Ferdy tiba di rumah menjelang maghrib. Langit berwarna jingga keemasan menyapu atap-atap kota, sementara bayangan tubuhnya memanjang di depan pintu kontrakan sempit itu. Langkahnya ringan, bahkan nyaris berayun, seperti ada nada yang ia bawa dari jalanan. Di wajahnya tersisa senyum kecil—tak megah, tapi tulus. Seperti senyum orang yang tak banyak berharap, namun hari ini merasa cukup. Di saku celana kerjanya yang mulai pudar warnanya dan berbintik noda semen, tergenggam erat sebuah amplop cokelat. Isinya bukan surat cinta, bukan kabar bahagia, melainkan lembaran-lembaran uang hasil kerja keras selama sebulan terakhir. Proyek renovasi rumah Jayden hampir rampung, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Ferdy menerima bayaran yang cukup besar. Cukup untuk membayar tunggakan

