POV Anto "Hentikaaaaaan!" Dari pada marah, aku lebih memilih untuk tertawa melihat wajah merah padam Marni. Jika saja dia memiliki tanduk, mungkin dia akan menyundulku sekuat hati saking geramnya. "Nah, ayo bilang Om sekali lagi! Biar bengkak pipimu aku cium." "Huh!" Dia menghapus pipinya, seakan menghilangkan bekas dan jejak bibirku di sana. Khas seperti anak kecil yang merajuk. Ternyata begini Marni SMP, cukup asik dijadikan mainan. "Sini!" Aku menepuk sisi ranjang yang kosong. "Aku tak mau tidur sama ...," "Sama?" "Sama Mas," sahutnya tak ikhlas. "Padahal aku berharap kau akan menyebut Om." "Takkan lagi." "Baiklah!" Aku mengangguk seolah-olah sangat mengerti dengan jawabannya. "Boleh aku tidur di sebelah?" "Boleh." "Alhamdulillah." "Tapi, aku ikut." Wajah cerianya langs

