Arga meninggalkan rumah mewah itu dengan hati tidak rela, bertahun-tahun ia berpisah dengan keluarganya. Namun, saat bertemu kembali mendengar adiknya dalam masalah ia merasa kesal.
Arga meraih ponselnya, lalu menelpon seseorang. "Cari informasi selengkap-lengkapnya tentang orang bernama Daren Hadi Prasetya."
Setelah itu ia kembali melajukan mobilnya menuju hotel yang ia tinggali.
Sementara di sisi lain.
Arnie baru saja selesai mandi, saat ia hendak memakai baju tiba-tiba pintu kamar di buka dengan kasar hingga menimbulkan suara kencang.
Brak ...
"Astaghfirullah. Mas Daren, kamu sudah pulang?" tanya Arnie terkejut melihat Daren diujung pintu.
Tanpa menjawab pertanyaan Arnie, Daren melempar tas kerjanya keatas ranjang lalu berjalan kearah Arnie dengan tatapan mata yang tajam.
"Dari mana kamu hari ini?!" tanya Daren dengan nada ketus.
"Dia tahu aku keluar rumah? Apa mbok Inah yang bilang? Tapi gak mungkin, selama ini kalau aku diam-diam ke rumah ibu, mbok Inah gak pernah bilang ke mas Daren," gumam Arnie dalam hati.
Melihat Arnie diam tak menjawab pertanyaan nya, membuat Daren kesal. Lelaki itu mencengkram dagu Arnie, menariknya dengan kasar hingga Arnie mendongak dan menatap Daren yang lebih tinggi darinya.
"Jawab, dari mana saja kamu hari ini? Dengan siapa kamu pergi?" tanya Daren dengan kasar.
"Aku ... Aku tadi cuma ke pasar, diantar ojek online," jawab Arnie dengan terbata-bata karena berbohong.
"Mulai berani berbohong ya! Kamu tahu apa konsekuensi nya jika membohongi aku?!" ucap Daren dengan tatapan tajam.
Dulu jika Arnie di perlakukan seperti itu, ia akan ketakutan dan minta maaf. Berusaha agar Daren tidak marah padanya, meskipun ia tidak melakukan kesalahan ia akan tetap minta maaf dan melakukan apa yang Daren inginkan.
Sekarang ia malah dengan berani menatap Daren dengan tatapan yang tak kalah tajam, bahkan ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Daren di dagunya.
"Konsekuensi, lakukan saja apa yang kamu ingin lakukan padaku, Mas. Aku jujur atau berbohong, kamu tidak akan percaya padaku. Jadi aku tidak akan memberi penjelasan apapun!" ucap Arnie seraya menghempaskan tangan Daren.
"Kamu! Sudah berani kamu melawanku?!" teriak Daren.
Arnie menutup telinganya, lalu membawa baju yang sudah ia siapkan tadi ke kamar mandi, ia menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Daren yang mematung terkejut dengan sikap Arnie.
"Arnie, keluar kamu. Aku belum selesai bicara!" teriak Daren seraya menggedor pintu kamar mandi.
"Tunggu, aku pakai baju dulu. Baru bicara lagi, jangan berisik!" balas Arnie.
Daren semakin terkejut, dua tahun mereka menikah baru kali ini ia mendengar suara Arnie terdengar lantang. Biasanya Arnie selalu berbicara dengan nada lemah lembut padanya, tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Arnie keluar dari kamar mandi, melewati Daren begitu saja, berjalan menuju meja rias dan langsung menyisir rambutnya.
Daren mendengus kesal, ia berjalan cepat kearah Arnie lalu mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Jelaskan padaku, dari mana kamu hari ini? Siapa yang mengantarmu pulang?!" ucap Daren seraya menunjukkan foto di ponselnya.
Arnie mengerutkan kening, lalu menatap foto di ponsel suaminya itu. Ternyata itu foto Arnie yang baru turun dari mobil Arga, ia terlihat sedikit menunduk karena sedang berbicara dan berpamitan dengan Arga yang berada di dalam mobil.
"Kamu dapat foto ini dari mana, Mas?" tanya Arnie santai.
"Tidak penting dari mana aku dapat, yang penting kamu jelaskan kemana dan dengan siapa kamu pergi hari ini?!" ucap Daren kesal.
Arnie terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin menjelaskan jika lelaki yang mengantarnya adalah kakak kandungnya, sebab ia ingin merahasiakan hal itu terlebih dahulu. Namun, diamnya Arnie membuat Daren semakin kesal dan kehilangan kesabaran. Ia menarik tangan Arnie dengan kasar lalu mendorongnya hingga jatuh diatas ranjang.
Arnie diam tak melawan, ia hanya menatap Daren dengan tajam. Menunggu apa yang akan dilakukan dan ditanyakan oleh lelaki itu selanjutnya.
"Mobil itu adalah mobil mewah edisi terbatas, lelaki kaya mana yang sedang kamu goda, Arnie?!" teriak Daren.
Arnie tersenyum tipis, tetapi hatinya begitu sakit mendengar pernyataan Daren.
"Jadi seperti itu aku di pikiran kamu, Mas? Kamu berpikir aku wanita yang berani menggoda lelaki di saat statusku masih menjadi istri orang?!" tanya Arnie dengan sinis.
"Jika kamu tidak menggodanya, mana mungkin kamu bisa turun dari mobil mewah itu?! Ingat Kamu masih istriku, dirimu dan nyawamu milikku. Jangan coba-coba jadi w************n yang menggoda lelaki lain diluar sana, Arnie." ucap Daren dengan nada tinggi.
Arnie tersenyum, tetapi air matanya mengalir di pipinya. "Tujuh tahun aku mencintaimu diam-diam, dua tahun aku menikah denganmu. Pernah kah kamu lihat aku dekat dengan lelaki lain?" tanya Arnie dengan suara bergetar.
Daren terdiam, sikap Arnie hari ini benar-benar membuat ia terkejut. Arnie melanjutkan ucapannya dan membuat Daren semakin terkejut.
"Dalam dua tahun pernikahan ini, aku selalu berusaha jadi istri yang baik untuk kamu, Mas. Namun, kamu, mama, bahkan kak Maya dan Clarisa hanya memperlakukan aku seperti seorang pembantu. Aku diam saat kalian mencaci maki, aku diam saat kalian menindas. Kamu bahkan memperlakukan kak Maya dengan sangat baik dan lembut, kamu pikir aku tidak cemburu?! Sekarang baru melihat foto seperti itu saja kamu sudah kebakaran jenggot!" ucap Arnie.
Ia tersenyum puas setelah mengatakan hal itu, ia bangkit dari posisinya. Saat hendak melangkah, Daren kembali menarik tangannya dengan kasar.
"Aku baik pada kak Maya karena dia istri kakakku, ibu dari keponakanku. Kakakku sudah meninggal, jadi tugasku menjaga mereka!" ucap Daren.
"Oh ya mungkin kamu berpikir seperti itu, tapi aku rasa kak Maya berpikir hal yang berbeda. Dia mengharapkan hal yang lebih dari itu padamu, Mas."
Daren mengerutkan keningnya, lalu menarik tangan Arnie kembali hingga tubuh wanita itu kini menempel padanya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Hari ini kau sangat berani menjawab semua ucapanku. Apa lelaki itu yang mengajarimu? Katakan siapa dia? Apa hubungannya dengan kamu?!" tanya Daren dengan emosi sudah di ubun-ubun.
"Mas, bukankah kamu menikahi aku karena terpaksa, bukankah kamu tidak pernah mencintai aku. Kenapa kamu penasaran banget sama lelaki itu? Apa kamu cemburu, apa kamu mulai jatuh cinta sama aku?!" tanya Arnie sambil tersenyum menggoda.
Daren terkejut, ia lalu melepaskan tangan Arnie dan mundur selangkah. Pertanyaan Arnie menusuk hatinya, ia sedang rapat di perusahaan saat mendapat kiriman foto itu. Dengan emosi ia mencoba menghubungi nomor Arnie, tetapi berkali-kali Arnie tak mengangkat panggilan itu, Daren tak tahu jika Arnie sedang mandi. Tanpa banyak berpikir, Daren meninggalkan ruang rapat dan pulang ke rumah hanya untuk menanyakan tentang foto itu kepada Arnie.
"Gila, aku kenapa sebenarnya? Bisa-bisanya aku meninggalkan rapat penting hanya karena foto ini. Tidak, tidak mungkin aku cemburu, tidak mungkin aku jatuh cinta padanya," gumam Daren dalam hati.
"Mas, ayo kita cerai. Kalau kita cerai kamu bisa menikah dengan mbak Maya, kalian sangat cocok. Aku juga bisa bebas–"
"Bebas apa? Bebas berhubungan dengan lelaki manapun?! Jangan harap itu terjadi, aku tak akan pernah menceraikan kamu sampai kamu mati di tanganku!" ucap Daren seraya mencekik leher Arnie.