"Tidak, Ayah. Aku tidak bisa pulang ke rumah ayah dan ibu, aku harus pulang ke rumah mas Daren," ucap Arnie.
"Selama 2 tahun ayah selalu memperhatikan mu dari kejauhan, ayah tahu bagaimana keluarga mereka memperlakukan mu. Walaupun keluarga kita orang miskin, tidak seharusnya mereka memperlakukan kamu seperti itu, ayah sudah tidak tahan!" ucap Supriadi.
Mata Arnie berkaca-kaca, selama ini ia selalu menyembunyikan kesedihan di depan orang tuanya. Selalu menutupi kejahatan suami, mertua, dan kakak iparnya. Namun, ternyata kedua orang tuanya sudah tahu apa yang selama ini Arnie alami dalam rumah mewah itu.
"Apa yang di katakan ayah benar, kami sudah tidak tahan melihat kamu diperlakukan seperti itu. Bahkan saat kamu sakit pun mereka tidak peduli, lebih baik kamu pulang ke rumah ayah dan ibu!" ucap Aminah seraya menggenggam tangan Arnie.
Arnie menggelengkan kepala pelan, "Jadi ayah dan ibu sudah tahu kondisi rumah tanggaku yang sesungguhnya?"
"Iya, Nak. Kami sudah kehilangan satu anak, hanya kamu yang kami punya saat ini. Kami tidak ingin kamu di sakiti terus menerus, lebih baik kembali ke rumah kami. Walaupun tidak mewah seperti rumah suamimu, tapi kami bisa memberikan kasih sayang," ucap Aminah.
Dada Arnie terasa sesak mendengar ucapan sang ibu, Arnie memiliki seorang kakak laki-laki, tetapi hilang saat masih kecil. Sejak saat itu ibu dan ayahnya selalu menjaga dan menyayangi Arnie layaknya sebuah permata yang sangat berharga. Namun, setelah masuk ke keluarga Daren, Arnie malah di perlakukan seperti sampah yang tak berharga.
"Sadar lah, Nak. Sebesar apapun usahamu, Daren tidak pernah mencintai kamu, sudah cukup kamu bersabar menghadapinya. Sudah waktunya kamu lepas darinya, kamu berhak bahagia!" ucap Aminah.
"Ibu, Ayah. Aku tahu tidak ada yang menyayangiku lebih dari Ibu dan Ayah. Aku juga tahu mas Daren tidak akan pernah mencintaiku, tetapi untuk saat ini aku tidak bisa meninggalkan rumah mas Daren. Ada hal yang harus aku selesaikan," ucap Arnie dengan mantap.
"Hal apa? Kamu mau mengurus cerai dulu dengan Daren, baru pulang ke rumah kami?" tanya Aminah.
Arnie terdiam, ia mengelus perutnya yang masih rata. Tadi pagi mungkin cintanya terhadap Daren masih besar, ia bahkan berharap dengan kehadiran buah hati diantara mereka bisa membuat Daren luluh dan mencintainya. Namun, setelah ia pingsan dan mengetahui fakta jika Daren menikahinya hanya untuk balas dendam, perasaan Arnie hancur berantakan.
"Memang sudah tak ada yang bisa ku harapkan lagi dari pernikahan ini, mas Daren tak akan pernah mencintaiku. Namun, kalaupun aku harus bercerai dan berpisah, aku harus membersihkan namaku terlebih dahulu dari tuduhan tidak berdasar itu!" gumam Arnie dalam hati.
"Arnie, kamu bengong lagi. Sejak menikah dengan Daren, kamu kehilangan senyum dan keceriaan mu. Cerai itu halal meski di benci Allah, tapi seorang istri diperbolehkan mengajukan cerai jika suaminya dzolim!" ucap Supriadi.
Arnie menghela nafas, lalu tersenyum seraya menatap kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu. Aku paham, percayalah apa yang Aku lakukan sekarang demi kebaikan masa depanku," ucap Arnie menyakinkan kedua orang tuanya.
Aminah dan Supriadi hanya bisa menghela nafas, jika sudah seperti ini mereka tak bisa memaksa Arnie. Putri mereka bukan lagi anak kecil yang bisa di gendong, lalu di kurung di dalam rumah.
Mereka tahu sebesar apa rasa suka dan cinta Arnie terhadap Daren, sejak Arnie duduk di bangku SMA hingga saat ini, terhitung sudah 9 tahun Arnie mencintai Daren, tak mudah bagi kedua orang tuanya untuk membuat Arnie melupakan perasaanya terhadap Daren.
Waktu terus berlalu. Siang berganti sore, sore berganti malam, dan malam berganti pagi. Aminah dan Supriadi menemani Arnie, tapi suami dan mertuanya sama sekali tak datang hanya untuk sekedar melihat keadaan Arnie.
Dokter datang dan memeriksa keadaan Arnie, mengatakan jika kondisi Arnie sudah lebih baik dan diizinkan untuk pulang.
"Ibu sudah boleh pulang, tapi harus tetap banyak istirahat. Jangan melakukan aktivitas yang melelahkan untuk menjaga kandungan agar tetap stabil," ucap dokter.
Arnie menganggukan kepala, dalam pikirannya langsung terbayang pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Bahkan tugasnya lebih banyak dari pada tugas asisten rumah tangga, selama ini Arnie melakukan semua itu dengan ikhlas sebagai bentuk pengabdiannya pada suami dan mertua. Namun, sekarang setelah tahu mereka melakukan semua itu untuk balas dendam, Arnie bertekad tidak akan melakukan semua itu lagi.
"Administrasi sudah ayah bayar! Kamu yakin mau pulang ke rumah Daren, tidak ke rumah ayah dan ibu?" tanya Supriadi.
"Iya, Ayah. Walau bagaimanapun aku masih istri mas Daren, jadi aku harus pulang ke rumah itu terlebih dahulu," ucap Arnie.
"Ya sudah, kalau gitu ayah antar kamu pulang," ucap Supriadi.
"Terima kasih, Ayah."
Supriadi mengangguk, Arnie pun dibayar pulang oleh kedua orang tuanya menggunakan mobil tua, satu-satunya harta berharga dan penuh kenangan yang mereka punya.
Setelah tiba di depan rumah mewah milik Daren, Supriadi menghentikan mobilnya, tapi tak berniat untuk keluar.
"Ayah hanya bisa mengantarkan sampai sini," ucap Supriadi.
Kedua orang tua Arnie tak ingin menginjakkan kaki di rumah mewah itu, setiap kali mereka datang untuk menjenguk Arnie, tidak pernah di hargai bahkan dipandang seperti pengemis oleh penghuni rumah.
"Terima kasih Ayah, Ibu. Kalau gitu Arnie masuk dulu ya!" wanita cantik itu mencium punggung tangan kedua orang tuanya, lalu turun dari mobil dengan langkah lemah.
Aminah membuka kaca mobil, menatap sang putri yang berjalan tertatih menuju pintu rumah suaminya. Hatinya tak rela melepas anaknya masuk ke rumah itu, tapi ia juga tidak bisa memaksa Arnie untuk pulang dengannya.
Langkah Arnie akhirnya tiba di depan pintu rumah mewah yang sudah 2 tahun itu ia tempati, begitu membuka pintu ia menatap sang mertua yang sedang bercengkrama dengan cucu kesayangan dan kakak iparnya di ruang tamu.
Arnie berjalan perlahan, hingga Murni dan Maya menyadari kepulangannya.
"Pulang juga akhirnya, Kamu! Enak ya seharian santai-santai di rumah sakit!" ucap Murni dengan nada ketus.
"Arnie, bagaimana keadaan bayi dalam kandungan kamu?" tanya Maya dengan nada lembut yang terdengar di buat-buat.
Belum sempat Arnie menjawab pertanyaan kakak iparnya itu, sang mertua sudah mengatakan hal yang sangat menyakitkan. "Maya, ngapain sih kamu pake nanya seperti itu! Jangan terlalu baik sama dia, nanti ngelunjak!"
"Aku gak bermaksud gitu, Mah. Aku tanya seperti itu hanya mengkhawatirkan bayi dalam kandungan Arnie, walau bagaimanapun itu anak Daren, cucu mama juga," ucap Maya sambil tersenyum dengan wajah penuh kepura-puraan.
"Mama gak akan akui anak yang lahir dari rahimnya sebagai cucu mama! Lagipula bayi itu belum tentu anak Daren, siapa tahu anak haram dari lelaki lain!" ucap Murni dengan ketus.
Tangan Arnie terkepal, matanya memerah menatap sang mertua, kata-kata itu meluncur begitu saja sangat menyakiti perasaannya. "Mama boleh hina aku sesuka hati Mama, tapi anak dalam kandungan ku ini tidak berdosa. Dia bukan anak haram, aku tak pernah melakukan hubungan selain dengan mas Daren, anak ini anak mas Daren!"
Murni langsung berdiri dari duduknya dan menatap tajam Arnie, ia tak menyangka menantunya itu berani berbicara dengan nada tinggi padanya.
"Oh sekarang kamu berani menjawab ucapanku ya! Kamu pikir kamu punya hak untuk berbicara seperti itu padaku!" ucap Murni lalu berjalan kearah Arnie dengan amarah, ia melayangkan tangannya hendak menampar Arnie. Namun, tiba-tiba hal yang diluar perkiraan terjadi.