Bab 2. Panggung Palsu

1561 Kata
POV Rani Aku baru saja memarkir motor ketika suara sepatu hak beradu cepat di lantai menyambut langkahku. Belum sempat menarik napas dalam, Alya sudah berdiri tepat di depan pintu masuk kantor, dengan senyum simpati yang terasa sedikit... dibuat-buat. "Ran... aku dengar soal kamu dan Mas Satya. Aku ikut sedih ya. Kuat ya..." Langkahku terhenti. Nafasku tertahan sepersekian detik, lalu kututup pintu kaca dengan pelan. Senyum tipis kupaksakan. “Dengar dari mana?” tanyaku singkat, mencoba terdengar biasa. Alya menyentuh lenganku ringan, seperti ingin memberi semangat, padahal aku tahu dia lebih menikmati momen ini sebagai bahan gosip ketimbang bentuk empati sungguhan. “Ah, ya biasalah... kantor ini kecil, kabar cepat sekali menyebar. Tapi serius, aku nggak nyangka banget kalian putus. Padahal kelihatan cocok, lho.” "Aku tahu, tapi aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun soal hubunganku dengan Satya." "Ohh itu.. Mas Satya yang cerita." Alya tersenyum canggung, bahasa tubuhnya terlihat tidak nyaman. Aku hanya mengangguk, Aku rasa keputusan tepat mengakhiri hubungan kami, lalu melangkah ke dalam. Bau kertas dan aroma kopi instan menyambutku, seperti biasa. Kubuka komputer dan mulai menyalakan monitor, mencoba mengalihkan pikiranku. Di luar jendela, langit masih mendung. Sama seperti pikiranku pagi ini berat dan penuh tanya. Dari semua orang, kenapa Alya yang pertama tahu? Aku bukan tipe yang suka cerita. Bahkan ke Vina pun, aku belum bicara banyak. Yang tahu soal pertemuanku dengan ibunya Satya hanya aku, Satya, dan—kalau pun bisa dihitung—ibu di rumah. Dan, ternyata Satya sendiri yang menyebarkannya. Aku tersenyum miris, ternyata Satya orang yang lidahnya tidak bertulang, benar-benar di luar dugaan. Kupandangi layar loading komputerku yang lambat, berusaha tetap tenang. Tapi ada rasa asing di d**a. Seperti dilihat dari kejauhan oleh orang-orang yang tak semestinya tahu urusanku. “Kalau butuh teman cerita, aku selalu ada, ya,” tambah Alya lagi dari belakang, dengan suara setengah pelan, setengah nyaring. Mungkin supaya bisa didengar satu ruangan. Aku menoleh. Menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja, Alya. Terima kasih.” Dia tampak ingin berkata sesuatu lagi, tapi urung. Mungkin karena wajahku terlalu datar, atau mungkin karena dia sudah puas menyampaikan ‘simpati’-nya. Begitu dia pergi ke meja sebelah, aku menarik napas panjang. Hari baru dimulai, tapi rasanya seperti sudah kelelahan sejak menit pertama. Kupandangi folder-folder di mejaku. Data ekspor, laporan pengiriman, nota-nota kecil yang harus dirapikan. Dunia tetap berputar. Tidak peduli betapa buruknya perasaan, kewajiban harus di jalankan. Hidup terus berjalan. Bahkan ketika hatiku belum sepenuhnya ikut bergerak. --- Belum juga lewat setengah hari, dan aku sudah ingin kabur dari tempat ini. Rasanya seperti sedang berjalan di tengah pasar—bukan kantor. Setiap sudut, setiap lorong, seperti punya mata sendiri yang mengikutiku. Ada bisikan-bisikan kecil, lirih tapi tajam, menyusup di antara tumpukan dokumen dan tawa palsu. Kupandangi layar laptop yang menampilkan laporan ekspor bulan lalu. Angka-angka berjejer rapi, tapi pikiranku sulit fokus. Dari balik bilik, kudengar suara lirih seseorang menyebut namaku—dan nama Satya. Lalu tawa kecil yang mereka kira cukup halus untuk tak terdengar. Salah besar. Dan di antara semua itu, Alya paling sibuk. Seolah-olah dia juru bicara hatiku yang tak pernah kuminta. "Rani itu kuat, lho. Masih bisa kerja kayak biasa padahal baru ditinggal Mas Satya" katanya pada Mas Heru dari bagian gudang tadi pagi, dengan suara yang sengaja tidak dikecilkan. Lalu beberapa menit lalu, dia mendekat lagi ke mejaku, menawarkan kopi sachet seperti sedang membawa obat penyembuh patah hati. “Nih Ran, kopi favoritmu. Biar kamu agak rileks. Jangan dipikirin terus, ya…” Aku menatap cangkir plastik di tangannya. Manis senyumnya, tapi hambar rasanya di hatiku. Aku masih hidup, masih bisa bekerja, masih bisa berpikir jernih tanpa bantuan kopi yang dibumbui rasa kasihan pura-pura. “Aku baik-baik aja, Alya. Nggak perlu repot-repot,” kataku pelan, mencoba tetap sopan. Dia tertawa kecil. “Iya, aku tahu kamu kuat kok. Tapi tetap, namanya cewek, pasti sedih lah.” Sedikit muak, aku hanya membalas dengan senyum tipis, lalu kembali menunduk pada layar. Dalam hati, aku menarik garis batas. Ada jenis manusia yang tidak bisa membedakan simpati dengan sensasi. Dan Alya jelas terlalu sering menyamarkan keingin tahuan-nya dalam bungkus perhatian. Dan aku? Aku hanya ingin bekerja. Mencoba tenang di tengah reruntuhan kabar yang tak pernah ingin kubagi. Aku tidak butuh dikasihani. Aku butuh dibiarkan sendiri—tanpa tatapan ingin tahu, tanpa bisikan yang mencabik harga diri. Tapi di kantor sekecil ini, kadang yang paling sulit bukan menyembuhkan luka... tapi menjaga luka tetap tersembunyi dari orang-orang yang hanya ingin menjadikannya tontonan. --- Jam makan siang. Perutku tak terlalu lapar, tapi kepala sudah cukup berat untuk butuh jeda. Aku berjalan ke kantin lantai bawah, mengambil nasi dan lauk sekadarnya. Suasana kantin seperti biasa, ramai tapi tak benar-benar ramai. Riuh, tapi terasa hampa. Aku baru saja hendak mencari sudut kosong saat suara yang tak asing terdengar dari arah belakang dispenser. “Aku sih nggak kaget dia diputusin. Rani itu ya, matre. Tante Amel aja bilang, dari awal kelihatan banget dia numpang hidup di Mas Satya…” Suara Alya. Jelas. Tanpa filter. Lengkap dengan ekspresi puas yang terpancar dari gerakan tangannya yang terlalu aktif saat berbicara. Dadaku sesak sejenak. Tapi hanya sebentar. Aku menoleh, dan mendapati Alya sedang duduk dengan dua staf gudang perempuan yang ikut mengangguk-angguk seperti burung mainan. Mereka tidak sadar aku mendekat—sampai aku berhenti tepat di depan meja mereka. Semua diam. Aku menatap Alya, lalu tersenyum tipis. Senyum yang bukan karena lucu, tapi karena aku tahu diam hanya akan memperpanjang luka. “Kamu ada masalah apa sama aku?” tanyaku, suara pelan tapi cukup jelas terdengar oleh tiga pasang telinga. Alya menegang. Wajahnya sempat kosong, sebelum buru-buru pasang wajah sok tenang. “Maksud kamu?” “Kalau kamu nggak suka sama aku, bilang aja langsung. Nggak usah munafik, baik di depanku, terus kayak gini di belakang.” Alya menyilangkan tangan, bersandar di kursinya. “Lho, aku cuma cerita fakta, Ran. Itu bukan karangan aku. Itu cerita dari ibunya Mas Satya sendiri. Aku juga kaget kok dengernya.” “Dan kamu pikir kamu berhak menyebarkan ‘fakta’ itu ke orang satu kantor?” Matanya melirik kanan kiri, lalu kembali menatapku. Ada kilatan kebencian di matanya, tapi aku pun bisa melihat ada pula ketakutan kecil di baliknya. “Ya, aku cuma bilang apa yang aku tahu. Kamu terlalu baper aja, mungkin karena emang benar.” Aku menarik napas. Tidak ingin membuat keributan di depan banyak orang. Tapi satu hal kutahu diam bukan lagi pilihan. “"Kalau melihat aku jatuh itu hiburan buatmu, silakan nikmati. Tapi, jangan terlalu haus perhatian sampai harus membuat cerita yang bahkan tidak pernah terjadi. Itu bukan cuma cari sensasi murahan—itu fitnah. Dan yang menyedihkan, kamu melakukannya dengan penuh percaya diri, seolah lupa hidup ini berputar." Aku menatapnya sekali lagi, lalu melangkah pergi. Suasana kantin mendadak sunyi. Suara sendok dan garpu seolah berhenti bergerak. Aku tak butuh pembelaan siapa-siapa. Cukup tahu, ada batas yang tak boleh dilewati siapa pun—termasuk Alya. Dan hari ini, aku menandai garis itu dengan tegas. --- Aku baru kembali dari kantin, duduk dan mencoba menenangkan kepala. Tapi langkah cepat dan suara hak tinggi Alya yang menghentak lantai langsung membuat suasana kembali tegang. Tanpa permisi, dia berdiri di depan mejaku. “Kamu maksudnya apa sih tadi di kantin? Mau cari perhatian?” Aku menatapnya. Nafasku masih stabil. Tanganku terlipat tenang di atas meja. “Bukan aku yang cari perhatian, Alya. Tapi kamu yang selalu cari panggung, bahkan dari luka orang lain.” Alya menyeringai. “Jangan merasa paling disakiti deh, Ran. Yang kamu alami tuh biasa. Diputusin cowok—udah ribuan cewek ngalamin.” “Aku tahu, tapi nggak semua cewek harus dengar dirinya dibilang matre dan miskin dari orang culas sepertimu.” “Ya kamu tuh memang dari keluarga susah kan? Semua orang juga tahu. Jadi jangan lebay kalo itu dibahas.” Aku bangkit dari kursi. Suasana ruang admin langsung senyap. Beberapa rekan kerja pura-pura mengetik, tapi aku tahu telinga mereka lebih tajam.. “Berasal dari keluarga sederhana bukan aib, Alya. Yang lebih hina itu, orang yang merasa lebih tinggi, padahal modal hidupnya cuma nyinyir dan bergosip.” Wajah Alya memerah. “Kamu pikir kamu siapa bisa ngomong kayak gitu?” “Aku orang yang kamu fitnah. Itu cukup jadi alasan.” “Kamu itu cuma admin, Ran. Jangan sok suci. Bisa kerja di sini juga mungkin karena Mas Satya dulunya backing kamu!” Aku menghela napas. “Lucu, kamu pikir aku sampai posisi ini karena cowok? Padahal kamu yang selalu nyari cowok berkantong tebal di kantor ini. Kalau nggak percaya, tanya anak finance yang sering traktir kamu kopi.” Seketika, suara sepatu lain terdengar. Pak Edwin—manajer kami—masuk ke ruangan, matanya tajam mengamati suasana. “Ada apa ini?” Tak ada yang bicara. Sampai akhirnya aku angkat bicara dengan nada tenang. “Maaf, Pak. Sepertinya saya harus melaporkan tindakan bullying verbal dan penyebaran fitnah yang dilakukan oleh Alya sejak pagi. Mulai dari menyebarkan kabar pribadi saya, sampai menghina latar belakang keluarga saya.” Alya melotot. “Saya cuma menyampaikan cerita dari—” Pak Edwin mengangkat tangan. “Cukup, Alya. Saya tidak peduli cerita itu dari siapa. Kantor ini tempat kerja, bukan forum gosip. Rani, ayo ikut saya. Kita laporkan ini ke HR sekarang.” Aku mengambil map kecil di mejaku. Sambil berjalan melewati Alya, aku berkata pelan tapi jelas. “Selamat menikmati spotlight, Alya. Tapi ingat, panggung yang dibangun dari menjatuhkan orang lain... biasanya cepat runtuh.” ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN