Bab 3 Siapa Dia

1274 Kata
Sesampainya dalam kelas, dengan kesal Shakira menghempaskan tubuhnya. Rachel terheran-heran menatap sahabatnya yang terlihat kacau dan berantakan. "Pagi Shak, ada apa kamu? Tidak seperti biasanya kamu terlambat?'' "Aku sedang kesal! Dan... Ah... Ini kenapa harus terbawa?'' Shakira tersadar bahwa ia masih membawa saputangan Pemuda tampan itu di tangannya saat ia akan mendekap wajahnya. Buru-buru ia memasukkan sapu tangan itu ke dalam tas selempangnya dan mengambil botol minuman dari dalam tasnya. Ia minum dengan sangat puasnya, hal itu membuat Rachel cekikikan melihat Shakira terengah setelah hampir menghabiskan setengah botol air minumnya. "Jadi?'' "Ya, jadi hari ini aku dua kali berkelahi dengan preman! Yang satu karena dia menjambret tasku dan satu lagi karena menolong bocah dipalak tapi malah dia seolah-olah 'tidak apa-apa kok, duit kecil ini! Benar-benar menyebalkan! Sumpah! Dan siapa pula dia?'' Shakira bersandar dengan kasar sambil menutup botol minumnya lalu memasukkannya kembali ke dalam tas. Rachel terbelalak mendengar cerita Shakira yang nyerocos tanpa berhenti bicara dalam satu tarikan napas. "Tapi kamu tak apa-apa, kan? Apa kamu terluka?'' "Tidak! Aku Kesal!'' "Ya, ya, ya... Itu tandanya kamu tidak kenapa-kenapa karena kamu masih bisa mengomel seperti itu ....'' Shakira terkekeh mendengar ucapan Rachel yang sangat hafal akan tabiatnya yang selalu bersemangat dalam setiap ucapan dan perbuatan. Sangat bertolak belakang dengan dirinya yang lebih tertutup, kalem dan lebih feminin dibanding Shakira. Tak berapa lama seorang Dosen laki-laki berpakaian sangat rapi dan elegan memasuki ruang kelas Shakira. Pelajaran pagi berlangsung seperti biasanya, tegang dan serius karena pembawaan Pak Albert yang berwibawa dan tegas. Hal itu membuat Shakira bisa lupa akan peristiwa besar yang telah ia lalui pagi itu. Tak terasa waktu berlalu, bel istirahat pun berbunyi, Shakira bergegas mengeluarkan kotak bekal makanannya dari dalam tas. Ia sangat kelaparan karena insiden pagi itu. Dengan antusias gadis berkucir kuda itu membuka kotak bekal makan siangnya yang berisi nasi dan telur gulung serta sop brokoli bikinan Ibunya, tak lupa sambal yang sangat nikmat. "Wah... Enak sekali!'' Rachel melihat dengan antusias menu makanan Shakira. Gadis itu terkekeh dengan bangga seolah menunjukkan 'Mamaku gitu loh!' "Ambil saja kalau mau, Ibuku itu masakannya selalu the best!'' jawab Shakira mendekatkan tempat sayur sop kepada Rachel yang berbekal nasi dan berlauk ayam teriyaki. Rachel mengernyit ingin menolak karena ia tak menyukai sayuran jenis apa pun. "Aaaaaakkk!'' Shakira memaksa menyuapi Rachel, mau tak mau Rachel melahap suapan sayur sop brokoli itu dengan wajah getir, namun wajahnya berubah senang beberapa saat kemudian. "Enak, kan? Apa kubilang?'' sahut Shakira tersenyum sementara Rachel mengangguk karena sibuk mengunyah. "Wah kelihatannya enak, aku juga mau!'' Belum sempat kedua gadis itu menoleh dan menjawab sumber suara, sebuah tangan yang bertakhtakan jam tangan mewah melintasi wajah Shakira dan dengan seenaknya mencomot satu potong telur gulung milik gadis itu. "Hei!'' bentak Shakira menoleh kepada si pelaku yang ternyata Pemuda tampan yang ia temui pagi itu, kini sedang mengunyah telurnya dengan nikmat. Lagi-lagi belum sempat Shakira melanjutkan omelannya, tiba-tiba beberapa perempuan histeris melihat ke arah mereka. Shakira mengernyit bingung. "Aaagkh... Axel!'' "Tuan muda Axel...!'' "Aaaakkhgg... Kak Axel! Kak Axeeeel!'' "Kak Axel ada di sini?'' Shakira terbelalak kaget saat melihat kericuhan yang terjadi tiba-tiba. Para mahasiswi dari kalangan anak-anak tenar dari berbagai jurusan semua berkerumun di sekeliling Axel. Layaknya pangeran dengan dayang-dayangnya, Axel berdiri dengan gaya yang angkuh nan menawan. Semua mata tertuju pada mereka. Bahkan beberapa mahasiswa ikut berkerumun tak jauh dari tempat itu. "Kau mau jadi koki di rumahku? Aku sedang membutuhkan koki di rumah. Masakanmu enak!'' "Siapa yang butuh...'' "Saya saja kak! Saya kak!'' "Saya kak!'' "Sayaaaa! Sayaaaa...!'' Bantahan Shakira tertelan oleh suara-suara yang saling bersahutan saling memperebutkan posisi yang ditawarkan Axel padanya. Gerakan tangan Axel meredam keributan itu. "Oke, oke. Kalau begitu coba kalian buktikan kepadaku sekarang. Aku ada di kelas sebelah,'' ucap Axel dengan mata yang menatap Shakira dalam-dalam sebelum ia meninggalkan tempat itu. Shakira membalas tatapan Axel dengan mulut mencibir. "Huh? Apa-apaan sih? Siapa dia, orang sampai begitu? Cih... Bocah culun seperti dia ....'' omel Shakira seenaknya sambil beralih kepada Rachel yang ternyata terpaku menatap sosok Axel yang menjauh dengan wajah merona. "Heh! Rachel! Kamu juga kenapa malah ikut-ikutan begitu?'' "Em... Tidak ....'' Rachel menutup wajahnya karena malu. Shakira makin curiga akan tingkah sahabatnya itu. Namun dia mengabaikannya dan kembali duduk lalu melahap bekal makan siangnya. "Memang kamu tak tahu? Dia itu Tuan Muda Axel dari keluarga Othman! Othman itu!'' "Oth...man?'' "Ih... Othman pemilik Living World Group itu!'' "Hah?'' "Iya, Shaki! Keluarga Othman pemilik saham terbesar di 2 stasiun televisi dan beberapa Real Estate itu!'' Rachel sangat antusias. "Aku dengar kabarnya keluarga Othman punya pulau pribadi dan grup itu penyokong terbesar pemerintahan!'' Rachel berbisik kepada Shakira yang hanya menjawab acuh tak acuh. "Dan kudengar lagi keluarga Othman sedang mencari calon menantu untuk kedua Pangeran Othman lho!'' Rachel makin merona. Shakira terpaku diam dan berhenti mengunyah, dia terus mendengarkan penuturan Rachel tanpa berkomentar, apalagi melihat wajah Rachel yang sangat antusias dan berbinar-binar saat menceritakan tentang pemuda itu. "Ah dia itu seperti Pangeran dalam dongeng ya? Sempurna! Dan aku tak menyangka akan bertemu dia sedekat ini!'' lanjut Rachel dengan wajah terpesona. "Memang dia mahasiswa Kampus ini ya? Kenapa aku tak pernah melihatnya? Sejak kapan dia di sini?'' Akhirnya Shakira membuka suara dengan enggan. "Itu, aku dengar sih karena dia ingin hidup mandiri, makanya dia pindah kesini, dia baru hari ini kembali ke Indonesia.'' Rachel masih tetap dengan wajah yang sama. Seolah menunjukkan dia sangat bangga mengetahui seluk beluk tentang Axel. "Oh.... Sudah ah, buruan makan. Sebentar lagi jam istirahatnya selesai.'' Shakira makan dengan lahap tanpa bersuara, karena ia benar-benar lapar serta mengacuhkan semua tentang Axel. Mendengar ucapan Shakira, Rachel buru-buru melahap bekal makan siangnya dengan wajah antusias lebih dari sebelumnya. *** "Shakira...!'' Shakira menghentikan langkahnya saat keluar dari perpustakaan. Ia menoleh ke arah sumber suara. Spontan wajahnya langsung mengernyit saat mendapati Axel sedang berjalan cepat ke arahnya. Shakira terpaku diam. "Aku ingin bicara.'' "Ya sudah bicara saja.'' "Tidak di sini juga.'' "Lalu?'' "Berdua saja. Harus!'' "Dih!'' ''Seka...'' "Axeeeel! Kantor Dosen!'' panggil Mario yang memutuskan pembicaraan saling menyahut antara Axel dan Shakira. Axel mendesah berat dan menoleh ke arah sumber suara dengan wajah kesal. Mario mengangkat bahu tanda 'tau tuh!' Axel merebut ponsel Shakira tanpa mengabaikan teriakan protes dari Si Pemilik, dengan acuh ia menulis sebuah nomor ponsel lalu memencet tombol panggilan. Setelah memastikan nadanya terhubung, Axel segera memutuskan sambungan telepon dan menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya yang telah memasang wajah masam. "Itu nomor ponselku. Kau harus mengangkatnya tiap aku menelepon! Ingat itu!'' Axel segera berlari menjauh tanpa memedulikan protes Shakira. Pemuda berperawakan tinggi tegap itu berjalan berdampingan bersama Mario menuju arah berlawanan dengan Shakira. Namun sebelum menjauh, lagi-lagi Axel menoleh ke arah Shakira dan memberinya ancaman dengan pandangan. Shakira membalasnya dengan meletakkan jari telunjuk di atas keningnya dengan posisi miring. "Sinting!'' gumam Shakira dengan santai. Walaupun tak terdengar jelas tapi ia tahu pesannya tersampaikan karena Pemuda itu terkekeh menampilkan sederet gigi yang putih dan rapi. Untuk sekian detik Shakira seperti tersihir akan tawa menawan itu, namun histeria para mahasiswi di sekitarnya membuyarkan lamunannya. Shakira bergegas meninggalkan tempat itu. Dan benar saja, langkah Pemuda itu terhalang oleh beberapa mahasiswi dari kelas lain yang tergolong anak-anak tenar yang mencoba berkenalan dan meminta foto bersama. Akan tetapi Mario bertindak cepat layaknya pengawal yang mengusir para penggemar untuk Sang Bintang. Walaupun Shakira baru menginjak tahun pertama di kampus itu, ia pun terkenal karena kepiawaiannya dalam hal olahraga, namun ia tak pernah menonjolkan dirinya dan ikut dalam geng anak tenar. Ia hanya ingin fokus dalam kuliah dan bekerja. Shakira hanya menggeleng sinis saat melihat beberapa mahasiswi itu terlibat cek-cok saat Pemuda incaran mereka juga diperebutkan oleh para mahasiswi senior. Para junior hanya berani menatap di pinggiran seolah menunggu giliran. “Kasihan ....” gumam Shakira dengan tawa ringan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN