Pria Berarogansi

647 Kata
_________________ Malam itu, Beby mendatangi rumah Riana, ingin menjenguk setelah mendengar kabar Riana sakit. Di rumah mewah itu, Beby mengetuk pintu kamar sesaat setelah seorang pembantu menunjukkan kamar Riana. Bukan Riana yang membuka pintu kamar, melainkan pria bertubuh atletis berparas tampan, dengan mata gelap, hidung mancung, bibir merah. Raut wajah eksotik, khas blasteran Turki – Indonesia. Aneh, kenapa Riana membawa laki-laki ke dalam kamarnya? Begitu pikir beby. “Apa di dalam ada Riana?” tanya Beby. Pria itu tidak menjawab, justru mengamati penampilan Beby dari ujung kaki ke ujung rambut, masih mengenakan seragam sekolah. Dan pusat perhatian si pria tertuju ke mata Beby yang bulat seperti boneka berby. Menyadari lawan bicaranya bingung atas pertanyaan yang diajukan, Beby mengubah pertanyaannya mengingat nama panggilan Riana di rumah adalah Riri. “Apa Riri ada di dalam?” “Masuklah!” Pria itu menarik lengan Beby. Gadis itu terseret masuk. Ia bingung melihat situasi kamar yang jauh dari kesan kamar wanita. Kenapa kamar seorang gadis terlihat lebih mirip kamar laki-laki? Mulai dari lemari dengan corak gelap, alas kasur yang polos, serta rak sepatu yang menunjukkan sederet rapi susunan sepatu laki-laki. Lemari kaca berukuran besar memperlihatkan susunan sederet jas mahal di dalamnya. Semuanya milik laki-laki. Beby baru tersadar kalau dia pasti salah kamar. Lalu kenapa pria itu malah menyeretnya masuk? Pertanyaan itu terjawab saat ia balik badan, dan terkejut melihat si pria yang tengah berdiri nyender di pintu dnegan kedua tangan terlipat di dadaa. Beby tidak sedang diperkenankan untuk bertemu dengan Riana, namun pria yang tak lain bernama Roland Gajendra itu justru memanfaatkan situasi. “Riri mana? Aku ke sini untuk menemui Riri,” jelas Beby lalu menelan saliva dengan gugup. “Tidak ada Riri di sini.” Roland melangkah maju mendekati Beby. Beby mundur ketakutan menatap mata gelap pria itu. Roland bergerak cepat meraih tangan kecil Beby. Tidak butuh waktu lama untuk membuat tubuh mungil itu terlempar ke kasur. Beby baru saja membuka mulut untuk berteriak minta tolong namun Roland sudah lebih dulu mengunci mulutnya dengan telapak tangan besarnya. “Mmmpth mmpth…” Beby benar-benar tidak kuasa melawan. “Berteriaklah, tidak akan ada yang mendengarmu. Tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Para pembantu sedang cuti. Rumah ini terlalu besar untuk menampung suaramu. Oh ya, ada satu pembantu tapi dia kupingnya agak budek jadi dia tidak akan mendengarmu.” Suara Roland parau. Beby menggunakan kesempatan luang untuk kabur dengan menendang Roland sangat kuat hingga tubuh Roland tersingkir dari atas Beby. Segera Beby bangkit bangun dari ranjang. Secepat kilat berlari menghindar. Tak berhasil, Beby malah kembali ditangkap oleh Roland. “Lepaskan aku!” pekik Beby panik. Ia mencium aroma alkohol dari mulut pria itu. Jantung Beby berdetak sangat kencang. Berbagai bayangan kejadian buruk menyerang kepalanya. Air matanya mulai deras mengalir merasakan sesuatu yang menakutkan akan mengancam. Beby menjerit. Beby tak berdaya. Ia hanya bisa menangis tanpa berdaya ingin mengumpati pria yang sedang dalam keadaan setengah mabuk dan frustasi karena kehilangan tender besar di perusahaannya. Roland melampiaskan kemarahannya dengan cara ini. Habislah Beby! Habislah riwayatnya! Setelah ini dia benar- benar menjadi target mangsa Roland. Tidaaaaak… Beby tidak mau kejadian itu menimpanya. Dia ingin memberikan mahkotanya pada suami sahnya kelak. Tuhan… Beri keajaiban. Setidaknya biarkan Beby melarikan diri. Atau biarkan pria asing itu mati mendadak, kejang-kejang atau tertimpa rudal nyasar. Beby tidak kuasa melawan tenaga pria yang kekuatannya tiga kali lipat dibanding dirinya. Rasa sakit fisik Beby tidak seberapa bila dibandingkan dengan sakit hatinya. Rumah mewah itu benar-benar sepi. Benar kata Roland, tidak ada siapa pun di rumah itu kecuali Beby dan Roland. Dan pembantu tadi, entah kemana dia. Kejadian itu memberikan trauma dalam diri Beby. Membuat Beby membenci Roland sepenuhnya. Bahkan semakin benci saat tiga buah test pack menunjukkan dua garis merah. Fix, Beby hamil. Beby frustasi sampai hampir bunuh diri. Bahkan hampir menggugurkan bayinya dengan berbagai cara. Namun tidak berhasil. Di tengah pahitnya situasi, Beby berhasil melewati ujian. Berhasil menjalani hari meski suram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN