Suasana rumah besar keluarga Diamanta dipenuhi aroma harum bunga melati dan mawar putih. Halaman depan ditata rapi, deretan kursi diletakkan menghadap ke ruang tamu luas yang disulap menjadi tempat acara kecil—sederhana tapi penuh makna. Hari itu, keluarga Abimana datang membawa niat suci: melamar Zola Diamanta untuk menjadi pendamping hidup Ferdy Abimana. Bagi Zola, pagi itu penuh debaran. Sejak bangun, ia sudah dibantu beberapa pelayan rumah untuk berdandan sederhana: kebaya pastel lembut, rambut disanggul anggun dengan hiasan kecil bunga melati. Saat menatap pantulan dirinya di cermin, Zola hampir tidak mengenali sosok itu. Ia terlihat lebih dewasa, lebih matang, seolah bukan lagi gadis manja yang dulu sering berdebat dengan ayahnya. Di sisi lain, Dio, sang ayah, duduk di ruang kerja

