Di luar jendela cafe, hujan turun perlahan, mengiringi kesunyian dengan tetesan-tetesan yang berirama. Cafe menjadi tempat pelarian dari semua masalah yang tengah Daniel hadapi, dimana waktu seolah berhenti sejenak dan cerita tentang kehidupan berputar dalam setiap sudutnya. Daniel merasa waktu bergerak lambat, dia masuk ke dalam cafe ini sekitar pukul setengah satu dini hari, kebetulan cafenya buka 24 jam. Secangkir americano yang masih mengepulkan asap, aroma kafein tercium pekat sebab Daniel memesan americano twoshoot seperti biasa. Ingatan Daniel masih dipenuhi oleh ekspresi kedua orang tuanya. Mata mereka berdua beradu dengan sorot penuh amarah, merangkul segala ketidakpastian dan kekecewaan yang terpendam. "Apa yang sebenarnya ada di otakmu itu, Daniel?!" Suara lantang mommy Ana d

