampan ini." Naomi berdecak kagum, ia bahkan tidak berkedip beberapa saat menikmati ketampanan Ben. Tuxedo berwarna coklat tua itu sangat pas melekat pada Ben. Naomi tersenyum bangga atas pilihannya. Ia memang sengaja memilihkan pakaian Ben kali ini agar senada dengannya. Tentu saja Ben tidak bisa membantah sama sekali. "Anak-anak ibu sudah tumbuh dewasa, rasanya baru kemarin kalian berlari-larian di taman." Lily terlihat terharu. Rasanya waktu berlalu sangat cepat hingga tanpa sadar anak-anaknya perlahan tumbuh dewasa. "Jangan mencoba membuat Ben terharu sekarang Bu. Ben tidak ada waktu untuk menangis sekarang karena sudah terlambat." Ben terkekeh setelah berhasil menggoda ibunya itu sementara Lily tampak mencibir. "Kitakan terlambat karena kakak yang terlalu lama," ucap Naomi. "Baiklah, kami pergi dulu Bu." Ben mencium pipi ibunya sejenak sebelum pergi diikuti Naomi. Setelah itu keduanya berlalu keluar mansion. Lily tersenyum melihat kepergian anak-anaknya. Rasanya mansion ini tidak pernah sepi selama ada mereka berdua. Meskipun anak-anaknya itu sudah memiliki kesibukan masing-masing, namun setidaknya mereka masih sering bertemu. Sebenarnya Ben sudah memiliki mansion pribadi yang ia beli sendiri. Namun Lily belum mengizinkannya untuk tinggal sendiri karena pasti akan menjadi sangat sepi. Lily berkata ia akan membiarkan Ben tinggal di mansionnya saat Ben sudah menikah nanti. Oleh karena itu Ben tidak memiliki pilihan lain selain menurut saja. Malam ini Ben akan pergi ke acara pertunangan Jackson. Ia sengaja mengajak Naomi untuk menenaninya. Naomi menerimanya dengan senang hati karena gadis itu sangat suka pesta. Ia penasaran akan bertemu siapa saja. Mengingat Jackson adalah orang kepercayaan Ben, jadi pasti kenalananya juga kebayangakan rekan-rekan kerja Ben. Naomi sengaja berdandan sangat cantik malam ini, siapa tahu ada yang bisa dilirik. Naomi sangat menyukai pria-pria yang lebih tua darinya. *** Acara pertunangan Jackson dan tunangannya, Emmely diadakan di salah satu gedung yang cukup ternama di New York. Tidak heran mengapa Jackson bisa menyiapkan semua ini. Sejak bekerja dengan Ben selama hampir dua tahun belakangan ini kehidupan ekonomi Jackson jauh berubah. Ben benar-benar menggajinya sangat layak dan sesuai dengan pekerjaannya. Oleh karena itu kini Jackson sudah bisa menenuhi semua kebutuhan keluarganya. Ben tidak begitu mengenal tunangan Jackson itu. Bahkan pada acara ini kalau tidak salah adalah pertemuan kedua mereka setelah sebelumnya sempat bertemu dan dikenalkan oleh Jackson. Yang Ben tahu tunangan Jackson itu bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di New York. Ben tidak tahu bagaimana awal pertemuan mereka dan sejak kapan mereka memulai hubungan. Sejujurnya Ben heran, bagaimana orang sesibuk Jackson masih memiliki waktu berkencan dan memiliki hubungan yang awet bahkan sampai di jenjang yang seserius ini, sangat mengagumkan. "Bagaimana Kak, apa tidak merasa iri?" Tanya Naomi menyenggol bahu Ben dengan bahunya. "Tidak," jawab Ben santai sembari fokus menikmati lantuan lagu yang dibawakan pengisi acara. Sesekali ia melirik ke arah Jackson yang tampak sibuk menyapa tamu usai acara pertukaran cincin tadi dilakukan. Naomi mencibir mendengar jawaban singkat dari Ben. "Harusnya melihat seperti itu membuat Kakak lebih bersemangat lagi mencari kekasih." "Aku masih 28 tahun, kenapa harus terburu-buru. Bahkan banyak orang di Amerika yang sudah berusia 50 tahun namun belum juga menikah," kata Ben yang membuat Naomi bungkam tidak tahu harus menjawab apa. Ia kembali melanjutkan memakanan hidangan yang sudah disiapkan. "Kakak ke toilet sebentar." Naomi mengangguk membiarkan Ben berlalu pergi. Sembari menunggu Ben kembali, Naomi menikmati musik, hidangan dan sesekali melihat sekitar melihat-lihat tamu yang datang. Beberapa kali mata elangnya menangkap pria-pria tampan. Sayangnya tidak ada satupun yang menghampirinya untuk mengajaknya berkenalan. "Bolehkah aku duduk disini?" Naomi mendongakkan kepalanya saat mendengar seseorang berbicara padanya. Terlihat seorang pria berdiri di sampingnya. Bisa Naomi tebak ia memiliki darah Russia sebab wajahnya seperti orang Russia kebanyakan. Aksen Amerikanya juga agak berbeda saat berbicara. "Tentu saja, duduklah," balas Naomi diiringi senyumnya. Pria itu duduk di samping Naomi lebih tepatnya di kursi dimana Ben duduk tadi. "Kau sendiri?" "Tidak, aku bersama kakakku," jawab Naomi. Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya paham sembari tersenyum. Ah senyumnya sangat cool dimata Naomi. Benar-benar tipe ideal Naomi dari segi fisik. "Kau kenalan Emmily?" "Tidak, aku kenal dengan kak Jackson." "Oh, ku kira kau teman Emmily. Ah maaf aku agak gugup, kau terlihat luar biasa cantiknya dilihat dari dekat seperti ini," kata pria itu. Naomi tersenyum malu dengan hati berbunga-bunga. Ia sangat suka pujian. Sepertinya pilihannya sangat tepat untuk datang ke acara ini. "Tampaknya kau masih muda, apa kau masih kuliah?" "Aku, aku masih tahun pertama." Lagi-lagi pria itu menganggukkan kepalanya paham. "Bolehkan aku meminta nomormu? Sepertinya kita harus berkenalan lebih lanjut lagi." Pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya dan memberikannya pada Naomi. "Sayang, apa kita bisa pulang sekarang?" Baru Naomi akan mengambil ponselnya, tiba-tiba seseorang datang dan merangkul bahu Naomi. "Oh hai, ada orang lain ternyata," ucapnya terdengar sangat pura-pura saat melihat pria yang duduk di tempatnya tadi. "Hai, apakah aku menduduki tempatmu?" "Tentu saja itu tempatku," balas orang itu yang tidak lain adalah Ben. Naomi membulatkan matanya pada Ben memberi kode sementara Ben terlihat acuh saja. "Apa kau kakaknya yang datang bersamanya?" "Kakak? Yang benar saja. Aku pacarnya. Apa kau salah memberi tahu siapa aku pada pria ini Sayang?" Ben tersenyum pada Naomi sementara mata Naomi semakin membulat saja. Apa yang sedang dilakukan kakaknya ini. "Ah begitu, sepertinya ada kesalah pahaman. Baiklah aku pamit dulu," pria itu sempat tersenyum kaku pada Naomi sebelum berlalu pergi. Mulut Naomi sudah terbuka siap untuk menjelaskan semuanya namun ia tidak bisa berbicara sebab pria itu langsung pergi dengan cepat. Ben kembali duduk di tempatnya dan meminum minumannya yang masih ada di meja dengan santainya. Ia terlihat tidak peduli meskipun kini sedang ditatap dengan begitu garang dengan adiknya itu. Tatapannya sudah sangat biasa bagi Ben. "Kak Ben! Apa yang baru saja kau lakukan?" "Memangnya aku melakukan apa?" "Kenapa kau malah berbicara seperti itu padanya. Dia pasti salah paham." "Memangnya kau berharap apa? Berkenalan dengan pria asing di tempat seperti ini? Bagaimana jika dia bukan orang baik?" "Menyebalkan sekali!" "Terima kasih." "Sepertinya aku harus benar-benar mencarikan Kakak pacar agar berhenti menggangguku." "Tidak perlu repot-repot Sayang." Naomi berdecak kesal. Ben selalu saja seperti itu. Ini bukannya yang pertama atau kedua kali Ben melakukan hal seperti ini. Ia selalu melakukannya setiap kali punya kesempatan. Ia seolah tidak membiarkan Naomi berkenalan dengan pria manapun. Baginya tidak ada pria yang baik untuk Naomi di dunia ini. Bahkan Dean, ayahnya sekalipun tidak seperti itu. Benar-benar berlebihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN