"Kau...!" tunjuk Alana, "Aku punya sebuah rahasia," sambungnya.
"Rahasia apa?" tanya Kaisar.
"Aku ini bukan istrimu, Permaisuri sudah mati begitu pun juga aku di duniaku tapi jiwaku terjebak di tubuh Permaisuri!" ucap Alana setengah sadar karena efek mabuk.
"Jika khayalanmu sudah selesai, aku akan pergi tidur. Terserah kau mau tidur di mana asal jangan di kasurku," ucap Kaisar lalu meninggalkan Alana yang masih duduk di kursi.
Melihat Kaisar meninggalkannya, Alana berdiri lalu berlari ke arah tempat tidur dan naik lalu membaringkan tubuhnya. "Kamu tahu ini adalah pengalaman pertamaku, jika kamu ingin melakukannya tolong lakukan dengan lembut."
"Turun!" ucap Kaisar.
"Kenapa kepalaku sangat pusing. Aku juga merasa mual," gumam Alana seraya memukul-mukul kepalanya.
Belum sempat Alana turun dia sudah memuntahkan isi perutnya, Kaisar Zhao sangat terkejut saat melihat istrinya muntah di atas kasurnya.
"Kasim Li!" teriak Kaisar Zhao.
Tak lama Kasim Li dan Dayang Choi masuk, mereka begitu terkejut saat melihat Permaisuri muntah di atas tempat tidur.
"Ganti semuanya, dan bawa kembali Permaisuri ke Istana Merak!" perintah Kaisar Zhao lalu meninggalkan kamarnya.
Dayang Choi pun membawa kembali Alana ke Istana Merak dalam keadaan tertidur pulas, sedangkan sang Kaisar memilih tidur di ruang bacanya.
***
Malam berganti pagi, Alana terbangun dan ia begitu bingung kenapa dia ada di dalam kamar tempat pertama kali ia sadar.
"Bukannya semalam aku tidur di Istana Surga? Kenapa sekarang aku ada di Istana Merak?" gumamnya penuh kebingungan.
Alana pun memanggil Dayang Choi untuk menjelaskan apa yang terjadi semalam hingga dia terbangun di Istana Merak. Mendengar cerita Dayang pribadinya Alana menjadi panik lalu bergegas keluar kamar.
"Yang Mulia!" panggil Sayang Choi seraya berlari mengejar Alana yang sudah lebih dulu pergi.
Alana yang hanya memakai baju tidur berlari ke Istana Surga untuk menemui Kaisar Zhao tapi Kasim Li mengatakan jika beliau sudah pergi ke aula pertemuan.
Semua orang yang melihat Alana saling berbisik, Alana yang sudah tidak memperdulikan bisikan para pelayan berlari mencari di mana aula pertemuan.
"Huh! Aku harus segera mencarinya, aku akan merayunya hingga luluh demi menyelamatkan hidupku." Alana berlari kecil menyusuri jalan berbatuan, sampai akhirnya ia sampai di depan aula pertemuan.
"Buka!" perintah Alana.
"Maaf Permaisuri Baginda sedang ada pertemuan penting dengan para Menteri," tolak Ksatria pribadi Kaisar.
Dayang Choi dan tiga pelayan lainnya terengah-engah saat sampai di depan aula, "Yang Mulia, anda tidak boleh keluar tanpa memakai pakaian!" ucap Dayang Choi, "Anda harus kembali ke Istana Merak," sambungnya.
Tanpa berucap Alana pergi bersama Dayang Choi di perjalanan Alana menggerutu sampai ia bertemu dengan Putri Wen.
"Salam Yang Mulia," hormat Putri Wen.
"Minggir, jangan menghalangi jalanku!"
"Apa Permaisuri sekarang sudah tidak ada harga dirinya, keluar tanpa memakai pakaian!" ejek Putri Wen.
"Dayang Choi katakan padaku, apa kedudukan Putri Wen lebih tinggi dari pada kedudukanku?" tanya Alana.
"Putri Wen lebih rendah dari Yang Mulia karena beliau belum resmi menjadi selir Baginda," jawab Dayang Choi.
Mendengar ucapan Dayang Choi, Putri Wen sangat malu. Alana pun pergi meninggalkan Putri Wen di ikuti Dayang Choi dan para pelayan.
***
Dayang Choi masuk ke kamar untuk memberi tahu Permaisuri jika Perdana Menteri Qi ingin bertemu, mendengar jika Ayah dari Permaisuri datang Alana menyuruhnya masuk.
"Salam Yang Mulia," sapanya, "Saya mendengar Yang Mulia berlari dengan memakai pakaian tidur," ucap Tuan Qi.
"Apa itu yang harus di ucapkan pertama oleh seorang Ayah untuk putrinya yang baru kemarin sadar dari kematian?" tanya Alana.
"Maafkan saya, Yang Mulia."
Hati Alana terasa sakit, "Apa ini perasaan Permaisuri? Apa selama dia hidup keluarganya tidak memperhatikannya?" batin Alana.
"Ayah!" panggil Permaisuri.
"Apa Permaisuri yang mengontrol tubuh ini sekarang?" batin Alana.
"Kenapa Ayah memasukkanku ke dalam Istana yang menakutkan ini. Aku tidak pernah memimpikan menjadi Permaisuri atau pun Ratu, aku hanya ingin tinggal bersama Ayah di rumah," ucap Permaisuri sembari menangis.
"Maafkan Ayah. Ibu Suri yang menginginkanmu menjadi Putri Mahkota saat itu, maafkan Ayah!"
Kaisar Zhao yang dari tadi ada di luar kamar Permaisuri mendengar semuanya, ia mengepalkan kedua tangannya lalu menyuruh penjaga membuka pintu kamar.
"Yang Mulia!" ucap Tuan Qi ketika melihat Kaisar Zhao masuk ke kamar.
"Apa aku mengganggu pertemuan Ayah mertua dan Permaisuri?" tanya Kaisar Zhao.
"Tidak Yang Mulia. Kami hanya berbincang-bincang karena sudah lama tidak bertemu," jawab Tuan Qi seraya menundukkan kepalanya.
"Aku akan menyuruh Dayang Choi untuk menyiapkan gelas," ujar Alana lalu memanggil Dayang Choi.
Mereka bertiga pun duduk, Kaisar Zhao menatap datar Alana. "Apa sekarang Permaisuri sudah tidak tahu etika yang selama ini di pelajari ketika menjadi Putri Mahkota?" tanya Kaisar yang masih memasang ekspresi datar.
"Maafkan saya Yang Mulia," jawab Alana.
"Aku tidak ingin kesalahan yang terjadi tadi pagi terulang kembali dan membuat semua orang membicarakan keluarga kerajaan!"
"Baik, Baginda."
Alana pun menuangkan teh ke cangkir dan mereka bertiga pun meminum teh bersama di Istana Merak.
Setelah kepergian Ayah dan suaminya, Alana mengambil kertas bersama kuas. Dia mulai mencatat langkah apa yang harus ia lakukan agar bisa bertahan hidup di Istana.
"Hoam!" Alana merasa mengantuk saat menulis langkah bertahan hidup dan ingatan tentang novel yang dia baca ketika kecelakaan yang membuatnya bereinkarnasi di tubuh Permaisuri.
Rasa kantuk yang amat sangat membuat Alana tertidur di atas meja, ia pun bermimpi berada di ladang bunga. Di tengah banyaknya bunga terdapat pohon besar dan seorang wanita tengah membelakangi Alana.
Seketika wanita itu berbalik saat menyadari jika Alana berada tidak jauh darinya, melihat wanita itu Alana terkejut. "Pe-permaisuri!" Batinnya.
"Terima kasih. Aku menitipkan tubuhku padamu, aku berharap kamu bisa mendapatkan cinta Yang Mulia dan memberikannya Putra Mahkota!" ucap Permaisuri.
Alana hanya diam mulutnya tidak bisa terbuka dan suaranya seakan tertahan di tenggorokannya.
"Aku sudah menyampaikan apa yang ingin kukatakan pada ayahku, jadi aku bisa terlahir kembali." Permaisuri tersenyum manis ke arah Alana.
Sosok Permaisuri perlahan hilang bersamaan dengan ladang bunga kini tinggal tanah tandus yang penuh darah dan mayat.
"Mimpi apa ini?" ucap Alana. Ia terkejut karena suaranya sudah bisa keluar.
"Lihatlah Permaisuri Qi, Kerajaan Zhao rata dengan darah!" ucap pria asing dengan tertawa. Pria itu membawa pedang panjang dan kepala Kaisar Zhao di tangannya membuat Alana ketakutan.
"Yang Mulia!" panggil Alana dalam tidurnya sembari menangis.
Kaisar yang berada di dekat Alana terkejut ketika melihat Alana menangis dalam tidurnya.