Bab 03

1023 Kata
03 Malam itu, suasana di sebuah restoran di pusat Kota Bandung terlihat ramai. Semua orang merupakan undangan untuk menghadiri acara ulang tahun pernikahan Nazeem Kagendra dan Rumaisha, yang ke-35 tahun. Hampir setiap tahun pasangan tua tersebut merayakan hari jadi pernikahan mereka. Keduanya melakukan itu untuk memberikan contoh yang baik buat semua anak, dan cucu keluarga Kagendra. Mobil MPV hitam yang dikemudikan Andi berhenti di tempat parkir paling belakang. Pria berkemeja batik merah itu keluar dan membukakan pintu buat bosnya. Kemudian Andi memutari mobil untuk membuka pintu sisi kiri. Lilakanti keluar sembari mengucapkan terima kasih pada Andi. Perempuan bergaun biru tua mengilat yang warnanya sama dengan jas Farisyasa, memandangi bangunan besar di hadapannya dengan d**a berdebar-debar. "Ayo," ajak Farisyasa. Lilakanti mengangguk, sebelum mengayunkan tungkai menuju anak tangga di dekat teras. Perempuan bermata besar tersebut, tertegun kala Farisyasa mengarahkan lengan kirinya agar digamit Lilakanti. "Tanganmu dingin," tutur Farisyasa sembari menepuk-nepuk punggung tangan pasangannya. "Aku deg-degan," ungkap Lilakanti. "Santai dan bersikap biasa saja. Hanya status kita yang palsu. Kamu tetap bisa jadi diri sendiri." "Hmm, ya." "Pokoknya, kalau ada yang nanya tentang pribadimu, jawab dengan jujur. Sisanya aku yang tangani." Kehadiran pasangan tersebut sontak menjadi pusat perhatian hadirin di hall utama. Farisyasa melirik Lilakanti yang balas menatapnya saksama. Pria berjanggut mengangguk samar, sebelum keduanya melangkah mendekati sekelompok orang yang berada di ujung tengah ruangan. "Ayah dan Ibu, perkenalkan, ini, Lilakanti," tukas Farisyasa, sesaat setelah tiba di dekat keluarganya. "Dia, kekasihku," lanjutnya dengan santai. Nazeem terdiam, sedangkan Rumaisha terperangah. Kedua Adik Farisyasa yang berada di samping kanan Nazeem, seketika beradu pandang. Dharvan dan Elmeira, benar-benar terkejut menyaksikan Kakak tertua mereka ternyata datang dengan perempuan yang diakui sebagai kekasih. Sebab Dharvan dan Elmeira memang tidak tahu jika Farisyasa telah memiliki pasangan. "Apa kabar, Pak?" tanya Lilakanti, sebelum merunduk untuk menyalami Nazeem dengan takzim. "Kabar baik," sahur Nazeem sembari mengamati perempuan yang tengah berpindah menyalami istrinya. "Siapa tadi namamu?" tanyanya. "Lilakanti," terang perempuan berkulit putih tersebut. Lilakanti merapikan rambutnya yang menutupi wajah, sembari menenangkan jantung yang berdegup kencang. "Sudah lama jadi teman anak saya?" "Belum, Pak. Baru beberapa bulan." "Usiamu berapa?" "30 tahun." "Status?" "Ehm, Yah. Ini bisa dibicarakan nanti," sela Farisyasa. "Ya, betul," timpal Dharvan. "Acaranya dimulai saja, Yah. Semuanya sudah hadir," imbuh Elmeira. Dia mengulurkan tangan kanan untuk menarik Lilakanti. "Ke sini, Teh," ajaknya. Selama beberapa saat berikutnya, Lilakanti berusaha tetap tenang. Dia menyadari bahwa telah jadi pusat pandangan khalayak, yang tentunya penasaran dengan dirinya. Lilakanti beberapa kali beradu pandang dengan Farisyasa. Perempuan berhidung bangir itu merasa tenang, karena pria tersebut selalu tersenyum jika tatapan mereka bertemu. Seusai pemotongan tumpeng, Nazeem mempersilakan hadirin untuk menikmati hidangan yang disajikan pegawai restoran. Pria tua bersetelan jas hitam itu mengajak keluarganya untuk menempati meja bundar terdepan. Nazeem meminta Lilakanti untuk duduk di kursi sebelah kanannya, yang dipatuhi perempuan tersebut. "Kita lanjutkan yang tadi," tutur Nazeem. "Yah, sebaiknya biarkan Lilakanti makan dulu," celetuk Rumaisha. "Ayo, Nak. Silakan dinikmati," sambungnya seraya tersenyum. Kendatipun Rumaisha juga penasaran dengan Lilakanti, tetapi dia berusaha untuk menjadi pemilik hajat yang baik. Acara makan itu berlangsung dalam keheningan. Hanya Farisyasa yang berbincang dengan Dharvan, sedangkan yang lainnya tetap diam. "Kita ulangi, statusmu, bagaimana?" tanya Nazeem, sesaat setelah Lilakanti menghabiskan hidangan. "Saya janda, Pak. Punya anak satu, perempuan. Usianya 4 tahun," terang Lilakanti. Meskipun sudah menduga akan diinterogasi, tetap saja dia merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu. "Cerai hidup?" "Ya." "Kenapa?" "Ayah, itu terlalu pribadi," sela Farisyasa. "Enggak apa-apa, Mas," sahut Lilakanti. "Wajar kalau Bapak nanya begitu, dan aku nggak keberatan buat jawabnya," tambahnya. "Tapi, ini pertemuan pertama. Itu bisa ditanyakan kapan-kapan." "Aku nggak masalah buat jujur." "Enggak perlu. Apa pun alasanmu bercerai, nggak semua orang berhak tahu." Farisyasa mengarahkan pandangan pada ayahnya yang tetap diam. "Yah, ini acara penting. Jadi, interogasinya dilanjutkan nanti saja," pintanya. "Nanti kapan?" tanya Nazeem. "Tunggu kami berkunjung ke rumah Ayah," ungkap Farisyasa. Nazeem melengos. "Kamu itu cuma janji saja mau datang. Tapi, tidak muncul juga." "Yang nanti, aku beneran datang. Sekalian aku mau memperkenalkan Azrina." "Siapa itu?" "Anak Lilakanti, yang nantinya akan jadi anakku." Nazeem tercenung. Dia hendak kembali berucap, tetapi Rumaisha telanjur memegangi paha kirinya. Nazeem melirik sang istri yang mengangguk samar, seolah-olah tengah meminta agar sang suami tidak menolak kunjungan itu. Puluhan menit selanjutnya terasa sangat lama bagi Lilakanti. Dia harus menyalami semua orang yang kentara sekali penasaran dengan dirinya. Malam bergerak larut. Acara usai tepat pukul 21.00 WIB. Lilakanti mengikuti langkah Farisyasa dan keluarganya menuju tempat parkir. Kemudian dia menyalami kedua orang tua Farisyasa, sebelum mereka memasuki mobil Mercedes-Benz hitam bersama Elmeira. Setelah mobil sedan mewah itu bergerak menjauh, Dharvan menyolek lengan kanan kakaknya. Kedua pria tersebut berbisik-bisik, sebelum Dharvan berpamitan pada Farisyasa dan Lilakanti. Pria berusia 29 tahun tersebut melenggang menuju mobilnya. Sedangkan Farisyasa mengajak Lilakanti memasuki mobil yang mesinnya telah dinyalakan Andi. "Harusnya tadi kamu diam saja. Enggak perlu jawab semua pertanyaan Ayah," cakap Farisyasa, sesaat setelah mobil berada di jalan raya. "Enggak sopan kalau aku begitu," balas Lilakanti. "Lagi pula, tadi Mas bilang jika aku harus jujur tentang hal pribadi," kilahnya. "Ya, tapi bagian yang itu nggak usah." "Kenapa?" "Aku jadi tersindir." "Maksudnya?" "Nanti saja kita bicarakan." "Aku benar-benar penasaran." Farisyasa memandangi perempuan yang sedang merapikan bagian depan rambutnya. "Aku akan cerita kalau sudah siap." "Oke." Lilakanti mengamati pria bermata sipit. "Mas, kenapa Azrina dilibatkan dalam sandiwara ini?" desaknya. "Aku cuma asal nyebut. Nanti dia nggak usah ikut." "Gimana ngejelasinnya sama orang tua Mas?" "Cari alasan apa gitu. Misalnya, lagi ikut ayahnya belanja atau main." Lilakanti berdecih. "Itu jelas-jelas bohong." "Kenapa?" "Mas Baron sudah nggak peduli sama Azrina. Bahkan, dari lahir juga, dia cuek aja. Boro-boro ngajak main, gendong anaknya aja jarang." "Maksudmu, dia nggak berlaku sebagaimana harusnya Ayah?" "Ya." Lilakanti menatap lurus ke depan. Kenangan pahit itu kembali terbayang di pelupuk mata, seolah-olah baru terjadi dan bukan sudah lama terlewati. Rasa sesak dalam d**a membuat Lilakanti mengalihkan pandangan ke kiri. Dia mengerjap-ngerjapkan mata yang mulai berkaca-kaca, karena kembali teringat hal yang membuat hatinya hancur. Sentuhan di lengan kanan menjadikan Lilakanti menjengit. Dia spontan menoleh ke kanan dan beradu pandang dengan Farisyasa. Pria berkumis tipis dan berjanggut, termangu menyaksikan kabut di mata besar Lilakanti. Hati Farisyasa mencelos, saat menyadari jika perempuan tersebut kemungkinan tengah menahan tangisan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN