Takdir Memang sebuah rahasia, seperti halnya jodoh rezeki dan maut, semua sudah di tentukan oleh Tuhan. Tidak ada yang bisa lepas dari cengkeraman takdir. Seperti halnya Luphi, kini tubuhnya sudah berbalut kebaya pengantin, wajahnya dirias sederhana tapi tak membuat kecantikan alaminya memudar. Gadis yang masih belum genap dua puluh tahun itu, harus menikah dengan anak majikannya karena kesalahpahaman antara mereka. Bukan ini yang Luphi inginkan, bukan begini yang Luphi mau, tapi ia hanya bisa diam, menurut dan menyanggupi semua yang di katakan oleh majikannya yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.
“Ibu, apa Ibu bisa melihat apa yang aku alami? Jika Ibu masih ada aku tidak akan seperti ini. Aku akan bahagia bersama Ibu, meskipun kita hanya hidup dari berjualan kecil-kecilan, aku merindukanmu, Bu,” batin Luphi.
Air matanya merembes, membasahi pipinya. Tidak ada yang tahu bagaimana isi hatinya, tidak ada tahu betapa terlukanya hati Luphi. Tanpa bertanya terlebih dahulu, semua orang justru langsung memberi keputusan yang belum tentu bisa ia terima.
Ia juga ingin menikah sekali seumur hidup, dengan pria yang ia cintai atau mencintai dirinya, tapi pernikahannya sekarang, bukanlah pernikahan yang ia impikan selama ini.
“Nak, kenapa kamu menangis?”
Luphi segera menghapus air matanya yang menetes di pipinya.
“Tidak apa-apa Bu,” jawab Luphi.
“Mama, Phi. Panggil aku Mama. Kamu sudah menjadi anakku sejak kamu setuju menikah dengan Dehan,” ucap Linda.
Luphi hanya mengangguk saja, ia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak kembali menetes. Kehadiran Linda membuatnya mengingat almarhum sang ibu. Wanita yang sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang m, hingga ia besar.
“Maafkan kami, Phi. Hanya ini pilihan satu-satunya yang bisa kalian pilih. Kami berharap kalian berdua bisa menjalani biduk rumah tangga dengan ikhlas. Mama akan mengawasi Dehan, agar dia tidak bisa menyakitimu ke depannya. Mama mohon maafkan kami, Phi,” ucap Linda.
“Apa yang perlu di maafkan? Sedangkan di sini aku yang salah, aku salah karena tidak bisa menjaga diriku dengan baik, jika saja aku tidak di culik, mungkin saat ini Mas Dehan tidak akan menikah denganku,” ucap Luphi.
“Kamu tidak bersalah Nak, kamu–“
“Ma, di bawah sudah siap.”
Ucapan Linda terputus saat Mario mengetuk pintu kamar Dehan.
“Baiklah kami akan turun sebentar lagi,” ucap Linda.
Mario hanya mengangguk saja, sekilas pandangannya melihat wajah Luphi, yang terlihat cantik dengan riasan sederhana, selain itu Mario bisa melihat ada guratan ketidaksukaan dalam wajah Luphi saat ini.
“Ternyata dia cantik juga, pantas saja Mas Dehan menyukainya,” batin Mario.
Mario pun pergi meninggalkan kamar Dehan. Sedangkan Linda kini menuntun Luphi untuk keluar dari kamar. Acara pernikahan akan di laksanakan, di bawah sudah terlihat para tamu undangan yang tak lain adalah kerabat terdekat keluarga Handi dan Linda, ada juga Bu RT dan Pak RT yang dulu menolong Luphi.
“Luphi, kamu sangat cantik Nak. Almarhum Rosila pasti akan bahagia melihatmu menikah seperti ini,” ucap Bu RT.
“Terima kasih Bu. Terima kasih karena Ibu dan Bapak sudah mau datang,” ucap Luphi.
“Kami ikut bahagia dengan pernikahanmu, semoga kamu bisa bahagia setelah ini,” ucap Bu RT.
“Terima kasih Bu.”
Acara pernikahan pun di mulai, janji suci telah terucap dari bibir Dehan. Ia menghalalkan Luphi atas nama Tuhan di depan para saksi. Kini setelah kata ‘SAH’ sudah bergema, kedua manusia yang tadinya orang asing, kini sudah menyatu dalam ikatan pernikahan. Suasana haru terasa di sana. Keluarga Dehan terharu melihat putra tertua Handi akhirnya menikah. Memang tidak ada yang tahu bagaimana keduanya bisa menikah, yang mereka tahu Luphi adalah wanita yang di cintai oleh Dehan.
“Selamat ya, akhirnya kalian berdua sudah SAH menjadi suami istri,” ucap beberapa tamu yang hadir
“Terima kasih,” ucap Dehan.
Sedangkan Luphi hanya bisa tersenyum tipis saja. Ia terlalu bingung dan belum mempercayai semua kejadian ini. Tak ingin mencoreng nama baik keluarga Handi, Luphi harus bisa memaksakan senyumnya, di depan para tamu undangan yang hadir.
Setelah acara selesai, dan para tamu undangan pun sudah pulang, kini hanya tinggal keluarga Handi. Kini keluarga mereka bertambah satu yaitu Luphi.
“Apa kamu merasa senang karena sudah menjadi keluargaku? Bukankah dulu kamu sangat ingin menjadi bagian dari keluarga ini?” tanya Mario pada Luphi.
Setelah acara selesai, Luphi langsung mengganti pakaiannya dan pergi ke dapur membantu para asisten rumah tangga membersihkan sisa-sisa pernikahannya tadi. Dan disinilah sekarang Luphi, bertemu dengan Mario.
“Terkadang apa yang kita lihat tidak seperti yang kita rasakan,” jawab Luphi.
Ya, dulu memang ia ingin menjadi bagian dari keluarga ini, tapi bukan menjadi istri Dehan, tapi yang ia inginkan adalah Mario, pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Namun, takdir berkata lain, ia justru menikah dengan anak tertua keluarga ini.
“Ucapanmu terdengar munafik sekali. Aku tahu jika kamu berharap menjadi istriku kan? Jangan bermimpi, bahkan jika di dunia ini hanya ada satu wanita, aku tidak akan menikah denganmu,” ucap Mario.
“Aku sadar dengan posisiku, jadi Mas Mario tidak usah khawatir dengan hal itu,” ucap Luphi.
“Ba–“ ucapan Mario terhenti saat Dehan datang.
“Kamu harus bisa menghormati dia, Yo. Sekarang Luphi sudah menjadi Kakak iparmu, dan kamu, jangan memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’ dia adik iparmu, bukan kakakmu atau majikanmu lagi. Kamu istriku dan kamu harus bisa bersikap bagaimana menjadi seorang istri. Sekarang bersiaplah, kita akan pulang ke rumahku, dan kamu Yo, jangan coba-coba mengganggu istriku lagi,” ucap Dehan.
“Lagian siapa yang mau mengganggu dia. Aku hanya memastikan sesuatu saja. Biar bagaimana pun dia adalah mantan asisten kita,” ucap Mario lalu pergi meninggalkan Luphi dan Dehan di sana .
Dehan pergi meninggalkan Luphi, entahlah sejak ia tahu jika Luphi mencintai Mario, hatinya selalu di selimuti oleh rasa cemburu. Setiap melihat tatapan memuja Luphi pada Mario, membuat hati Dehan memanas. Ia tak ingin berbagi, meskipun hanya sebuah tatapan.
“Phi, jangan mengerjakan ini, karena ini bukan tugasmu, sekarang kamu siap-siap ya, suamimu ingin kalian pulang sekarang,” ucap Linda.
Luphi hanya mengangguk saja, kemudian pergi menuju kamar yang dulu ia tempati dulu.
“Selamat tinggal cinta pertamaku, semoga saja kamu bisa menemukan wanita yang sangat kamu cintai dan mencintaimu,” batin Luphi saat melihat Mario.
“Kamu sudah siap?” tanya Dehan. Luphi hanya mengangguk saja.
“Kalian benar-benar ingin pergi sekarang?” tanya Handi.
“Iya, Pa. Aku sudah memiliki rumah sendiri, jadi aku harus bisa memberikan privasi dan kenyamanan pada istriku,” ucap Dehan.
“Padahal baru tadi pagi kalian menikah, dan sekarang kalian harus pergi. Padahal Mama masih ingin bersama-sama dengan Luphi loh, De,” ucap Linda.
“Mama kan bisa datang ke rumah, atau nanti kita akan ke sini setiap akhir pekan, iya kan Phi?” ucap Dehan. Luphi hanya mengangguk saja.
“Baiklah, Kalian berdua hati-hati, dan jangan lupa beri kami kabar bahagia setelah ini,” ucap Linda.
“Mama,” tegur Handi.