18. Pergi

1008 Kata

Mbak kenapa?" tanya Didi terus menerus sepanjang jalan. Setelah keluar dari rumah Mas Graha tadi, aku mati-matian menahan agar tidak menangis. Mungkin wajahku yang terlihat aneh membuat Didi bingung. Entah bagaimana caranya aku harus menahan tangisku sampai kembali ke rumah karena rasanya dadaku terasa semakin sesak karenanya. "Nggak kenapa-kenapa," jawabku singkat. Didi terlihat tidak puas dengan jawabanku. Sepertinya dia heran kenapa aku menjawab pendek-pendek untuk setiap pertanyaannya. Padahal sebelumnya aku begitu bersemangat ingin ke rumah Mas Graha. Kali ini tidak lagi, aku malah ingin meleyapkan sosok Mas Graha dari pikiranku. "Demamnya kambuh lagi ya?" tebaknya sok tahu. Aku mengganguk agar Didi tidak berisik lagi. Aku ingin menangis, tapi tidak mau Didi tahu dan bertanya-tany

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN