Bagian 7

2670 Kata
Anggini lebih suka menyebut janin kecil yang lebih terlihat seperti biji dalam bingkai hitam putih yang saat ini dilihatnya adalah bagian dari dirinya. Dia tak suka membayangkan ketika nantinya janin itu harus tumbuh besar dan terpisah dari tubuhnya. Anggini ingin terus bisa membawanya kemanapun, meski risikonya adalah dirinya yang kelelahan. Tak apa, sebab dengan bersatunya ia dan janin yang begitu menyita kasih sayangnya tersebut, maka semua akan baik-baik saja. Setidaknya, janin itu tak akan pernah tahu penolakan sang ayah.  Bicara mengenai sang ayah, Anggini tidak pulang ke rumah yang mereka tinggali berdua selama lima hari sudah. Sejak dia meminta jarak, Asta memang menepatinya untuk memberi hubungan mereka waktu. Namun, sang mertualah yang menekankan dengan keras bahwa dia tak mau kehilangan momen dengan Anggi serta cucunya yang sedang Anggi kandung.  Seperti jiwa yang tak akan pernah lepas, Suri menitikan airmata hanya karena melihat gambaran cucunya yang belum bisa dikatakan sempurna. Anggi sendiri, dia berusaha menyembunyikan tangisnya. Bukan hanya karena calon anaknya. Tetapi juga karena tak ada Asta yang melihat langsung keberadaan nyawa mereka di sana. Di ruangan tersebut... ayah si bayi tak menyaksikan.  Bentuk dari protes yang anaknya berikan tentu saja beragam. Salah satu contohnya adalah memaksa Anggi untuk menemui Asta dan memeluknya sekuat yang ia bisa. Anak mereka selalu mencari celah melalui sisi emosional yang ada dalam hati Anggini. Bahkan, Suri selalu bersikap cerewet dengan meminta Anggi menghubungi Bramasta agar ada makanan yang bisa masuk ke dalam perut wanita itu. Suri tentu tidak asal dalam bertitah. Sebab, tepat dua hari menantunya tak mau pulang pada suaminya, Asta menelepon nomor Suri dan mertua Anggi itu sengaja mengeraskan panggilan tersebut. Efek yang suara Asta berikan? Sukses membuat Anggini mau memakan makanan apa saja yang ada di meja makan, dan Suri sengaja memperpanjang sesi pembicaraan yang sebenarnya tak penting sama sekali.  "Tolong dicetak lima, Dokter Ranila." Kata Suri yang membantu Anggini untuk turun dari ranjang juga.  "Lima, Ma?" tanya Anggini heran.  "Kamu, mama, papa, orangtuamu, dan... suamimu." Ranila menyunggingkan senyuman agak canggung ketika Suri dan Anggi meliriknya. Ketiganya merasa canggung ketika Suri menyebutkan suamimu. "Saya cetak sesuai permintaan, Bu. Tenang saja, nggak ada biaya tambahan untuk cetak gambarnya." Canda dokter Ranila. "Saya tinggal sebentar, ya."  Suri dan Anggi mengangguk dan membiarkan Ranila menyibak tirai. Menantu dan mertua itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan pembicaraan.  "Kamu keberatan kalo mama kasih ke Asta?" Anggini menggeleng pelan. Dia tidak keberatan sama sekali. Namun, kilasan ketika suaminya menolak menerima kehamilannya adalah faktor utama dari rasa ragunya.  "Tapi kamu kelihatan nggak ikhlas gitu, Nggi." "Bukannya gitu, Ma. Aku cuma mau Asta lebih baik ikut langsung aja selama aku cek. Dia harus lihat sendiri gimana keadaan anaknya, bukan hanya dapet laporan dari hasil gambarnya aja." Suri bisa menebak betapa menantunya memiliki pemikiran lebih berat daripada yang disebutkan Anggi saja. Meski begitu, Suri tak mau menambah beban pikiran menantunya yang sudah penuh pastinya.  "Oke. Asta harus nemenin kamu kalo gitu. Memang itu seharusnya dia lakuin, masa maunya garap kamu doang tapi nggak mau garap tanggung jawabnya."  Suri memang mengucapkannya dengan nada candaan, tetapi bagi Anggi yang sedang terlalu sensitif... itu terlampau memancingnya untuk merasakan guncangan kesedihan.  * Pulang ke rumahnya sendiri dengan menenteng beberapa barang belanjaan, Anggini terkejut begitu pintu dia tutup dan belanjaan yang ia letakan di bawah terdengar ditarik seseorang. Dia sukses makin terkejut saat mendapati Asta berada di sana. Di rumahnya. Kenapa harus mengikutinya sampai sebegini? Anggini bahkan sudah mengatakan untuk diberi waktu, tapi lagi-lagi Asta mendatanginya lebih dulu. Namun, keinginan untuk memeluk Asta malah semakin menjadi begitu sosoknya ada di sana bersamanya. Otomatis saja Anggi menyentuh perutnya sendiri. Aduh, Nak... jangan kangen sekarang, ya? Ibu nggak mau murahan di depan ayahmu. Begitulah kira-kira kata-kata yang Anggi coba untuk memengaruhi anak dalam perutnya agar tidak mendorongnya untuk menubrukkan diri pada Asta.  "Kenapa berdiri di sana terus?" tanya suara itu.  Anggini sebenarnya agak canggung tanpa keberadaan Suri. Dia menyesali tawaran ibu mertuanya yang ingin ikut turun padahal sudah lelah pulang-pergi untuk memastikannya baik-baik saja. Kalau saja tadi dia mengiyakan tawaran itu, mungkin tidak akan seperti sekarang ini situasinya. "Anggi...?" Asta kembali memanggil istrinya, tetapi tak diberi tanggapan apapun dari wanita itu. "Anggi, aku ngomong sama kamu." Asta yang mendekati istrinya mendadak mundur karena Anggi membuat peringatan agar pria itu dapat berhenti di posisinya yang terjauh dari Anggini. Wanita itu memasang wajah waspada sendiri, padahal Asta tak mengerti apa yang sedang terjadi dalam pikiran wanitanya.  "Kenapa? Kamu sakit?" Bukannya tetap pada posisi, Asta justru mendekati sang istri dengan wajah cemas.  "Ngapain kamu di sini?"  Asta sebenarnya mengaku tak akan terkejut lagi dengan sikap istrinya yang seperti ini. Dia yakin bisa mengatasi ini. Belum lagi dengan apa yang sudah dia pikirkan untuk membawa pulang Anggini pulang ke rumah mereka. Namun, mendapatinya langsung dari Anggini seperti saat ini... ternyata lebih memilukan dari yang ia bayangkan. Ekspresi yang semula cemaspun berganti dengan wajah datar yang biasanya selalu Asta tunjukkan ketika dia tak menyukai sesuatu. "Aku dateng ke sini kamu tanya ngapain?  Jelas buat kamu, istriku. Kenapa harus ditanya lagi, Nggi?" "Aku udah minta waktu dari kamu, kan?" balas Angi tak mau kalah. "Dan aku udah ngasih waktu selama lima hari ini tanpa ganggu kamu sama sekali. Apa masiih ada yang harus kita perdebatkan?" Anggini membuang muka dari sang suami. Dia tak suka karena argumennya kalah, dan saat ini yang paling penting, ketika Asta mendekatinya adalah hormon s****n yang tak bisa ia kendalikan lagi. Secapat yang ia bisa, Anggi mengecup bibir suaminya dengan cepat dan menyembunyikan wajahnya di d**a pria itu. Perasaan kalut menyelimutinya. Lagi-lagi emosinya tidak tertata dengan baik dihadapan Asta. Asta merengkuh tubuh wanita itu, menariknya semakin dalam ke pelukan. Dia tak membutuhkan hal lain untuk dipertanyakan sekarang. Anggi yang mencium dan memeluknya adalah bentuk dari tawaran perdamaian bagi Asta. "Mama bilang kamu nggak mau makan kalo nggak denger suaraku." Dan Anggi sukses semakin malu.  "Aku kira mama nggak akan bilang ke kamu." Kata Anggini lirih dengan suara yang terhambat karena bibirnya terhalangi dengan bahu lebar suaminya.  "Lima hari ini aku nahan diri. Setiap mama telepon, aku langsung angkat karena aku tahu, mama nggak akan hubungi aku kalo urusannya nggak begitu penting. Dan basa-basi yang dipakainya selama lima hari ini aku tahu itu karena menyangkut keadaan kamu." Anggini memberanikan diri untuk menatap wajah Asta, memerhatikan dengan lekat sebelum berkata, "Anak kita selalu punya atensi lebih ke ayahnya." Dan Asta tercekat dengan ludahnya sendiri tanpa bisa membalas kata yang menurutnya tepat.  * Begitu Anggi menyebutkan anak kita Asta merasa merinding mendengarnya. Dia tak percaya dengan pernyataan bahwa dirinya saat ini akan menjadi seorang ayah. Memiliki anak memang keinginannya, tetapi bersama dengan Anggini situasinya berbeda saat ini. Keterdiaman Asta membuat Anggi kembali enggan membahas apa yang seharusnya mereka bahas.  "Kamu mau pulang sekarang?" tanya Anggi mengalihkan pembicaraan. Dahi Asta mengerut bingung. "Kenapa aku harus pulang sekarang?" "Karena kamu nggak memiliki kepentingan lagi di sini. Iya, kan?" "Aku punya kepentingan di sini, Nggi." Anggi menantang. "Apa?" "Membawa pulang kamu." Anggini bosan dengan drama yang panjang ini. Baru lima hari dan semuanya tak seperti yang dirinya bayangkan. Jadi, ketimbang membiarkan Asta seenaknya saja berlalu kesana kemari tanpa dibebani dengan kehadiran anak mereka yang sering membuat Anggi kesulitan tidur karena mengharapkan pria itu berada di sisi tempat tidurnya, maka Anggi akan membuat kesepakatan baru untuk dirinya sendiri dan bayinya.  Kamu akan dekat dan puas membuat ayah kamu kewalahan, Sayang. "Aku akan ikut kamu..." Anggi menatap dengan percaya diri pada sang suami. "dengan satu syarat." Asta menunggu apa yang ingin istrinya jadikan sebagai salah satu caranya untuk membuat Asta menanggung salah satu dari sekian banyak cara yang bisa membuat istrinya kembali pulang. "Turutin semua yang berhubungan dengan kemauan anak kita." Agak mengejutkan memang, tetapi Asta tahu kalau istrinya itu menginginkan jalan cerita baru untuk kehidupan mereka yang baru.  Dan kepulangan Anggini disambut dengan pekerja baru. Dia bahkan tidak tahu mengapa sang suami siaga untuk mengantarkannya bahkan hanya untuk ke kamar. Memang begitu yang awalnya Anggi inginkan, hanya saja, ketika dia mendapatkannya... ini tak seperti yang aku inginkan. Rasanya sangat tidak tepat.  "Biar mbak Maya yang mengurus semua urusan rumah. Kamu fokus istirahat di rumah aja." Semuanya memang Asta buat baru. Bisa Anggi lihat bahwa semenjak dia meminta Asta mennuruti setiap permintaan yang berhubungan dengan anak mereka, pria itu justru malah seperti sudah bersiap siaga dengan semua yang bisa uang mereka gunakan. Sebelum Anggi meminta, Asta melakukannya.  "Kalo aku diem aja di rumah, buat apa aku nggak kerja?" pancing Anggi. "Kenapa harus susah kalo ada yang gampang, Nggi. Kamu tinggal nunggu aku di rumah, ngurusin aku setelah aku pulang kerja. Jangan kemana-mana dan buat aku cemas. Kamu yang di rumah tanpa kelelahan adalah yang aku mau." "Ini demi bayinya?" kata Anggi membuat Asta terdiam kaku di tempatnya. Bramasta memandang sang istri dengan pandangan menerawang. Tidak marah, tidak membuat hal-hal lain yang biasanya mudah sekali menjadi bahan perdebatan mereka berdua kini seperti Asta hindari betul.  "Ya. Demi bayinya juga." Anggi bersikap biasa saja dengan mengatakan, "Akhirnya kamu peduli juga sama anakmu." Sindiran keras memang, karena Anggi tak berniat membuat semuanya pelik. Meski memang dia menginginkan suaminya itu membuat jalann baru dengan menantangnya mengenai bayi mereka, mengira-ngira apakah pria itu masih belum menerima anak mereka atau tidak. "Mama mungkin akan sering datang ke rumah." Kata Asta memulai pembicaraan baru. "Kenapa?" "Nemenin kamu. Sejak lima hari kamu nggak berada dipengawasanku, mama bilang kalian selalu belanja. Keluar membuat suasana hati kamu lebih tenang." Bilangnya nggak berada di bawah pengawasannya, tapi tetap tahu info dari mama. Anggi tak mau memperkeruh suasana lagi, dia akan menikmati proses yang sedang mereka usahakan ini. "Kalo aku pengennya kamu nemenin aku seharian, gimana?" "Hm?" "Ini permintaan anak kita. Hari ini, kamu harus nemenin aku seharian." Asta tahu bahwa dirinya sedang dikerjai oleh istrinya sendiri.  * Lagi. Asta yang begitu penurut jelas sekali bukan dirinya yang Anggini tahu selama bersama. Meski begitu, dia sedikit senang dengan perlakuan yang suaminya berikan.  Ini seperti doa yang mudah sekali terkabul. Terlalu singkat, tetapi juga Anggi harapkan selamanya. Bagaimana mungkin membuat perasaannya berhenti mencintai pria yang kini tengah membasuh kakinya dengan air hangat itu? Perasaannya yang terlalu ringkih senang sekali, bahkan semakin melembut dengan semua ini. Yang ringkih semakin ringkih, apalagi bayi mereka yang sangat menyukai keberadaan sang ayah didekatnya.  Tangannya yang semula berada dipermukaan seprai ranjang mulai menggapai rambut sang suami yang sangat terasa lembut ditangannya. Ini seperti mimpi yang tak pernah dia sangka-sangka. Bagaimana mungkin secepat ini kebahagiaan menghampiri mereka berdua? "Mikirin apa?" Asta bertanya.  Bahkan wanita itu tak sadar suaminya sudah mendongak menatapnya dengan meneliti. Dia merasakan ada sesuatu yang Anggi sembunyikan hingga pandangan wanita itu mengabur.  "Hm?" Asta menarik wadah yang terisi air hangat dan meletakkannya agak jauh dari posisi mereka sekarang. Pria itu berlutut didepan Anggini, meraih genggaman tangan wanita yang teramat dirinya cintai. Lalu, dia mengecup bibir Anggini dengan lembut. Sekali lagi, tak biasanya Asta melakukan hal semanis dan selembut itu. Pikiran skeptis Anggi menguar, dia pandangi wajah suaminya yang senang sekali dengan ulahnya tersebut.  Anggi melepaskan genggaman suaminya, beralih menangkup kedua pipi pria itu. Diusapnya dengan tak kalah lembutnya sentuhan bibir yang Asta berikan tadi. Menelusuri setiap inci bagian yang mungkin saja, akan begitu diwarisi anaknya kelak. Mata perempuan itu memerah setiap membayangkan bagaimana perpisahan terlintas dikepalanya.  "Anggini...?" Panggil Asta. Dia cemas mendapati istrinya yang menitikan airmata. "Jangan buat aku takut, Nggi. Kenapa? Kamu sakit? Kalian baik-baik aja, kan?" Anggi memasang senyuman yang tak menerangkan rasa bahagia. Asta tak tahu kesalahan apa yang dirinya buat hanya dengan membasuh kaki sang istri menggunakan air hangat. Seingatnya, kegiatan seperti itu tak akan memicu rasa sedih maupun kecewa pada siapapun yang merasakannya.  "Panggil namaku lagi." Kedua alis pria itu terangkat. Dia tidak bisa membuat siapapun terkesan hanya dengan hal yang tidak ada kesan spesialnya. Menyebut nama jelas bukan hal spesial, kan? "Anggini..." Asta bisa menangkap tatapan tersanjung yang Anggi perlihatkan. Ada apa dengan menyebut nama saja? Asta penasaran sekali dengan hal itu. Namun, dia tak bisa bertanya begitu saja. Karena ciuman lembut yang istrinya sarangkan padanya lebih penting dari apa yang ingin dirinya keluhkan.  Anggi menerima balasan dari gerakan yang dia mulai. Pria itu menerima umpan balik tanpa banyak melakukan inisiatif lain yang memperlama kegiatan inti mereka. Kerinduan yang sudah keduanya tahan diluapkan dengan saling menarik helai pakaian mereka. Pagutan mereka terlepas sesaat, Asta menangkap tatapan mengharap sekaligus menilai dari istrinya sebelum mereka melanjutkan tautan bibir itu.  Sempurnanya rasa yang menghantar mereka, diam-diam Anggini harapkan sesuatu didalamnya. Dia menunggu saat dimana ada seruan namanya dari bibir sang suami. Dia mengharap ada sesuatu yang membuatnya, setidaknya percaya dia mampu bertahan dengan setiap kebodohan yang suaminya punya.  "Anggini..." Airmatanya menetes. Kini senyuman lega tertanam di sana. Kali ini, suaminya tak salah menyebutkan namanya. Erat rengkuhan pria itu menjelaskan bahwa dia bisa menjadi lebih kuat dalam karamnya hubungan yang minim rasa percaya itu.  "Anggini..."  Dan Anggini tahu, dia begitu menyukai geraman yang Asta serukan dengan keras dan dalam. Pelan tapi jelas, Anggi membisikan pada telinga Asta, "Kami mencintai kamu, Ayah." * Asta mengikuti langkah  sang istri yang tiba-tiba saja terlihat sangat aneh. Dia mengambil banyak langkah panjang, tetapi tidak mampu menyembangi langkah Anggini yang berjalan di depannya tanpa tahu kemana arah tujuan jelasnya. Asta tak tenang, dia mendekati dan bahkan berusaha berlari dengan seluruh tenaga yanng ia punya. Namun, entah bagaimana tidak mempan sama sekali. Anggini selalu berhasil berada di depannya, teramat jauh bahkan.  "Anggini!" Teriakannya bahkan seperti tak terdengar oleh wanita itu. Berjalan sempoyongan saja tidak membuat langkah Asta bisa menyamai milik istrinya.  "Anggini!" Dia terus maju. Sedangkan Anggini yang entah bagaimana memakai pakaian aneh menurut Asta begitu menyeramkan dari belakang. Rambut wanita itu tergerai sedikit melewati bahu. Asta bisa melihat sesuatu yang tertutupi oleh tubuh istrinya di depan sana. Kembali dia teriakan nama sang istri, terus menerus meneriakannya sampai sang istri berhenti dan membalikkan badan. "Ang---" Keterkejutannya bukan main begitu melihat siapa yang dia harapkan berbalik itu. Wajah kuyu---lebih tampak menyeramkan---bekas airmata yang masih menghiasi wajah itu menambah kesan memilukan, pucatnya bibir wanita itu, ekspresi menakutkan yang hadirnya dari seringai mengawalinya.  "Anggi..." Istrinya tidak berniat bicara sepertinya. Karena ketika Asta memberanikan diri maju mendekati, Anggini membuka lengannya perlahan hingga Asta tak sempat bersiap menghadapi kejutan dibaliknya.  Gumpalan berwarna merah yang sangat kecil, sudah memiliki bentuk yang mirip dengan cicak. Asta mundur, gumpalan itu menangis menyebabkan Anggi ikut menangis. Kedua suara tersebut beradu dalam ritme yang seirama. Asta tak sanggup bicara, belum lagi dengan kucuran darah dibetis Anggini hingga merembes pada jubah putihnya.  "Anggi..." Wanita itu mundur, membawa serta janin yang menangis bersamanya. Begitu cepat, hingga Asta tak sanggup menarik istrinya tetap di tempat. Setelah itu, yang Asta ingat, Anggini terjerembab sesuatu hingga punggungnya tertusuk alat tajam dengan keras dan cepat. Sekeras dan secepat teriakan Asta yang menggema di dalam kamar mereka. "ANGGINI!" Yang dipanggil dalam igauan tidurnya tentu saja sudah lebih dulu bangun dan menatap heran pada suaminya. Tak ada apa-apa, tetapi suara Asta sangat kencang memanggil-manggil namanya berulang kali meski Anggi mencoba membangunkannya.  Deru napas tak beraturan Bramasta menambah rasa kasihan Anggi. Tidur yang tak lelap karena mimpi buruk jelas berdampak tak baik karena membuat si pemiliknya akan susah memejamkan mata kembali.  "Hei... tenang. Nggak ada apa-apa, Ta. Nggak ada apa-apa." Semakin Anggini berusaha mengungkapkan kalimat menenangkan, semakin Asta tak mau melepaskan pelukannya. Terlalu takut membayangkan diri Anggi seperti apa yang diimpikannya.  "Istirahat lagi, ya?" Kata Anggi seraya melonggarkan pelukan. Diusapinya dahi sang suami yang berkeringat deras, padahal udara sejuk dari AC tak akan membuat mereka kepanasan.  Asta menggeleng cepat. "Jangan kemana-mana, Nggi." Anggini yang merasa sangat sedih dengan keadaan suaminya yang terlalu kalut itu. "Aku di sini." Asta meraih tangan Anggi, mengecupinya berulang kali dan membolak-balikkan seolah memastikan tak ada apapun yang Anggi bawa dalam genggamannya. Diciumnya begitu dalam telapak sang istri, dan Anggi dapat merasakan tetesan airmata di sana. "Maaf." Anggi bahkan tak lebih tenang dari pria yang tiba-tiba saja meminta maaf padanya dengan lelehan airmata itu. "Asta... kamu kenapa?" lirih wanita itu.  "Nggi... jangan lakuin itu. Jangan bawa dia pergi, Nggi. Jangan menangis lagi. Kalian nggak boleh nangis, ya? Kamu harus janji sama aku, jangan nangis lagi. Kalian nggak boleh nangis." Keduanya terisak kuat, dan saling memeluk. Kamu kenapa, Ta? Ada apa sama ayah kamu, Nak? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN