Rei baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya beberapa jam lalu dan berencana mengambil hari libur esok hari ketika Ken mencarinya hingga datang ke hunian apartemennya. Ken menemui Rei dalam keadaan berang penuh amarah. Cacian, makian ditujukan pada satu nama. Rei sungguh dibuat bingung dengan perilaku saudaranya kembarnya itu. “Di mana Makoto?” Tanya Ken dengan deru napas menggebu terbakar emosi. Ia menggeledah unit penthouse Rei ke segala sudut. Rei tetap berdiri di tempat memperhatikan gelagat Ken lalu-lalang di hadapannya. “Makoto?” Satu kata yang terucap dari lisan Rei membuat Ken semakin marah. Pertanyaan bodoh terdengar santai itu menguji kesabaran Ken. “Ya dia! Si b******k kurang ajar yang berani menusukku dari belakang!!” “Tentang apa semua ini? Jelaskan agar aku mengerti!”

