Bab 10. Pulang Ke rumah Andrea

1113 Kata
Andrea sudah tidak sabar untuk pulang dan memberikan kalung itu pada keluarganya, sejak dulu dia mencari kalung peninggalan neneknya dan kini akhirnya dia kembali mendapatkannya. “Al aku ingin pulang ke rumah, apakah kamu ingin ikut?” tanya Andrea. “Kamu serius? Kamu sudah bilang kalau menikah denganku?” tanya Alvaro. Andrea menggelengkan kepalanya, dia memang tidak mengatakan apapun pada orang tuanya, tetapi dia tidak peduli karena dia ingin segera memperlihatkan apa yang dia dapatkan dari lelang. Neneknya pasti bahagia di atas sana karena setelah sekian lama kini Andrea mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. “Lalu apa yang akan kamu katakan tentangku?” tanya Alvaro. “Aku akan mengatakan jika kita sudah menikah,” ujar Andrea dengan mudah. Alvaro tahu bahwa Andrea adalah anak Madison, mereka berdua saling bekerja sama dan Alvaro yakin bahwa cepat atau lambat Andrea pasti sadar bahwa dirinya adalah CEO dari perusahaan Bentley yang tidak pernah dia duga. “Ayo aku antar, sekaligus menyapa.” Alvaro sebenarnya takut, tetapi dia penasaran dengan reaksi Madison ketika tahu bahwa dia adalah suami dari Andrea. “Kamu berani bertemu dengan orang tuaku?” tanya Andrea. “Berani, memang kenapa tidak berani?” tanya Alvaro. Andrea mengangguk, ini pertama kalinya dia memperkenalkan laki-laki kepada orang tuanya secara langsung. Dulu ketika masih bersama Denis dia tidak pernah mengatakan apapun, karena sejak awal orang tuanya tidak pernah setuju. “Buktikan saja, aku akan melihatnya.” Andrea tersenyum dia penasaran bagaimana reaksi Alvaro ketika melihat kedua orang tua Andrea. *** Pukul sepuluh malam kini Andrea dan Alvaro sudah sampai di kediaman keluarga Madison, rumah keluarga Andrea memang luas dan terlihat sangat asri. Walau bukan bergaya eropa atau amerika, tetapi rumah keluarga Madison bernuansa penuh dengan tradisi di dalamnya, Alvaro baru tahu jika Madison sangat menghargai tradisi leluhurnya. “Ayah dan Ibu apakah ada?” tanya Andrea. “Ada Nona, sudah lama anda tidak pulang.” Pelayan setia keluarga Madison menyambut nona muda dengan penuh syukur. Sejak hubungannya bersama Denis di tentang oleh kedua orang tuanya dia tidak pernah pulang, hanya bertanya kabar lewat ponsel sesekali. Andrea tahu keluarganya tidak salah, feeling mereka sungguh benar karena kenyataanya Denis memang lelaki b******k yang hanya memanfaatkannya. “Ayo,” ucap Alvaro yang kini berjalan pelan. “Maaf aku menyembunyikan banyak hal padamu, sebenarnya aku bukan wanita miskin seperti yang sampah itu katakan padamu. Aku sekarang malah bersyukur karena dengan hal itu bisa melihat sikap lelaki b******k itu.” Andrea berucap lembut mengatakan hal jujur pada Alvaro. Lelaki itu mengangguk, dia duduk di ruang tamu dan Andrea kini mencari orang tuanya. Jantung Alvaro berdebar, walau dia terlihat garang ketika dikantor, tetapi dia juga memiliki rasa takut apalagi dia merasa bersalah karena pernikahan ini tidak melibatkan orang tua Andrea. “Siapa yang kamu bawa An,?” tanya Kristal. “Dia suami An an,” ujar Andrea tersenyum manis. “Sejak kapan kalian menikah? Kenapa nggak minta persetujuan ayah?” tanya Madison yang baru keluar. Alvaro langsung berdiri dan menyalami Madison, dia meminta maaf karena saat itu mereka sangat buru-buru. Alvaro mengatakan alasannya, semuanya memang terjadi sangat mendadak dan kini Alvaro bahkan baru sempat menyapa. “Ayah jangan marah, semuanya salah Andrea.” Andrea cemberut, dia kesal karena ayahnya menggoda Alvaro. Sejak awal memang Andrea yang salah karena memaksa Alvaro lebih dulu untuk bercinta dengannya, jadi semua kesalahan ada padanya. Andrea tidak ingin ayahnya mempersulit Alvaro terlebih lelaki itu sudah sering membantunya. “Aku akan bicara pada suamimu,” ucap Madison. Kedua lelaki itu kini mengobrol di bangku samping rumah, Alvaro terlihat camggung dia merasa bingung akan mengatakan apa karena sejujurnya semua yang terjadi terasa sangat mendadak. Alvaro bahkan tidak menyiapkan apapun untuk mertuanya. “Aku tau kau CEO Bentley grup, apakah Andrea tahu?” tanya Madison. “Aku sudah mengatakannya, tapi Andrea tidak percaya. Dia mengatakan bahwa aku sedang melucu,” ujar Alvaro. Madison tertawa keras, dia tidak menyangka jika anaknya terlalu konyol. Madison sudah tahu sejak awal, Kristal memintanya mencari tahu hubungan Andrea dan Alvaro karena itulah kini dia merasa lebih tenang membiarkan anaknya diluar tanpa embel-embel keluarga Madison. “Denis, sejak awal dia hanya memanfaatkan Andrea. Aku harap kamu menjaga Andrea dengan baik, ini kedua kalinya dia memutuskan sesuatu sendiri, tapi kami sebagai orang tuanya merasa lebih lega karena setidaknya kamu tidak seperti mantannya,” ujar Madison. Alvaro mengangguk, hatinya lebih tenang karena kini dia tidak perlu menutupi apapun. Alvaro tahu bahwa Madison bukan orang sembarangan, dia tidak mungkin membiarkan anaknya sendirian di luar tanpa pengawasannya. “Ayah jangan lama-lama bawa suamiku, ada yang ingin Andrea bicarakan.” Andrea berkacak pinggang memarahi ayahnya. Madison tidak marah, dia sangat merindukan anaknya yang manja, sudah lama tidak ada keramaian di rumahnya dan kini kedatangan Andrea kembali menghidupkan suasana rumah yang sudah lama terasa mati. “Apa yang ingin kamu katakan An an sayang?” tanya Madison yang kini berdiri dan memeluk anaknya. Alvaro merasa iri dengan kedetakan mereka, walau jarang bertemu tapi keluarga Andrea sungguh sangat menyayangi anaknya. Alvaro merasa sedih, andaikan ibunya masih ada dia pasti tidak akan merana seperti ini, hidupnya dijalankan oleh neneknya dan ketika dia memberontak neneknya berusaha dengan kerasa membawanya untuk kembali pada alur yang dia buat. “An an udah dapat kalung nenek,” ujar Andrea mengeluarkan perhiasan ini. “Astaga, akhirnya ketemu juga. Bahkan setelah bertahun-tahun ayahmu mencari tidak ketemu sedikitpun.” Kristal menatap kalung dalam kotak itu dengan berkaca-kaca. Alvaro kinit ahu alasan Andrea memperjuangkan kalung itu, kalung peninggalan neneknya yang sangat berharga karena itulah Andrea rela mengeluarkan banyak uang demi kalung itu bisa kembali pada keluarganya. “Terima kasih sayang, akhirnya perjuanganmu tidak sia-sia. Ayah sangat berterima kasih karena kamu sudah mengabulkan keinginan nenek sebelum meninggal,” ujar Madison. Andrea mengangguk, dia hanya melakukan tugasnya karena dulu dia menghilangkan barang berharga yang neneknya miliki. Semuanya memang berlalu, tetapi rasa bersalah itu selalu ada karena itulah Andrea selalu merasa berhutang sampai dia menemukan kembali barang yang dia hilangkan. “Kalian menginap saja di sini, ini udah malam.” Kristal akhirnya mengatakan itu setelah mereka berbincang bincang lumayan lama. Andrea mengangguk dia lalu mengajak Alvaro untuk menuju kamarnya, Andrea sudah menyerahkan kalung itu dan semuanya sudah disimpan dalam ruangan rahasia keluarga Madison yang kini tetap dilestarikan oleh ayah Andrea. “Kamu belum makan An,” ucap Alvaro ketika mereka ada di dalam kamar. Andrea langsung memeluk Alvaro, malam ini dia merasa sangat bahagia dia berterima kasih pada Alvaro tanpa lelaki itu dia pasti lupa dengan lelang yang sudah dia nantikan sejak awal. Dia bahkan baru tahu siang ini jika kalung yang dia incar akan menjadi barang lelang yang dilangsungkan malam ini. “Aku akan memakanmu.” Andrea mendorong Alvaro hingga jatuh diatas ranjangnya, wanita itu bahkan tanpa malu langsung mencium bibir Alvaro dengan liar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN