Melihat punggung itu semakin menjauh dan mempercepat langkahnya, Kartini kembali ke pria berbadan tegap yang berdiri tidak jauh dengan kursi rodanya itu, dan memukulinya lagi sampai tangannya merasa lelah, “kalian aku pecat! Kalian aku pecat!” “Maafkan kami, Nyonya.” “Aku marah! Kalian aku pecat!” Kartini segera menyusul Julia ke kamarnya dan mengetuknya perlahan. Dulu saat merencanakan semua ini Kartini memang sadar semua bangkai yang disimpannya rapi lama kelamaan akan tercium juga, tapi dia tidak pernah mengira akan terjadi secepat ini. 'Ceklek.' Cukup senang saat pintu kamar itu tidak terkunci, dan segera mendekati Julia yang sedang merenung di balkon kamarnya saat ini. “Sayang, maafkan bunda. Bunda memang egois karena terlalu ingin membantumu, tapi bunda gak ada niatan buruk saat

