Al memakai kemeja, dasi, dan jas secepat yang ia bisa. Ia benci berpakaian formal seperti ini, tetapi demi Harper, ia akan melakukannya. Tidak, ini bukan untuk Harper. Ini untuk dirinya sendiri, dan untuk kewajiban yang harus ditanggungnya demi menjaga gadis itu.
Dia sudah pernah bilang kan jika Harper bukan tipenya? Jadi ini hanya untuk menjaga Harper, sesuai janjinya pada bunda, sesuai janjinya pada aunty Naya. Tidak mungkin rasa itu muncul lagi. Al sudah mengubur rasa itu jauh di dalam hatinya sejak gadis itu berkata bahwa ia membenci Al. Lagipula itu sudah bertahun-tahun lalu, dan itu hanya cinta monyet. Atau mungkin itu hanya rasa bersalah karena Al pernah membuat Harper terjatuh dari tangga dulu. Ya, itu hanya rasa bersalah, bukan suka, apalagi cinta.
Lalu kenapa ia tidak suka melihat kedekatan Harper dan Enrique? Al berdecak pelan dan berhenti berdebat dengan dirinya sendiri sebelum akhirnya keluar dari kamar.
“Lama sekali sih??” Gerutu Harper saat dirinya masuk ke mobil Enrique.
“Bawel!” Jawab Al sambil mengacak rambut Harper yang sudah duduk di bangku belakang.
“Rambutku!!!” Teriaknya marah seraya memukul tangan Al yang masih ada di kepalanya.
Al terkekeh. Matanya menatap Enrique yang melirik mereka.
“Ada apa?” Al bertanya.
Enrique hanya mengangkat bahu dan mulai menjalankan mobilnya. Resorts mereka tidak jauh, hanya sekitar lima kilometer dari tempatnya tinggal. Resorts itu termasuk salah satu resorts yang paling ramai di kota ini. Om Ted sukses menjadikannya tujuan penginapan paling di minati di Spanyol.
Al tahu dari ayahnya, bagaimana perjuangan Om Ted membangun jaringan bisnis itu. Semua dimulai dari nol, dengan modalnya sendiri, bukan dari uang Sandjaya Group karena resorts ini disiapkannya untuk putri tercintanya. Dan tangan dingin seorang Sandjaya tidak perlu diragukan lagi. Seluruh lelaki keluarga Sandjaya adalah pebisnis handal, tidak ada satu orangpun yang bisa menyangkalnya. Jaringan bisnis perhotelan dan restoran Sandjaya Group selalu sukses di manapun itu berada.
Al mendengar Harper terkesiap pelan saat gadis itu sampai di sana. Pasti Harper tidak menyangka jika akan sebesar ini hotel dan resorts yang disiapkan sang ayah untuknya.
“Quin, are you okay?” Al menengok ke belakang. Gadis itu masih terpana menatap bangunan besar dan mewah yang ada di hadapannya. Sebuah hotel berlantai sepuluh yang berdiri gagah di pinggir pantai. Resorts di bangun agak jauh dari hotel, serupa bungalow di sisi lain pantai.
“Al, kau yakin ini tempatnya?” Tanyanya tidak percaya.
Al terkekeh dan mengikuti Enrique yang turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Harper. Ia berdecak. Seharusnya itu tugasnya!
“Ini milikmu, Harper.” Enrique menunjuk papan nama besar di atas gedung hotel itu.
Harper tampak gugup saat berjalan menuju bangunan besar itu. Al tahu, Harper tidak nyaman berada di tengah keramaian, apalagi di depan mereka tampak seluruh staff dan dewan direksi menyambut kedatangan mereka.
“Al,” ia berbisik sangat pelan.
Dengan sigap, Al berdiri di sebelah kiri Harper. Meremas bahu gadis itu dengan lembut. “Kau akan baik-baik saja, Quin. Kau bisa melewatinya,” Al balas berbisik pelan.
Gadis itu menatapnya seolah meminta kekuatan. Al bisa melihat ketakutan di mata indah itu. Terpampang jelas di kedua bola matanya. Al menggenggam kedua tangan Harper dengan erat.
“Ada aku di sampingmu.” Kata itu seolah mantra yang selalu mampu menyihir Harper. Setiap Al mengucapkannya, ia bisa melihat kelegaan muncul dari dalam diri Harper.
Walaupun seribu kali gadis itu bilang membencinya, dirinya tidak akan pernah bisa menyangkal bahwa ada sebagian dari diri mereka yang saling terikat dengan misterius. Mungkin karena kebersamaan mereka sejak kecil, mungkin karena selama ini tidak pernah ada orang lain yang dekat dengan Harper, atau mungkin karena hal lain yang tidak mereka ketahui.
“Harper, mereka sudah menunggumu.” Suara Enrique membuat Harper melepas genggaman tangan Al yang membuat Al langsung merasa kehilangan.
Harper menarik napas panjang dan tersenyum kecil, mengangkat sedikit dagunya, dan hilanglah gadis kecil yang ketakutan. Berganti dengan gadis penuh percaya diri. Enrique dan Al berjalan bersisian di sampingnya layaknya malaikat pelindung. Dan ya, Al akan selalu menjadi malaikat pelindungnya dalam bentuk apapun.
Dengan penuh percaya diri, Harper berjabat tangan dengan dewan direksi yang Enrique kenalkan padanya. Dan walaupun Harper hanyalah anak angkat Om Ted, Al bisa merasakan aura Sandjaya yang begitu kental dalam diri Harper. Al yakin, tempat ini akan semakin berkembang di tangan Harper.
Selesai berkenalan dengan staff dan direksi, Enrique mengajak mereka berkeliling. Gadis itu mulai tampak nyaman berada di sana, dan ya, memang di tempat inilah seharusnya Harper berada. Gadis itu selalu mencintai pantai. Om Ted membangun resorts ini di tepian pantai yang begitu indah. Al yakin, inilah surga bagi Harper.
Al masih mengikuti Harper yang bertanya ini itu pada Enrique. Harper selalu cerewet seperti biasanya, dan Enrique tampak nyaman menjawab pertanyaan-pertanyaan Harper. Al mengamati Enrique. Mungkin lelaki ini bisa menjadi teman untuk Harper, karena walau bagaimana pun Harper butuh seseorang di sini. Al tidak akan bisa ada di sini setiap hari. Harus ada seseorang yang melindungi gadis itu.
Al berhenti melangkah saat ponsel bergetar di sakunya. Ia tersenyum melihat nama yang terpampang di caller id-nya.
“Ya, Aunty?”
“Sayang, bagaimana kabarmu? Kau bisa tidur nyenyak ‘kan?”
Al tertawa mendengar sindiran aunty-nya. Sejak kecil, ia adalah tipe anak yang bisa tidur di manapun dan kapanpun. Tidak peduli itu di mana. Berbanding terbalik dengan Harper.
“Selalu, Aunty. Aunty merindukan Quin ya?”
“Di mana anak itu? Kenapa teleponku tidak diangkat?”
Lagi-lagi Al terkekeh mendengar wanita itu menggerutu. “Dia sedang berkeliling hotel.”
“Dia baik-baik saja ‘kan?”
Al tersenyum walaupun wanita itu tidak bisa melihatnya. “Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya, dia benar-benar seorang Sandjaya sejati.”
Al mendengar wanita itu terisak. Ia berbalik memunggungi Harper dan Enrique yang masih asyik mengobrol. Al tahu, aunty Naya pasti begitu terharu dan bangga pada putrinya. Beliau pasti tidak menyangka putri kesayangannya itu bisa melalui ini. Andai dia ada di sana, Al pasti sudah memeluk wanita yang disayanginya itu.
“Aku yakin dia akan membuat Om Ted dan Aunty bangga.”
“Putri kecilku sudah dewasa sekarang,” bisik aunty Naya dengan suara tersendat.
Al terharu mendengarnya. Wanita itu sangat mencintai Harper seperti layaknya seorang ibu kandung. Hati aunty-nya ini benar-benar terbuat dari emas. Cintanya tidak terbatas untuk Harper.
“Aunty ingin bicara dengan Quin?”
“Yes, please,” bisik wanita itu pelan.
Al kembali berbalik, Harper dan Enrique hampir menuju resorts. “Quin!” Dia berteriak hingga gadis itu berhenti dan menatapnya sebal. Al berlari kecil padanya. “Mommymu,” ujarnya sambil mengulurkan ponsel.
Raut wajah cemberut Harper langsung sirna berganti dengan binar keceriaan. Ia meraih ponsel Al dan berlari menjauhi mereka berdua.
“Kalian sangat dekat ya?”
Al menoleh mendengar pertanyaan itu dan menatap Enrique dengan datar. “Kami saling mengenal sejak kecil.”
Enrique memandang Harper di kejauhan, lalu menoleh pada Al dan berkata, “Aku menyukainya.”