19 Hari berganti. Pagi itu, Baron baru memasuki ruang kerja, ketika seorang pria berkemeja cokelat mengikuti langkahnya ke dalam. Nohan, asisten Baron, menarik kursi di depan meja putar dan mendudukinya. Dia menunggu sang bos duduk, kemudian Nohan menjelaskan kabar terbaru dari admin PG. "Ditolak?" tanya Baron. "Ya, Pak," jawab Nohan. "Kok, bisa begitu?" "Saya juga kurang paham. Nanti saya coba tanyakan lagi ke Pak Hamid." "Yang ngabarin ke kamu, siapa?" "Staf PG. Kalau nggak salah, dia asistennya Pak Tio." Baron mengerutkan dahi. "Artio Laksamana Pramudya?" "Betul." "Dia komisaris, kan. Apa memang urusan sepele gini, ditentukan sama dia?" "Enggak paham, Pak." Baron mendengkus. "Ya, sudah. Kamu tanyakan jelas-jelas pada Pak Hamid. Alasan kita ditolak itu kenapa."

