"b******k! Jadi kau pelaku yang menabrak Asmaraloka dan membuat Shalom menjadi seorang pembunuh?" geram Kanagara mengepalkan tinjunya, "Lihat saja nanti, apa yang bisa aku lakukan padamu!" Kanagara lekas keluar dari ruang kerjanya. Kemudian, ia menunggu Shalom di depan pintu sambil berjalan bolak-balik. Ia khawatir dengan kondisi Shalom saat ini, setelah mendapat perlakuan seperti itu dari ayahnya. "Apa yang harus aku lakukan nanti untuk menghibur Salmon?" tanya Kanagara pada dirinya sendiri. Selama ini, ia tidak pernah menghibur siapapun. Bahkan ketika kedua orang tuanya meninggal pun, tidak ada satu pun orang yang menghiburnya. Ia hanya selalu bersikap tegar seperti tidak pernah ada kejadian apapun. Setetes air mata pun rasanya tidak pernah keluar dari pelupuk matanya. Bahkan ketik

