Fatma berjalan tak tentu arah. Dia hanya mengikuti ke mana kaki membawanya pergi. Pandangan perempuan itu kosong ke depan dengan mata sembab. Kata-kata yang diucapkan Buk Ratih seolah-olah mer0bek jantungnya tanpa ampun. Apalagi kedatangan Iman, membuat semua kacau-balau. Dia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan putrinya andai tabir masa lalu terbuka. Langkah Fatma berhenti di sebuah taman. Kakinya tak mampu lagi melangkah. Bukan bobot tubuh yang berat, tetapi pikiran kalut membuat semuanya menjadi tak berdaya. Di bangku besi di bawah naungan pohon lansano perempuan itu duduk termenung. Kenapa takdir begitu kejam pada putrinya? Apakah kesalahan yang dilakukan kedua orang tua harus anak yang menebusnya? Inikah hukum tabur-tuai yang dimuntahkan oleh Laila? Mau tidak mau kenangan silam m

