“Sebentar lagi, Nak. Sebentar lagi semuanya akan baik-baik saja,” ucap Hamira sambil mengusap lembut pipi anaknya dan mencium dahi Calista. “Semua akan baik-baik saja. Papa dan Mama selalu ada bersamamu Calista, putri cantikku.”
“Kuatlah anakku, kuatlah. Hanya kamu, Calista satu-satunya anakku,” sahut Gigas dari belakang tubuh Calista yang sedang memeluk rindu kepada Hamira, sontak saja membalikkan tubuhnya dan melihat Sang Jenderal masih begitu gagah berdiri dengan pakaian tentara yang biasa dipakai oleh Gigas saat akan bertugas.
“Tapi, kalian ku mohon jangan tinggalkan aku lagi. Ajaklah aku bersama kalian, Papa, Mama! Ku mohon Pa, Ma, aku tidak mau di sini lagi,” teriak Calista dalam mimpinya.
Sebuah laras panjang ditempelkan di tubuh Calista sambil digoyang-goyangkan “Hei! Kau! Bangun! Kau, seperti orang gila, bisanya tidur sambil teriak-teriak!” panggil seorang pria yang suaranya sedikit tidak asing di telinga Lista, yang dengan perlahan membuka matanya serta beradaptasi dengan sinar matahari tropis yang masuk di sela-sela jendela kamarnya. Ia memicingkan matanya dan mengerjap berkali-kali, lalu betapa terkejutnya Calista saat melihat sebuah senjata laras panjang menempel di tubuhnya, sontak saja Calista melompat turun dari tempat tidurnya dengan ketakutan.
Tubuhnya kembali gemetar ketakutan bukan main, Ia bahkan sampai berlutut di samping tempat tidurnya, “Ampun, Tuan! Ampun! Jangan bunuh saya, Tuan. Saya mohon, Tuan, jangan bunuh saya,” teriak Calista ketakutan, dia bahkan sudah tidak merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya lagi, akibat pikiran yang teralihkan dengan hal lain yang ada di depan matanya ini.
“Papa, Mama, kalian dimana? Kenapa Lista bisa ada di sini? Ku mohon kembalilah Pa, Ma, mengapa kalian tidak juga datang menjemputku. Lista, Lista takut, Pa, Ma ...,” gumamnya dalam hati, sambil terisak.
Mendengar suara ribut-ribut dari luar, Jorge segera berlari dan membuka pintu kamar Calista dengan panik “Ada apa?!!” tanya Jorge, lalu ia mengangkat Lista yang masih tremor ketakutan.
Jorge juga menatap tajam kepada Jason, dan melotot tepat di senjata laras panjang yang dipegang oleh Jason. Memberikan kode, jika senjata itulah yang membuat Lista ketakutan bukan main.
Jason merasa jengah dengan Calista yang selalu saja menangis, ia bahkan membalas Jorge, melotot balik dengan mengatakan “WHAT?!” tanpa suara.
Namun, kedua alisnya beradu menjadi satu sangking jengkelnya, akhirnya Jason bersuara membela dirinya “Entahlah aku hanya membangunkannya, tapi dia seperti orang gila ketakutan begitu dan berteriak tiada henti saat tidur,” jawab Jason santai lalu keluar begitu saja, tanpa memperdulikan Calista yang melongo heran menatap dirinya dan Jorge.
Begitu juga dengan Calista yang begitu heran dengan apa yang baru saja didengarnya “Apakah perlu membangunkan seseorang menggunakan laras panjang seperti itu? Siapa saja akan seperti aku ketakutan dan terbirit-b***t bukan main,” gumam Calista dalam hati.
“Dia sungguh mengerikan, wajah tampannya itu sangat tidak cocok dimiliki oleh orang semengerikan dirinya.” Lista masih bergumam sendiri dalam hati.
Jorge mendekati Calista dan merangkulnya “Apakah kau baik-baik saja? Ayo, kita sarapan dulu yah, badanmu sudah mendingan?” tanya Jorge dengan lembut, Lista lalu memastikan jika Jorge bukanlah salah satu dari pria-pria psikopat yang selama ini menyewanya.
Di perlakukan dengan manis dari awal adalah kebiasan para psikopat menurut pengalamannya sendiri dan sudah sering seperti ini berulang-ulang kali. Dan seperti biasa Lista akan bertanya agar tau sejauh mana dirinya dari Negara asalnya. Selama ini rencana untuk melarikan diri selalu saja tidak berhasil dilakukannya berkat penjagaan ketat para Tuan-Tuan penyewanya. Namun, mengingat mimpinya barusan bahwa Hamira meyakinkan jika sebentar lagi semuanya baik-baik saja, Lista tetap memikirkan dan memiliki harapan untuk pulang kembali ke Athena.
“Kita, ada dimana, Tuan?” tanya Calista ragu-ragu dan takut jika akan dimarahi lagi seperti barusan Jason memarahi dirinya.
“Kita ada di Indonesia, kita sedang di Raja Ampat, surganya dunia,” terang Jorge sambil tertawa kecil.
“Oh Tuhan ... ini sangat jauh,” lirih Calista dalam hati.
Bagaimana ia bisa pulang ke Athena, dengan posisi dirinya yang entah beranta, kenapa harus di Indonesia? Calista sangat frustasi.
“Raja Ampat? Indonesia? Bukankah itu, di Asia tenggara Tuan?” tanya Calista sungguh tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Benar-benar ingin menangis saat itu juga dan berteriak jika dirinya ingin segera pulang ke Athena, bahwa sebenarnya dirinya bisa mengganti uang yang dipakai oleh Jorge untuk menebusnya dari Camila. Namun, semua itu hanya menjadi khayalannya belaka, karena pada kenyataannya Calista sangat trauma dan hidup penuh ketakutan.
“Iya, benar sekali kita di Asia Tenggara. Kita akan ngobrol ketika di meja makan yuk.” Jorge lalu menuntun Calista dengan sabar dan telaten. Saat melihat meja makan di hadapannya dan seorang pria tampan yang sudah duduk dengan wajah tanpa ekspresi, Calista kembali merasakan ketegangan yang tiada tara.
“Ayo duduklah,” ucap Jorge mempersilahkan Calista sambil mendorong kursi tempat duduknya saat Calista perlahan dan hati-hati duduk di kursi yang sebelumnya ditarik oleh Jorge.
“Makanlah dulu yang banyak yah, setelah makan ini ada obat yang harus kau minum.” Calista mengangguk tAnda mengerti juga tidak berani terlalu banyak berbicara atau bertanya.
Ia begitu takut dengan Jason yang duduk di sisi sebelah kanan meja, sedangkan dirinya dan Jorge duduk di kepala meja yang berlawanan arah hingga membuat mereka saling berhadapan.
“Tuan, apakah saya boleh bertanya?” Dari tadi ia menahan lidahnya untuk bisa tetap tenang dan tanpa berkata apa-apa, tapi hatinya begitu penasaran, hingga membuatnya memberanikan diri bertanya dan sesekali mencuri-curi pAndangannya kepada Jason.
“Iyah silahkan, apa yang ingin kamu tanyakan?” sahut Jorge selalu saja ramah.
“Tuan, apakah Anda telah membeli saya dari Camila?” tanya Calista dengan ragu sambil menundukkan wajahnya tak berani sedikit pun menatap Jorge apalagi Jason setelah berucap.
“Jika aku mengatakan, ‘iya’ aku membeli mu dari Camila, apakah kamu akan marah?” tanya Jorge khawatir jika saja Lista tersinggung karena dia dianggap barang dagangan yang bisa berganti Tuan kapan pun ada yang menawarnya lebih tinggi. Calista lalu mengangkat kepalanya dan menatap heran kepada Jorge, apakah dia tidak salah dengar dengan pertanyaan Jorge?
“Tuan, aku sudah tidak punya hak untuk marah, Tuan. Bisa bertanya tanpa ditampar saja, aku bersyukur Tuan. Aku hanya ingin tau, apa tugasku untuk Tuan semua. Aku, hanya butuh diarahkan dan diberitahu tugasku, Tuan. Maka, aku akan melakukannya semaksimal mungkin, jika aku berbuat salah tolong jangan siksa aku seperti para majikanku sebelumnya,” lirih Calista yang berbicara dengan tangisan menderai tak dapat ditahan mengingat betapa nasibnya begitu di luar ekspektasinya.
Sebuah perasaan seperti tertusuk belati tajam begitu ngilu dan perih dirasakan oleh Jason yang mendengar ucapan Calista, namun Ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Jason hanya kembali mendengarkan dengan seksama dan melihat apa yang akan terjadi. Jorge juga tercengang dengan apa yang didengarnya dan tak tau harus berbicara apa dan dari mana menjelaskan bahwa Calista ditebus olehnya karena ia ingin mengeluarkan Calista dari sarang ular dan memberikannya kebahagiaan yang belum pernah dirasakannya.