?Happy Reading?
.
.
.
Pria berusia 20 tahun duduk dikursi kebesarannya dengan tangan yang memijat pelipisnya. Rasa pusing mendera kepalanya, didepannya berdiri seorang kepercayaannya, Alanzo Fernandez. Pria itu menatap kembali surat peringatan yang ia terima kemarin dari SMA adiknya. Entah sudah berapa kertas yang sama menghampirinya secara rutin.
“Tuan?” Alanzo khawatir dengan keadaan Tuannya semakin hari semakin berat badai menerpa keluarga yang dipimpinnya.
“Rajin sekali mereka mengirimiku surat panggilan. Apa mereka tidak tahu jika aku sudah tidak bersekolah?” pria itu terkekeh geli. Hanya dengan cara ini ia bisa tenang menghadapi masalahnya, berguraulah yang bisa menenangkan pikiran.
Alanzo menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Tuannya, seperti inilah yang kerap kali terjadi. Entahlah, Alanzo sendiri bingung dengan silsilah kerluarga Anderson.
S M A A N G K A S A
Surat Pemberitahuan.
-------------------------------------------------
Kpd Yth:
Tn. Alfian Rigelio Anderson.
Ditempat.
Diberitahukan dengan hadirnya surat peringatan ini, kepada walimurid dari:
Nama : Alvino Ramanda Anderson
Kelas : XII IPA 2
Tanpa mau membaca lebih lanjut, Alfian menutup kembali surat pemberitahuan itu dengan helaan nafasnya. Ia lelah menghadapi Alvino, adiknya itu lagi-lagi berulah, entah kali ini apalagi ulah ajaibnya yang membuat dirinya sebagai sang kakak kembali diminta hadir ke SMA-nya.
“Entah apalagi yang anak itu perbuat.” Gumam Alfian.
“Dia membutuhkan perhatian kakak-kakaknya Tuan. Kau sibuk dengan pekerjaan, begitupun Tuan Alvaro. Nona Alfika beruntung memiliki kesibukan sehingga tidak sebebas Tuan Alvino. Datangi Sekolahnya Tuan, bicaralah pada Tuan Alvino sebagai seorang kakak tertuanya.” Alanzo memang sedikit mengetahui berapa peliknya masalah keluarga ini dan selama ia mengabdi pada keluarga Anderson yang ia ketahui adalah kepelikan ini semakin menjadi kala Edgar Anderson, sang Ayah dari empat bersaudara itu meninggal dunia. Alfian yang mulai disibukkan dengan bisnis mendiang sang ayah dan Alvaro yang juga sibuk menata karirnya, sehingga perhatian keluarga tak lagi tercurah pada Alvino. Bukan manja, namun Alvino memiliki trauma akan satu kejadian dimasa itu yang membuat hatinya mengeras.
Alfian termenung memikirkan perkataan Alanzo. Jujur ia memang jarang memiliki waktu untuk ketiga adiknya. Perasaan bersalah itu menyergapi dirinya tanpa ampun, mengingat psikis Alvino yang sedikit terganggu sehingga emosi pria itu sangat tinggi dan sulit dikendalikan.
“Katakan pada Alice, batalkan semua jadwalku. Aku akan mendatangi sekolah Alvino hari ini.”
Alanzo mengangguk seraya pamit undur diri.
Sepeninggal Alanzo, Alfian bangkit merapikan kemeja, jas dan sedikit melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Alfian menyambar ponsel dan kunci mobilnya. Jika biasanya Alanzo yang menjadi supir pribadinya, kini ia memilih mendatangi Alvino sendiri.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di SMA Angkasa. Alfian melangkah memasuki kawasan sekolah yang semula tampak sepi, kini menjadi ramai hanya dengan Alfian memasuki pinggir area lapangan menuju ruang BK.
“Astagaa... Tampan sekalii kakaknya Vino.”
“Aku mendukung Alvino membuat kekacauan jika yang membereskan kakak tampannya itu.”
“Ternyata kakaknya lebih tampan dari Alvino!”
“ALVINO AKU MENCINTAI KAKAKMU....”
Alfian memutar matanya malas. Mengapa anak muda jaman sekarang sangat alay dan memalukan. Apa-apaan mereka ini? Berteriak layaknya tarzan disekolah.
Mengapa mereka sungguh tak mempunyai rasa malu?
Dan apa katanya?!
Mendukung Alvino membuat kekacauan?
Ingin rasanya ku jahit mulu wanita wanita yang mendukung adikku menjadi pria brandal.
“Permisi.”
Alfian bersalaman dengan guru yang memakai name tag bernama Dian Permatasari. Sedangkan guru itu tersenyum segan menyambut kedatangan sang donatur terbesar sekolah. Tak ada yang tahu jika Keluarga Anderson adalah donatur terbesar nan tetap setiap bulan di SMA Angkasa atas nama Perusahaan mereka yaitu Anderson Group.
“Silahkan duduk Mr. Anderson.” Bu Dian mengambil kertas sangsi yang dilanggar Alvino.
Alfian memang meminta kepada pihak sekolah, meski Alvino dan Alfika yang bersekolah disana adalah putra putri dari keluarga Anderson, Alfian harap mereka diperlakukan setara dengan murid seperti pada umumnya, tidak diistimewakan. Jika mereka salah maka tetap salah, tidak boleh dibenarkan apalagi dilindungi, itulah penggalan kata Alfian dulu saat memasukkan Alvino dan Alfika ke SMA Angkasa.
“Kali ini apalagi Bu?” Alfian menatap guru BK itu menuntut penjelasan atas kesalahan adiknya.
Bu Dian menyerahkan selembar kertas sangsi itu diatas meja agar Alfian bisa membaca sendiri apa perbuatan adiknya itu.
“Tawuran?!” Alfian kaget bukan main. Memang tak aneh jika Alvino babak belur, namun itu karena sparing ditempat ia latihan beladiri, bukan untuk ikut campur dalam acara tawuran antar sekolah seperti ini.
“Iya Tuan. Kami memanggil semua walimurid yang putra putrinya tersangkut dalam kasus ini. Dimohon agar diberi pengertian kepada Alvino, Tuan. Dia sudah kelas XII dan akan segera mengikuti berbagai Ujian, ia tidak boleh terus menerus bertingkah brandal seperti ini karena akan mempengaruhi nilai-nilainya. Terlebih ia sudah masuk semester akhir di kelas XII.” Jelas Bu Dian serius.
Alfian menganggukkan kepalanya paham. Ia menghela nafasnya lelah. Setelah selesai berbicara dengan Bu Dian, Alfian meminta izin untuk menemui Alvino dikelasnya. Bu Dian hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
Alfian menaiki tangga menuju lantai tiga dimana letak seluruh kelas XII berada. Dengan kedua tangan yang bersarang di saku celananya Alfian menyapukan pandangannya pada ujung pintu, mencari papan kelas IPA 2. Kehadiran Alfian sontak membuat jerit histeris terdengar sangat memekik ditelinga siapapun yang mendengarnya. Alfian menatap tajam kearah pintu kelas diujung lorong.
Disisi lain Alvino tengah fokus dengan ponselnya dikursi pojok kelas bersama ketiga temannya. Ia mendongak kala seorang perempuan menghampirinya.
“Kakakmu diluar memanggilmu.” Ujarnya membuat Alvino mengernyit bingung.
“Apa maksudmu?” Alvino kembali bertanya dengan wajah bingungnya.
“Aku mencarimu!”
Suara serak namun tegas itu menghipnotis seisi kelas disana. Perempuan yang mendengar suara Alfian sontak menatap pria itu terpesona akan suaranya yang bagi mereka terdengar seksi. Sedangkan Alvino menatap tak percaya akan kehadiran kakak tertuanya disekolah bahkan kini sampai dikelasnya. Tumben sekali kakaknya itu.
“Sedang apa kau disini? Bukankah ini jam kantor?” Alvino bertanya dengan wajah polosnya.
Alfian memutar matanya malas. Ia merogoh saku jas hitamnya, mengeluarkan amplop putih dan menyodorkannya tepat dihadapan Alvino.
“Aku membiayai sekolahmu untuk kau belajar, bukan tawuran!” sentaknya tegas.
Alvino menatap kakaknya. Ada sirat kerinduan dalam pandangan adiknya, itulah yang disadari Alfian.
“Maaf. Aku lalai akan janjiku Dad.” Alfian membatin sendiri seraya menghela nafasnya berat.
“Aku hanya menolong teman-temanku, bukan maksudku ikut dalam acara tawuran itu.” Alvino menatap kakak tertuanya takut-takut. Ia takut jika karena masalah ini uang jajannya dipotong.
“I’m seriuosly.” Sambungnya.
Alfian hanya mengangguk paham sebelum pergi meninggalkan kelas adiknya tanpa kata.
-to be continue-
.
.
.