Tiga hari lamanya Rayyan dirawat di rumah sakit dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang. Bukan diperbolehkan, memaksakan lebih tepatnya. Mungkin sifat keras kepalanya itu memang ciri khas karena sulit sekali dihilangkan. Dengan perasaan setengah kesal Amanda membenarkan letak selimut putranya. Ingin ia mengomel, tetapi takut kalau hal itu akan membuat putra bungsunya sedih. Amanda bukan senang menahan Rayyan berlama-lama di sana, ia hanya ingin Rayyan tetap dalam pengawasan dokter, paling tidak sampai kondisinya benar-benar baik. "Ma?" "Ya?" "Mama marah, ya?" Perempuan itu menghela napas panjang. Ternyata Rayyan menyadari kekesalannya, meskipun ia tak secara gamblang memperlihatkan. "Mama gak marah. Mama cuma agak kesal soalnya Ray nakal." "Ma, aku cuma gak mau kalau nantinya aku

