Dunia Hancur Tanpa Suara.

1092 Kata

Malam menelusup lewat celah-celah genting tua rumah kontrakan itu, menyelinap masuk bersama bau tanah basah dan kelembapan yang tak biasa. Lampu ruang tengah menyala temaram, menggantung di langit-langit seperti harapan yang meredup. Suaranya berayun pelan, menciptakan bayangan goyah di dinding kusam. Di bawahnya, Ferdy duduk membisu. Kursi kayu reyot menopang tubuhnya yang lelah. Matanya tertuju ke lantai yang retak-retak, seolah garis-garis itu adalah cerminan batinnya yang mulai pecah. Sejak tadi ia tak bergerak, hanya duduk seperti patung yang menanti sesuatu yang tak kunjung datang—atau tak pernah kembali. Pintu depan berderit pelan. Suara khas tumit sepatu terdengar menyentuh lantai, tak-tak … tak-tak … Bunyi yang biasanya biasa saja, kini seperti palu godam yang menghantam kehenin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN