Bianca membanting pintu kamarnya dengan sangat keras. Menarik napasnya dalam dan berkali-kali untuk meredakan emosinya sendiri. Setelah dirasa cukup tenang, Bianca segera mengambil koper besar yang tersimpan rapi di ruang gantinya dan memasukkan beberapa pakaian yang dirasa cukup dibutuhkan. Memilih mencari udara segar dari pada terus tercekik di dalam rumahnya sendiri. “Ke mana, Sayang?” tanya Kartini yang melihat Bianca sudah siap dengan koper besarnya. “Aku mau ke apartemenku, Bunda. Di sini sangat sesak dan aku tidak bisa bernapas.” “Ada apa, Sayang? Ada yang bunda belum tau?” Bianca menarik napasnya dalam, menghembuskannya perlahan, dan mulai menceritakan semua yang diketahuinya tentang Julia. Sungguh Bianca tidak akan rela jika Julia terlalu disakiti. Bahkan Bianca lebih menyuka

