Bagian 30 || Came From Past||--
Mr.Tanaka mengusap dagu nya yang mulai ditumbuhi dengan rambut-rambut halus yang mulai memutih. Ia meneguk kopi yang berada di atas meja nya, menatap selembar surat yang lagi-lagi diberikan oleh sosok di depan nya. Pria tua itu menatap ketiga murid yang menurut nya adalah murid pentolan dari sekolah ini, dengan tatapan bertanya. "Ada apa lagi ini?" seru nya setelah membaca surat itu lagi.
"Kami akan ijin seperti keterangan yang sudah ada di surat itu pak!" jawab Logan santai
"Tidak bisa, kalian sudah izin selama 2 hari dan masih ingin meminta ijin lagi? Sekolah kita terpilih untuk olimpiade ajang Nasional, kalian sebagai kandidat yang saya rekomendasikan. Dan, olimpiade nya nanti!"
Alice, Logan dan Xander saling menatap, mengerutkan kening mereka masing-masing "Aku rasa kami bisa menolak nya Sir, ini memang keadaan yang sedang genting. Kami harus pergi!" seru Alice
"Mengapa kalian bertiga harus pergi bersama-sama? Tidakkah urusan kalian berbeda-beda? Aku rasa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dari saya!"
"Kami adalah keluarga pak, jadi wajar jika kami pergi bersama!" seru Logan
Alice dan Logan menatap Xander yang sejak tadi tidak ikut dalam pembelaan mereka. Lelaki itu malah sibuk membaca buku yang menarik perhatian nya sejak tadi. Tanaka ikut menatap satu-satu nya pemuda yang tidak berbicara sejak tadi. Xander yang merasa sedang diperhatikan menatap mereka, "Ada apa?Mengapa kalian bertiga menatapku seperti itu? Aku melakukan sebuah kesalahan?"
"Holll, sudah lah. Jangan pedulikan dia, intinya kami bertiga harus pergi sir!" guman Alice membuat Xander ikut menatap lelaki di depan mereka.
"Tidak, bapak tidak mengijinkan kalian pergi untuk hari ini. Jika kalian ijin besok, bapak akan memberi nya. Namun tidak untuk sekarang, kalian tahu bahwa sekolah kita ini sedang menjadi trending topik ter-hot news di antara sekolah-sekolah lain nya karena rumor itu. Bapak khawatir tidak akan ada murid untuk tahan ajaran baru nanti. Setidaknya, kalian harus membantu bapak untuk memenangkan acara lomba olimpiade ini nak!" pinta Tanak
"Tapi pak, kami sama-sekali tidak melakukan persiapan. Bagaimana mungkin kami bisa mengambil alih lomba itu? Lagi pula, Karin dan Gordo mampu untuk ini!" tolak Logan.
"Logan benar pak, aku tidak bisa mengambil bagian ini. Kami diutus tanpa persiapan sama saja dengan sebuah lelucon!" sambung Alice
"Tidak, kalian harus ikut. Karena bapak percaya pada kalian bertiga!"
"Baik, kami ikut tetapi untuk besok kami izin!"
Bunyi suara kursi yang bergerak membuat semua tatapan tertuju pada Xander yang sudah berdiri. Logan dan Alice menaikkan alis nya, menatap Xander yang baru saja berkata bahwa mereka setuju. "Baik, bapak bisa memberi kalian bertiga ijin untuk besok!" seru Tanaka yang tersenyum
Alice, Logan dan Xander berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah, Xander masih tetap membaca buku nya meski sedang melewati koridor yang sedang dilalui banyak orang. Semua tatapan seperti nya sedikit mencuri-curi pandang pada mereka saat melewati koridor kelas 1. Tatapan kaum hawa yang menatap Xander dengan tatapan memuja dan itu membuat Alice muak. Orang tampan memang selalu bisa bertindak bebas. Bahkan para adik kelas banyak yang terang-terangan menggoda Xander. Namun tidak satu pun yang ditanggapi oleh lelaki itu.
Logan dan Alice berjalan di belakang Xander dengan wajah yang masih menuntun penjelasan "Aku benar-benar tidak habis pikir usaha kita harus berakhir dengan seperti ini!" keluh Logan membuat Alice menatap lelaki itu. Jika diperhatikan, Logan juga memiliki paras yang lumayan. Sejauh pengalaman mereka ketika bersama, banyak juga kaum hawa yang suka dengan Logan. Namun tidak berbeda jauh dengan lelaki di depan nya, Logan juga sering menolak cewek yang menyatakan perasaannya pada nya, "Ada apa? Kau menatap ku seperti kau melihat sesuatu yang lain saja! Ada apa? Apa kau terpesona dengan ku hmm"
Alice tiba-tiba menjitak kening Logan membuat lelaki itu mengeluh kesakitan "Yak, Alice. Kenapa kau menjitak ku tiba-tiba hah?" kesal Logan
"Kau terlalu pede mengatakan bahwa aku terpesona dengan wajah buruk rupa mu itu. Aku hanya berpikir, bahwa ternyata selama ini banyak gadis yang suka dengan mu. Lalu, mengapa kau selalu menolak mereka?" ujar Alice membuat Xander yang tadi sibuk membaca bukunya, sedikit melirik Logan dan Alice yang berjalan di belakang nya. Tatapan Xander sempat bertemu dengan tatapan Logan, ia segera berbalik dan menutup bukunya. Memilih untuk berjalan bersama dengan kedua manusia di belakang nya.
"Kau mau tau?" pancing Logan
"Yak, apa kau sedang mencintai seseorang hmm? Raut wajah mu dan penolakan mu pada semua gadis membuat aku penasaran!"
Logan menarik nafas nya dalam, ia melirik Xander yang berjalan di sebelah Alice juga. "Kau benar, aku memang sedang menunggu seorang gadis yang begitu aku sukai sejak dulu. Kami tumbuh bersama, namun dia tidak sadar bahwa aku menyukai nya. Terlebih, gadis itu memiliki ikatan dengan seorang lelaki yang juga dekat dengan ku. Sudah lah, jangan bahas mengenai hal itu. Itu membuat jantungku kadang berdetak dua kali lebih cepat!"
"Yak, siapa gadis itu? Aku jarang bertemu kau menemani seorang gadis, apa dia sangat istimewa?"
Logan berhenti berjalan, ia menatap Alice dalam "Ya, dia sangat istimewa sekali. Membuat ku sering ingin bersikap egois saja!"
Logan memilih untuk berjalan mendahului Alice dan Xander yang terdiam di tempat nya. Alice menatap Xander, "Apa kau tau siapa gadis itu Xander? Aku sedikit kepo!"
Xander tersenyum menatap Alice, tangan nya naik dan mengacak rambut Alice yang seketika membeku saat mendapati perlakuan kecil dari Xander "Jangan kepo dan tidak usah bertanya siapa gadis itu. Karna, tanpa kau tanya dan kau caritahu. Kau pasti tau siapa gadis yang dimaksud dengan Logan. Sudah lah, kita harus segera masuk, bu Hana sudah menunggu kita untuk persiapan nanti!"
Alice melongo dan bahkan tidak sadar bahwa Xander menggenggam tangan nya berjalan dari koridor. Tindakan Xander benar-benar membuat semua murid perempuan melongo. Di lain kesempatan, Logan yang menatap itu hanya menyentuh d**a nya saja yang terasa sakit. "Aku harap aku membuat keputusan yang tepat. Meskipun ini terlihat menyakitkan untuk ku!" guman Logan lalu lanjut berjalan saat Xander dan Alice sudah menyusul nya.
*****
Bu Hana menatap 3 murid yang ada di depan meja nya, kelas mereka tidak ada murid sama-sekali. Hanya mereka bertiga dan belum melakukan apa-apa sejak mereka datang. Wanita paruh baya itu terlihat melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya. Membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot dan tidak lama kemudian, dua sosok murid lain nya memasuki ruangan itu.
Gordo dan Karin masuk, mereka duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Bu Hana. "Baik, karena kalian sudah lengkap. Maka saya akan membagi tugas kalian, ini adalah olimpiade beregu. Dimana kalian semua ada satu team untuk sekolah ini!"
"Team?" ulang Logan membuat semua perhatian tertuju pada nya
"Ya, ada masalah dengan itu Logan? Ibu rasa kau bisa mengerjakan sesuai dengan kemampuan mu!" ujar Bu Hana
"Ahhh, tidak ada masalah bu. Maaf sudah memotong pembicaraan ibu"
"Baik, untuk bidang Fisika akan dikerjakan oleh Alice dan Xander. Matematika akan dikerjakan oleh Gordo, Kimia akan diambil alih oleh Karin dan Biologi akan diambil oleh Logan. Ada masalah dengan pembagian kali ini?"
Gordo angkat tangan, "Ya, ada apa nak?"
Lelaki itu sedikit menatap Alice dan Xander, "Aku ingin satu team dengan Alice bu. Xander handal di dalam segala hal, aku rasa di bagian apapun dia tempatkan. Dia bisa mengikuti nya!"
Hana menatap Alice, lalu menatap Xander yang seperti nya seolah tidak peduli. Namun ia bisa merasakan bahwa ada api-api kecemburuan di antara murid nya ini. Ia menarik nafas nya dalam, sedikit merasa flashback saat ia berada di posisi mereka. Hana lalu menatap tatapan Alice yang begitu tenang, sesaat Hana sadar apa yang membuat Gordo tertarik dengan gadis itu.
"Tidak bisa, itu sudah urutan dari kepala sekolah. Kalian juga yang meminta agar mereka ikut bukan? Jika kalian merubah susunan ini, maka mereka bertiga tidak akan ikut dengan kita! Bagaimana Gordo, selaku ketua osis dari SMA ini , tentu kau begitu paham dengan keadaan sekolah kita saat ini bukan?"
Gordo menatap Xander yang menyeringai padanya, ia yakin bahwa yang meminta ini semua adalah lelaki itu. Ia menghela nafas nya, "Baik bu, apa yang bisa diperbuat oleh ku?"
Mereka berlima sekarang sudah berada di aula yang sudah di huni dengan para murid-murid yang akan ikut dalam ajang ini. Ketika mereka masuk, banyak tatapan dan lirikan yang tertuju pada mereka. Entah apa yang menarik perhatian mereka, namun lirikan itu lebih tertuju pada Xander dan Logan yang berjalan bersama dengan Alice. Sedikit terpisah beberapa langkah dari Gordo dan Karin. Alice melirik Logan yang menggenggam tangan nya, "Kau bisa mengabaikan tatapan mereka Alice. Jangan peduli dengan mereka!"
Alice tersenyum sambil menatap Logan, namun ia tiba-tiba menatap Xander yang juga memegang tangan Nya yang satu. Lelaki itu hanya menggenggam Nya tanpa berkata Apapun.
Mereka berlima duduk di meja bundar yang sudah di sediakan untuk mereka. Dan bersamaan dengan pembukaan dari ajang olimpiade itu. Xander sesekali melirik Alice yang duduk di sebelah nya. Gadis itu seperti nya merasa tidak nyaman saat ia juga sadar bahwa banyak pasang mata yang sedang menatap mereka. "Alice, makan ini agar kau tenang!"
Alice yang sejak tadi sedikit gelisah menatap permen coklat yang sudah di buka oleh Xander yang duduk di sebelah nya. Alice mengangguk dan mengambil permen itu, dan rasa dari coklat itu benar-benar bisa membuat nya sedikit lebih rileks dari sebelum nya.
Acara mulai berlangsung, kertas soal sudah mulai dibagikan. Dan kini Alice tau mengapa hanya mata pelajaran Fisika yang dibuat dua. Karena semua jawabannya essay sementara yang lain nya adalah pilihan berganda. Ada sekitar 15 soal dan soal yang begitu panjang.
"kau bisa mengerjakan nomor yang bisa kau kerjakan Alice, jika kau sudah mengerjakan nya. Bilang pada ku agar aku mengambil nomor yang lain!"
Alice mengangguk, ia membaca soal pertama dan menaikkan sudut bibir nya "Aku bisa menjawab soal nomor satu!"
Xander mengangguk, ia segera mengambil soal nomor 2. Fokus dengan kerjaan nya dan berusaha untuk menyelesaikan nya dengan cepat. Tidak berbeda jauh dengan Xander dan Alice, Logan yang memang handal dalam Biologi merasa bahwa soal kali ini terasa lebih mudah. Gordo menjawab semua pertanyaan matematika yang cukup ia kuasai dan begitu juga dengan karin.
"Kau sudah selesai?" seru Xander saat Alice sudah menyalin hasil yang gadis itu kerjakan.
"Sudah, aku akan mengambil soal nomor 3 dan 4, karena itu satu-kesatuan soal!" ujar Alice membuat Xander tersenyum, ia sedikit mengacak rambut Alice. Ia sadar betul bahwa Alice bisa termasuk dalam rival nya di bidang fisika. Gadis itu memang lebih ahli jika dibandingkan dengan nya.
"Baik, waktu pengerjaan tersisa 15 menit lagi. Harap periksa nama kelompok anda dan asal sekolah anda. Semua peserta tidak bisa melakukan hal yang berada di luar peraturan olimpiade kali ini!" seru pembawa acara
Alice menatap pekerjaan Xander begitu pula sebalik nya "Done, tidak ada yang salah, jawaban kita sama!" guman Xander selesai membaca ulang jawaban mereka.
"Alice, aku kesulitan satu nomor lagi. Tolong bantu aku!" seru Gordo menatap Alice yang tidak jauh darinya
Alice menggeser duduknya, ia lalu menatap soal di tangan Gordo "Jalanmu sudah benar sampai di sini, hanya saja kau khilaf di bagian ini Gordo. Ini seharus nya 3,14 bukan 2,14!" seru Alice tersenyum
Gordo menahan nafas nya saat mendengar suara Alice yang benar-benar merdu, senyum tulus Alice terasa membuat dunia Gordo runtuh seketika. Ia memang tidak salah, dan baru sadar mengapa Xander dan Logan selalu ada untuk gadis istimewa seperti Alice.
"Ahhh, baik. Aku rasa kau sudah paham, Alice masih harus memeriksa punya ku!" geram Xander menarik kursi Alice agar mendekat lagi padanya
Gordo mendengkus, membuat perhatian Logan yang sejak tadi fokus pada soal nya ter-alih. "Aku sudah selesai!" jawab Logan
"Logan, kau bisa mengerjakan ini. Tinggal ini dan aku tidak tahu!" seru Karin menyerahkan satu soal lagi pada Logan yang tiba-tiba diam dan menatap Xander dan Alice yang juga sedang menatap nya.
"Mari aku lihat!" seru Xander segera mengambil alih soal itu "Aku tau!" seru Xander segera mengerjakan soal itu
"Waktu sudah selesai, semua peserta diharapkan meninggalkan ruangan ini dan menyisakan satu perwakilan kelompok saja!" seru pembawa acara
Kelompok Xander masih duduk, saling menatap "Siapa ketua regu kita?" seru Karin
"Gordo, dia bukan?" seru Logan
"Bukan,aku bukan pemimpin dari regu kita!"
"Jadi, siapa? Kau yang harus tinggal Gordo!" ujar Karin
"Tidak, aku tidak mau. Xander saja yang tinggal sementara di sini?" elak Gordo
Alice menatap mereka lalu menatap Xander yang juga menatap mereka. Ia menyenggol lengan Xander, "Apa kau bersedia Xander?" seru Alice
"Baik, tidak apa-apa!" seru Xander
Mereka akhirnya mengangguk setuju, namun sebelum Logan dan Alice pergi "Logan, tetap jaga Alice. Jangan biarkan Gordo mendekati nya!" seru nya pada logan
"Aman! Tidak perlu khawatir!"