"Badrun, Bu," sahut pria muda itu. Ia sering kesal karena Alika sering tidak bisa menyebutkan namanya dengan benar. Bahkan menyebutnya 'Pak' padahal ia masih muda.
"Iya, Bardrun apalah. Namamu susah sekali disebut. Tolong antara dia pulang agar bisa mengambil barang-barangnya, lalu dia bisa pindah kemari."
"Iya, Bu."
"Tapi, Kak ...." Maya yang belum sempat meminum tehnya jadi kelimpungan.
"Sudah, pergi dengan supirku sana, nanti kesorean."
Kalau sudah begitu, Alika tidak mau dibantah karena akan panjang urusannya, dan Maya belum pernah membantahnya. Anak pembantu itu akhirnya pergi dengan sang sopir pulang ke kost-kostan.
Alika sibuk menonton TV ketika anak pembantu itu kembali. Ia mengantar mantan teman sekelasnya itu ke kamarnya. Sebuah kamar berukuran sedang seperti kamar kos-kosan Maya, hanya bedanya ruangannya bagus. Ada ranjang single, lemari dan sebuah meja kecil.
"Jangan lama-lama ya!" pinta Alika yang bersandar pada bingkai pintu. "Ganti baju Ardha dan suruh tidur. Setelah itu masak makan malam. Kamarnya di lantai dua pintu ke dua. Oya, jangan panggil aku 'kak'. Mulai sekarang panggil aku 'Nyonya'."
"Iya, Kak. Eh, Nyonya."
****
Pembantu baru itu baru tahu bahwa ada pembantu wanita lain di rumah besar itu. Maya mengetahuinya selagi memasak.
Seorang wanita yang terlihat lebih muda darinya, masuk ke dapur dengan hanya memakai celana selutut dan baju kaos lengan pendek yang sedikit longgar. Ia tak begitu terkejut melihat Maya di sana, tapi melihat pakaian Maya yang hanya daster longgar dan jilbab instan, terlihat rumit untuk pekerjaan kotor di dapur itu.
"Pembantu baru ya?" tanya wanita itu langsung ke tujuan. Ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral dari lemari es.
"Eh, iya."
Wanita berambut panjang yang dikuncir ke belakang itu menyodorkan tangannya. "Odah."
"Maya." Maya menyempatkan diri menyalami wanita itu selagi ia mengaduk sayur di kompor.
"Dari agen mana?"
Belum sempat pertanyaan itu terjawab, Alika masuk ke dapur. "He ... awas ya, ngegosip! Nanti pasti pekerjaannya belum selesai. Ayo selesaikan sana!"
"Iya, Nyonya." Odah kemudian pergi.
Alika memeriksa masakan Maya yang telah jadi. Ia terlihat puas. "Bagus! Aku ingin bikin kejutan buat dia!"
"Mmh? Dia siapa?"
"Raka, suamiku. Aku ingin tahu apa dia masih ingat sama masakan kamu." Wanita cantik itu menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kiri ke kanan dengan manja.
Ya, Raka mengenal Maya. Selama dokter itu pacaran dengan Alika yang saat itu masih SMA, pria itu sering makan di rumah Alika. Wanita itu kerapkali menyuruh Maya memasak bila sang pacar datang dan berlama-lama di rumah. Anehnya, ketika Maya menikah, Alika juga menyusul menikah beberapa bulan kemudian tanpa meneruskan sekolahnya yang hanya tamat SMA itu.
Terdengar bel berbunyi. "Ah, itu pasti dia." Alika dengan senangnya bergegas ke ruang depan.
Lalu Maya? Ia berdebar-debar. Pria itu adalah cinta pertamanya!
Wanita cantik itu menyambut suaminya di depan pintu. Ia tersenyum pada seorang pria bertubuh tinggi tegap berkulit putih dengan hidup mancung dan alis yang tebal. Matanya sedikit sipit dengan manik mata abu-abu, sekilas mirip orang Jepang. Pria tampan itu memang serasi dengan Alika yang cantik dan elegan. Jemari lentik wanita itu langsung meraih punggung tangan sang suami, dan dengan santun menciumnya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Mas," sahut Alika dengan riang.
"Ardha mana?" Suara bariton pria bermimik serius itu, melihat sekitar.
"Ada di kamarnya."
Pria itu bergerak ke arah tangga. Satu hal yang selalu membuat Alika iri saat sang suami pulang adalah Ardha. Bocah itu selalu mengambil seluruh perhatian suaminya. Wanita itu terpaksa mengekor di belakang suaminya hingga masuk ke dalam kamar si kecil.
"Ardha."
Bocah itu, yang sedang main di lantai menoleh. "Papa!" Ardha berlari masuk ke dalam pelukan ayahnya.
Raka langsung mengendongnya dan memberi kecupan di puncak kepala.
"Mas, kamu mau makan gak?" tanya Alika yang berdiri di depan pintu. "Nanti disiapkan."
Pria itu memutar wajahnya ke arah sang istri. "Baju seragamnya, sudah dapat 'kan, Ardha?"
"Sudah. Mau makan gak, Mas?" Alika sepertinya tak peduli dengan masalah Ardha.
Raka mengerut dahi. Ia maklum, sedari dulu istrinya begitu. Selalu saja saat ia membagi perhatiannya pada Ardha, istrinya cemburu. Padahal Ardha anak mereka.
Saat mengetahui istrinya hamil saja, ia yang senang sedang Alika tidak. Wanita itu memilih untuk menggugurkan. Raka tak habis pikir dengan keinginan sang istri saat itu hingga ia memanjakannya dengan berbagai cara agar wanita itu mau melahirkan Ardha.
Setelah lahir pun sama. Alika tidak selalu mau menyusui bayinya sehingga harus sedia s**u botol. Sehari-hari pun punya babysitter untuk merawatnya, hingga Ardha tumbuh menjadi anak yang mandiri dibanding anak seusianya.
"Iya, siapkan saja. Nanti aku ke bawah," sahut Raka yang memilih menghabiskan waktu lebih lama dengan anaknya.
Wanita itu pun turun dan memberi tahu pada Maya. Pembantu barunya itu kemudian menyiapkan meja untuk makan malam. Tak lama, Raka turun bersama Ardha. "Kamu sudah dapat pembantu baru?" tanya pria itu melihat makan yang tersaji adalah makanan rumahan.
"Iya, dong! Ngapain lama-lama gak ada pembantu? Repot!"
Pria itu menarik kursi dan mendudukkan anaknya di sana. Ia kemudian menarik kursi lain di sampingnya. Raka mendekatkan kursinya ke meja, dan mulai mengambil nasi. Alika mulai dengan mengambil lauk. Pria itu tidak memperhatikan makanannya hingga ia mencicipinya. Ia menoleh pada sang istri yang memang sedang menunggu reaksinya. "Ini ...."
"Iya ...." Alika menunggu pria itu menebaknya dengan baik.
"Kamu tidak membawa seseorang dari rumah ibumu, 'kan?" tanya pria itu ragu. Ia yakin lidahnya tak salah. Sambal terasi yang dibuatnya sangat khas.
"Bukan dari rumah ibu, tapi dia pernah tinggal di rumah ibu. Bik!" panggil wanita itu. Ia menatap ke arah dapur.
"Iya, Nyonya." Maya muncul dari balik pintu dapur. Wanita bertubuh sintal dan berkulit kuning langsat itu terkejut melihat Raka, demikian pulang pria itu. Pandangan mata pria itu yang dingin terhadapnya selalu saja menggetarkan tubuhnya. Kini pun sama. Walau keadaan sudah berubah. Dirinya yang dulu kurus kini mulai padat berisi. Sedang pria itu, dengan bertambahnya usia, semakin matang dan berwibawa. Wajah tampannya pun makin bersinar.
"Kamu masih ingat Maya 'kan, Mas?"
"Eh, masih." Namun gerak tubuh pria itu memberi isyarat ia tak nyaman. Ia meletakkan sendoknya seketika.
"Bik, sini!" panggil Alika pada pembantu barunya itu.
"Eh, iya." Maya mendekat.
"Tolong suapi Ardha ya?"
"Oh, iya, Nyonya." Maya mengambil nasi dan kemudian mendekati bocah kecil itu. "Dedek mau makan apa? Mau sop ayam?" tanyanya setengah berbisik.
Ardha mengangguk. Wanita itu kemudian mengambil makanan sesuai keinginan anak itu. Raka masih meliriknya sebentar kemudian mengambil lagi sendok dan mulai makan. "Kau sengaja mengundangnya ke sini?" tanyanya pada sang istri.
Kalimat itu sedikit mengejutkan Maya, tapi ia berusaha tak peduli.
"Ngak papa sih, kalau dia betah kerja denganmu. 'Kan mencari pembantu susah?" sahut pria itu lagi.
"Kamu suka padanya?" ledek Alika dengan senyum lebar.
Bukan saja Raka, Maya pun tak suka dengan candaan yang keluar dari mulut nyonya rumah itu. Untung saja Ardha mengajak pembantu itu pergi. "Bik, aku mau nonton TV."
Maya mengekor bocah itu ke ruang tengah yang tak jauh dari ruang makan. Ardha menyalakan TV dan ia menemani. Terdengar percakapan berikutnya yang tak kalah tidak mengenakkan. Itu semua karena Alika yang senang cari gara-gara.
"Kamu jangan bicara macam-macam, Alika. Bercandanya tidak lucu!" jawab pria itu tegas. Ia serba salah bila harus menanggapi bercandaan istrinya yang ujungnya entah ke mana.