"Kalau itu masalahnya, kau bisa meneruskan pendidikanmu sambil menjadi asisten pribadiku. Bukankah ini solusi terbaik?" Sepertinya Kanagara memang sudah benar-benar mencintai Shalom. Meskipun masih sedikit nyeri di dadanya ketika ada pembahasan yang menyangkut mendiang tunangannya. Namun, pria itu tetap bersikap lembut layaknya pria sejati. "Apa aku boleh melanjutkan pendidikanku?" "Tentu saja boleh. Apapun yang kau inginkan, aku akan berusaha memberikannya padamu. Jika kau ingin menjenguk keluargamu pun aku tidak masalah. Asalkan kau tetap kembali padaku. Karena mulai sekarang, aku adalah rumahmu." Seperti janji Kanagara sebelumnya. Ia ingin selalu membahagiakan Shalom. Jadi, ia berusaha memberikan apa yang memang kekasihnya itu butuhkan. "Be-benarkah? A-aku ... Terima kasih, terima

