PERANCIS, 1998
Seorang anak laki-laki, sedang menangis terisak di jalanan yang tengah lengah oleh pejalan kaki. Awan Nimbostratus menyelimuti kota saat itu, seakan ingin juga menjatuhkan airmata. Gemuruh petir pun mulai bersahutan. Mungkin kurang lebih dua jam anak itu menangis. Tanpa ada yang menolongnya. Sebenarnya beberapa pejalan kaki, berniat menghampiri. Tapi, ketika melihat wajah anak tersebut yang sepertinya bukan warga asli sana, mereka mengurungkan niat tersebut. Apa anak itu akan mengerti yang aku katakan? Bagaimana jika tiba-tiba dia berteriak? Setidaknya itulah yang mereka pikirkan. Hingga pada akhirnya seorang pria asing yang berwajah manis, dengan jambang yang menyambung melewati bawah hidung juga dagu, mendekatinya. Mata biru cemerlang milik pria itu menatapnya.
"Hei.. ada apa? Kenapa kau menangis? Dimana orangtuamu?"
Anak itu berhenti menangis. Masih terisak. Menengadahkan kepala. Menatap pria bermantel biru.
"Aku.. Ibu.. Ayah.. Hilang," katanya, kembali menangis.
Beruntungnya anak yang bernama Ken Choi itu lumayan pandai berbahasa Inggris. Jadi, tak ada kesulitan untuk keduanya berkomunikasi.
"Oh.. kau terpisah dari orangtuamu?"
Ken mengangguk. Sementara pria itu membungkukkan badan, sejajar dengan Ken.
"Dengar.. hentikan tangismu. Paman.. akan membantu mencari orangtuamu."
Keduanya pergi ke kantor polisi. Menceritakan semua yang terjadi. Petugas menyarankan, jika lebih baik Ken tinggal di kantor polisi untuk sementara waktu. Mungkin saja orangtuanya akan datang kemari. Namun Ken menolak. Karena takut dengan para pria berseragam itu. Alasan klasik seorang anak berusia tujuh tahun. Hingga akhirnya, pria itu membawanya kembali. Mengajaknya ke rumah makan, setelah itu. Alasan sederhana pria itu ingin menolong Ken adalah karena teringat gadis kecil yang sedang tinggal jauh darinya.
Hari berganti minggu, namun tak satupun yang datang untuk mencari Ken. Laboratorium pria yang dipanggilnya Paman itu menjadi tempat tinggal Ken untuk sementara waktu. Sebenarnya pria tersebut, tidak berasal dari Perancis. Kebetulan ia mendapatkan proyek di Negara tersebut. Dan sepertinya pertemuan yang terjadi karena ketidak-sengajaan tersebut, akan menjadi takdir yang indah bagi mereka.
Mungkin.
Hari ini, pria tersebut kembali mendatangi kantor polisi. Menanyakan tentang orang tua Ken. Sementara Ken tengah menunggu dengan was-was dalam laboratorium. Persepsinya mengatakan jika ia akan segera bertemu dengan ibu dan ayahnya, setidaknya sebelum pria itu kembali dengan membawa kabar buruk. Orang tua Ken memang ditemukan, sayangnya, mereka mengalami kecelakaan mobil, ketika terburu-buru mencari Ken.
Kini Ken hanya mampu menangis di depan jasad kedua orang tuanya yang telah membeku di rumah sakit.
"Baik Ken.. kau boleh menangis sepuasmu hari ini. Tapi! Kau harus kembali pada kenyataan Ken! Kau harus berjuang untuk bertahan hidup demi orang tuamu! Kau harus membuat orang tuamu bangga," kata pria asing itu, berlutut di samping Ken.
"Tapi, aku harus pergi kemana paman? Aku tidak punya saudara. Kedua orangtuaku adalah anak tunggal. Begitupun aku."
"Kau tak perlu khawatir. Selama ada paman—hidupmu akan baik-baik saja."
Ken diam sesaat. Masih dengan terisak ia berkata,
"Tapi, paman.. Namamu siapa? Dari awal kita bertemu.. Aku tidak tahu namamu."
Pria tersebut tersenyum kecil lalu berkata, "James. James Mayer."
Ken pun akhirnya menghabiskan masa kecilnya dengan tinggal di laboratorium James dan menjadi asisten pribadinya. Mengumpulkan setiap koin upah dari James. Dan membuat suatu perusahaan kecil ketika ia remaja.
KOREA SELATAN, 2009
"Lalu—kemana orang tuamu?" Tanya Ken ragu-ragu, seakan tahu jawaban yang akan diberikan oleh Gin.
"Mereka tiba-tiba menghilang. Beberapa tahun yang lalu," pungkas Gin diakhiri dengan senyuman kecut.
Ken diam. Memandang Gin yang kini terlihat menyedihkan.
"Kenapa? Apa aku sekarang terlihat menyedihkan?" gurau Gin. "Ah, kau pasti berpikir betapa buruknya orang tuaku, bukan? Aku tidak pernah sedikitpun menyalahkan mereka. Mungkin saja.. mereka sudah mati di tangan para penagih hutang itu."
"Tidak.. mereka masih hidup."
Kata-kata Ken yang secara tiba-tiba menjadi serius membuat Gin hanya tersenyum kecil.
"Aku tidak bercanda, Gin."
"Baik.. itu cukup membuatku terhibur. Tapi, bisakah kau hentikan?"
"Gin—aku mengenal ayahmu."
Kening Gin berkerut. Kata-kata paling mustahil itu didengarnya. Selama bertahun-tahun, ia meyakini jika ayah dan ibunya telah mati.
"Lelucon macam apa itu?! Hentikan Ken! Jika kau tak ingin membantuku, tak perlu membuat lelucon seperti itu!"
"Tidak, Gin! Aku mengenalnya!"
"Cukup Ken!" bentak Gin, seraya berdiri. Dilangkahkan kaki kanannya.
"James Mayer!" teriak Ken, sambil berdiri. Dan menghentikan langkah Gin. "Itu—nama ayahmu, bukan?"
Gin mematung. Tetap membelakangi Ken. Bola matanya bergerak tak jelas. Bernafas agak cepat. Bagaimana bisa Ken mengatakan hal itu dengan terang-terangan, ketika Polisi dan siapapun tak ada yang mengetahui keberadaan orang tuanya. Terakhir kali, memang seseorang mengatakan jika ia mengenal James Mayer, ayah Gin. Dan mengetahui keberadaan kedua orang tuanya. Gin yang saat itu telah hilang arah, dengan mudahnya percaya. Mengikuti pria botak tersebut pergi. Alih-alih bertemu dengan kedua orang tuanya, pria botak membawa Gin ke gudang kosong.
Sekelompok pria bertampang preman, berkumpul disitu. Dirasa keadaannya terancam, Gin berusaha kabur. Tentu saja gagal. Dengan jumlah mereka yang bisa dikatakan lumayan banyak, mustahil untuk Gin melarikan diri. Satu pria saja, tak mungkin. Apalagi enam. Para preman yang menyebut dirinya penagih hutang itu mengepung Gin dari berbagai sisi. Bertanya tentang keberadaan James. Dijawab apa adanya oleh Gin. Akan tetapi tidak dipercaya oleh mereka.
Melangkahkan kaki, mendekati Gin, dengan seringaian k**i. Tak ada yang bisa dilakukan Gin, kecuali,
"Aaaaaaa!!!"
Ia menjerit sekencang mungkin. Berharap seseorang akan mendengarnya.
Well, usaha yang tak sia-sia. Pria bertopi hitam dan pakaian serba hitam, yang muncul entah darimana, dengan sekejap berhasil melumpuhkan ke-enam pria itu. Sementara Gin berlari ke sudut. Memeluk kedua kaki yang menekuk.
Hampir seperempat pagi, ketika itu. Suasana masih gelap di dalam gudang. Tak ada satu lampu pun yang menyala. Sulit untuk Gin melihat wajah pria misterius yang menyelamatkan hidupnya. Meski, jarak keduanya sangat dekat sekarang. Pria itu berlutut dengan satu kaki yang ditekuk. Memegang pundak Gin.
"Kau, baik-baik saja?"
Gin menjawab dengan anggukan. Belum sempat Gin mengatakan terima kasih, pria tersebut telah berlari keluar dari gudang, begitu matahari perlahan terbit.
Suara yang dianggap menawan oleh Gin, menjadi satu-satunya pengingat pada pria misterius tersebut.
Ken berjalan lebih mendekat pada Gin yang tengah berdiri diatas kebimbangan. Memutari tubuh elok Gin. Berhenti tepat di depannya.
"Kau masih tidak percaya?"
Gin yang semula menurunkan pandangan, kini menatap Ken dengan kerutan kesal di dahinya.
"Sayangnya tidak!"
Ken menarik lengan Gin, ketika ia hendak melangkah pergi.
"Aku.. memiliki bukti untuk membuatmu percaya."
Keduanya duduk kembali di ayunan. Berbeda dari beberapa waktu yang lalu, Gin lebih banyak diam. Membuat Ken bertindak kikuk. Berdeham. Dan mengeluarkan ponsel air, saat Gin meliriknya. Apa dia akan menghubungi ayah? Pikirnya. Ken menekan layar ponsel beberapa kali. Sepersekian detik kemudian hologram wajah James terlihat di hadapan Gin. Satu reaksi yang ditunjukkan Gin. Tercengang.
"Ayah.." Satu suku kata itu keluar begitu saja dengan sedih.
"Gin.. bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja gadis tangguhku."
Mendengar suara yang sudah lama ia rindukan, membuat matanya berkaca-kaca. Nyaris tak berkedip. Sedikit terkesiap.
"Ayah sangat berharap.. suatu saat kau akan bertemu dengan Ken dan segera melihat video ini. Maafkan ayah, Gin. Harus pergi secara tiba-tiba. Tapi percayalah, itu kami lakukan bukan karena kami tak lagi menyayangi kalian. Ayah hanya ingin merubah keadaan, yang ternyata menjadi lebih buruk. Ayah merindukanmu Gin. Juga kedua adikmu. Setiap ayah terpejam, bayanganmu yang selalu hadir. Ayah tahu—kau pasti tengah mengalami hidup yang sangat sulit saat ini. Ayah ingin sekali segera kembali di tengah-tengah kalian."
"Apa kau ingat, Gin? Saat kau kecil, kau selalu berkata ingin menikahi pria hebat seperti ayah. Tapi sayangnya, ayah tak sehebat itu. Ayah sangat berharap kau akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik, dibanding ayah yang hanya bisa menelantarkanmu saat ini."
"Gin.. hingga ayah kembali—ayah mohon tetaplah jadi gadis tangguhku. Dan sekarang kau harus selalu berada di sisi Ken. Ken adalah pria yang baik. Dia akan menolongmu. Hanya ini yang mampu ayah katakan. Jangan khawatirkan ayah dan ibu. Kami akan baik-baik saja di sini. Dan akan segera menemukan cara untuk kembali. Be a good girl. Ayah menyayangimu."
Video berhenti. Hologram James masih terlihat. Tak bergerak. Air mata menggelinding pelan di pipi Gin. Menundukkan kepala. Terdengar isakan kali ini. Bahunya mulai berguncang. Semakin kencang, setiap detiknya. Jarinya bergerak perlahan, berusaha menyentuh wajah James yang hanya dapat ditembusnya. Sekali lagi, itu hanya sebuah hologram.
Merindukannya? Sangat. Rindu akan suara barito yang dimiliki James. Rindu akan wangi tubuh James. Rindu ketika dengan lembut James memanggil namanya. Saat berjalan bersama dengan James. Tangan mungil Gin terkunci di tangannya. Perasaan dan rindu itu—hanya mampu dirasakan dan dimengerti oleh Gin. Ayah. Hanya itu yang mampu ia ucapkan dengan bibirnya yang bergetar dan mulai memerah. Bahkan nafasnya terasa sesak. Sementara Ken.. tentu hanya diam dan memperhatikan. Mendesah singkat. Menggeser diri, lebih mendekat pada Gin. Memberikan pelukan yang dirasa hangat oleh Gin.
***
Malam kembali datang. Gin.. masih diam. Melamun. Duduk di sofa. Tak banyak yang dilakukannya. Bersandar. Mendesah panjang. Melamun. Memeluk dua kaki yang ditekuk. Mendesah panjang. Bahkan untuk menyentuh sepiring nasi yang telah menjadi dingin di depannya, terasa berat. Tak ada yang menemaninya saat ini. Alasannya sederhana, Ken ingin Gin memiliki waktu untuk merenung. Seorang diri.
Setelah penjelasan singkat dari Ken, tentang kenapa Gin bersikap seperti itu, mereka hanya dapat memandangnya dari jauh. Bahkan Kim dan Mari sempat meneteskan air mata.
"Apa kita akan membiarkannya seperti itu terus?" Tanya Kim.
"Bahkan sejak tadi siang, ia tak makan dan minum," tambah Lan.
"Kalian tidur saja. Biar aku yang menjaganya," pungkas Ken.
Ken berjalan mendekati Gin, setelah itu. Duduk di sampingnya. Gin tak bereaksi sedikitpun meski ia tahu kehadiran Ken.
"Makanlah. Mereka semua mengkhawatirkanmu."
"Tidak lapar."
"Aku akan mulai melatihmu besok. Jika kau tak makan—aku tak bisa berjanji kau akan segera menguasai itu," jelas Ken. "Bukannya, kau ingin segera kembali? Untuk kedua adikmu?"
Pertanyaan itu membuatnya mulai bergerak. Mengangkat sendok perak yang penuh nasi. Mengunyahnya dengan perlahan. Pandangannya tetap kosong. Nasi yang sangat lembut saja, seakan susah untuk menelannya.
Ken takkan bertanya tentang keadaannya. Ia sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh Gin.
"Aku rasa.. kau tak berhak bersedih, Gin. Ketika aku kecil.. aku terpisah dengan kedua orangtuaku selama beberapa hari. Kemudian aku kembali bertemu dengan mereka— dan sudah mati."
Gin mulai bereaksi. Perlahan menoleh pada Ken.
"Kau masih beruntung, Gin. Bertahun-tahun kau berpisah dengan mereka. Kau mengira mereka sudah mati, yang nyatanya mereka masih hidup. Meski.. kau belum bertemu dengan mereka," kata Ken. "Kau boleh menangis sepuasmu hari ini. Tapi! Kau harus kembali pada kenyataan. Kau harus berjuang demi bertahan hidup untuk orang tuamu! Kau harus membuat orang tuamu bangga. Itu.. kalimat yang diucapkan ayahmu. Ketika aku telah kehilangan kedua orang tuaku."
Air matanya keluar tanpa diperintah. Kali ini, Ken tak menunggu suara isakan terdengar untuk menenangkannya. Tangan kiri Ken, melingkar pada bahu Gin tanpa permisi, yang nampaknya di-izinkan. Tanpa izin lagi, Gin menyandarkan kepala pada bahu Ken.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan pahit bagi Gin.
***
"Selamat pagi semua!"
Sapaan Gin yang penuh semangat, membuat mereka yang duduk di depan meja makan terdiam sesaat. Sedetik kemudian tersenyum. Termasuk Ken. Itu adalah senyuman pertama darinya untuk Gin.
Gin bergabung dengan mereka. Mengambil sepotong roti. Diolesi selai kacang. Kemudian menggigitnya.
Banyak pertanyaan untuk Gin dari masing-masing mereka sebenarnya. Tetapi, mereka memilih untuk menyimpan itu semua. Mungkin akan ada waktunya, pertanyaan itu akan mendapat jawaban. Sementara mereka sibuk dengan persepsi masing-masing, Gin masih sibuk mengunyah. Sesekali minum jus jeruk. Ken menyesap kopi paginya.
Senyum pagi Gin tidak serta merta ia dapatkan hari ini. Setelah melalui penyembuhan jiwa bersama Ken semalam tentunya, yang dirasa berat. Diam. Bercerita. Menangis. Minum. Diam. Bercerita. Menangis. Diam. Menangis. Bagi Ken, menghadapi kelabilan Gin semalam lebih berat dibanding berlatih mengendalikan pelintasan waktu. Bicara tentang itu, Ken memenuhi janjinya pada Gin di hari kemarin. Melatihnya menjadi penjelajah waktu.
Setelah sarapan, keduanya pergi ke halaman depan. Dan setelah Ken menjelaskan dua aturan penting, kini Gin bersiap-siap untuk percobaan pertama.
"Kau masih ingat aturan nomor pertama, Gin?"
Gin mengangguk pasti. "Pertama. Untuk membuka portal, selain dengan jam tangan ini.. kita harus mencari sebuah cahaya. Kecuali, jika siang hari."
"Bagus. Dan kedua?"
"Konsentrasi."
"Okay. Kau siap, nona?"
"Yap."
Percobaan pertama dimulai. Ken memintanya pergi ke Negara China di tahun 2067. Dilakukan oleh Gin. Dan gagal. Kedua, Gin harus pergi ke India di tahun 1998. Berhasil pergi ke India. Tapi, di tahun 2007. Ketiga. Keempat. Kelima, masih terus gagal. Tak menyurutkan semangat keduanya. Terus berlatih hingga petang menjelang.
INDONESIA, 2017
Rey termangu diatas motornya. Hanya itu yang bisa ia lakukan sejak Gin menghilang. Tak tahu apa yang harus dilakukannya. Pun tak dapat melacak keberadaan Gin saat ini. Sebelumnya, tepat dihari Gin menghilang—pada saat ayam berkokok, Rey bergegas keluar dari rumah Gin dan meninggalkan pesan untuk Maria. Jika ia dan Gin akan mendapatkan pekerjaan di luar kota, selama satu minggu. Saat itu, berbohong lebih baik daripada membuat Maria kembali pingsan.
Rey berpikir, Gin akan kembali dalam waktu enam hari, seperti sebelumnya. Dan ternyata salah. Ini adalah hari ke-55 semenjak kejadian itu. Dan yang semakin membuatnya tertekan adalah Maria. Setiap hari, setiap detik, setiap menit, dia selalu menghubungi. Menanyakan kapan Gin akan pulang. Kenapa ponselnya tak dapat dihubungi. Meskipun Rey telah mengatakan jika Gin baik-baik saja dan akan segera pulang, namun sepertinya tak mampu membuat Maria tenang. Dia selalu berkata, jika sesuatu buruk sedang terjadi pada Gin. Sekalipun Maria bukanlah ibu kandung Gin, tapi ikatan batin mereka cukup kuat. Membuat Rey mendesah kesal. Menggaruk kulit kepala yang tidak gatal. Saat itu, ponselnya berdering.
"Rey! Aku sudah menemukan buktinya!"
Kata-kata seorang pria di telepon, berhasil membuat Rey melebarkan mata dan mengendarai motornya dengan cepat. Saking cepatnya ia berkendara, ia hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk tiba di kantor polisi yang berjarak sekitar 30 kilometer dari tempat sebelumnya. Segera mengedarkan pandangan, begitu di didalam.
"Rey! Kemari!" panggil seorang detektif yang tampaknya seumuran dengan Rey. Rambut hitam pendek yang memenuhi wajah lonjongnya.
"Sam! Bagaimana kau menemukannya?"
"Saat aku mengatakan padamu, tidak adanya kamera pengintai di jembatan tersebut—aku pun menghabiskan hariku untuk mencari bukti melalui sosial media."
"Sosial media?"
"Iya. Kau tahu? Banyak anak muda yang sering kali mengambil gambar di tempat tersebut. Dan dugaanku pun tepat. Seorang gadis mengambil gambar temannya, tepat di hari Ginny Mayer di temukan."
"Benarkah? Lalu?"
"Dan seperti yang kau katakan. Seorang pria bersama Gin saat itu. Ia tertangkap kamera, ketika pria tersebut tengah berjalan meninggalkan Gin," jelas Sam. "Ini foto pria tersebut."
Rey segera mengambil selembar foto tersebut dan menajamkan matanya untuk mengamati pria itu dalam-dalam. "Pria ini.. Sepertinya warga asing."
"Benar bukan?! Aku mengira mataku salah mendeteksi. Sepertinya dia pendatang."
"Sam! Aku membutuhkan bantuanmu sekali lagi. Kau dapat mencari informasi tentang data warga asing yang menetap di Indonesia?"
"Itu sedikit sulit Rey. Tapi, akan aku lakukan."
"Terima kasih, Sam. Nanti kita bertemu lagi."
Rey segera berjalan keluar dari tempat tersebut. Begitu tiba di depan gedung, ia kembali termenung. Menatap udara kosong di depannya. Aku berharap ia baik-baik saja, itulah yang terus ia ucapkan dalam hatinya. Hingga suara ponsel memecah lamunannya. Segera mendesah lirih, saat melihat layar ponsel.
"Rey.. benarkah Gin baik-baik saja?"
"Bibi.. kau tenang saja. Dia aman bersamaku."
"Tapi—dia tidak seperti biasanya. Dia selalu menghubungi bibi untuk menanyakan kabar Lace dan Lu. Mereka berdua, juga mulai bertanya tentang kakaknya. Bahkan semalam mereka menangis, merasa cemas jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada kakaknya."
"Bibi-"
"Rey! Apa kau ingat kejadian bulan lalu? ketika Gin tiba-tiba menghilang dan ditemukan di jembatan enam hari kemudian?"
"Aku tahu. Tapi kali ini-"
"Apa ia menghilang seperti kakakku, Ayah Gin?"
Rey sejenak terdiam dan sedikit terkejut mendengarnya.
"Apa—yang bibi maksud?"
"Ayah Gin—adalah seorang penjelajah waktu."